Review: Inferno by Dan Brown | Kisah Kegilaan Seorang Peneliti yang Ingin Manusia Punah

Title: Inferno
Author: Dan Brown
Publisher: Bentang Pustaka
Published: 2013
Page: 644 p
ISBN: 9786027888555

Tempat tergelap di neraka dicadangkan bagi mereka yang tetap bersikap netral di saat krisis moral.

Adalah Robert Langdon yang menjadi pemeran utama, pemecah teka-teki yang diberikan oleh penulis melalui perilaku Bertand Zobrist yang gila akan kepunahan manusia di masa depan. Di bantu Sienna Brooks yang menjadi teman perjalanannya di berbagai negara untuk memecahkan masalah serius yang ditimbulkan oleh Zobrist. Dari Kota Florence, Italia berpindah sejenak di Kota Venesia, hingga cerita berakhir di Museum Hagia Sophia yang megah yang menjadi ikon utama di Negara Turki.

Karya novel yang mengangkat fakta nyata sebagai permasalahan umat manuasia, dibungkus dengan alur cerita yang bersifat fiksi, dibumbui dengan penceritaan karya-karya asli beserta detailnya, Dan Brown seolah tahu kebutuhan pembaca akan kemegahan karya-karya tersebut dan menuangkannya menjadi sebuah buku tebal yang sayang jikalau belum membacanya.

Keterlibatan Direktur WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) beserta salah satu tim ahli penanggulangan penyakit milik Eropa menjadikan fiksi ini lebih menegangkan karena tidak hanya segelintir orang yang akan mendapat dampak dari kegilaan Zobrist melainkan seluruh jagad raya dan masa depan umat manusia yang akan merasakan dampaknya.

Kesan pertama ketika selesai membaca karya Dan Brown yang berjudul “Inferno” ini adalah wow. Menakjubkan dari setiap sisi, pemilihan katanya, penyususnan kalimatnya, bahkan begitu lengkapnya karya-karya yang diceritakan seolah-olah pembaca melihat sendiri karya tersebut.

Butuh waktu agak lama untuk menyelesaikan pembacaan fiksi sejarah tersebut. Setidaknya ada 104 Bab dalam 333 halaman yang harus dibolak-balik dan dipahami alur ceritanya. Sebuah karya yang syarat akan rahasia di bab-bab awal dan penjelasan serinci-rincinya di bab-bab akhir. Seolah-olah pembaca digiring untuk menuju gua gelap, kelam, dan tak jelas tempatnya, tetapi setelah sampai di mulut gua pembaca dibelokkan menuju jalan setapak sejuk penuh pepohonan rindang yang disamping jalan tersebut terpampang jelas tulisan yang menunjukkan jalan menuju rumah.

Yang paling berkesan dalam menulusuri lembar demi lembar Infernonya Dan Brown adalah mengetahui bahwa pada masa dahulu di daratan Italia pernah hidup seorang filsuf sekaligus seniman bernama Dante Alieghiri yang melalui Novel Inferno diceritakan bahwa salah satu karyanya pernah membuat jama’ah di Vatikan membludak untuk beribadah di gereja-gereja. Hal lain yang mengesankan adalah mengetahui kemegahan karya-karya seni di Florence, Venesia, dan di Turkey.

Penasaran, Bahagia, Sedih, dan masih banyak rasa lagi yang tidak bisa dipisah-pisahkan ketika cerita sudah memasuki bagian Epilog. Ada begitu banyak pertanyaan yang menggantung saat tulisan itu sudah habis lembarannya untuk dibalik lagi. Ya itulah Infernonya Dan Brown. Wow.

Februari, 2015

Iklan

Review: Layla Majnun by Syaikh Nizami | Penggambaran Cinta Sejati yang Tak Pernah Terpisahkan

Title: Adikarya Legendaris Cleo, Layla, Juliet
Authors: Syaikh Nizami
Translator: Ust. Salim Bazmul dan Manda Milawati A.
Publisher: Navilla
Published: 2005
Page:
ISBN: 9799503612

Cinta memang buta. Cinta juga bisa membuat seseorang menjadi gila.

Pemuda manakah yang mampu menahan serangan rindu jika cinta sudah bersarang dalam dada? Tabib manakah yang mempunyai penawar untuk orang-orang yang gila karena cinta?

Seperti halnya pemuda asal Bani Amir ini, Qais namanya. Ia merupakan anak tunggal dari sesepuh Bani Amir yang kaya raya dan terhormat, Syed Omri. Setelah sekian lama berdoa kepada Allah SWT untuk dikaruniai seorang anak yang bisa Ia banggakan dan dapat meneruskan perjuangannya di jalan Alah, akhirnya atas kehendak Allah yang Maha Pemurah lahirlah bayi tampan nan rupawan yang kemudian dikenal dengan nama Qais.

Qais tumbuh dalam suasana istana ayahandanya yang tentram dan terhormat. Penuh akan limpahan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Tetapi setelah remaja Qais harus berpisah dari keluarganya dan dititipkan di salah seorang Badui yang bijaksana dan mempunyai keluasan ilmu yang mumpuni. Qais pun menuntut ilmu disana.

Qais adalah pemuda yang cerdas dan juga tampan. Ia adalah mutiara dari Bani Amir yang sangat dibangga-banggakan. Dalam pelajaran pun ia menonjol, melebihi dari murid-murid yang lain.

Tetapi semuanya berubah ketika ia dipertemukan dengan Layla, seorang gadis ditempatnya belajar. Putri nan cantik jelita yang berasal dari Bani Qathibiah yang apabila diibaratkan seperti bengawan-bengawan diantara ladang yang gersang. Selalu menyejukkan hati.

Berlalu masa, saat orang-orang meminta pertolongan padaku

Dan sekarang, adakah seorang penolong yang akan

mengabarkan rahasia jiwaku pada Layla?

Wahai Layla, cinta telah membuatku lemah tak berdaya

Seperti anak hilang, jauh dari keluarga dan tidak memiliki harta

Cinta laksana air yang menetes menimpa bebatuan

Waktu terus berlalu dan bebatuan itu akan hancur,

berserak bagai pecahan kaca

Begitulah cinta yang engkau bawa padaku

Dan kini hatiku telah hancur binasa

Hingga orang-orang memanggilku si dungu yang suka merintih dan menangis

Mereka mengatakan aku telah tersesat

Duhai, mana mungkin cinta akan menyesatkan

Jiwa mereka sebenarnya kering, laksana dedaunan

diterpa panas mentari

Bagiku cinta adalah keindahan yang membuatku tak bisa memejamkan mata

Remaja manakah yang dapat selamat dari api cinta?

