Arsip Kategori: Review Books

Review Book: Cinta Berpihak bagi Mereka yang Menunggu | Sirkus Pohon by Andrea Hirata

Title: Sirkus Pohon

Author: Andrea Hirata

Publisher: Bentang Pustaka

Published: 2017

Page: 383 p

ISBN: 978 602 291 4099

Kalau sudah cinta, menunggu dan rindu adalah bagian yang harus diterima.”

Begitulah inti dari kisah Sirkus Pohon, buku yang fenomenal dan membuat pembacanya limbung bersama tokoh dan ceritanya. Kita akan berkenalan dengan Hobri, pemeran utama sekaligus pencerita yang akan membawa kita dari awal halaman sampai cover belakang buku. Kita akan membaca kisah senangnya, sedihnya, kisah cintanya dengan Dinda, semangatnya dalam bekerja, dan banyak lagi.

Hobri adalah nama panggilan. Nama sebenarnya adalah Sobri bin Sobirinuddin. Laki-laki setengah baya yang mengarungi kehidupan di kampung kecilnya. Keberuntungan tidak selalu di pihaknya. Keluarganya -terutama adik perempuannya- selalu memarahinya karena kerjanya yang hanya serabutan tidak jelas. Gaji tidak sepadan dan banyak umpatan yang tidak bisa ditulis di sini.

Carilah kerja yang tetap boi. Yang ada absennya setiap pagi. Pakai seragam. Pakai sepatu mengkilap. Ada mandornya. Ada cuti setiap tahunnya. Ada liburnya. Kalau malas ada yang memarahimu.” Kurang lebih seperti itu.

Namun sayang, ijazah Hobri hanya sebatas SMP sedangkan kebanyakan pekerjaan mencantumkan ijazah SMA sebagai syarat utama diterimanya kerja. Hingga suatu hari pertemuannya dengan Dinda membangunkan semangatnya untuk tidak lelah mencari pekerjaan. Semangatnya setinggi langit dalam hal ini. Karena Dinda mensyaratkan harus punya pekerjaan tetap untuk bisa melamarnya.

Sirkus menjadi tempat melabuhnya diri Hobri dalam berselancar mencari pekerjaan. Karena syaratnya tak neko-neko dan mudah untuk dipenuhi. Asalkan jujur, ulet, dan pekerja keras. Hobri menjadi badut yang menghibur penonton di sirkus tersebut.

Meskipun sudah mempunyai pekerjaan yang tetap, usahanya untuk melamar Dinda masih terkendala oleh sesuatu yang tak bisa didefinisikan oleh akal sehat. Dinda linglung. Diam seribu bahasa. Jati dirinya lenyap tak ada yang tahu. Berdiam diri di rumah dan tak diperbolehkan oleh keluarganya keluar rumah.

Hobri terpukul. Dia kalap dalam segala hal. Separoh jiwanya telah linglung dan tak lagi mengenalnya. Hatinya telah tertambat dalam diri Dinda. Ia sudah tak bisa lagi mencintai yang lain. Dinda satu-satunya harapan hidupnya. Ibu dari anak-anaknya. Penghias rumah dan keluarganya.

Tapi tenang, di akhir cerita Hobri akan menemui kebahagiaannya sendiri. Dengan semboyan ‘Sekali Cinta Tetap Cinta’, keajaiban menghampiri hubungan Hobri dan Dinda. Kerja kerasnya menunggu Dinda terbayar lunas. Tentu saja dengan intrik-intrik seru yang Hobri lalui selama menunggu Dinda.

Selain cerita di atas, kita akan berkenalan dengan Tara dan Tegar. Dua bocah yang jatuh cinta karena perceraian masing-masing orang tuanya. Mereka dipertemukan di Pengadilan Agama Kota Kabupaten. Dari perantara sebuah kejadian yang tak bisa dilupakan Tara, Tegar menjadi Pembela yang nantinya menjadi 96 lukisan wajah yang menghantui Tara tahun demi tahun. Si Pembela begitu sebutan yang dipakai Tara untuk menggambarkan nama sketsa wajah Tegar waktu kecil hingga prediksinya saat dewasa.

