Arsip Tag: Sepedahan

Olahraga yang Menyenangkan itu Ternyata Sepedahan

Setiap orang mempunyai kegiatannya masing-masing. Termasuk kegiatan untuk menyehatkan diri. Kegiatan yang bertujuan untuk mengeluarkan keringat agar badan sehat secara jasmani dan harapannya sampai rohani.

Dulu saya pernah mengikuti salah satu pencak silat yang bertujuan tidak lebih sama untuk membela diri dan menyehatkan diri. Sampai sekarang juga masih ikutan, tapi tidak terlalu aktif. Hari berganti minggu, hingga berubah menjadi bulan, lama-lama perut saya mulai tak terkendali.

Kata orang sih masih kisaran wajar untuk remaja kebanyakan, tapi bagi saya yang pernah mempunyai perut kenceng –sebatas kenceng doang, sudah mulai risih. Melihat perut teman sekamar apalagi, sudah mirip bapak-bapak kantoran.

Dalam pada itu, akhirnya saya mempunyai keinginan untuk olahraga. Minimal lari satu putaran mengitari kampung samping pesantren. Dua kali seminggu saya rasa sudah cukup untuk menguras racun-racun sialan lewat keringat.

Tapi rencana hanyalah rencana. Hanya sampai sebatas rencana yang belum terealisasikan. Banyak kendala dan alasan. Tentunya situasi juga berperan sangat signifikan. Situasi?

Rencana lain, yaitu mulai mengaktifkan pengiritan berpahala. Puasa sunah Senin-Kamis. Niat utamanya tentu mencari keridhoan Allah, dan niat tambahannya semoga perut tidak melebar kemana-mana. Rencana yang cemerlang pikir saya. Selain ragawi yang mendapatkan manfaatnya, rohani pun mendapat sisi positifnya.

Rencana puasa itu ternyata hanya berjalan beberapa minggu saja. itu pun masih bolong-bolong. Kadang hanya hari Senin, kadang pula cuma hari Kamis. Alasannya klasik sih, ada makanan enak-enak di pagi harinya. Inilah ujian terbesar puasa sunah. Puasa sendirian, sedangkan yang lainnya makan-makan seenaknya.
Meninggalkan semua rencana-rencana di atas, minggu-minggu ini saya menemukan kegiatan yang semoga bisa memperbaiki masalah perut saya. Kegiatan yang bisa melemaskan otot-otot kaki dan otot-otot mata. Melelahkan sekaligus menyenangkan. Kegiatannya yaitu Sepedahan.

Saya sudah lama sekali tidak main Sepedahan. Kalau tidak salah terakhir saya mengayuh sepeda untuk pergi ke mana-mana yaitu waktu SD. Habis itu kalau mau pergi ke toko, sekolah, atau tempat-tempat lain kebanyakan sudah menggunakan sepeda motor, tapi sekali-kali juga jalan kaki.

Ternyata mengayuh sepeda untuk olahraga asyik juga. Apalagi kalau Sepedahannya bareng-bareng. Kalau waktu selo, sekali chat via grup, langsung deh gowes muter-muter kota Jogja.

Sebelumnya saya masih pikir-pikir dulu untuk membeli sepeda. Bagaimana tidak, sepeda di sini harganya masih selangit. Mirip-miriplah sama harga gadget 4G. Tapi setelah ada beberapa teman yang mulai beli sepeda, saya lama-kelamaan jadi kepengen juga.

Jangan terlalu sayang dengan uang, pikir saya. Percuma ada uang, tapi badan kurang sehat dan sakit-sakitan. Mau pitnes kejauhan. Kalau lari-lari kadang kesiangan jadinya males. Aktif di pencak silat, males keseleo dan memar-memar.

Jadi, untuk sementara tabungannya dibelanjakan demi sehatnya badan dan kegiatan yang bermanfaat. Kalau seumpama butuh dana lagi kan tinggal jual sepedanya. Gitu aja kok repot.

Hadirnya tulisan ini, saya cuma mau bilang sekaligus ngajak. “Ternyata asyik sepedahan ngalor-ngidul. Ayo sehat lewat sepedahan.” Kuwi thok. Itu saja sih. Selamat beraktifitas. 😄

Iklan