Pemuda bernama Qais pun dimabuk cinta dan dibutakan oleh syair-syair rindu. Setiap hari yang ia lakukan hanyalah memuji keindahan sang pujaan hati, yaitu Layla. Begitu juga yang terjadi pada Layla. Pandangan pertamanya dengan Qais telah menumbuhkan benih-benih cinta. Menebarkan suasana-suasana rindu disetiap relung hatinya.

Dan demi rasa cintaku yang mendalam

Aku rela berada di puncak gunung salju yang dingin seorang diri

Bertemu lapar, menahan dahaga

Wahai kekasihku, hidupku yang tidak berharga ini

suatu saat akan lenyap

Tetapi biarkan pesonamu tetap abadi selamanya di hatiku

Sampai-sampai Qais dan Layla mengesampingkan pelajarannya karena saling sibuk memuja satu sama lain. Percintaan mereka berdua akhirnya tersebar dan sampai di telinga orangtua dari Layla. Dikarenakan adat orang Arab, yang intinya jika seorang anak perempuan jika menjadi bahan omongan maka itu merupakan sebuah aib. Aib yang akan menjadikan keluarga Layla menjadi gunjingan orang-orang Arab.

Atas ketegasan ayah Layla, Layla pun akhirnya dikurung dalam kamarnya sampai-sampai ia tidak boleh leluar rumah. Ia hanya berada di kamarnya, setiap hari dengan rindu yang sangat membuncah akan hadirnya Qais.

Pemuda bernama Qais tak kalah sengsaranya. Setelah Layla direnggut dari hadapannya, setiap hari yang ia lalui terasa hampa. Sangat hampa. Rindu setiap waktu menelusup dalam dadanya. Hingga cintanya yang tulus itu menjadikannya seorang yang lupa akan dunia. Qais lupa semuanya, keluaganya, sahabat-sahabatnya, harta kekayaan orangtuanya, yang ia ingat dan dengung-dengungkan setiap waktu hanyalah nama Layla seorang. Dan inilah yang menjadikan ia disebut kaumnya dan orang-orang yang kebetulan berjumpa dengannya sebagai seorang Majnun (si gila). Padahal dalam segi akal, ia bukanlah seorang yang gila. Ia hanya menjadikan cinta sebagai pegangan utama dalam hidupnya.

Meskipun bertahun-tahun berlalu, Qais yang sudah dianggap gila oleh penduduk arab, ia tetap teguh untuk menjadikan Layla seorang sebagai belahan hatinya. Seseorang yang telah merenggut separuh hidupnya dan akan tetap setia meski ajal menjemput ruhnya. Qais adalah pecinta sejati.

Sampai pada suatu waktu ketika Syed Omri, ayah Qais berupaya untuk menyembuhkan anak semata wayangnya, ia membawanya ke Mekkah untuk beribadah haji. Harapannya Qais bisa sembuh dari jeratan cinta yang membuatnya gila. Ketika berada didepan Ka’bah dan Syed Omri selesai berdo’a memohon kesembuhan putranya, ia pun kemudian menyuruh Qais untuk berdoa sendiri memohon kepada Allah SWT.

Dan inilah doa yang dipanjatkan Qais:

“Aku teringat akan dikau Layla, saat para jamaah haji sibuk berdzikir. Di kota Mekkah, di dinding Ka’bah mereka khusu’ berdoa, sedang kalbuku tertuju kepadamu. Ya Rahman, aku bertaubat kepada-Mu dari dosa-dosa yang telah kulakukan, dari apa yang telah kukerjakan dan dari dosa-dosa yang selalu datang bermunculan.

“Ya Allah Tuhanku, anugerahkan Layla padaku,  dekatkanlah ia padaku. Ya Tuhan, sesungguhnya engkau mempunyai anugerah dan ampunan. Jadikanlah kaum pecinta dalam keadaan afiat malam ini, yaitu dia yang terus mengingat cintaku saat orang lain terlelap tidur. Dia yang jatuh tertelungkup mencium bumi dan berdoa kepada-Mu untuk kebahagiaanku. Ya Allah, janganlah Engkau rampas cintaku padanya.

“Aku memohon rahmat-Mu, ya Tuhan Yang Mahapenyayang  lagi Pengasih. Di rumah-Mu ini aku memohon untuk Layla, Engkaulah Yang Mahamenentukan. Ya Allah, jika Engkau anugrahkan Layla untukku, maka Engkau akan melihat seorang hamba bertaubat, yang tidak akan mampu dilakukan oleh hamba-Mu yang lain. Ya Allah Yang Mahakasih aku akan terhibur jika ia berada di dekatku, namun mengapa orang-orang mencela dan merendahkannya? Mereka memintaku untuk bertaubat, namun aku tidak mau, karena mencintai Layla bukanlah kesalahan atau dosa. Satu-satunya hajat hidup yang aku miliki adalah bertemu dengan Layla, tidak ada kebahagiaan selain itu.”

Keadaan Qais belum juga membaik. Ia sering berkelana tak tentu arah ke lembah, jurang, padang pasir, hutan belantara meninggalkan kedua orangtuanya dan sahabat-sahabatnya. Ia hanya ingin bebas mengungkapkan isi hatinya yang penuh dengan syair-syair cinta.

Penderitaan Qais bertambah berat ketika ada kabar Layla menikah dengan Ibnu Salam, pemuda tampan yang telah memenangkan hati ayah Layla. Qais merasa telah dihianati oleh Layla. Janji setia yang pernah disepakati hanya menyisakan kisah sedih bagi hati Qais. Tetapi, siapa yang tahu akan hati seseorang. Ternyata setelah menikah, Layla tidak berkenan sama sekali untuk disentuh oleh suaminya. Ia terlanjur bersumpah pada dunia, bahwa hatinya hanya untuk seseorang yang pernah menguasai jiwanya. Seseorang yang telah mengenggam seluruh hatinya.

Pada akhirnya, suami Layla pun bunuh diri karena tidak mampu menyenangkan dan merebut hati Layla. Sampai disini, saat Layla telah menjadi janda ia pun berkeinginan untuk berjumpa dengan pujaan hatinya. Dan apa yang terjadi?