Percintaan yang rumit antara Tegar dan Tara, tapi membuat gelisah tersendiri bagi pembacanya. Mereka sama-sama mencintai sejak pertama kali bertemu di kantor Pengadilan Agama. Menginjak dewasa mereka masih menyimpan rasa itu untuk sama-sama saling menemukan. Berbagai cara dan upaya telah dilakukan oleh masing-masing pihak. Dari hal yang masuk akal sampai hal yang konyol dilakukan. Tapi apa daya, Tuhan selalu punya cerita lain di baliknya.

Cinta akan datang pada mereka yang berjodoh.

Akhirnya Tara dan Tegar dipertemukan dalam Sirkus yang dikelola Tara. Pertemuan pertama Tara belum tahu bahwa Tegar adalah si Pembela yang ia cari mati-matian saat SMP dan SMA. Pun juga sebaliknya dari sisi Tegar.

Menurut saya dua kisah cinta di atas lebih seru apa yang telah dilalui oleh Tara dan Tegar. Karena masing-masing saling berusaha untuk menemukan satu sama lain. Masing-masing punya keinginan kuat untuk menemukan yang lainnya. Dan itu didasari oleh cinta dan rindu.

Sedang kisah Hobri adalah kisah perjuangan oleh seorang laki-laki yang jatuh cinta pada seorang perempuan. Ada perjuangan yang sangat dominan yang dilakukan oleh Hobri. Dia rela mengorbankan apa saja dan melakukan apa saja demi perempuannya, Dinda. Kisah cinta Hobri adalah kisah cinta seorang laki-laki yang sangat-sangat tulus. Ia mencintai dengan seluruh jiwa raga. Ia mencintai tanpa mengerti apa arti sebuah keluarga. Ia mencintai hanya untuk Dinda. Hobri adalah panutan dalam memperjuangkan sebuah cinta.

Seperti buku-buku yang lain Andrea Hirata selalu menyelipkan humor dan kisah konyol di dalamnya. Dalam buku ini saya bisa menyimpulkan bahwa dari hampir kesemua buku Andrea Hirata adalah tentang Kesetiaan seorang laki-laki dalam mencintai pasangannya. Entah itu perempuannya menerima atau menolak cinta yang diberikan. Hal itu bisa dibaca di tetralogi Laskar Pelangi, Ayah, dan Sirkus Pohon ini.

Sudah itu saja dari saya. Di akhir review ini saya mau mengutip satu pantun dari buku ini di halaman 296.

Anak dara pandai berlagu; Sembunyi malu di balik pintu

Duduk bersila ku di depanmu; Ingin ku dengar kisah-kisahmu.

Iklan

Review Life’s Golden Ticket: Taman Bermain yang Menyimpan Keajaiban dan Dapat Merubah Tujuan Hidup

IMG_20171107_210710

Title: Life’s Golden Ticket
Author: Brendon Burchard
Translator: Lanny Murtihardjana
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Published: 2008 (ind) 2007 (eng)
Page: 319 p
ISBN: 978-979-22-3853-2
More: Goodreads

“Kau bisa jadi siapapun yang kauinginkan, dan kau bisa melakukan apa saja yang kau inginkan.”

Seorang suami yang menangis tersedu-sedan di samping istrinya yang habis kecelakaan. Istrinya dalam keadaan kritis. Satu dua patah kata keluar dari mulutnya untuk menyampaikan sebuah keinginan yang aneh pada suaminya.

“Pergilah ke Bowman’s Park, carilah keajaiban, dan berjanjilah untukku.”

