Arsip Kategori: Tak Berkategori

Kopi dan Surat-Suratmu

kopi dan surat

Langit mengisyaratkan kedamaian. Awan-awan menggantung bak buah-buahan yang siap jatuh ke tanah. Matahari tersembunyi entah di mana letaknya. Suasana begitu tenang untuk secangkir kopi dan sedikit gula di pagi hari menjelang siang.
Aku tahu sekali seharusnya di jam-jam saat ini matahari sudah tampak. Cahaya seharusnya tersebar merata di seantero penglihatanku. Hangat seharusnya sudah mulai menyengat kulitku yang coklat ini. Memang begitu seharusnya suasana di jam-jam seperti ini.

Tapi ini berbeda. Suasana begitu sendu tapi tak menyedihkan. Suasana terasa nyaman di hati. Meskipun udara tak sehangat biasanya tapi ini sungguh hangat bagi yang menghirup napas dalam-dalam di teras rumah ditemani dengan secangkir kopi.

Kopi yang kubuat ini bukan kopi sembarangan. Ada sejarahnya ketika ia sampai di tanganku dan kuseduh hampir setiap hari sambil menikmatinya di pagi ataupun senja hari. Kopi ini mempunyai seribu tafsir bagiku. Ketika mulai mengambilnya dengan sendok, mencampurnya dengan sedikit gula, menuanginya dengan air panas, mengaduknya, mencium aromanya, dan menyeruputnya, semua melahirkan tafsiran-tafsiran kerinduan. Entah kerinduan pada siapa dan untuk apa.

Sambil menikmati kopi ini aku membaca ulang surat-suratmu. Surat yang telah kau kirimkan berbentuk elektronik berhari-hari yang lalu. Aku membacanya dari awal. Satu per satu aku selesaikan suratmu dengan senyum dibbibirku. “Tak menyangka sudah sebanyak ini suratmu berada di kotak masukku”. Pada surat terakhir yang kau kirmkan, kau bercerita banyak hal tentang kegiatanmu akhir-akhir ini. Bahkan kau menyampaikan pula kegelisahan-kegelisahan yang kau alami. Tak lupa kau tutup dengan kalimat yang intinya kau ingin mengetahui kabarku terakhir dan apa saja kegiatanku. Ah itu selalu membuatku risau untuk bercerita banyak tentang diriku.
Surat-suratmu selalu segar untuk dibaca. Bahkan berkali-kali pun masih enak untuk dicerna dan melahirkan senyumsenyum kecil.

Kopi kembali kunikmati di bawah langit yang tak bisa diprediksi ini. Sebenarnya aku menanti langit di atas rumahku ini menurunkan hujan. Membasahi dedaunan dan jalan-jalan menjadi bersih. Dengan begitu kopi ini kenikmatannya akan bertambah seiring dingin yang nantinya menyerang tubuh ini.

Terakhir suratmu masuk di alamat emailku dua minggu kemarin. Bertepatan dengan Hari Sabtu. Pagi hari. Saat itu aku sedang membereskan kewajibanku. Aku masih ingat betul.

Tidak seperti bulan-bulan yang telah lewat, ketika kau mengirmkan surat pastinya seminggu kemudian aku akan membalasnya dengan cerita yang panjang. Cerita yang mungkin tidak penting, bahkan tidak layak untuk diceritakan. Tapi hanya itulah cerita yang aku punya. Rutin aku membalas surat-suratmu. Ya, meski kau pun kadang membalasnya sampai sebulan kemudian, tapi itu sungguh menyenangkan untuk dilakukan.

Tapi untuk saat ini aku belum bisa membalas suratmu itu. Aku masih ingin menikmati kegelisahanku dan menahan dulu cerita-cerita yang ingin aku sampaikan padamu. Itu mungkin membuatmu menunggu begitu lama. Atau mungkin kau tak peduli lagi dengan surat-surat kita. Atau kau lupa akan surat balasanku atas kesibukanmu di sana. Entahlah. Itu urusanmu tapi aku berterimakasih jikalau kau masih sempat-sempatnya menunggu balasanku.

Atau begini saja. Akan aku nikmati dulu suasana di teras rumahku ini, dengan secangkir kopi, dan surat-suratmu, dan pikiran-pikiran risau untuk membalas suratmu, sedang kau di sana sibuklah dengan kegiatan-kegiatanmu, yang kata suratmu, membuat berbagai macam kue, membaca buku, menonton film, dan sekali-kali nantinya kau boleh merindukan balasan atas suratmu.

Oh iya, apa aku tidak usah membalas suratmu.

Bukankah minggu depan kau datang ke kotaku, ingin berbagi cerita, ingin meluapkan rindu, yang terpenting ingin berpamitan untuk waktu yang lama?

Oh oke, pada saat itu saja akan aku balas surat-suratmu dengan ocehan ria yang bersahabat.

Iklan

MENULIS ITU UNTUK HIDUP SELAMA-LAMA-LAMANYA

tulis

Segala sesuatu yang hidup di atas muka Bumi ini bisa dipastikan akan mengalami yang namanya mati. Semuanya tanpa terkecuali. Tapi perihal kapan dan bagaimana proses mati itu sendiri sungguh tidak ada yang tahu. Satu orang pun.