Saat jiwa yang telah bertahun-tahun menderita, meminum pahitnya cinta dan derita rindu, apabila dengan mendadak dan tiba-tiba disuguhkan suatu kebahagiaan yang besar maka jiwa itu menjadi tak terkendali. Kebahagiaan yang diterima Qais terlalu besar hingga menyebabkan ia tak terkendali dan seperti orang gila sungguhan. Saat didekat Layla, satu bangku berdua, jiwa kebahagiaan Qais membuncah dan tak terkendali. Ia pun tak bisa menikmati kebahagiaan tersebut dan melarikan diri dari Layla.

Kesedihan Layla menyebabkan ia jatuh sakit. Pada saat berada dipangkuan sang ibunda Layla mencurahkan semua isi hatinya:

“Wahai Ibu! Aku mohon, agar saat aku terbaring di makamku, aka nada seorang pemuda yang merasakan kesedihan mendalam. Kesetiaan dan kebenaran telah menyatukan jiwa kami. Mungkin akan datang seorang pemuda dan menangis di pusaraku. Janganlah engkau melarangnya, biarkan dia di sana untuk menumpahkan semua penderitaannya. Karena bagiku dia adalah kehidupanku. Keberadaanku baginya, sama seperti cahaya bagi siang. Cintanya begitu luhur, namun selalu dihina oleh kekuatan waktu. Dan saat engkau melihat dia mendekat tandu jenazahku, akan engkau dengar ratapan liar dari mulutnya. Jangan kalian hina ia, tetapi hiburlah hatinya, karena pemuda itulah yang paling memahami nasibku.”

Layla pun meninggal dunia. Bunga taman yang diidam-idamkan Qais telah tiada. Kesedihan Qais berada dalam puncaknya. Setiap hari setelah meninggalnya sang pujaan hati, ia hanya menangis tersedu-sedu di atas pusara Layla. Kekuatan cinta Qais tak pernah luntur, hingga akhirnya ia meninggal dalam kesedihan tepat di atas makam Layla. Jenazah Qais sang Majnun dimakamkan oleh para pengelana di samping makam Layla.

Begitulah akhir dari cerita cinta seorang pemuda bernama Qais yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan si gila. Ia merasakan kesedihan dan kesengsaraan sepanjang hidupnya karena berpisah dengan Layla, sang pujaan hati.

Syaikh Nizami menyajikan cerita ini penuh dengan kata-kata indah dan syair-syait cinta. Setiap kalimat pasti ada kata-kata yang menyayat hati yang disampaikan oleh Majnun. Dan pembaca seakan-akan dibawa oleh kata-kata tersebut untuk merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Majnun.

Hematku, membaca cerita ini adalah suatu keharusan. Karena cerita ini merupakan induk dari cerita-cerita yang lahir dewasa ini. Setiap syair yang ditulis oleh penulisnya mengatasnamakan Qais adalah mutiara bagi setiap jiwa-jiwa yang pernah merasakan indahnya cinta. Cerita ini merupakan suatu pelajaran bahwa setiap cinta tak boleh disia-siakan. Suatu pelajaran bahwa cinta sejati harus melalui proses yang panjang dan pengorbanan yang mendalam. Seperti itulah Syaikh Nizami menyihirku dengan untaian indah kata-katanya. Bagiku beliau telah memberi satu pelajaran berharga perihal mencintai.

“Satu janji atas hati mereka yang saling percaya – satu ranjang yang dingin, sedingin bumi yang menyatukan mereka dalam kematian. Hidup tak pernah ramah, hingga mereka tak pernah bersatu kecuali dalam kuburan yang bisu.”

November, 2016

Review: When Broken Glass Floats by Chanrity Him | Kisah Nyata Kehidupan Him Melewati Kejamnya Rezim Khmer Merah di Kambodja

Title: When Broken Glass Floats
Author: Chanrity Him
Translator: Utti Setiawati
Publisher: Penerbit PT Elex Media Komputindo
Publisher: 2000
Page: 444 p
ISBN:
Detail: Goodreaads

Pertama, saya menemukan buku ini tidak sengaja di toko buku. Kedua, Alhamdulillah waktu itu buku ini merupakan salah satu buku yang lagi kena diskon. Ketiga, setelah sampai pondok ternyata bukunya bagus banget karena sekilas membaca prolognya. Keempat, saking bagusnya saya ngebut untuk menyelesaikannya. Kelima, hanya butuh seminggu untuk melahap semua kata dan kalimat dalam buku ini.

When Broken Glass Floats.

‘Ketika pecahan kaca mengapung’ merupakan buku true story perjalanan penulisnya di bawah Rezim Khmer Merah. Adalah Chanrthy Him yang menjadi pemeran utama sekaligus penulis buku ini yang menyajikan perjalanan hidupnya melalui rangkaian kata dan paragraph yang rapi.

Coba tengok di Google mengenai Rezim Khmer Merah! Kebanyakan yang keluar adalah pembantaian besar-besaran yang dilakukan di Negara Kamboja oleh Khmer Merah dan tentara-tentaranya.

Setelah saya selesai membaca buku ini, sedikit saya akan ulas mengenai perjalanan Him yang buanyak sekali lika-likunya.

Buku ini merupakan buku terjemahan dari judul aslinya ‘When Broken Glass Floats’. Diterjemahkan oleh Utti Setiawati dan diterbitkan oleh Penerbit PT Elex Media Komputindo Jakarta. Awal munculnya buku ini pada tahun 2000 untuk Bahasa Inggrisnya, sedang versi terjemahannya baru keluar tahun 2011.

Pendapat saya, setiap buku apapun yang di terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia kualitas dari Translator itu sangat berpengaruh. Dalam buku ini Mbak Utti saya kasih jempol 2, karena bahasanya ringan dan dalem banget menjelaskan detail teks aslinya. Dalam segi pemilihan dan penggunaan kata pun, Mbak Utti banyak sekali menyelipkan kata-kata yang mudah dipahami dan  juga tidak berulang-ulang.