Si Suami dengan sedih dan masih dalam keadaan terpukul melihat kondisi istrinya, dipaksa Si Istri untuk saat itu juga pergi ke taman bermain yang disebutkan. Si Suami sebenarnya masih penasaran, empat puluh hari istrinya menghilang ketika kembali malah dalam keadaan kritis, dan dengan sekonyong-konyong menyuruhnya untuk pergi ke suatu tempat yang akhir-akhir ini diberitakan banyak kejadian mistis di sana.

Kenyataannya taman bermain itu sudah ditutup sejak dua puluh tahun yang lalu saat seorang bocah laki-laki terjatuh dari kincir ria dan meninggal. Bocah laki-laki tersebut adalah saudara Mary, Istrinya. Ada apa gerangan dan kemana perginya Mary selama empat puluh hari kemarin.

Untuk memenuhi janjinya terhadap Mary, Si Suami pergi ke Bowman’s Park. Ia menemukan mobil istrinya di sana, dalam keadaan normal dan masih utuh.

Di depan taman bermain itu, Si Suami menemukan keanehan-keanehan yang tak bisa dinalar oleh akal sehat. Taman bermain yang diberitakan ditutup itu, dengan seketika hidup dan banyak sekali pengunjung yang lalu lalang untuk mengantri masuk dan menikmati wahana-wahana yang ada di dalamnya.

Si Suami bertemu dengan Henry, orang tua yang baik hati dan rela berkorban untuk menjadi penjamin dirinya agar bisa masuk k ataman bermain. Kenapa harus dijamin? Karena Si Suami tidak punya tiket untuk masuk.

Di dalam taman bermain Si Suami memperoleh keanehan yang justru itulah keajaiban yang dimaksudkan Mary. Di Bilik Kebenaran, Kincir Ria, Tenda Pertunjukan, Perahu Bom-Bom, Kapal Bajak Laut, Komedi Putar, dan masih ada beberapa wahana lagi yang di dalamnya mengajarkan berbagai pelajaran menarik bagi Si Suami.

“Dalam taman bermain, kita lebih sering mengingat wahana yang ekstrim dan menakutkan ketimbang wahana yang menyenangkan dan membuat hati gembira.”

Life’s Golden Ticket tidak sekadar buku, melainkan benar-benar sebuah tiket untuk memasuki sebuah taman bermain dan pembaca bisa bergumul dengan wahana-wahana yang disediakan. Selain sebagai nostalgia masa kecil, ternyata banyak sekali pelajaran-pelajaran yang sering kita lupakan ketika berada di taman bermain.

Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan setelah sampai pada halaman terakhir buku ini. Si Suami yang dimaksud sebagai tokoh utama novel ini adalah kita sendiri. Ya kita sendiri yang mengarungi wahana-wahana tersebut. Kita sebagai pembacanya. Dengan situasi yang bisa dikatakan sama. Permasalahan-permasalahan yang sama. Kecemasan-kecemasan yang sering kita alami. Ketakutan-ketakutan di masa depan. Keraguan-keraguan dalam mengambil keputusan. Bedanya semua itu dicerminkan dalam sebuah cerita yang diperankan oleh sepasang kekasih di antah berantah sana.

Si Suami ketika memasuki sebuah Tenda Pertunjukan dan di dalamnya sedang berlangsung pertunjukan oleh Tukang Sihir, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil,

“Tapi sekarang ini aku hanya ingin berbagi rahasia tua ahli sihir: untuk bisa mematahkan mantra, kalian harus mengalahkannya dengan sihir yang lebih kuat. Kalau kalian ingin mematahkan Mantra Masyarakat, kalian harus meramu kemampuan sihir dalam diri kalian yang bisa mengalahkannya. Sihir atau keajaiban itu, yang aku yakin telah kalian lupakan, adalah pengharapan. Kalian harus membanjiri seluruh keberadaan kalian dengan pengharapan bahwa kalian mampu mulai lagi dari awal, bahwa ada lebih banyak peluang bagi kalian di luar sana, bahwa kalian akan menjadi pribadi kuat seperti yang telah ditakdirkan.” Hal 67.

