Arsip Tag: rindu

Atau Mungkin Senyumnya yang Membuatmu Bergetar

Seratus kata manis, yang mungkin bisa membuatmu tersenyum sedemikian rupa, yang membuatmu tertawa terbahak dengan segala kelelahan rahang-rahangmu, yang akan membuatmu melayang ke angkasa bersama bulan dan bintang dan langit biru. Atau seribu puja-puji menawan yang menghangatkan hatimu, yang membuat jiwamu menjadi lebih teduh, yang membuat matamu berkaca-kaca hingga pandanganmu mengabur, yang akan membuat hari-harimu berbunga dengan wewangian yang harum layaknya bunga-bunga kenanga dan melati.

autumn-2789234_960_720

Atau sesosok wajah yang anggun, yang menari dalam pelupuk mata dan hatimu, yang berjingkat-jingkat memasuki ruang dada dan kepalamu, yang berlari ke sana ke sini memenuhi fikir dan anganmu. Atau mungkin puisi-puisi dan surat cinta, yang akan mengoyak kedamaian jiwamu, yang membuatmu gelisah, yang apabila kamu makan dan minum tak terasa lagi nikmatnya, yang apabila kamu mencoba memejamkan mata hanya bayang dan senyum yang terlintas, yang apabila kamu membacanya satu demi satu kata yang tertulis serasa melayang, kamu terlalu berlebihan.

Atau mungkin sapaan halus yang keluar dari bibirnya, yang bisa membuatmu hitam-putih memeluk diri sendiri, yang membuatmu menjadi lebih bersemangat, yang membuat hatimu berbunga-bunga, yang membuat wajahmu memerah, yang membuat tangan dan kakimu lemas tak berdaya.

Atau saat dia tertawa, dengan senyum manisnya, dan keindahan matanya, yang membuatmu hafal nama-nama surga, yang membuatmu terkapar dalam mimpi-mimpi yang nyata, yang akan menuntunmu melewati hamparan bunga-bunga mawar di pekarangan rumahnya.

Atau saat jalan-jalan basah, daun-daun kering berguguran, bunga-bunga mekar berbalut embun, rumput-rumput mulai semi, burung-burung berkicau dengan merdunya, awan-awan mulai menghias langit, atau saat Tuhan mulai melukis langit menjadi lebih biru dari sebelumnya, dan kamu mengamatinya dengan seksama, kamu mengetahuinya, kamu menjadi saksi itu semua.

Atau saat genangan-genangan itu mulai memperlihatkan bayang-bayang dunia, ada kamu dan dia berselimut gerimis, meratapi keindahan masing-masing, meringkuk dalam diam, mengingat masa lalu, menerjemahkan kenangan, menafsirkan mimpi-mimpi, dan mulai merangkai rindu kembali.

Atau semua tentang kebahagiaan di dunia, yang membuatmu terdiam, terpejam, dan terkenang. Atau tentang kebahagiaan dalam dadamu, yang membuatmu rindu, semakin dalam semakin candu, dan mulai berontak untuk sekedar bertemu. Atau tentang kebahagiaan satu sama lain, ceritamu hanya berkutat tentangnya, dan ceritanya baru akan mulai menuliskan kisah tentangmu.

Pada akhirnya, dirimu bukan lagi milikmu, dan dirinya bukan lagi tak ada yang punya.

 

#OktoberBahagia

Iklan

​Selamat merayakan kerinduan

Pertama, sebuah kehormatan bagiku untuk bisa menikmati kerinduan ini. Di sela-sela waktu sibukku di langkah-langkah cepatku dan di malam-malam sepiku, semua terasa lebih berwarna untuk sebuah nama yang pabila terucap akan tercipta debar yang menggema.
Sebuah rasa yang tak terdefinisi oleh kata dan ucapan. Rasa yang tersembunyi oleh keyakinan dan cita. Mengadopsi takdir Tuhan yang telah tertulis rapi di langit-langit malam para pecinta.

Kedua, bahwa hal yang paling menjengkelkan juga kunikmati adalah meramu kata untuk hal yang tak tersentuh. Untuk keindahan di atas sana yang lebih gemerlap daripada bintang. Untuk sesuatu yang lebih berharga daripada mutiara dan permata. Untuk hal yang lebih luas dari samudra dan lebih dalam dari apapun.

Penyair mana yang dikenal dalam sejarah tanpa adanya kerinduan yang menyertainya?

Kerinduan memang hanya sebuah kata, tidak lebih. Bahkan, ada yang bilang hanya sebuah rasa, bukan cinta. Jika itu tak tersampaikan, serasa putaran bumi seakan melambat dan merusak tatanan keistimewaan semesta. Itu sungguh rasanya  tak mengenakkan. Yang rindu, yang menderita.

Maka, kata adalah sebuah wadah pelarian. Rangkaian kata adalah representasi dari ketidakadilan perasaan. Gampangkan saja, bahwa rindu dapat diobati dengan kata. Ramuan kata-kata diakui sebagai pelarian sekaligus penawar derita yang memilukan. Semakin indah kata yang digubah, katanya semakin besar rindu yang dipelihara.

Ketiga, bahwa realita kehidupan telah menghapus jelas delusi bayangmu. Yang kadang aku meracau di balik anggunmu, kini aku hanya bisa mengigau di antara cerita tentangmu. Yang dulu aku berjalan di sisimu, kini aku hanya bisa mengingat langkah-langkah itu dan melukis jejak-jejak candamu.

Kehidupan punya ceritanya sendiri. Pun rindu, juga punya cerita tersendiri. Kehidupan telah mencipta rindu untuk menghidupi yang merindu. Dan ketika kerinduan itu hidup, maka hiduplah sang penikmat rindu.

Terakhir, maka aku akan keluar. Menatap bintang-bintang itu, sendiri di seluk malam paling sunyi. Menangkupkan kedua tangan dan membenamkannya dalam dada. Mengingat parasmu dan tawamu. Merapalkan doa-doa suci ajaran Ilahi. Menitipkannya pada satu bintang yang paling terang, hingga shubuh menghampiri.

Kemudian, aku tahu bahwa malam ini aku telah merayakan sebuah kerinduan.