Setelah googling, desain sampul versi terjemahan dan aslinya kurang lebih 12-13 lah. Mirip banget. Bedanya dalam versi terjemahan ada sedikit tambahan kata-kata bahasa Indonesia seperti ‘Tumbuh Besar di Bawah Rezim Khmer Merah’ dan ulasan dari Ha Jin, seorang pengarang ‘Waiting’ yang berbunyi ‘Kisah Menyedihkan yang disampaikan dengan kejujuran, pengendalian, dan martabat.’

Dari sampulnya saja, ulasan dari Ha Jin langsung menarik saya untuk membaca buku ini. Nyambi belajar sejarah kelamnya Kamboja, nyambi juga memperkaya kata, saya juga mencari makna yang disampaikan oleh Him melalui buku ini.

Sebelum saya me-review di bagian isi, saya ingin menuliskan penggalan pesan yang mirip seperti puisi di bagian prolognya.

Tolong, Beri Kami Suara
Saat pecahan kaca mengambang,
suatu bangsa tenggelam,
jatuh ke jurang.
Dari kuburan massal di negeri yang dulu ramah,
darah mereka meresap ke bumi.
Roh mereka yang menderita berbisik padanya,
“Kenapa ini mesti terjadi?”
Suara mereka menggema dalam dunnia roh,
diteriakkan lewat jiwa-jiwaorang yang selamat,
bertekad menjalin komunikasi,
memohon pada dunia:
Tolong kenang kami.
Bicarak untuk Kami.
Tolong beri kami keadilan.

C.H.

Pesannya bikin merinding. Tapi, setidaknya malah bikin penasaran dengan isi dari buku ‘When Broken Glass Floats’ ini.

Dalam buku ini Him (panggilan gampang saya) dipanggil dengan sebutan Athy, merupakan panggilan dari orang tua dan juga keluarganya. Dia memanggil ayahnya dengan sebutan ‘Pa’ dan memanggil ibunya ‘Mak’.

Him memiliki 9 saudara, diantaranya Chea (ce), Ra (ce), Tha (co), Ry (ce), Than (co), Avy (ce), Bosdaba (co), Vin (co), dan Map (co) (keluarga besar bro).

Sebelum rezim Khmer Merah berkuasa, Him hidup dengan nyaman dan berkecukupan di Phnom Penh bersama keluarganya. Hemat saya, mereka merupakan keluarga diatas ekonomi sedang, istilahnya kaya lah.

Pada lembaran-lembaran awal buku ini, Him menceritakan sekaligus mengenalkan semua anggota keluarganya. Asal-usul keluarga Ayah dan Ibunya, pernikahan kedua orang tuanya, serta beberapa kelahiran adik-adiknya ketika masih di Phnom Penh.

Pada umur 8 tahun Him harus merasakan kehilangan saudara tertuanya, Tha. Abangnya itu meninggal karena terserang suatu penyakit. 2 tahun kemudian adiknya yang baru lahir, Bosaba juga harus meninggal, karena lahirnya yang prematur akibat Ibu Him saat mengandung mengalami trauma atas kematian Tha.

Tahun 1975 merupakan awal kekuasaan dari Khmer Merah. Dari sini, cerita sedih dan penuh penderitaan dimulai. Pemeran utamanya yang merasakan penderitaan dalam buku ini yaitu Kedua orangtua Him, dan semua saudaranya yang masih hidup, Chea, Ra, Ry, Than, Avy, Vin, dan Map.

Kekejaman Khmer Merah yang pertama dan yang menimpa keluarga Him yaitu ketika Ayah Him dan paman-pamannya harus mengikuti sebuah rapat yang diadakan Khmer Merah di suatu tempat. Tetapi, kenyataanya mereka di giring ke suatu ladang yang luas. Mereka disuruh menggali kuburannya sendiri dan setelah itu mereka di bunuh dengan cangkul oleh tentara-tentara Khmer Merah.

Pembunuhan ini terjadi setelah seluruh penduduk Phnom Penh disuruh pindah ke desa-desa untuk menjalani kerja paksa. Kesedihan mendalam yang dialami oleh Him atas kematian Ayahnya sangat jelas tergambar dalam kata-kata buku ini. Mengingat Him merupakan anak yang paling dicintai oleh ayahnya di antara saudara-saudaranya.

Tidak berhenti disitu saja, perubahan kehidupan yang dialami oleh keluarga Him terbalik 180 derajat. Rezim Khmer Merah telah merenggut semuanya. Kebahagiaan, persahabatan, kekeluargaan, makanan, hasil panen, dan apa saja yang dimiliki oleh Him dan keluarganya.

Diceritakan oleh Him dalam kesehariannya ketika sudah menjalani kerja paksa, makanan berupa kerak nasi dan kepala ikan kecil merupakan barang mahal yang jarang ditemukan. Keluarganya sehari-hari hanya makan bubur cair dan daun-daunan dari hutan. Malahan garam pun hampir seperti permata yang sulit diperoleh. Akibatnya tidak jarang keluarga dan teman-teman Him mengidap penyakit ‘busung lapar’.  Begitu memprihatinkan.

Dalam Rezim Khamer Merah sebuah kematian merupakan kabar yang sudah menjadi kebiasaan. Hampir setiap hari ada saja yang meninggal karena kelaparan maupun karena terserang penyakit yang tidak bisa disembuhkan.

Begitu juga ketika Vin adik Him meninggal karena terserang penyakit disentri, ada percakapan yang menyayat hati antara Ibu Him dan Vin.

“Mak.. Mak, tolong izinkan aku tidur di dekat Mak. Aku kedinginan,” Vin memohon, suaranya lirih, lembut dan sedih. “Aku kedinginan, Mak. Tolong izinkan aku tidur bersama Mak satu malam lagi.”

“Anak Mak, Mak tidak ingin kau menulari saudara-saudaramu. Tidurlah disebelah sana, Nak,” Pinta Mak.

“Mak Tolong izinkan aku tidur dengan Mak semalam lagi. Hanya satu malam lagi, Mak. Besok aku akan pergi ke rumah sakit agar merasa lebih baik. Tolonglah, Mak, aku kedinginan,” sekali lagi Vin menjerit.

“Maafkan Mak, koon (panggilan anak orang Kamboja).” Tidak pernah Mak begitu tidak berdaya. Begitu apologetis.

Anak yang ia lahirkan ke dunia ini tidak bisa dipuaskan. Dan fakta menyakitkan ini perlahan-perlahan membunuhnya.

(Teks terjemahan pada halaman 126).

