Arsip Kategori: Tak Berkategori

Kopi dan Surat-Suratmu

kopi dan surat

Langit mengisyaratkan kedamaian. Awan-awan menggantung bak buah-buahan yang siap jatuh ke tanah. Matahari tersembunyi entah di mana letaknya. Suasana begitu tenang untuk secangkir kopi dan sedikit gula di pagi hari menjelang siang.
Aku tahu sekali seharusnya di jam-jam saat ini matahari sudah tampak. Cahaya seharusnya tersebar merata di seantero penglihatanku. Hangat seharusnya sudah mulai menyengat kulitku yang coklat ini. Memang begitu seharusnya suasana di jam-jam seperti ini.

Tapi ini berbeda. Suasana begitu sendu tapi tak menyedihkan. Suasana terasa nyaman di hati. Meskipun udara tak sehangat biasanya tapi ini sungguh hangat bagi yang menghirup napas dalam-dalam di teras rumah ditemani dengan secangkir kopi.

Kopi yang kubuat ini bukan kopi sembarangan. Ada sejarahnya ketika ia sampai di tanganku dan kuseduh hampir setiap hari sambil menikmatinya di pagi ataupun senja hari. Kopi ini mempunyai seribu tafsir bagiku. Ketika mulai mengambilnya dengan sendok, mencampurnya dengan sedikit gula, menuanginya dengan air panas, mengaduknya, mencium aromanya, dan menyeruputnya, semua melahirkan tafsiran-tafsiran kerinduan. Entah kerinduan pada siapa dan untuk apa.

Sambil menikmati kopi ini aku membaca ulang surat-suratmu. Surat yang telah kau kirimkan berbentuk elektronik berhari-hari yang lalu. Aku membacanya dari awal. Satu per satu aku selesaikan suratmu dengan senyum dibbibirku. “Tak menyangka sudah sebanyak ini suratmu berada di kotak masukku”. Pada surat terakhir yang kau kirmkan, kau bercerita banyak hal tentang kegiatanmu akhir-akhir ini. Bahkan kau menyampaikan pula kegelisahan-kegelisahan yang kau alami. Tak lupa kau tutup dengan kalimat yang intinya kau ingin mengetahui kabarku terakhir dan apa saja kegiatanku. Ah itu selalu membuatku risau untuk bercerita banyak tentang diriku.
Surat-suratmu selalu segar untuk dibaca. Bahkan berkali-kali pun masih enak untuk dicerna dan melahirkan senyumsenyum kecil.

Kopi kembali kunikmati di bawah langit yang tak bisa diprediksi ini. Sebenarnya aku menanti langit di atas rumahku ini menurunkan hujan. Membasahi dedaunan dan jalan-jalan menjadi bersih. Dengan begitu kopi ini kenikmatannya akan bertambah seiring dingin yang nantinya menyerang tubuh ini.

Terakhir suratmu masuk di alamat emailku dua minggu kemarin. Bertepatan dengan Hari Sabtu. Pagi hari. Saat itu aku sedang membereskan kewajibanku. Aku masih ingat betul.

Tidak seperti bulan-bulan yang telah lewat, ketika kau mengirmkan surat pastinya seminggu kemudian aku akan membalasnya dengan cerita yang panjang. Cerita yang mungkin tidak penting, bahkan tidak layak untuk diceritakan. Tapi hanya itulah cerita yang aku punya. Rutin aku membalas surat-suratmu. Ya, meski kau pun kadang membalasnya sampai sebulan kemudian, tapi itu sungguh menyenangkan untuk dilakukan.

Tapi untuk saat ini aku belum bisa membalas suratmu itu. Aku masih ingin menikmati kegelisahanku dan menahan dulu cerita-cerita yang ingin aku sampaikan padamu. Itu mungkin membuatmu menunggu begitu lama. Atau mungkin kau tak peduli lagi dengan surat-surat kita. Atau kau lupa akan surat balasanku atas kesibukanmu di sana. Entahlah. Itu urusanmu tapi aku berterimakasih jikalau kau masih sempat-sempatnya menunggu balasanku.

Atau begini saja. Akan aku nikmati dulu suasana di teras rumahku ini, dengan secangkir kopi, dan surat-suratmu, dan pikiran-pikiran risau untuk membalas suratmu, sedang kau di sana sibuklah dengan kegiatan-kegiatanmu, yang kata suratmu, membuat berbagai macam kue, membaca buku, menonton film, dan sekali-kali nantinya kau boleh merindukan balasan atas suratmu.

Oh iya, apa aku tidak usah membalas suratmu.

Bukankah minggu depan kau datang ke kotaku, ingin berbagi cerita, ingin meluapkan rindu, yang terpenting ingin berpamitan untuk waktu yang lama?

Oh oke, pada saat itu saja akan aku balas surat-suratmu dengan ocehan ria yang bersahabat.