Saya, Anda, kucing, kambing, sapi, ayam, semuanya pasti akan bertemu yang namanya kematian. Sebuah jalan kepastian yang tidak bisa dihindari, tidak bisa dipercepat, pun tidak bisa diperlambat. Kematian adalah kepastian.

Tapi yang tak bisa dimengerti adalah mengapa ada kesedihan di sana. Mengapa ada air mata. Mengapa ada ratap tangis dan kehilangan di sana. Mengapa ada satu rasa yang ganjil, satu rasa yang hilang. Bukankah kematian suatu kewajaran. Suatu hal yang memang lumrah untuk diterima. Karena pada hakikatnya semua yang hidup akan menjumpai apa yang namanya kematian.

Ternyata oh ternyata, ada satu rasa yang mendasari kenapa beberapa orang merasa sangat kehilangan. Merasa sangat bersedih. Merasa hari-hari kedepannya akan terasa sangat-sangat kurang.

Rasa itu adalah rasa cinta. Rasa yang melahirkan kasih sayang. Rasa yang menumbuhkan rindu. Rasa yang bisa meminimalisir kegelisahan. Rasa itulah yang akan mencuat muncul, bergelora, dan terbakar hebat jika  disandingkan dengan kematian. Karena kematian berarti perpisahan. Berpisah untuk waktu yang lama. Lama sekali.

Begitulah alur keluarnya air mata dan ratap sedih apabila mendengar kabar sebuah kematian. Ada kasih sayang di sana dan ada rasa kehilangan yang dalam.

————————–

Sebagai salah seorang yang pernah bertukar sapa dengan Mas Shiq (Muhammad Liudin), meski di dunia maya, saya cukup kaget dan tidak percaya ketika membaca kabar bahwa Mas Shiq sudah berpulang mendahului kita semua. Beliau adalah kawan saya di dunia kepenulisan WordPress ini. Beliau sering nangkring di kolom komentar tulisan saya. Beberapa tulisan malah saling sapa sok akrab. Padahal belum pernah bersua sama sekali.

Dari seringya Beliau komen duluan, maka tak jarang juga saya blogwalking ke situs Beliau yang sangat-sangat popular itu. Situs yang menyimpan banyak tulisan bermanfaat. Sebuah museum kehidupan dan catatan kesehariannya. Di situlah kadang saya ikut-ikutan nimbrung dan komen sekenannya. Tapi saya kira lebih banyak membaca saja dan tidak ikut mengeluarkan pendapat. Beberapa tulisan memang saya paham dan saya butuhkan, tetapi banyak juga tulisan Beliau yang sulit dipahami dan hanya saya skimming saja.

Begitu menginspirasi bagi saya. Sosok Mas Shiq adalah contoh tauladan untuk terus menulis dan bercerita bagi saya. Beliau punya penyakit Skizofrenia, suatu penyakit yang awalnya ditandai dengan gangguan  proses berfikir dan tanggapan emosi yang lemah. Keadaan inilah yang kadang memunculkan halusinasi dan paranoid pada Beliau.

Tapi Beliau memilih untuk melawannya. Salah satunya dengan cara menulis. Menulis apa saja. Bahkan Beliau juga sudah membuat beberapa e-book yang dibagikan gratis perihal metode dan cara agar ngeblog jadi asyik khususnya untuk pemula.

Lha iya, begitu gigihnya Beliau dalam berjuang untuk kesembuhannya, setiap hari adalah hari baru dan kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, makanya Beliau selalu mencoba untuk berbagi kebaikan dan manfaat untuk sesama. Beliau tidak menyerah pada penyakitnya.

Beliau optimis untuk bisa sembuh dan bisa menjalani hari-harinya seperti orang-orang kebanyakan. Bisa jalan-jalan. Bisa makan apa saja. Bisa minum apa saja. Bisa tidur seenaknya. Tanpa memerdulikan jam-jam yang di sana ada namanya jadwal minum obat. Jam-jam yang membosankan bagi Beliau (katanya). Waktu yang sungguh membuat Beliau tidak keren.

Kegigihannya inilah yang menyadarkan saya bahwa keterbatasan tidak menghalangi untuk selalu berbagi. Selalu berusaha. Selalu punya harapan dan impian. Punya cita-cita. Kegigihan Beliau seolah cambukan bagi saya, bagi pribadi saya sendiri, untuk tidak menyerah pada keadaan dan keterbatasan.

Terakhir, saya mengucapkan selamat jalan Mas Shiq. Selamat bersenang-senang dengan impianmu yang abadi. Sungguh, saya kira di sana sudah tidak ada lagi dokter, sudah tidak ada lagi obat-obatan, Engkau sudah tidak punya kewajiban untuk membeli buah-buahan di pasar ataupun melayani pembeli lagi. Impianmu telah tercapai, Engkau telah lulus dalam semua ujian di dunia ini. Selamat istirahat. Selamat bersua dengan Kekasihmu. Selamat bercumbu ria dengan Tuhanmu.

Terimakasih telah berbagi pengalaman dan kisah-kisah yang menguatkan. Tulisanmu akan abadi. Hasil karyamu akan mengharumkan namamu. Pengalamanmu akan menjadi semangat bagi beberapa orang di luar sana. Kisah-kisahmu akan menguatkan hari-hari mereka. Sekali lagi terimakasih.

Salam dari saya, kangsole.

 

Satu Tempat untuk Merindu

Gambar-Bunga-Teratai-Yang-Kuncup

Sebut satu tempat yang membuatmu rindu.