Seperti itulah kematian menghampiri saudara kecil Him, Vin. Saudara kecil Him lainnya Avy, meninggal di tempat yang disebut rumah sakit karena digigit semut. Bukan semutnya yang beracun, melainkan Avy telah terserang penyakit bengkak karena kekurangan yodium. Setelah dibawa ke rumah sakit, semut menggigit bagian kakinya dan akhirnya seluruh cairan dalam tubuh Avy keluar. Ia pun meninggal dunia.

Dalam buku ini juga diceritakan keberanian-keberanian Him dan saudara-saudaranya ketika meninggalkan camp kerja paksa. Mereka harus mengendap-ngendap dan sembunyi-sembunyi untuk pergi dari camp menemui Mak ataupun bertemu antar saudara. Meski pertemuan itu hanya semalam, dan paginya harus kembali lagi. Rindu telah menjadikan kekuatan tersendiri bagi Him.

Yang menjadi puncak kesedihan Him yaitu ketika Mak dan Chea, kakak tertuanya harus pergi selama-lamanya. Mak Him meninggal juga karena terserang penyakit disentri di rumah sakit. Tetapi, Mak Him mendapatkan perlakuan yang lebih parah dari penjaga rumah sakit. Karena alasan obat yang tidak memadai, Mak Him harus dipindahkan di tempat yang katanya ‘rumah sakit darurat’.  Kenyataanya, dia diasingkan di sebuah tempat yang jauh dari camp-camp manapun.

Him hanya sempat sekali mengunjungi ibunya bersama dengan Map, adik laki-lakinya. Ketika itu, niat Him dan Map untuk membawakan Ibunya jagung rebus. Tetapi, sampai di tempat Ibunya, jagung yang Him bawa ternyata belum matang. Kejadian ini merupakan kebodohan Him yang memang Ia akui sendiri. Him sangat menyesal karena kebodohannya ini.

Beberapa minggu kemudian, Him mendengar kabar bahwa Ibunya di buang ke dalam sumur oleh tentara Khmer Merah.

Gadis itu mendongak padaku. “Mereka –mereka melempar ibumu ke dalam sumur… sumur orang mati,” dia berusaha keras mengatur napas, menyampaikan berita itu dengan napas terengah-engah. “Ibumu masih hidup… Dia mengerang saat dibawa pergi.”

Jantungku berdegup cepat, naik menempel di dada. Kupikir aku mendengar yang dia katakana, tapi tak ada yang kupahami. Seolah ada yang menyumbat antara telinga dan otakku. Aku membalas tatapannya. “Apa katamu tentang Ibuku? Apa yang terjadi pada ibuku?”

“Tentara Khmer Merah  melempar ibumu ke dalam sumur… dan dia masih hidup,” kata gadis itu terbata-bata, sorot matanya yang tajam menyorot ke dalam mataku.

(Teks terjemahan pada halaman 255-256).

Sedangkan kakak tertua Him, Chea meninggal karena kelaparan dan terserang demam tinggi. Him sangat berduka atas kematian kakaknya, dia tahu bahwa Chea lah yang menggantikan peran Mak dalam keluarganya. Chea merupakan kakak yang paling disayang oleh Him, dia sangat iri atas kecerdasan Chea.

Saking berdukanya atas kematian Chea, Him bersumpah sesaat setelah melihat kakaknya harus di kubur oleh paman-pamannya.

“Chea, kalau aku selamat, aku akan belajar ilmu kedokteran. Aku ingin menolong orang-orang  karena tidak bisa menolongmu. Kalau mati dalam kehidupan ini, aku akan belajar ilmu kedokteran di kehidupanku yang berikutnya.”

(Teks terjemahan pada halaman 314)

Ketika pecahan kaca mengambang, maka tidak lama pecahan kaca tersebut akan tenggelam ke dasar air. Begitulah penggambaran Rezim Khmer Merah dalam buku ini. Kekuasaannya hanya bertahan beberapa tahun saja.

Menjelang lembaran-lembaran terakhir dalam buku ini, emosi saya saat membaca mulai stabil lagi. Setelah penggambaran penderitaan Him yang begitu kerasnya, serta kesedihan Him yang bisa bikin mbrebes mili. Cerita berubah menjadi semangat hidup dan semangat untuk belajar.

Paman Seng yang merupakan adik Ayah Him dikabarkan masih hidup dan sedang tinggal di Oregon, Amerika Serikat. Karena ikatan keluarga yang begitu erat, Paman Seng memutuskan untuk mengurus kepindahan seluruh keluarga besarnya untuk pindah ke Amerika Serikat.

Sebelum Him pindah ke Amerika Serikat, di akhir-akhir cerita, Ia menceritakan semangatnya untuk menjadi seorang dokter ataupun perawat di rumah sakit tumbuh lagi. Ia kerja keras dalam mempelajari bahasa Inggris, bahasa-bahasa kedokteran, dan pelajaran apa saja di camp-camp pengungsian.

Him muda akhirnya menjadi transleter di puskesmas camp untuk melayani para pengungsi yang datang dari berbagai Negara (ini ceritanya panjang). Dia pun sempat jatuh hati pada dr.Tanedo yang sedang bertugas di puskesmas tersebut. Ketika itu usia Him muda masih 16 tahun.

Pada hari yang bersejarah bagi Him, yaitu ketika Ia harus meninggalkan tempat kelahirannya, negara yang menyimpan semua kenangan ayah dan ibunya, kenangan kakak dan adiknya, dan penderitaan yang pernah Ia lalui untuk terbang ke Amerika Serikat memulai hidup baru.

Saudara Him yang selamat dan ikut ke Amerika Serikat yaitu Ra, Ry, Than, dan Map.

“Pengetahuan tak bisa dihancurkan oleh rayap… Orang bisa menggunakannya dan tidak pernah kehabisan.”

(Sajak yang pernah dibacakan oleh Chea kepada Him di halaman 31).

Catatan:
*Membaca buku ini bisa menyebabkan kantuk berat, karena tersusun atas 444 halaman.
*Tapi, menyelesaikan buku ini akan mendapatkan pelajaran hidup yang luuuuuaaar biasaa banyak.
*Bagi yang alergi dengan cerita menjengkelkan dan menguras emosi, saya sarankan untuk tidak membaca buku ini.