Iklan

MENULIS ITU UNTUK HIDUP SELAMA-LAMA-LAMANYA

tulis

Segala sesuatu yang hidup di atas muka Bumi ini bisa dipastikan akan mengalami yang namanya mati. Semuanya tanpa terkecuali. Tapi perihal kapan dan bagaimana proses mati itu sendiri sungguh tidak ada yang tahu. Satu orang pun.

Saya, Anda, kucing, kambing, sapi, ayam, semuanya pasti akan bertemu yang namanya kematian. Sebuah jalan kepastian yang tidak bisa dihindari, tidak bisa dipercepat, pun tidak bisa diperlambat. Kematian adalah kepastian.

Tapi yang tak bisa dimengerti adalah mengapa ada kesedihan di sana. Mengapa ada air mata. Mengapa ada ratap tangis dan kehilangan di sana. Mengapa ada satu rasa yang ganjil, satu rasa yang hilang. Bukankah kematian suatu kewajaran. Suatu hal yang memang lumrah untuk diterima. Karena pada hakikatnya semua yang hidup akan menjumpai apa yang namanya kematian.

Ternyata oh ternyata, ada satu rasa yang mendasari kenapa beberapa orang merasa sangat kehilangan. Merasa sangat bersedih. Merasa hari-hari kedepannya akan terasa sangat-sangat kurang.

Rasa itu adalah rasa cinta. Rasa yang melahirkan kasih sayang. Rasa yang menumbuhkan rindu. Rasa yang bisa meminimalisir kegelisahan. Rasa itulah yang akan mencuat muncul, bergelora, dan terbakar hebat jika  disandingkan dengan kematian. Karena kematian berarti perpisahan. Berpisah untuk waktu yang lama. Lama sekali.

Begitulah alur keluarnya air mata dan ratap sedih apabila mendengar kabar sebuah kematian. Ada kasih sayang di sana dan ada rasa kehilangan yang dalam.

————————–

Sebagai salah seorang yang pernah bertukar sapa dengan Mas Shiq (Muhammad Liudin), meski di dunia maya, saya cukup kaget dan tidak percaya ketika membaca kabar bahwa Mas Shiq sudah berpulang mendahului kita semua. Beliau adalah kawan saya di dunia kepenulisan WordPress ini. Beliau sering nangkring di kolom komentar tulisan saya. Beberapa tulisan malah saling sapa sok akrab. Padahal belum pernah bersua sama sekali.

Dari seringya Beliau komen duluan, maka tak jarang juga saya blogwalking ke situs Beliau yang sangat-sangat popular itu. Situs yang menyimpan banyak tulisan bermanfaat. Sebuah museum kehidupan dan catatan kesehariannya. Di situlah kadang saya ikut-ikutan nimbrung dan komen sekenannya. Tapi saya kira lebih banyak membaca saja dan tidak ikut mengeluarkan pendapat. Beberapa tulisan memang saya paham dan saya butuhkan, tetapi banyak juga tulisan Beliau yang sulit dipahami dan hanya saya skimming saja.

Begitu menginspirasi bagi saya. Sosok Mas Shiq adalah contoh tauladan untuk terus menulis dan bercerita bagi saya. Beliau punya penyakit Skizofrenia, suatu penyakit yang awalnya ditandai dengan gangguan  proses berfikir dan tanggapan emosi yang lemah. Keadaan inilah yang kadang memunculkan halusinasi dan paranoid pada Beliau.

Tapi Beliau memilih untuk melawannya. Salah satunya dengan cara menulis. Menulis apa saja. Bahkan Beliau juga sudah membuat beberapa e-book yang dibagikan gratis perihal metode dan cara agar ngeblog jadi asyik khususnya untuk pemula.

Lha iya, begitu gigihnya Beliau dalam berjuang untuk kesembuhannya, setiap hari adalah hari baru dan kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, makanya Beliau selalu mencoba untuk berbagi kebaikan dan manfaat untuk sesama. Beliau tidak menyerah pada penyakitnya.

Beliau optimis untuk bisa sembuh dan bisa menjalani hari-harinya seperti orang-orang kebanyakan. Bisa jalan-jalan. Bisa makan apa saja. Bisa minum apa saja. Bisa tidur seenaknya. Tanpa memerdulikan jam-jam yang di sana ada namanya jadwal minum obat. Jam-jam yang membosankan bagi Beliau (katanya). Waktu yang sungguh membuat Beliau tidak keren.

Kegigihannya inilah yang menyadarkan saya bahwa keterbatasan tidak menghalangi untuk selalu berbagi. Selalu berusaha. Selalu punya harapan dan impian. Punya cita-cita. Kegigihan Beliau seolah cambukan bagi saya, bagi pribadi saya sendiri, untuk tidak menyerah pada keadaan dan keterbatasan.

Terakhir, saya mengucapkan selamat jalan Mas Shiq. Selamat bersenang-senang dengan impianmu yang abadi. Sungguh, saya kira di sana sudah tidak ada lagi dokter, sudah tidak ada lagi obat-obatan, Engkau sudah tidak punya kewajiban untuk membeli buah-buahan di pasar ataupun melayani pembeli lagi. Impianmu telah tercapai, Engkau telah lulus dalam semua ujian di dunia ini. Selamat istirahat. Selamat bersua dengan Kekasihmu. Selamat bercumbu ria dengan Tuhanmu.