Rindu apa saja.

Boleh tawanya, senyumnya, judesnya, atau bahkan marahnya.

Tempat yang jika diucapkan membuatmu melayang. Menerawang kenangan-kenangan masa lalu.

Membuatmu mengerti bahwa kamu pernah dimabuk asmara oleh manisnya sebuah percakapan.

Percakapan ringan dan bahkan sepele sekaligus tak penting.

Satu tempat apabila disebutkan kau seolah-olah bagian darinya.

Bagian dari kotamu.

Kota yang lain di hatimu.

Pernahkah kau merindu hanya pada sebuah kata tempat. Sama sekali tidak ingin mengunjunginya lagi. Atau ingin mengunjunginya lagi. Tidak masuk dalam daftar tujuanmu mengelana. Hanya sebatas rindu. Rindu yang dalam.

Karena di tempat itu ada satu nama yang entah kenapa Tuhan selalu membuat jiwa bergetar. Hati menggigil. Pikiran terhenti sejenak. Dan seketika lidah menjadi kelu.

Satu nama yang pernah megah di hatimu. Satu nama yang pernah menyirami malam-malam sunyimu. Satu nama yang pernah mengisi slot kosong dalam doa sujudmu. Satu nama yang jika kau bangun dari tidurmu kau tersenyum. Ohhh jangan kau gila hanya gara-gara satu nama. Sadarlah kawan.

Jika kau pernah. Pernah. Pernah mengalaminya. Maka kau telah menikmati salah satu keajaiban Tuhan dalam hati. Jaga tempat itu dalam doa dan hatimu.

#ALFY: Warna-warni Pelangi di Matamu

Untuk melatiku,

Saat tetesan hujan menepi di daun-daun melati, Saat pelangi nampak di lereng perbukitan, Dan ketika ribuan bintang menari di malam-malamku, Aku ingat saat-saat berjalan dan tertawa bersamamu, Berdua dengan berbagi rasa dan cerita.

Bersama ini izinkanlah aku mengutarakan cinta yang diwariskan Tuhan atas anak Adam untuk melatiku, Sang bunga dalam taman jiwaku.

Kehidupanku karenamu lebih berwarna dari pelangi-pelangi di langit biru. Senyummu adalah penawar rindu paling mujarab untuk kesakitan hatiku. Setiap sajak dan puisi yang pernah kugubah, seolah tak pernah bermakna jika tanpamu. Syair-syair Tuhan lebih indah jika hanya tertuju padamu.

Dan pada akhirnya Aku adalah orang yang paling beruntung. Seorang pria yang telah menemukan belahan hati. Yang bisa merasakan indahnya cinta dan pengorbanan. Berlayar di samudra kehidupan untuk mereguk rindu dan kasih bersamamu.

Hujan,

Aku dalam Keadaan Sadar dan Aku Menikmatinya

hong-kong-1990268_960_720

Di awal malam yang dingin aku memutuskan untuk jalan-jalan di suatu tempat. Tempatnya tidak terlalu artistik ataupun elegant, tapi tempatnya cukup bersih dan nyaman sekadar untuk bercakap-cakap dengan malam dan diri sendiri.

Waktu itu meski musim hujan, aku sangat bersyukur sekali karena langit terlihat cerah dan bintang-bintang bertebaran begitu indah untuk menambah suasana malam menjadi semakin damai dan segar.

Tujuan utamaku hanyalah sederhana, mencari udara segar dan sesekali melihat hiruk pikuk kendaraan di perempatan, pertigaan, dan sepanjang jalan kota.

Memang waktu itu ada sedikit perasaan yang mengganjal tapi entah apa aku tak begitu paham, jenis perasaan apa itu, tapi yang pasti aku tak perlu ambil pusing. Soal perasaan tak mengapa jika dikesampingkan untuk beberapa saat.

Sesampai di tempat aku duduk dan merebahkan punggung di kursi. Aku memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela yang menghadap ke jalan raya. Khusus malam ini aku ingin menyendiri dan menikmati suasana malam sendirian.

“Mau pesan apa kak?”

“Es Lemon tea yang manis.”

Sesekali teh. Sesekali Lemon tea. Sesekali susu. Sesekali kopi.

Sambil menunggu pesanan diantar kunyalakan sebatang rokok untuk menenangkan suasana dan keadaan. Sebenarnya bukan menenangkan, tapi mengisi waktu luang.

Satu hisapan, dua hisapan, dan beberapa kali hisapan. Kuhembuskan dengan pelan dan kulakukan perasaan sadar.

Pesanan datang.

Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk menikmati yang manis-manis dan segar.

Sambil membuka-buka smartphone, kulayangkan pandangan ke jalanan yang ramai. Begitu ramainya.

Malam yang menyajikan begitu banyak tontonan. Entah itu untuk dinikmati, dikritisi, diceritakan, atau sekadar dijalani untuk menyambut pagi yang diharapkan cerah.

Dari rumah menuju tempat ini kira-kira kuhabiskan waktu sekitar lima belas menit. Melewati dua traffic light. Kalau tidak salah melewati tiga pertigaan dan empat perempatan. Dan satu bundaran.

Ke tempat ini aku menaiki sepeda motor. Terlalu lama menurutku kalau harus dilewati dengan berjalan kaki. Malas juga iya.