Review: Travellous “Lost in Europe Found a Love” by Andrei Budiman | Sebuah Perjalanan ke Eropa untuk Menikmati Alam dan Berbagi Cinta

Title: Travellous “Lost in Europe, Found a Love
Author: Andrei Budiman
Publisher: Penerbit B First
Published: 2012
Page: 213 p
ISBN: 9786028864480
Detail: Goodreads

Jangan hanya sekedar berani bermimpi. Andrei Budiman.

Buku yang akan saya share pada kesempatan kali ini yaitu masih bertemakan Travel Books. Sebuah buku perjalanan dari pemuda yang lahir di Banjarmasin ini bercerita tentang perjalanannya berkeliling Eropa. Tekad yang kuat dan keberaniannya membuat Ia mendapatkan berbagai masalah dan juga mendapatkan banyak keberuntungan.

Menurut saya buku ini sangat menarik untuk dibaca. Penggunaan kata dan kalimat juga mudah untuk dipahami. Dalam buku ini juga diselipkan beberapa gambar asli dari koleksi pribadi selama berkeliling Eropa.

Ketika membaca buku ini, pertama memang saya merasa sedang membaca sebuah buku cerita perjalanan seseorang. Tapi kemudian setelah menginjak pertengahan buku, penyajian cerita tidak hanya berbicara tempat-tempat indah, melainkan Andrei juga menyuguhkan kisah-kisah percintaan yang dramatis selama berada di Eropa. Inilah Travel Books yang menggunakan gaya fiksi dalam penulisannya.

Tidak hanya berdecak kagum ketika saya juga ikut membayangkan tempat-tempat yang dikunjungi Andrei. Tidak jarang alias sering juga saya terbahak-bahak ketika sampai di halaman-halaman tertentu. Karena ada kisah-kisah kekonyolannya yang ia tuliskan dalam buku ini. Dan inilah yang sekali lagi menjadikan buku ini menarik untuk dibaca.
Buku ini terbagi atas empat bab diantaranya adalah Impian Besar, Into the New World, Bitter Sweet, dan Atas Nama Kenangan.

Dalam bab Impian Besar, disinilah Andrei mulai kisahnya dari bermimpi. Impian Andrei sudah ia bangun sejak masih berseragam putih abu-abu. Impiannya berkeliling Eropa baru ada jalan setelah ia melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Pada saat kuliah inilah Andrei punya kesempatan untuk backpaker an ke Eropa dalam rangka mengikuti sebuah workshop film di Perancis.

Memang untuk masalah biaya konsumsi dan tempat tinggal selama workshop akan dibiayai oleh pihak kampus. Tapi untuk biaya akomodasi perjalanan ditanggung oleh masing-masing peserta. Maka dari itulah, Andrei berusaha keras untuk mendapatkan tiket termurah untuk menuju ke Eropa.

Pencarian tiket pesawat dilakukan Andrei di luar negeri. Maka, mulailah Andrei dalam perjalananny ke Eropa diawali dengan negara-negara Asia. Pencarian tiket dimulai dari Negara Singapura, tapi di negara ini Andrei belum mendapatkan tiket. Dilanjutkan ke Negara Malaysia, disinilah Andrei mendapatkan tiket ke Eropa dengan harga yang murah dengan tujuan Negara Jerman. Di Malaysia, ia juga mendapatkan beberapa keberuntungan dan juga mendapatkan masalah. Beruntung karena ia bertemu seorang bos yang mirip mafia, dan bermasalah ketika ia harus berurusan dengan host yang menawarinya untuk mengikuti lomba menendang bola dalam pagelaran fashion show. Karena pada akhirnya ia membuat salah satu model fashion show pingsan akibat kepalanya terkena pantulan bola yang habis ditendang Andrei. Woooooo.

Perjalanan Andrei berlanjut ke Negara Brunei Darussalam dan Thailand untuk transit. Setelah itu sampailah ia di Eropa, tepatnya di Frankfurt, Jerman.
Itulah awal dari perjalanan Andrei untuk menjelajahi negara-negara Eropa.
Dalam kisahnya, Andrei ditemukan sosok-sosok wanita yang menghiasi hampir setengahnya cerita dibuku ini. Wanita-wanita inilah yang menjadikan cerita dalam buku ini menjadi cerita perjalanan yang dipenuhi dengan drama percintaan dan kisah asmara dari penulisnya.

Anne, seorang gadis Belanda berambut pirang dan manis yang membantunya memperbaiki ban sepeda yang bocor. Gadis ini juga menjadi sahabat baik Andrei ketika tinggal di Belanda.

IMG_20161213_124617.jpg
Foto Jules dan Anne dalam Buku Travellous

Ling, sahabat sejati Andrei. Seorang gadis dari negeri China.

IMG_20161213_124532.jpg
Foto Ling dalam Buku Travellous

Jules, gadis keturunan China. Tapi dia merupakan mahasiswi undangan dari Negara Inggris. Gadis inilah yang menghidupkan cerita asmara Andrei selama di Perancis dan negara-negara Eropa lainnya.

IMG_20161213_124433.jpg
Foto Jules dalam Buku Travellous

Ketika membaca buku ini saya mendapatkan keindahan Perancis, Menara Eiffelnya, keindahan negara-negara Eropa lainnya, mendapatkan pengalaman-pengalaman dalam bayangan yang tersusun atas kata dan kalimat yang tidak membosankan.

Andrei peramu handal dalam mengolah kata-kata dari kisah perjalanannya yang kata Trinity menjadi kisah yang menarik, menggelitik, tanpa bikin ngilu.

Selain Jerman dan Belanda, dalam buku ini Andrei juga menceritakan perjalanannya ke Negara Belgia, Perancis, dan Swiss. Di negara-negara tersebut, negara Perancis merupakan negara yang dominan menjadi latar tempat cerita dalam buku ini.

…Coba engkau dengar lagu ini.
Aku yang tertidur dan tengah bermimpi.
Langi-langit kamar jadi penuh gambar wajahmu.
Yang bening sejuk segar.
Kapan lagi kita akan bertemu?
Meski hanya sekilas kau tersenyum kapan lagi kita nyanyi bersama?
Tatapanmu membasuh luka…

Review: Love & Miss Adventure by Lang Leav | Transformasi Cinta dan Lara Lang Leav dalam Larik Puisi

Title: Love & Miss Adventure (Cinta & Kesialan-Kesialan)
Author: Lang Leav
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Published: April 2016
Page: 160 p
ISBN: 978-602-03-2564-4
Detail: Goodreads

Mengapa aku suka puisi?