Terimakasih telah berbagi pengalaman dan kisah-kisah yang menguatkan. Tulisanmu akan abadi. Hasil karyamu akan mengharumkan namamu. Pengalamanmu akan menjadi semangat bagi beberapa orang di luar sana. Kisah-kisahmu akan menguatkan hari-hari mereka. Sekali lagi terimakasih.

Salam dari saya, kangsole.

 

Satu Tempat untuk Merindu

Gambar-Bunga-Teratai-Yang-Kuncup

Sebut satu tempat yang membuatmu rindu.

Rindu apa saja.

Boleh tawanya, senyumnya, judesnya, atau bahkan marahnya.

Tempat yang jika diucapkan membuatmu melayang. Menerawang kenangan-kenangan masa lalu.

Membuatmu mengerti bahwa kamu pernah dimabuk asmara oleh manisnya sebuah percakapan.

Percakapan ringan dan bahkan sepele sekaligus tak penting.

Satu tempat apabila disebutkan kau seolah-olah bagian darinya.

Bagian dari kotamu.

Kota yang lain di hatimu.

Pernahkah kau merindu hanya pada sebuah kata tempat. Sama sekali tidak ingin mengunjunginya lagi. Atau ingin mengunjunginya lagi. Tidak masuk dalam daftar tujuanmu mengelana. Hanya sebatas rindu. Rindu yang dalam.

Karena di tempat itu ada satu nama yang entah kenapa Tuhan selalu membuat jiwa bergetar. Hati menggigil. Pikiran terhenti sejenak. Dan seketika lidah menjadi kelu.

Satu nama yang pernah megah di hatimu. Satu nama yang pernah menyirami malam-malam sunyimu. Satu nama yang pernah mengisi slot kosong dalam doa sujudmu. Satu nama yang jika kau bangun dari tidurmu kau tersenyum. Ohhh jangan kau gila hanya gara-gara satu nama. Sadarlah kawan.

Jika kau pernah. Pernah. Pernah mengalaminya. Maka kau telah menikmati salah satu keajaiban Tuhan dalam hati. Jaga tempat itu dalam doa dan hatimu.

#ALFY: Warna-warni Pelangi di Matamu

Untuk melatiku,

Saat tetesan hujan menepi di daun-daun melati, Saat pelangi nampak di lereng perbukitan, Dan ketika ribuan bintang menari di malam-malamku, Aku ingat saat-saat berjalan dan tertawa bersamamu, Berdua dengan berbagi rasa dan cerita.

Bersama ini izinkanlah aku mengutarakan cinta yang diwariskan Tuhan atas anak Adam untuk melatiku, Sang bunga dalam taman jiwaku.

Kehidupanku karenamu lebih berwarna dari pelangi-pelangi di langit biru. Senyummu adalah penawar rindu paling mujarab untuk kesakitan hatiku. Setiap sajak dan puisi yang pernah kugubah, seolah tak pernah bermakna jika tanpamu. Syair-syair Tuhan lebih indah jika hanya tertuju padamu.

Dan pada akhirnya Aku adalah orang yang paling beruntung. Seorang pria yang telah menemukan belahan hati. Yang bisa merasakan indahnya cinta dan pengorbanan. Berlayar di samudra kehidupan untuk mereguk rindu dan kasih bersamamu.

Hujan,

Saya Mengumpat Ketika Membaca Novel Paling Menjengkelkan Ini

Ronggeng_or_dancing_girl1817
credit: oheunchadiary.blogspot.co.id

Hari di mana saya merasa ling-lung. Banyak pikiran dan imajinasi yang memenuhi kepala saya. Hari itu adalah hari saat saya menyelesaikan sebuah trilogi novel karangan Ahmad Tohari.

Adalah Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jentera Bianglala yang memberikan nuansa gelap dalam hayalan saya. Ada rasa mengganjal dalam perasaan saya. Emosi saya sepenuhnya telah diacak-acak oleh pengarangnya.

Dulu, sempat saya mengumpat ‘uasu’ pada jalan cerita dan kepribadian-kepribadian yang dimiliki tokoh-tokohnya. Saat itu saya membenci semua tokoh dalam cerita tersebut. Memang saya belum selesai membacanya, tetapi apa boleh buat, mengumpat seperti itu saya merasa benar dan itu hal yang wajar.

Dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, umpatan cabul dan menggemaskan serta sedikit menggelitik banyak sekali dijumpai. Tak heran jika setelah membaca novel ini, saya sedikit-banyak fasih mengucapkan umpatan tersebut yang dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan misuh.

Baca juga :
Book Review: Kisah Pelacur Pujaan yang Hidup Lagi Setelah Mati Selama 21 Tahun
Book Review: Ketika Cinta Berbuah Penderitaan

Saya ingat betul, hari di mana saya menyelesaikan novel ini adalah di Hari Sabtu yang sedikit mendung. Seminggu sudah saya menekuri kata dan kalimat yang dirangkai oleh Ahmad Tohari itu.