Perjalananku kemari tidak sedikit motor dan mobil yang aku dahului ataupun bersimpangan denganku. Ratusan jika ada waktu dan mau untuk menghitungnya.

Sampai saat ini pun ketika aku duduk dan memandang jalanan, masih banyak motor dan mobil yang berlalu lalang. Apa maksud dari semua ini?

Kenapa ada pertanyaan di atas. Apakah perlu aku menjawabnya sambil menghabiskan sebatang rokok yang masih berada di sela jari tengah dan jari telunjukku.

Aku punya kehidupan. Mereka juga punya kehidupan. Semua orang yang tadi bersimpangan denganku dan semua orang yang tadi aku dahului kendaraannya juga punya kehidupan. Beberapa orang yang menyebrang jalan juga punya kehidupan.

Penjual es cincau, nasi goreng, bakso, mie ayam, bakmi godok, semua pedagang yang berjejeran di pinggir jalan juga punya kehidupan.

Mereka sama denganku. Sama-sama manusia yang diamanahkan untuk menjaga bumi dan menikmati malam.

Sama-sama makan dan sama-sama minum. Sama-sama punya kebutuhan dan keinginan. Sama-sama punya cita-cita. Sama-sama ingin menjadi yang lebih baik dan baik.

Sekarang aku duduk menikmati es lemon tea. Berpikir yang aneh-aneh dan sesekali menghisap sebatang rokok.

Sebentar lagi mereka yang ada di jalanan juga akan sampai rumah. Bertemu dengan keluarga. Orang-orang yang mereka sayangi dan cintai. Ngobrol sebentar, membersihkan diri, makan malam, lalu beranjak ke kamar tidur untuk merangkai mimpi-mimpi.

Karena mereka punya kehidupan.

Aku secara sadar duduk. Menikmati setiap hembusan nafas yang kuhirup. Merasakan detik-detik waktu berlalu. Merasakan bahwa aku sedang berada di suatu tempat untuk meminus es lemon tea dan menghabiskan sebatang rokok. Aku sadar karena aku punya kehidupan.

Aku juga akan sama nanti ketika aku pulang dari tempat ini. Aku akan bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi dan cintai, ngobrol dengan mereka, bercanda, bermain-main, membuat secangkir kopi, membaca beberapa lembar buku bacaan, lalu beranjak untuk tidur. Ujung-ujungnya sama.

Aku dan mereka tidur. Istirahat untuk melepaskan lelah dan berharap lekas lelap.

Tapi apakah besok pagi aku akan sadar seperti malam ini. Apakah besok pagi aku bisa merasakan nafas-nafasku. Apakah besok pagi aku bisa merasakan suasana cerah dan nyamannya kehidupan.

Atau aku akan kembali lupa. Lupa jika aku punya kehidupan dan pantas untuk menikmatinya.

Atau aku akan merasakan yang sebaliknya. Berkutat dengan permasalahan dan hanyut dalam rutinitas.

Kalau dalam keadaan sadar itu tak mengapa.

 

#lagigakwaras

Saya Mengumpat Ketika Membaca Novel Paling Menjengkelkan Ini

Ronggeng_or_dancing_girl1817
credit: oheunchadiary.blogspot.co.id

Hari di mana saya merasa ling-lung. Banyak pikiran dan imajinasi yang memenuhi kepala saya. Hari itu adalah hari saat saya menyelesaikan sebuah trilogi novel karangan Ahmad Tohari.

Adalah Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jentera Bianglala yang memberikan nuansa gelap dalam hayalan saya. Ada rasa mengganjal dalam perasaan saya. Emosi saya sepenuhnya telah diacak-acak oleh pengarangnya.

Dulu, sempat saya mengumpat ‘uasu’ pada jalan cerita dan kepribadian-kepribadian yang dimiliki tokoh-tokohnya. Saat itu saya membenci semua tokoh dalam cerita tersebut. Memang saya belum selesai membacanya, tetapi apa boleh buat, mengumpat seperti itu saya merasa benar dan itu hal yang wajar.

Dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, umpatan cabul dan menggemaskan serta sedikit menggelitik banyak sekali dijumpai. Tak heran jika setelah membaca novel ini, saya sedikit-banyak fasih mengucapkan umpatan tersebut yang dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan misuh.

Baca juga :
Book Review: Kisah Pelacur Pujaan yang Hidup Lagi Setelah Mati Selama 21 Tahun
Book Review: Ketika Cinta Berbuah Penderitaan

Saya ingat betul, hari di mana saya menyelesaikan novel ini adalah di Hari Sabtu yang sedikit mendung. Seminggu sudah saya menekuri kata dan kalimat yang dirangkai oleh Ahmad Tohari itu.

Pagi sebelum melakukan aktivitas saya sempatkan sepuluh halaman. Menjelang maghrib, ini waktu yang paling asyik sambil nongkrong gak jelas di beranda, saya paksa untuk lebih banyak lagi membaca halaman demi halaman. Menjelang tidur –setelah main kartu, adalah waktu paling afdhol untuk meneruskan membaca sambil glimbang-glimbung menunggu kantuk.

Hari yang mendung selalu membawa suasana yang istimewa. Rasa malas kadang lebih mendominasi diri disbanding rasa ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tapi Hari Sabtu kemarin, Ronggeng Dukuh Paruk telah memberi daya magis yang bisa memikat mata dan angan untuk sinkron menjelajah suatu dukuh dalam imajinasi yang bernama Dukuh Paruk.