Mengapa aku membaca puisi?

Mengapa kamu suka membaca puisi?

Puisi adalah bahasa. Tugasnya adalah menerjemahkan mimpi-mimpi kedalam dunia nyata. Menafsirkan kenyataan dalam bingkai impian-impian.

Ungkapan diatas merupakan ungkapan yang pernah dikutip oleh Nietzsche dalam suratnya yang diberikan kepada Richard Wagner barangkali bisa digunakan sebagai patokan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa membaca puisi.

Salah satu buku yang kemarin habis pinjam dari seorang teman berjudul Love & Missadventure (Cinta & Kesialan-Kesialan) karya Lang Leav adalah salah satu buku yang harus dibaca oleh siapapun yang suka akan puisi.

Leav menghadirkan 75 puisi sederhana dan prosa pendek untuk menggambarkan petualangan-petualangan asmaranya. Kebanyakan puisi yang Ia tuliskan merupakan puisi sederhana yang tak banyak kata. Tapi masih mengandung banyak makna.

Seperti salah satu puisinya yang berjudul “Hanya Teman” ini:

“Hanya Teman”

Aku tahu kau bukan milikku,
dan mungkin tak pernah akan,
saat kau bersamanya ada kemarahan,
yang tak berhak didetakkan jantungku.
Aku tahu bukan milikmu,
dan mungkin tak perlu ada harapan,
aku seharusnya tak bersedih dan tertekan,
di akhir pekan kau tak pernah menelephonku.
Kau tak perlu tahu-apa yang membuatku risau,
jika kau didekatku tak akan kutunjukkan,
aku tahu semua ini tak berhak kurasakan,
tapi tak berarti aku tak akan merayau.

Puisi ini terlampir di halaman 17. Sangat sederhana untuk ukuran sebuah puisi yang mengandung makna-makna. Memang dari kesemuanya puisi dan prosa Leav lebih mengambil sudut pandang seorang wanita. Jadi, sepertiku sendiri hampir-hampir membaca satu judul puisi harus berulang sampai 3 kali.

Dalam buku ini yang sudah terjemahan Bahasa Indonesia, puisi Leav dibagi menjadi 3 bagian. Masing-masing adalah Kesialan-Kesialan, Sirkus Duka Cita, dan Cinta. Setiap bagiannya mempunyai keistimewaan tersendiri perihal makna. Bahasanya pun tidak terlalu berat. Masih mudah untuk dicerna dan diambil kesimpulan.

Aku sendiri membaca sampai tuntas buku ini sekitar satu minggu. Padahal satu hari saja dengan secangkir kopi semua puisi dan prosa dalam buku ini akan bisa selesai. Ya begitulah, aku lebih suka berlama-lama membaca buku-buku yang berbau puisi. Itu lebih membuatku merasa nyaman dan lebih bisa menafsirkannya secara luas.

Puisi memang berbeda dengan cerita. Satu bait dalam puisi bisa menafsirkan berbagai makna. Berbagai cerita dan berbagai kejadian-kejadian. Semua bisa muat dalam beberapa bait saja dalam puisi.

Sebagai penikmat puisi. Buku ini sekali lagi aku rekomendasikan untuk kalian-kalian yang suka bercanda-ria dengan syair-syair para pujangga. Buku ini memuat kisah cinta, persahabatan, luka, rindu, penyesalan, pengabaian, pengharapan, dan masih banyak lagi.
Leav tak pernah kehabisan kata tentang cinta. Tak pernah mengulang kata untuk menuai rindu. Tak kurang ide untuk menuliskan luka-lukanya.

Bacalah. Maka kamu akan mengerti puisi Lang Leav. Akan paham jatuh-bangunnya Leav dalam kisah asmaranya.

*Terima kasih Mbak Lia atas kesediaannya meminjamkan buku Love & Missadventure nya. Ditunggu buku-buku lain yang boleh dipinjam.

*Sumber gambar: paintandbutterfliesbooks.wordpress.com

Review: The naked Traveler 1 by Trinity | Ketika Kecoak Menjadi Makanan Ringan di Thailand

Title: The Naked Traveler 1
Author: Trinity
Publisher: Penerbit B First
Published: 2007
Page: 287 p
ISBN:
Detail: Goodreads

Siapa yang suka baca travel books?

Baru-baru ini saya punya keharusan untuk membaca travel books untuk lebih mengenal gaya yang digunakan dalam menyusun sebuah travel writing. Mempelajari tata bahasanya serta urutan cerita yang bisa membuat para pembaca tertarik dengan tulisan kita.

Ternyata banyak sekali buku-buku yang membahas tentang cerita-cerita perjalanan. Dan dari kesemuanya adalah true story alias penulisnya ngrasain dulu jalan-jalannya baru bercerita lewat sebuah tulisan.

Sekarang, saya akan berbagi review sebuah buku yang bagusnya kelewatan, bagus banget. Buku tersebut adalah ‘The Naked Traveler 1’ yang ditulis oleh seorang travel writer sekaligus blogger, Trinity.

Sebenarnya saya sudah tahu buku ini sejak lama sekali. Lama banget. Tetapi waktu itu saya masih belum ngeh dengan buku yang satu ini. Alhasil, saya dulu hanya sekilas tahu bahwa buku ini adalah buku best seller yang banyak dicari oleh para pembaca. Dan banyak sekali nampang di toko-toko buku.

Saya yakin masih banyak yang seperti saya, sudah tahu kalau katanya bukunya bagus, tapi masih belum ngeh untuk membacanya. Maklum, buku diktat lebih penting dari buku manapun.

Karena sebuah keterpaksaan yang harus saya baca, tidak sengaja saya nemu buku ini di Perpustakaan Daerah Grahatama Pustaka Yogyakarta. Takdir kali.

Karena memang saya sudah menjadi member lama, maka saya pun meminjamnya.

Simak baik-baik ya.

Buku ini berjudul ‘The Naked Traveler 1’.
Cetak pertama kali pada tahun 2007, edisi cetak ke-II pada tahun 2014.
Diterbitkan oleh Penerbit dari B First (Bentang Pustaka).
Penulisnya Mbak Trinity.