Pagi sebelum melakukan aktivitas saya sempatkan sepuluh halaman. Menjelang maghrib, ini waktu yang paling asyik sambil nongkrong gak jelas di beranda, saya paksa untuk lebih banyak lagi membaca halaman demi halaman. Menjelang tidur –setelah main kartu, adalah waktu paling afdhol untuk meneruskan membaca sambil glimbang-glimbung menunggu kantuk.

Hari yang mendung selalu membawa suasana yang istimewa. Rasa malas kadang lebih mendominasi diri disbanding rasa ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tapi Hari Sabtu kemarin, Ronggeng Dukuh Paruk telah memberi daya magis yang bisa memikat mata dan angan untuk sinkron menjelajah suatu dukuh dalam imajinasi yang bernama Dukuh Paruk.

Saya kenal akrab dengan Srintil, seorang ronggeng yang ayu jelita, molek tubuhnya, montok dadanya, dan putih kulitnya. Meskipun saya tidak secara langsung menonton pertunjukan ronggengnya, liuk tariannya dan juga tatapan cabulnya seakan tervisualisasi secara gamblang oleh barisan kata-kata yang tercetak rapi di kertas kuning Buku Ronggeng Dukuh Paruk itu.

Saya juga mengenal Rasus. Dia seorang bocah cilik yang hatinya remuk redam setelah Dukuh Paruk melenyapkan ibunya dan merenggut Srintil dari hatinya. Hidupnya serba susah. Menginjak dewasa, keberuntungan menghampirinya. Dan pada akhirnya, dialah satu-satunya pahlawan yang mengharumkan kembali nama Dukuh Paruk di hati para saudara-saudaranya.

Semangat saya bergejolak saat sampai di cerita ini, entah mengapa ada sedikit warna hijau di kegelapan yang terbentang. Ada sesuatu yang dibanggakan dalam wilayah kecil dan terpelosoknya Dukuh Paruk. Ingin rasanya berjabat tangan dan memeluk Rasus untuk kehidupan masa kecilnya dan kehidupan masa depannya.

Menjelang malam. Tepatnya malam Minggu. Saya ada kesempatan untuk plesiran bersama kawan-kawan ke KM 0 Yogyakarta. Malam itu ramai sekali karena bertepatan dengan digelarnya konser salah satu artis ibukota.

Di usia yang sebesar ini saya kadang merasa resah jika malam-malam keluyuran gak jelas. Sekedar jalan. Mencari suasana baru. Apalagi malam itu adalah malam yang krusial bagi pasangan muda-mudi. Malam yang dipenuhi fans-fans salah satu artis ibu kota. Malam yang sudah memasuki ajaran baru, yang berarti puluhan ribu mahasiswa baru sudah berada di Yogyakarta. Malam yang kebetulan kami-kami tidak ada kegiatan dan mencoba mencairkan isi kepala.

Seperti kebanyakan pembaca, setelah menghabiskan satu cerita novel, selalu terasa tokoh-tokohnya serta alur ceritanya kebawa dalam dunia nyata. Pun malam itu, seakan Srintil ikut serta dalam meramaikan 0 KM Jogja. Keberadaannya mungkin membuat kesibukan tersendiri untuk dinikmati.

Dalam kisah yang dituliskan Ahmad Tohari sosok Srintil menggambarkan kecantikan alami, keserasian kehidupan cabul di Dukuh Paruk, serta kenggunan ragawi yang menggetarkan alam bawah sadar. Dalam kisah tersebut hanya Srintil yang dilukiskan seperti sepetak ilalang semi dalam hamparan gurun yang tak berkaktus.

Rambutnya hitam panjang sepinggang. Saat meliuk dalam tarian ronggeng, ia tampakkan leher jenjangnya. Ia obral kuning langsat kulit lehernya. Rambut yang indah itu disanggulnya tinggi-tinggi untuk mengatakan bahwa, hanya dialah yang pantas untuk dinikmati kala ronggeng manggung.

Tepat mendekati tengah malam yang masih dipadati banyak pengunjung saya hanya membayangkan, ‘adakah sosok Srintil di sini?’ pertanyaannya memang konyol. Tapi juga tak salah jika dikaji dari segi psikologis seorang yang habis terbakar emosi oleh Novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Jangkrik’. Ternyata ada.

Entah bagaimana bisa ketemu, dimungkinkan hanyalah kelanturan pribadi saya. Di sini, di Jogja, perihal cantik untuk menggantikan kecantikan Srintil, si peronggeng, cukup buanyak. Buanyak banget.

Tapi malam itu ada satu sosok yang menyanggul rambutnya seperti bayangan saya ketika Srintil menampilkan jenjang lehernya untuk menantang penonton ronggeng. Sosok tersebut menghanyutkan pandangan saya. Meskipun tidak menari, tetapi terasa sekali bahwa saya berdiri di sini adalah sebagai penonton setianya. Hampir saja saya mengejarnya dan sekedar menepuk pundaknya, “Mbak boleh kenalan?”