Saya kenal akrab dengan Srintil, seorang ronggeng yang ayu jelita, molek tubuhnya, montok dadanya, dan putih kulitnya. Meskipun saya tidak secara langsung menonton pertunjukan ronggengnya, liuk tariannya dan juga tatapan cabulnya seakan tervisualisasi secara gamblang oleh barisan kata-kata yang tercetak rapi di kertas kuning Buku Ronggeng Dukuh Paruk itu.

Saya juga mengenal Rasus. Dia seorang bocah cilik yang hatinya remuk redam setelah Dukuh Paruk melenyapkan ibunya dan merenggut Srintil dari hatinya. Hidupnya serba susah. Menginjak dewasa, keberuntungan menghampirinya. Dan pada akhirnya, dialah satu-satunya pahlawan yang mengharumkan kembali nama Dukuh Paruk di hati para saudara-saudaranya.

Semangat saya bergejolak saat sampai di cerita ini, entah mengapa ada sedikit warna hijau di kegelapan yang terbentang. Ada sesuatu yang dibanggakan dalam wilayah kecil dan terpelosoknya Dukuh Paruk. Ingin rasanya berjabat tangan dan memeluk Rasus untuk kehidupan masa kecilnya dan kehidupan masa depannya.

Menjelang malam. Tepatnya malam Minggu. Saya ada kesempatan untuk plesiran bersama kawan-kawan ke KM 0 Yogyakarta. Malam itu ramai sekali karena bertepatan dengan digelarnya konser salah satu artis ibukota.

Di usia yang sebesar ini saya kadang merasa resah jika malam-malam keluyuran gak jelas. Sekedar jalan. Mencari suasana baru. Apalagi malam itu adalah malam yang krusial bagi pasangan muda-mudi. Malam yang dipenuhi fans-fans salah satu artis ibu kota. Malam yang sudah memasuki ajaran baru, yang berarti puluhan ribu mahasiswa baru sudah berada di Yogyakarta. Malam yang kebetulan kami-kami tidak ada kegiatan dan mencoba mencairkan isi kepala.

Seperti kebanyakan pembaca, setelah menghabiskan satu cerita novel, selalu terasa tokoh-tokohnya serta alur ceritanya kebawa dalam dunia nyata. Pun malam itu, seakan Srintil ikut serta dalam meramaikan 0 KM Jogja. Keberadaannya mungkin membuat kesibukan tersendiri untuk dinikmati.

Dalam kisah yang dituliskan Ahmad Tohari sosok Srintil menggambarkan kecantikan alami, keserasian kehidupan cabul di Dukuh Paruk, serta kenggunan ragawi yang menggetarkan alam bawah sadar. Dalam kisah tersebut hanya Srintil yang dilukiskan seperti sepetak ilalang semi dalam hamparan gurun yang tak berkaktus.

Rambutnya hitam panjang sepinggang. Saat meliuk dalam tarian ronggeng, ia tampakkan leher jenjangnya. Ia obral kuning langsat kulit lehernya. Rambut yang indah itu disanggulnya tinggi-tinggi untuk mengatakan bahwa, hanya dialah yang pantas untuk dinikmati kala ronggeng manggung.

Tepat mendekati tengah malam yang masih dipadati banyak pengunjung saya hanya membayangkan, ‘adakah sosok Srintil di sini?’ pertanyaannya memang konyol. Tapi juga tak salah jika dikaji dari segi psikologis seorang yang habis terbakar emosi oleh Novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Jangkrik’. Ternyata ada.

Entah bagaimana bisa ketemu, dimungkinkan hanyalah kelanturan pribadi saya. Di sini, di Jogja, perihal cantik untuk menggantikan kecantikan Srintil, si peronggeng, cukup buanyak. Buanyak banget.

Tapi malam itu ada satu sosok yang menyanggul rambutnya seperti bayangan saya ketika Srintil menampilkan jenjang lehernya untuk menantang penonton ronggeng. Sosok tersebut menghanyutkan pandangan saya. Meskipun tidak menari, tetapi terasa sekali bahwa saya berdiri di sini adalah sebagai penonton setianya. Hampir saja saya mengejarnya dan sekedar menepuk pundaknya, “Mbak boleh kenalan?”

 

Cerita Lebaran: Untuk Pertama Kalinya Saya Lebaran Jauh dari Kampung Halaman dan Bertemu Keluarga Baru

Tulisan pertama saya mengenai lebaran, kali ini lumayan panjang. Tetapi sebelum kalian membacanya, pertama dan yang paling utama, saya terlebih dahulu mengucapkan ‘Minal Aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin’ kepada semua pembaca di Catatan Kangsole. Kesabaran kalian dalam berselancar di catatan saya semoga mendapatkan manfaat dan hikmah tersirat, yang secara disadari ataupun tidak disadari, semoga kesabaran kalian mendapatkan balasan dari Allah SWT.

 

Foto lebaran di Beduai

Saya tidak pernah terfikirkan mengenai lebaran jauh dari rumah. Hingga saya sebesar sekarang ini, baru tahun kemarin saya merasakan lebaran jauh dari kampung halaman. Padahal umur saya sudah sepertiga lebih sekian dari umur Rasulullah ketika wafat.