Bagaiamana menurut kalian tentang paragraph di atas. Saya pikir-pikir ada benarnya apa yang telah dikatakan tukang sihir, bahwa kebanyakan dari kita telah terkena Mantra Masyarakat. Pada intinya kita menuruti perkataan dan permintaan masyarakat. Kita harus seperti ini, jika tidak maka akan ini. Kita harus bekerja di ini, biar nanti bisa mendapatkan gaji segini. Dan bla bla.

Kita kadang takut melakukan sesuatu yang sebenarnya kita inginkan, sangat-sangat kita inginkan, tetapi pada akhirnya tidak mendapat pandangan positif di masyarakat atau keluarga. Kita cenderung lebih mementingkan kebahagiaan orang lain ketimbang kebahagiaan sendiri.

Dan masih banyak lagi.

Satu lagi cuplikan sederhana yang sangat saya suka. Pesan ini disampaikan oleh penjaga Perahu Bom-Bom kepada Si Suami.

“Ada dua jenis anak. Ada yang suka berputar-putar, dan ada yang berjiwa pelaut. Yang kusebut pelaut tadi adalah anak-anak yang melompat ke dalam perahu lalu langsung menuju perairan bebas –mereka adalah para penjelajah. Mereka punya impian dan langsung mengejarnya. Mereka ini pemimpi sekaligus pelaku. Mereka tahu persis ke mana mereka hendak pergi. Tak peduli apa pun yang menabrak mereka, mereka akan mencapai tujuan, sebab mereka terus mengarah ke sana. Merekalah yang kau dengan berteriak ‘minggir, minggir!’ Para pelaut ini tidak segan-segan menyuarakan keinginan mereka. Saat aku meniup peluit untuk memberitahukan bahwa waktu sudah habis, para pelaut tadi selalu berhasil mencapai sisi di seberang titik awal. Dengan senang hati mereka keluar dari perahu, sebab mereka telah mencapai apa yang telah mereka inginkan. Mereka telah mencapai tujuan dan bersenang-senang saat menabrak perahu-perahu lain.

Kemudian ada jenis yang berputar-putar, well, sebenarnya dia juga mengawali seperti para pelaut. Dia juga ingin menuju perairan bebas. Tapi segera sesuadah semua anak mulai bergerak, ia langsung menyadari bahwa masih ada banyak anak lain di kolam. Ia menyadari betapa sulitnya mengarahkan perahu. Jadi ia lalu melakukan sesuatu yang unik. Ia beranggapan: sungguh sulit untuk mengarahkan perahuku tanpa bertabrakan dengan yang lain, jadi aku takkan mampu mencapai sisi seberang. Dia cepat menyerah, dan berkata, ‘Well, sepertinya aku takkan bisa mencapai seberang, jadi lebih naik aku bersenang-senang sendiri dan berputar-putar di sini’. Ia melakukan sesuatu yang sama sekali tidak membantunya mencapai tujuan semual, dan juga tujuan anak-anak lain. Ia berputar-putar di tempat, hingga bertabrakan dan menghalangi anak-anak lain yang ingin tiba di seberang, bahkan tanpa menyadarinya. Saat aku membunyikan peluit supaya semua berhenti bermain, mereka inilah yang terakhir merapat di dermaga, dan mereka hampir selalu kecewa dengan permainan ini.” Hal 197-198.

Sekali lagi, buku ini bukan sekadar buku bacaan, melainkan sebuah tiket di mana Anda akan di bawa berjalan-jalan dan bernostalgia dengan masa kecil Anda.

Setelah selesai membaca buku ini, Anda sedikit maupun banyak akan mengerti masa lalu, masa sekarang, dan masa depan dalam hidup Anda. Anda akan mengetahu hal-hal apa yang penting dalam hidup Anda dan hal-hal yang perlu ditinggalkan dalam hidup Anda.