Buku ini tersusun atas 287 halaman, diselipi warna biru dan gambar karikatur di beberapa lembar halaman. Covernya yang kuning mencolok dengan gambar kaca mata menggantung di sebuah tali menjadikan buku ini sedikit berbeda dengan buku-buku lain. Memang kelihatan sederhana dan elegant, tapi gara-gara cover ini juga alasan kenapa saya dulu-dulu belum ngeh untuk membacanya.

Setelah membacanya sampai tuntas, kini saya tahu bahwa dalam buku ini ceritanya tidak seperti travel books karya Andrei Budiman yang ‘Travellous | Lost in Europe, Find of Love’. Mbak Trinity lebih memilih menceritakan keping demi keping cerita perjalanannya dan dia memilih cerita-cerita yang menarik dan juga lucu. Pokoknya, buku ini tidak seperti novel perjalanan-perjalanan para penulisnya.

Buku ini di bagi menjadi 7 bab diantaranya Airport, Alat Transportasi, Life Sucks!, Tip, Sok Beranalisis, Adrenalins, dan Ups. Kesemuanya mempunyai sub judul yang menyimpan cerita-cerita yang menarik dan diselipi beberapa cerita lucu. Bahkan ada sub bab yang membahas pengalaman horror Mbak Trinity di salah satu pulau di Indonesia.

Sedikit cuplikan dalam sub bab ‘Kejarlah Daku dan Tangkaplah Bagasimu’ bahwa ketika itu Mbak Trinity lagi di salah satu airport kecil di Samarinda (KalTim). Sistem pengambilan barang-barang yang ditaruh dalam bagasi pesawat di sana sungguh lucu bagi saya. Jadi, barang yang sudah di keluarkan dari bagasi pesawat ditaruh di troli dan ditarik oleh seorang ABG yang masih seumuran anak SMA.

Selanjutnya, barang-barang seperti koper, tas, dan kardus yang berjumlah ratusan hanya diletakkan di satu tumpukan saja. Jadinya, banyak orang yang mengubek-ubek barang tersebut dan kadang ada yang teriak kalau ada salah dalam mengambil barang.

Masih bercerita di Indonesia, saya akan memberikan cuplikan dari sub bab yang berjudul ‘Becak di Landasan Pesawat’. Ceritanya Mbak Trinity lagi berada di Tanjung Redeb Airport (KalTim), disana ketika lagi boarding, ada bunyi sirene sebanyak 3 kali.

Sirene pertama mempunyai arti bahwa pesawat akan segera mendarat dan diharapkan bagi orang-orang yang menggembalakan ternaknya untuk segera mengosongkan landasan. Sirene kedua berarti untuk mengusir anak-anak yang masih nekat bermain bola di area landasan. Sirene ketiga mengisyaratkan bahwa pesawat benar-benar akan mendarat.

Masih banyak cerita lucu dalam buku ini, diatas hanya cuplikan yang saya ambil dari satu bab saja yaitu Airport. Masih belum tertarik untuk membacanya?

Tidak hanya berbagi cerita lucu, ada juga analisis-analisis yang disimpulkan oleh Mbak Trinity mengenai kehidupan orang Indonesia dibandingkan dengan penduduk negara lain. Salah satu cuplikan cerita yang akan saya bagikan yaitu pada sub bab yang berjudul ‘Banyak Matahari, Sedikit Jalan Kaki’. Percaya atau tidak, Mbak Trinity menyimpulkan bahwa negara yang lebih banyak mendapatkan sinar matahari maka penduduknya akan sedikit jalan kakinya. Dan begitupun juga sebaliknya.

Di Indonesia sendiri yang merupakan negara yang terlintasi oleh Garis Khaltulistiwa, bisa dibuktikan bahwa penduduknya jarang sekali pergi kemana-mana dengan berjalan kaki. Mereka akan lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi. Kan panas.

Mbak Trinity membandingkan dengan kebiasaan orang-orang di Negara Australia dan juga di Negara Selandia Baru. Dia menceritakan bahwa orang-orang sana jalannya cepat-cepat. Bahkan sering mengeluh ketika berjalan-jalan dengan Mbak Trinity karena jalannya yang sangat lambat.

Tetapi ada sisi positifnya untuk negara-negara yang lebih banyak mendapatkan sinar matahari yaitu penduduknya lebih ramah. Hal ini dimungkinkan karena berjalan yang lambat, mereka lebih punya banyak waktu untuk saling sapa satu sama lain.

Selain cerita lucu dan juga kesimpulan-kesimpulan yang diberikan melalui buku ini, Mbak Trinity juga banyak memberikan tips-tips yang sangat-sangat bermanfaat bagi siapa saja yang mau menganut madzab travellingnya. Seperti cara memilih hostel bukan hotel, menghemat biaya untuk makan, menghemat biaya dalam melakukan perjalanan di suatu kota, dan tips-tips sepele lainnya yang juga bermanfaat bagi traveller pemula.

Satu lagi cuplikan yang akan saya bagikan yaitu mengenai makanan murah yang diceritakan oleh Mbak Trinity ketika berada di Thailand. Seperti di Indonesia, makanan yang murah akan mudah ditemui di pinggir jalan. Di Thailand juga sama, jika menginginkan makanan murah maka di pinggir jalan bisa menjadi salah satu pilihan.

Tetapi, di Thailand diceritakan bahwa disana ada gerobak yang menjual makanan ringan aneka binatang kecil. Kalau di Indonesia binatang ini tidak layak makan. Binatang yang dimaksud adalah cacing, belalang, jangkrik, kecoak, bahkan ada juga kalajengking. Penyajiannya dengan di goreng terlebih dahulu dan dibungkus dengan kertas berbentuk segitiga. Biasanya digunakan sebagai camilan ketika jalan-jalan santai. Menjijikkan bukan?

Itulah review yang bisa saya bagikan dengan sahabat semua. Bagi kalian yang suka travelling dan belum sempat kesampaian karena berbagai alasan. Maka, membaca buku ini adalah sangat disarankan sekali.

Meskipun badan dan kaki belum sempat travelling, setidaknya khayalan dan imajinasi sudah mengembara kemana-mana dengan membaca travel books. Salah satunya buku ini ‘The Naked Traveller 1’.

*Kalau malas membeli, maka carilah buku The Naked Traveller 1 di perpustakaan-perpustakaan terdekat.
*Insya Allah ada dan lebih hemat.

Tentang semua yang terlintas dan kenangan