Bukan berarti saya masih kecil, tapi budaya desa mengajarkan kalau lebaran diusahakan untuk pulang ke rumah dengan tujuan berkumpul dengan keluarga besar. Makan makanan bareng serta berbagi cerita dengan sanak keluarga yang lain, yang kadang hanya momen lebaranlah kami bisa ketemu dan duduk bersama.

Lebaran tahun 2016 memang sangat mengesankan bagi saya. Meskipun tidak berkumpul dengan keluarga besar di kampung halaman tapi setidaknya saya dipertemukan dengan keluarga baru di kampung halaman orang lain. Ada kebahagiaan tersendiri yang menghias kenangan saat saya merayakan lebaran di kampung halaman orang lain. Suasana baru, tempat baru, budaya baru, orang-orang yang baru pula, menambah khazanah bagi cerita saya kelak jika ditanya orang-orang perihal rantau-merantau di negeri orang.

Saya mulai cerita lebaran di desa saya terlebih dahulu. Lebaran di desa tempat saya tumbuh dan berkembang dari dulu hingga sekarang dalam hal merayakan lebaran untuk saling maaf-memaafkan selalu sama dari tahun ke tahun. Tapi, sekarang ini antusiasme masyarakatnya tidak sebanyak dulu saat silaturrahim ke tetangga-tetangga satu desa.

Hari pertama lebaran ditandai dengan dua rakaat Shalat Idul Fitri pada paginya yang dilakukan secara berjamaah di masjid desa yang sekarang ini sudah dibangun sedemikian megahnya. Dilanjutkan dengan silaturrahim ke rumah kedua orang tua yang masih hidup atau ke makam kedua orang tua yang sudah meninggal.

Hari pertama lebaran di desa saya tidak begitu rame. Hanya rumah-rumah yang dihuni oleh orang tua saja yang ramenya disebabkan para anak dan cucunya pada pulang kampung untuk bersilaturrahim. Termasuk saya dan kedua orang tua saya yang hari pertama lebaran pergi ke rumah simbah yang ada di Kabupaten Pati dan desa terpencil yang terletak di ujung barat Kabupaten Blora.

Kadang menyenangkan. Kadang pula melelahkan apabila turun hujan pada saat lebaran hari pertama. Tapi, insyaallah tetap dinikmati.

Hari kedua lebaran, masyarakat di desa saya baru merayakannya dengan bersilaturrahim ke tetangga-tetangga satu desa. Tapi, sudah saya ceritakan di atas bahwa momen silaturrahim antar tetangga tidak se-antusias ketika saya masih kecil. Sekarang ini, yang menyempatkan untuk bersilaturrahim ke tetangga-tetangga –semua tetangga, hanyalah kaum muda dan kaum yang baru berkeluarga –baru menikah. Selain itu hanya duduk manis di rumah, menjaga rumah dan kalau sudah menjelang malam disempatkan untuk bersilaturrahim ke tetangga-tetangga yang memang sudah berumur tua.

Saya juga termasuk kaum muda yang mengikuti aturan baru, yang pada saat lebaran hanya menyempatkan bersilaturrahim dengan tetangga-tetangga satu rukun tetangga (RT) saja. Kalau dulu, saat saya masih SD –masih kecil, momen lebaran selalu saya manfaatkan dengan semaksimal mungkin. Budaya silaturrahim antar tetangga satu desa –empat RT, masih saya ikuti bersama dengan teman-teman sebaya.

Karena kalau diri sedang beruntung bersilaturrahim di rumah orang yang dermawan, minimal lima ribu akan masuk kantong untuk membeli petasan nantinya. Bayangkan kalau orang dermawan di desa saya lebih dari dua puluh rumah, berapa penghasilan bersilaturrahim yang saya dapatkan hanya berkeliling satu hari saja.

Itulah rutinitas lebaran di desa saya di hari pertama dan kedua. Sudah bertahun-tahun saya melakukannya dan menjalaninya dengan senang hati dan tidak ada sedikitpun rasa kecewa ataupun sedih. Tapi, semakin tahun bertambah, semakin tua pula saya, lebaran menjadi momen yang kadang saya tidak pengen untuk pulang ke rumah. Perlu dicatat bahwa pikiran ini muncul hanya kadang-kadang. Yaitu kadang pas lebaran saja.

Bagaimana kuliahmu? Lancar?”

“Sekarang sudah lulus? Mau kerja di mana?”

“Sudah punya calon belum?

Maka tidak ada salahnya jika saya juga memanfaatkan waktu lebaran ketika saya jauh dari rumah. Disamping saya bebas dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya juga bisa merasakan bagaimana sensasinya jika lebaran jauh dari kampung halaman dan jauh dari keluarga. Kalau dibilang sedih, mungkin iya, tapi tidak dipungkiri saya juga merasakan banyak kesenangan-kesenangan yang tidak saya temui saat lebaran di kampung halaman.

Waktu itu saya merayakan lebaran di Beduai, Sanggau, Kalimantan Barat. Salah satu kecamatan sebelum Entikong yang bisa dibilang dekat dengan perbatasan Indonesia-Malaysia. Saya merayakan lebaran bersama kawan-kawan saya satu perjuangan KKN di desa terpencil Suruh Tembawang Kecamatan Entikong yang betul-betul sinyal HP saja tidak bisa masuk ke area desa. Beruntung sekali, waktu   lebaran di Beduai yang setelah Sholat Idul Fitri bisa menghubungi keluarga masing-masing menggunakan kartu perdana manapun –baca ada sinyal.