 

Book Review: Gadis Berbunga Kamelia by Alexandre Dumas JR | Ketika Cinta Berbuah Penderitaan

IMG_20170604_230631

Title: Gadis Berbunga Kamelia: Roman Klasik yang Menyentuh
Author: Alexandre Dumas JR
Translator: Rika Iffati
Publisher: Bentang Pustaka
Published: 2009
Page: 319 p
ISBN: 978-979-1227-47-6
Detail: Goodreads

Sudah dua buku yang saya baca mengenai pelacur –termasuk novel ini. Kesemuanya novel. Satunya yaitu bukunya Eka Kurniawan, Cantik Itu Luka.

Wanita penghibur mendapat jatah tersendiri dalam strata sosial kehidupan bermasyarakat. Mereka juga mempunyai prinsip-prinsip yang apabila ditabrakkan dengan prinsip manusia kebanyakan akan bertolak belakang. Prinsip mereka misterius, mungkin yang paham hanyalah mereka dan Tuhan mereka.

Saya mendapatkan buku ini di salah satu perpustakaan terbesar di Yogyakarta. Sebenarnya saya pinjamnya seminggu sebelum Ramadhan, tetapi baru kelar seminggu setelah Ramadhan.

Penjabaran cerita dalam buku ini tidak seterbuka Cantik Itu Luka. Ceritanya lebih menuju ke romantika sebuah hubungan. Jadi, tidak ada salahnya jika menjadikan list untuk diselesaikan di Bulan Ramadhan.

REVIEW

Gadis berbunga Kamelia atau lebih akrab dipanggil Madam Marguerite adalah seorang wanita penghibur terkenal di Paris yang meninggal sekitar tahun 1847 M. Hampir setiap pria yang tinggal di Paris akan mengenalnya karena kecantikan dan keanggunannya. Marguerite meliliki pesona tersendiri dibandingkan wanita penghibur lainnya. Dia tidak semanja wanita penghibur lainnya.

Pada saat menghadiri pesta atau pada saat menonton teater, kebanyakan teman-temannya hampir selalu menggandeng pria untuk dipamerkan, tapi, tidak dengan Marguerite. Dia biasa berjalan sendiri. Menghadiri pesta sendiri. Menonton teater sendiri. Dia tidak peduli, ada atau tidaknya lelaki yang bersamanya. Dia menganggap sama saja.

Seperti wanita-wanita penghibur lainnya, bagi mereka tidak ada cinta sejati dalam hidup. Cinta hanyalah hasrat sementara yang kudu dipuaskan. Bagi mereka cinta kaum lelaki tidak pernah utuh bahkan mereka menganggap cinta lelaki hanyalah rayuan belaka untuk mendapatkan satu malam bercinta atau lebih bersamanya.

Kehidupan wanita penghibur di Paris sangatlah mahal termasuk kehidupan Marguerite yang sebulan bisa menghabiskan uang tujuh ribu france. Tetapi, itu tidak masalah baginya karena sumber uangnya sangat setia dan selalu memenuhi kebutuhannya.

Adalah Armand Duval, seorang lelaki yang membuat Marguerite kembali ke kesucian yang ia yakini. Lelaki yang membawanya dalam kebahagiaan dan menyeretnya pada kesengsaraan cinta. Armand menjadi madu sekaligus duri dalam akhir kehidupan Marguerite.

Dalam awal-awal pertemuan, Armand adalah pemuda yang membawa cinta suci untuk Marguerite. Pemuda kampung yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang wanita penghibur.

Ketika Marguerite jatuh sakit, Armandlah yang menanyakan keadaan Marguerite setiap harinya selama satu bulan penuh tanpa meninggalkan identitas. Ini adalah tindakan yang dilakukan oleh seorang yang belum kenalan satu sama lain tetapi dalam hati salah satunya sudah tumbuh benih-benih cinta.

Dan setelah takdir menemukan mereka pada pertemuan pertama, Armand langsung mengungkapakan cintanya.

“Dengar, Marguerite, entah pengaruh apa yang telah engkau tanamkan kepada kehidupanku, tetapi saat ini, tak satu wanita pun, bahkan saudara perempuanku, yang membuatku merasakan ketertarikan yang saat ini kurasakan untukmu. Sudah seperti ini keadaannya sejak pertama kali aku melihatmu. Nah, demi Tuhan, jaga kesehatanmu. Jangan menjalani kehidupan seperti yang kau lakukan saat ini.” (Hal 105).

Meskipun Marguerite berkali-kali mendapatkan pernyataan cinta dari para pria, tetapi, Marguerite tahu betul cinta mana yang tulus dan gombal. Pemuda itu berkata dengan sungguh-sungguh karena disertai tetesan airmata kepedulian akan kesehatan Marguerite.

Menjadi kekasih seorang wanita penghibur tidaklah mudah sekaligus tidak murah. Marguerite tidak mau menjadikan Armand bangkrut dalam sekejap karena berusaha mencintainya. Dan apa yang dikatakan Armand, setelah Marguerite menyarankan untuk menjadikan hubungannya sebatas pertemanan saja?