Percayalah, apa yang ada dalam buku ini tidak sekadar cerita-cerita fiktif belaka, ada pelajaran berharga di dalamnya.

Akan tiba saatnya ketika Anda percaya
semuanya sudah berakhir.
Justru itulah permulaannya.
~Louis L’Amour

Review Buku Tentang Seorang Pencuri Buku Langka yang Rela Dipenjara Demi Koleksinya

Title: The Human Who Loved Books Too Much. Kisah Nyata Tentang Nyata Seorang Pencuri, Detektif, dan Obsesi pada Kesusasteraan.
Author: Allison Hoover Bartlett
Translator: Lulu Fitri Rahman
Publisher: Pustaka Alvabet
Published: 2010 (Indonesia)
Page: 282
ISBN: 978-979-3064-819
More Info: Goodreads

Saya pertama kali melihat buku ini dan memegangnya di perpustakaan terbaik favorit saya. Membacanya di bagian sampul dan langsung tertarik untuk segera meminjamnya. Buku ini sudah lima kali saya pinjam. Empat kali awalnya saya hanya meminjamnya saja, tidak lantas membacanya. Baru seminggu terakhir ini saya ada waktu luang untuk merampungkannya.

Allison Hoover Bartlett menulis buku ini untuk menunjukkan pada dunia bahwa ada kisah-kisah lain yang perlu diceritakan di balik sebuah benda yang bernama ‘buku’. Perjalanannya ke San Fransisco, New York, dan kota-kota besar lainnya tujuannya hanya satu, mengumpulkan kisah-kisah dari berbagai agen buku langka dan merangkainya menjadi buku ini.

Di dalam buku ini kita diajak untuk mengenal John Gilkey, seorang pencuri buku yang berpengalaman. Dia habiskan masa-masa hidupnya untuk mengoleksi buku-buku langka. Namun sayang, caranya tidak sesuai aturan. Dia mengoleksi buku langka dengan menipu para agen buku langka. Berbekal kartu kredit dan cek kosong dia mengulang-ngulang prakteknya dan selalu berhasil. Tidak selalu. Beberapa kali ia ketahuan dan dijebak untuk kemudian dijebloskan ke penjara.

Jika suatu hukum atau sistem dipandang tidak adil, maka untuk meruntuhkannya atau menentangnya, tidaklah salah“. -Nietzche.

Petikan di atas menjadi salah satu dasar mengapa Gilkey membenarkan perbuatannya. Ia merasa dicurangi kehidupan. Orang-orang berbuat tidak adil padanya. Orang-orang itu (para agen dan kolektor) diberi kekayaan untuk membeli buku-buku langka sesuai keinginannya. Berapapun harganya mereka mampu membayarnya. Sedang Gilkey, ia tidak mampu membeli buku-buku favoritnya. Padahal ia sangat ingin memilikinya dan ingin menunjukkan pada orang-orang bahwa ia bisa mengoleksi buku-buku langka itu (pamer).

Gilkey mencintai buku sebagaimana Ken Sanders mencintai buku-buku itu. Mereka berdua seorang bibliomania sejati. Gilkey berperan sebagai tokoh antagonis (padahal kisah ini nyata) dan Sanders memerankan tokoh protagonis yang menyelamatkan buku-buku langka dari tangan pencuri.

Sanders, pemilik toko buku ‘Sanders Rare Books’ yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Bidang Keamanan ABAA (Asosiasi Pedagang Buku Antik Amerika) sangat geram dan marah pada perbuatan Gilkey atas rekan-rekannya di ABAA. Sanders memperkirakan buku-buku yang selama ini dicuri Gilkey mencapai nilai jutaan dollar. Maka dari itu ia selalu waspada dan setiap ada kabar pencurian salah satu buku langka ia cekatan untuk mengabarkannya ke seluruh anggota ABAA melalui email.