Adalah keluarga Bapak Ibrahim yang sangat baik hati menerima kami untuk bisa tinggal ditempatnya dari dua hari sebelum lebaran hingga dua hari setelah lebaran. Ada Bang Dwi dan Bang Syamsi yang istimewa baiknya yang menemani kami  dan berbagi cerita dengan kami saat menginap di rumahnya. Semoga Allah selalu merahmati dan memberikan berkah kepada mereka semua.

Pada malam lebaran, ada budaya unik namun mengesankan yang belum pernah saya temui di Jawa –karena saya kurang pergaulan. Budaya itu adalah “Takbir Keliling”. Berbeda dengan kebanyakan kampung yang ada di Jawa, yang merayakan takbir keliling dengan berkeliling desa sambil melantunkan bacaan Takbir, Tahlil dan Tahmid.

Kalau di Beduai, takbir kelilingnya bukan seperti itu. Saya sempat berpikir bahwa takbir keliling yang dimaksudkan adalah takbir keliling yang sudah menjamur di desa-desa di Jawa. Tetapi, sungguh bukan takbir keliling seperti itu. Yang dimaksud “takbir keliling” di sini adalah membaca lantunan Takbir, Tahlil, dan Tahmid di rumah-rumah tetangga yang sudah di bagi oleh takmir masjid setempat.

Ada beberapa kelompok yang sudah dibagi oleh takmir berisikan anak kecil, pemuda, dan orang tua. Berjumlah sekitar sepuluh orang. Kami anak-anak KKN, merupakan golongan pemuda yang juga dipecah untuk disebar di kelompok-kelompok yang sudah ada. 

Tujuan dari pembuatan kelompok ini adalah agar semua rumah yang pemiliknya beragama Islam bisa didatangi dan didalamnya dilantunkan Takbir, Tahlil dan Tahmid bersama-sama. Dan inilah yang dimaksudkan dari “Takbir Keliling” di Beduai yaitu melantunkan Takbir, Tahlil, dan Tahmid berkeliling dari rumah satu ke rumah yang lain.
Prosedurnya yaitu ketika kelompok memasuki suatu rumah dan sudah dipersilahkan duduk oleh tuan rumah, maka yang dipasrahi untuk memimpin pembacaan Takbir, Tahlil, dan Tahmid akan memulainya dan diikuti oleh para jamaah yang lain. Bacaannya tidak banyak-banyak, cukup tiga kali putaran dan diakhiri dengan doa.

Sebelum doa dipanjatkan, sesepuh yang memimpin doa terlebih dahulu menanyai si tuan rumah perihal doa apa yang kiranya diingini oleh si tuan rumah. Biasanya doa tentang keselamatan dan kesejahteraan. Baru setelah itu sesepuh memimpin doa dan saya beserta jamaah lainnya mengamini doa-doa tersebut.

Selesai berdoa, mungkin inilah yang selalu ditinggu-tunggu, makan-makan. Kami dipersilahkan makan jajanan ringan yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Kadang juga kami diberikan makan besar yang berarti makan piringan dengan nasi atau lontong beserta sayuran lengkap dengan lauk dan pauknya.

Dari rumah ke rumah, kegiatannya sama seperti itu, melantunkan takbir, tahlil dan tahmid dilanjutkan berdoa dan diakhiri dengan makan-makan. Waktu itu saya mengikuti kegiatan sampai rumah yang dijadwalkan habis –sampai selesai. Setelah itu saya berpamitan dan langsung balik ke rumah Bapak Ibrahim untuk kemudian beristirahat.

Sesampainya di rumah, saya tidak mengira kawan-kawan saya yang tadinya berangkat bareng untuk mengikuti takbir keliling sudah pada di rumah dan sudah istirahat lumayan lama. Setelah berbagi cerita, akhirnya saya tahu bahwa kawan-kawan saya tadi pamit untuk pulang duluan dikarenakan perut sudah merasa kekenyangan. Maklum dari tiga rumah pertama yang didatangi kesemuanya memberikan makan besar yang katanya lauk pauknya menggiurkan. Pantesan sudah tepar terlebih dahulu sebelum perang berakhir.

Ngomong-ngomong kenapa saya kuat sampai rumah terakhir, yaitu karena dari semua rumah yang kelompok kami datangi hanya satu rumah yang memberikan makan besar dan yang lainnya hanya memberikan makanan ringan saja. Entah beruntung atau tidak beruntung saya tetap menikmatinya dan malahan saya ingin mengulangi momen itu kembali.

Paginya, setelah dua rokaat Sholat Idul Fitri, Bapak Ibrahim dan keluarga mengajak kami semua untuk bersilaturrahim ke rumah-rumah yang memang masih mempunyai ikatan kekeluargaan dengan keluarga Bapak Ibrahim. Kalau tidak salah pagi itu kami hanya bersilaturrahim ke rumah enam keluarga yang rumahnya tidak jauh dari masjid tempat kami Sholat Id.

Menariknya dalam acara silaturrahim antar keluarga di Beduai adalah jamuannya. Makanan ringan dan minumannya. Mungkin kalian yang berada di sekitaran Kalimantan Barat akan menganggap makanan seperti itu sudah biasa dan sudah sering dijumpai. Tapi, bagi saya atau bahkan kami yang baru pertama kali ke Beduai –perbatasan Indonesia-Malaysia, akan sedikit kagum dan senang dengan jamuan yang disediakan.