“Sejak aku melihatmu, entah mengapa, kau telah menduduki suatu tempat dalam hidupku. Jika aku mencoba mengenyahkan pikiran tentangmu dari benakku, pikiran itu selalu kembali lagi. Ketika aku berjumpa denganmu hari ini, setelah tak melihatmu selama dua tahun, kau meninggalkan kesan yang lebih dalam di hati dan pikiranku ketimbang sebelumnya karena sekarang kau telah mengizinkanku datang mengunjungimu, karena aku telah mengenalmu, karena aku telah mengetahui segala keanehan dalam dirimu. Kau telah menjadi kebutuhan hidupku dan kau akan membuatku gila, bukan saja kalau kau tak mencintaiku, tetapi juga kalau kau tak memperbolehkanku mencintaimu.” (Hal 109).

Tetapi, bagaimana pun, pada akhirnya Marguerite menerima cintanya Armand. Cinta yang tulus itu juga disambut dengan cinta yang murni oleh Marguerite. Bagi Marguerite, cinta dari Armand adalah cinta yang ia nanti-nantikan. Cinta yang dapat menghapus segala masa lalunya dan menyambut kebahagiaan-kebahagiaan selanjutnya.

Mereka saling mencintai. Sangat saling mencintai. Hingga pada suatu waktu Marguerite meminta kepada Duke –orang tua yang menganggapnya anak, untuk membelikan rumah kecil di Bougival –pedesaaan di Paris. Dalihnya untuk beristirahat dan menikmati pedesaan supaya penyakit TBC yang ia derita segera sembuh.

Tetapi, itu hanyalah sebuah dalih semata. Ujungnya, rumah itu digunakan Marguerite dan Armand untuk menikmati kebersamaan dan kebahagiaan.

Saking cintanya, Marguerite tidak pernah meminta apapun dari Armand. Apapun. Malahan semua yang dimiliki Marguerite –perhiasan, kereta, gaun semuanya dijual dan digadaikan untuk memenuhi kebutuhan dan melunasi hutang-hutangnya.

Jalan cinta tidak selalu mulus. Ada selalu rintangan dan halangan untuk menguji sebuah hubungan. Pun hubungan asmara antara Marguerite dan Armand Duval.

Masalah datang ketika Ayah Armand tidak menyetujui hubungan mereka. Ayah Armand menganggap bahwa hubungan mereka hanyalah cinta sesaat dan akan merusak masa depan Armand yang masih panjang. Madam Marguerite dianggap masih seperti dulu yang bisa membuat bangkrut siapa saja yang menjadi kekasihnya, termasuk Armand.

Maka dari itu dengan permohonan dan intervensi yang menyentuh dari Ayah Armand, akhirnya Marguerite pun memilih keputusan yang sangat ia benci. Ia harus memutus hubungan dengan Armand bagaimana pun caranya. Tentu saja demi kebahagiaan keluarga besar Armand Duval dan demi berlangsungnya pernikahan adik perempuan Armand Duval.

Dengan tangisan dan rintihan sakitnya perpisahan, akhirnya meluncurlah surat yang ditulis Marguerite untuk Armand.

“Saat kau membaca surat ini, Armand, Aku sudah menjadi wanita simpanan lelaki lain. Hubungan kita sudah usai.
Kembalilah kepada ayahmu, Kawanku, serta kepada saudarimu. Dan, di sana, di sisi gadis muda yang masih suci itu, yang tak mengetahui segala penderitaan kita, kau akan segera melupakan apa yang akan membuatmu menderita gara-gara makhluk penuh dosa bernama Marguerite Gautier, yang pernah kau cintai sesaat dan berutang kepadamu atas satu-satunya saat membahagiakan dalam hidupnya yang, dia berharap, tak akan lama lagi sekarang.” (Hal. 257).

Mereka putus selama-lamanya.

CLOSING

Dalam novel ini, bagian yang sangat-sangat saya benci adalah surat Marguerite kepada Armad. Surat itu mengubah segala-galanya.

Armand yang dulunya sangat mencintai Marguerite, karena darah mudanya, darah balas dendam kepada kekasih yang memutuskannya, tanpa tahu sebab-sebabnya, membuat hari-hari Marguerite semakin sakit dan sakit.

Menjelang ajalnya, karena TBC yang semakin parah, Marguerite tidak berdaya. Raganya rusak oleh penyakit, sedang jiwanya telah hancur karena cinta yang tak bisa ia perjuangkan. Saat-saat seperti ini, semua telah melupakannya, kekasih-kekasihnya dulu, teman-temannya, kecuali adik perempuannya dan pembantunya yang setia di sisinya, merawatnya hingga ajal menjemput.

Sebelum maut memeluknya, ia tuliskan beberapa surat yang berisikan penjelasan-penjelasan, mengapa ia dengan sepihak memutuskan Armand. Surat-surat itu berisi kepedihan dan rasa rindu yang sangat mendalam pada Armand, kekasihnya yang pernah membuatnya bahagia dulu. Surat-surat Marguerite kepada Armand memenuhi dua bab terakhir dalam novel ini yang mungkin membuat pembaca baper.

Impian yang Marguerite inginkan yaitu menemui ajal dalam genggaman tangan kekasihnya, dalam pelukan cinta sejati, pada akhirnya hanya sebuah impian. Marguerite menemui ajalnya di kamar tidurnya, dalam kesepian, meninggalkan surat-surat dan kisah cinta yang memilukan.

Ia merelakan kebahagiaannya demi kehidupan kekasihnya –Armand, yang lebih baik. Ia rela menderita demi gadis suci yang akan melangsungkan pernikahannya. Ia rela mengorbankan jiwanya untuk sesuatu yang tak bisa ia nikmati. Ia hanya bisa mengucap nama Armand di penghujung ajalnya untuk mengantarkannya ke kehidupan abadi.

Novel ini membawa kesedihan yang cukup mengena bagi pembacanya. Bagi saya, roman Laila Majnun ataupun Romeo Juliet masih kalah sedih ceritanya dengan Gadis Berbunga Kamelia ini.

Terakhir, entah kisah ini kisah nyata atau tidak, Bunga Kamelia yang menjadi ikon Marguerite akan tetap bersemi di atas makamnya, sebab penyesalan yang mendalam dari Armand Duval, kekasihnya.

Bagiku langit tetaplah indah untuk diceritakan

Langit waktu siang ataupun malam tetaplah sama. Memberi kesejukan dan kenyamanan. Ada awan-awan yang damai ketika kau ingin melihatnya di waktu siang. Ada jutaan bintang yang menari ketika kau rindu pada malam hari. Bahkan purnama akan melengkapi kebahagiaanmu sebelum kau bertemu dengan mimpimu.

sky-62732_960_720

Ketika kau menyuruhku menceritakan langit, maka aku akan duduk di sampingmu. Kita akan berada di teras menghabiskan waktu bersama. Entah kau maunya siang ataupun malam. Bagiku langit tetaplah indah untuk diceritakan. Tentu kau akan merasakan senang bukan?

Tatkala matahari mulai berkawan dengan embun-embun pagi, fajar tak ubahnya setangkai bunga mawar yang merekah bagi langit yang dingin. Sinarnya boleh kau lukiskan sebagai nyala api yang temaram.

Perlahan-lahan mendaki langit, menciptakan suasana tenang penuh kerinduan. Jika kau mau, kau boleh berdiri menantang sang fajar. Kau boleh hirup nafas sedalam-dalamnya untuk merasakan kemegahan ciptaan Tuhan yang terselip dalam terbitnya matahari.

Seperti anak-anak yang riang ketika mendapatkan berkah, burung-burung kecil itu mengudara menyambut hari. Terbang kesana-kemari untuk menyanyikan lagu-lagu alam. Tentu kau bisa mendengar nyanyiannya. Tak terlalu keras, tapi itu cukup akan membuatmu tersenyum.

Menjelang siang, suasana akan menghangat. Menjalari pohon-pohon dan atap-atap. Angin berhembus untuk menandakan bahwa dingin telah lenyap dan telah tergantikan oleh kehangatan.

Aku akan mengikutimu duduk lagi. Dan kita masih menikmati langit. Seperti paginya orang yang romantis, selalu ada kopi di meja untuk sekedar teman menerjemahkan langit.

Langit selalu mempunyai ketenangan tersendiri. Ia berdiri sendiri sebagai pelengkap jagat untuk mempertebal keimanan. Semacam-macam apapun perbuatan di bawahnya, langit tetaplah langit, yang hanya bisa melihat tanpa pernah menegur.

Langit menyimpan berjuta-juta rahasia. Berjuta-juta keinginan. Berjuta-juta impian. Termasuk impianku kala dulu ketika aku sangat-sangat ingin menemuimu, tetapi yang keluar hanyalah barisan doa yang kutitipkan pada langit untuk Tuhan.

Langit selalu menerima. Langit tak pernah menolak. Apa kau pernah tahu, langit menolak impian hanya gara-gara tidak sesuai dengan si pengimpi? Apa kau pernah dengar, langit menolak doa hanya karena baitnya terlalu buruk? Langit tak sekejam itu. Langit adalah hamba yang penurut dan penerima.

Saat siang menjelang, langit terlihat indah dengan warna biru yang membentang. Seperti lautan, warna biru yang menenangkan sekaligus menyenangkan. Di sudut-sudutnya beriringan awan-awan putih yang sedang menjelajah. Kadang tipis-tipis, kadang juga tebal bergelembung, saling bertumpuk.

Jika seumpama kau sabar menatap langit kau akan menemukan lebih banyak keindahan. Kau akan menemukan burung-burung yang sangat kecil, yang sedang berkejaran menodai birunya langit. Saking kecilnya, mungkin kau akan menganggapnya bintang yang hitam. Padahal itu nyata, dua burung yang saling kasmaran, berkejaran menikmati angin yang sedang berhembus.