Perlu kalian tahu, saya sudah menghabiskan setidaknya dua puluh dua tahun lebaran di kampung halaman dan memakan makanan ringan di rumah sendiri atau tetangga-tetangga sekitar. Dari semua makanan ringan mungkin makanan paling istimewa dan jarang ditemui adalah buah kurma. Buah ini kalau dikampung saya hanya bisa ditemui pada saat lebaran dan musim haji tiba –itupun kalau ada salah satu warga kampung saya yang pergi haji.

Selain Buah Kurma, saya rasa makanan ringan lainnya mudah ditemui di toko-toko terdekat dan banyak dijual di pasar-pasar tradisional. Misalnya kacang goreng, kacang tanah asin, kacang plastik –kacang atom, warneng –jagung goreng, keripik tela, keripik pisang, wafer, biskuit, kuping gajah, tai kucing –entahlah, rempeyek, dan lain-lain. Dari tahun ke tahun saya rasa tidak ada yang istimewa –mungkin perasaan saya saja.

Tapi di Beduai –ini cerita untuk kawan-kawan saya yang lebarannya di desa dan di Jawa, makanan ringan yang disediakan banyak sekali jenisnya dan tentu saja baru bagi mata dan lidah saya. Saya akui, saya memang ndeso dan suka sekali ngemil. Maka, tidak salah jika kadang ketika orang bertanya kenapa saya suka sekali ngemil, saya akan jawab karena saya tidak merokok. Tidak relevan memang, tapi itulah jawaban saya.

Saya tidak bisa menyebutkan jajanan apa saja yang waktu itu disediakan masing-masing rumah untuk menjamu kami. Yang saya ingat, waktu itu saya kenyang sekali, perut saya berisi makanan dan minuman hasil produksi Negara Malaysia. Karena hampir semua warga di Beduai berbelanja makanan ringan untuk lebaran di Negara Malaysia. Saya dapat informasi ini dari keluarga Bapak Ibrahim.

Minuman yang paling saya ingat adalah ‘Valentino’. Minuman ini dibuat dari anggur yang difermentasi. Tapi bedanya, minuman ini tidak memabukkan atau menyebabkan kerusakan akal atau yang lainnya. Karena belinya dari Malaysia, logo halal yang tercantum di badan botol bukanlah logo halal milik MUI Indonesia. Setelah dibaca dengan seksama, logo halal yang tercantum merupakan logo halal yang dikeluarkan oleh perserikatan ulama Eropa. Istilahnya Halal Eropa.

Valentino ini bagi yang belum tahu, botolnya saja kalau dilihat secara sekilas maka orang akan menganggap botol minuman ini berisi alkohol yang memabukkan. Bentuk botolnya berbeda jauh dengan bentuk botol yang biasa digunakan untuk mewadahi temu lawak atau sirup-sirup yang beredar di pasaran.

Botolnya mirip sekali dengan botol minuman keras yang sering muncul di film-film barat lengkap dengan tutup botolnya. Harganya waktu itu murah, satu botol sekitaran 30.000 saja. Saya kurang tahu apakah minuman ini juga beredar di Jawa atau tidak.  Yang pasti saat meminumnya, seteguk-dua teguk-sampai segelas, terasa sekali anggur merahnya dan anggur hijaunya. Alhamdulillah, sudah pernah.

Itulah sekeping cerita saya ketika lebaran di Beduai. Saya merasakan kebahagiaan baru, sebuah kebahagiaan yang tercipta dari keluarga baru yang awalnya tidak saling kenal dan bahkan tidak terbayangkan, secara tiba-tiba bisa berkumpul, bercanda ria menikmati lebaran yang sama-sama jauh dari keluarga.

Saya mengakui bahwa ada kesedihan di dalamnya, tapi saya juga mengakui bahwa kebahagiaan yang tercipta tidak akan bisa terulang lagi karena saya percaya, kadang Allah memberikan kenangan-kenangan yang hanya sekali mampir di hidup kita. Tetapi, di dalam lubuk hati saya, saya juga percaya, bahwa Allah menyiapkan kebahagiaan-kebahagiaan lain yang lebih mengesankan dan juga lebih menyenangkan dari itu semua.

Terakhir, saya ingin menyampaikan selamat lebaran bagi semua kawan-kawan saya yang waktu KKN pernah tidur satu rumah dan pernah berbagi satu kamar mandi saja. Sungguh, jikalau masih ada kesempatan untuk bersua, saya akan mengucapkan ‘minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin’ secara langsung dengan menjabat tangan kalian dan saling berbagi senyum. Bagaimana lebaran kalian? Semoga menyenangkan.

Saya juga mengucapkan ‘Selamat Lebaran untuk Keluarga Bapak Ibrahim, Mohon maaf lahir dan batin’, sungguh saya ingin sekali lagi bersilaturrahim ke rumah bapak. Semoga Allah mengijabahi. Terimakasih atas segala apa yang telah kalian berikan kepada kami di lebaran tahun kemarin. Tidak ada kebaikan yang mampu kami balas kecuali Allah sendirilah yang membalasnya. Semoga Allah selalu memberkahi dan merahmati kalian semua.

Amiin.