Kau akan menemukan bentuk-bentuk awan yang lucu, unik, mengagumkan, bahkan menjengkelkan. Di siang yang terik, kadang-kadang langit menyajikan awan-awan seperti kumpulan kelinci yang bebas di padang rumput. Jika kau pernah melihat domba, maka kau tak akan sebegitu kaget jika pandangamu melihat domba-domba itu sedang merumput di hamparan birunya kedamaian.

Setelah hari mulai menunjukkan titik tengahnya, maka saat-saat seperti ini lebih baik kau dan aku istirahat sejenak. Masuk ke dalam rumah dan kita akan membicarakan apa saja termasuk hewan-hewan yang kita temui pagi tadi. Kita akan membahas hal yang mungkin lucu dan juga malah tidak perlu. Yang pasti kita menghabiskan waktu untuk menunggu langit bersahabat kembali untuk dinikmati.

Masuk di sepertiga siang terakhir,yang sungguh banyak dalil yang mengatakan bahwa waktu-waktu seperti ini langit akan bermetamorfosis menjadi lebih indah dari jam-jam sebelumnya, maka aku akan mengajakmu pergi sebentar dari rumah.

Mencari suasana yang kondusif dengan hatimu yang antusias. Aku akan mengajakmu di suatu tebing yang tinggi dan langsung menghadap ke arah barat. Kita berada di atasnya dan menggelar beberapa alas sebagai tempat duduk supaya kotornya tanah tak mengganggu kesenanganmu.

Langit akan menunjukkan keanggunannya. Langit akan mengeluarkan suara-suara surgawi lewat cahaya-cahayanya. Langit akan mengabarkan padamu bahwa sebentar lagi merupakan detik-detik perpisahan antara siang dan malam.

Langit menguning bak ladang gandum yang siap di panen. Sesekali, kalau beruntung kau akan menemukan beberapa Camar terbang menuju matahari tenggelam. Menari riang. Menikmati keindahan.

Kalau aku bisa melukis, pastilah akan aku abadikan momen indah ini dalam bentuk dua dimensi yang menjadi pengantar tidurmu ketika kau memasangnya di dinding kamarmu. Sayangnya aku bukanlah orang yang pandai dalam menggoreskan cat. Sayangnya aku tak dibekali bakat melukis. Lukiskanku hanya sebentuk kata-kata yang bisa kau gambarkan sendiri dalam langit-langit malammu.

Sudahkah kau merasa tenang? Apa kau kini merasa senang?

Bagimu warna langit mungkin sama. Tanpa keindahan yang berarti. Sekalipun senja, itu tak akan membuatmu terkagum. Tapi, di sini, aku yang mengagumimu, akan berusaha agar kau mau dan mampu mengagumi senja. Duduk, hanya duduk untuk melepas lelah dan menghapuskan gundah. Perlahan aku yakin, kau akan mengerti.

Menjelang malam, Tuhan akan sibuk menata bintang-bintang dan mulai menyiapkan bulan. Tuhan akan berfirman, ‘temanilah mereka, jadilah indah, jadilah pelangi di malam-malam yang sepi’. Tuhan menyiapkan keindahan untuk kita nikmati. Tuhan Mahakasih. Maka, dukunglah aku menyangimu dalam bentuk kasih.

Bintang itu bernama Salsabila, kataku padamu. Entah benar atau tidak bagiku bintang itu tetap bernama Salsabila. Aku tak tahu kau tersenyum atau tidak. Mungkin jika kau berkenan tersenyum, pastilah senyum itu senyum mengejek. Mana ada bintang bernama Salsabila? Perkiraanku akan batinmu.

Aku ceritakan padamu bahwa keindahan langit di malam hari serupa keindahan laut di siang hari. Intinya menawan. Bintang-bintang itu membentuk sketsa-sketsa ikan. Berenang dalam diam. Dia mempunyai warna tersendiri, aku yakin. Ada juga Sketsa bunga. Bunga Mawar yang mirip Melati. Andai aku punya sayap, pastilah sudah kupetik satu tangkai untuk kuselipkan di telingamu. Agar keindahannya menurun padamu.

Apalagi kalau purnama datang. Saat menatapnya saja, kau akan dibawa ke alam yang, jika kau menari, merasa anggun, jika kau menyanyi, maka seperti putri, jika kau berjalan, angin akan berhembus di punggungmu dan membelai rambutmu yang wangi. Purnama akan menerjemahkan semua mimpimu. Purnama akan menghapus sedihmu. Purnama akan menjadi daya magis yang menenangkan batinmu.

Dan pada akhirnya langit tetaplah langit. Yang menyimpan keindahan surga. Yang tak pernah tergapai oleh mimpi tertinggi sekalipun. Tapi, dengan keberadaanku disampingmu, setinggi apapun langit, seindah apapun langit, aku akan menceritakannya dengan sederhana, tanpa berlebihan. Aku akan menceritakan padamu bahwa setinggi apapun langit, sebanyak apapun bintang, percayalah bahwa mereka ada untuk menghibur malammu yang gelap.