Sanders berperan penting dalam kisah ini. Ambisinya untuk memenjarakan Gilkey didasari pada kecintaannya terhadap buku-buku langka. Saat beberapa kali menjebak Gilkey dalam sebuah pencurian buku, Sanders lah yang berkoordinasi dengan para detektif dari kepolisian. Ia juga bersikeras untuk menyeret Gilkey ke pengadilan dan menjatuhinya dengan hukuman yang berat. Padahal faktanya pencurian buku tidak terlalu menjadi perhatian khusus bagi aparat keamanan di Amerika waktu itu.

Mengagumkan. Satu kata bagi mereka berdua yang ingin saya tuliskan. Gilkey seorang kriminal yang rela menukar kebebasannya hanya untuk memiliki buku-buku. Sanders mengabdikan diri sebagai detektif buku langka untuk menangkap para pencuri yang mencoba merugikan para agen buku langka. Keduanya mempunyai ambisi yang mengagumkan. Hanya demi sebuah benda yang bernama ‘buku’ dalam buku ini dikisahkan berbagai hal ditempuh dan dilalui. Tentu terlepas dari isi buku dan muatannya.

Penulis juga seorang pecinta buku, Bartlett menjelaskannya di salah satu lembar buku ini. Tetapi kecintaanya tidak seserius Gilkey dan Sanders. Penulis menceritakan kisah ini karena didorong rasa kagumnya terhadap para pecinta buku langka. Yang tidak hanya sebatas cinta buku tetapi mereka mengoleksinya dari segi tahun cetaknya, kertasnya, sampulnya, bahkan kulit sampul yang membungkus buku itu.

Dalam buku ini ada beberapa judul buku yang disinggung dan dikatakan menarik. Buku-buku tersebut seperti The invisible man karya H. G. Wells, Ulysses karya James Joyce, Terra Nostra karya Carlos Fuentes, A Room of One’s Own karya Virginia Woolf, Lolita karya Vladimir nabokov, The human comedy karya William Saroyan, dan George Orwel yang menulis buku 1984. Masih banyak lagi judul buku yang tidak bisa saya tuliskan. Termasuk Harry Potter cetakan pertama juga diceritakan dalam buku ini.

Mengetahui judul buku-buku di atas ingin rasanya saya bisa membaca semuanya. Merasakan ketertarikan yang sama dengan Gilkey ataupun Bartlett atas cerita-cerita dan inspirasi yang keluar dari buku-buku tersebut.

Akhirnya, buku ini saya rekomendasikan bagi para pecinta buku yang ingin mengetahui bahwa cerita di balik sebuah buku begitu mempesona dan tentu saja ada kriminalnya. Kisah nyata dalam buku ini menggambarkan bahwa hukuman seberat apapun hampir tidak berdaya dalam mengecilkan kejahatan nafsu. Nafsu memiliki buku langka. Nafsu ingin mengoleksinya. Nafsu ingin dikagumi. Nafsu ingin terpandang dan terpelajar. Nafsu seperti apa yang telah digambarkan pada diri Gilkey.

#OktoberRain

Book Review: Kumcer – Sungai, Suara dan Luka | Cerpen yang Lebih Tua dari Yang Baca

 

Seminggu ini aku luangkan waktu untuk membaca buku kumcer (kumpulan cerpen) karangan S. N. Ratmana. Saat pertama kali aku menemukannya di salah satu rak perpustakaan Grhatama Pustaka Yogyakarta aku tak langsung suka dengan buku ini. Aku selalu nyawang sampul bukunya pertama kali, kalau intuisiku mengatakan ‘ini bagus‘ maka pada akhirnya akan bagus. Tapi yang kudapatkan dari sampul buku ini adalah begitu absurd dan hanya menarik dari judul bukunya.

Berbicara tentang kumcer ini maka siapapun pembacanya akan dibawa jalan-jalan ke 40 sampai 50 tahun Indonesia zaman dahulu. Kumcer ini kumcer lawas. Lawas sekali. Lembaran-lembarannya saja sudah menguning layaknya kitab-kitab kuno yang tersimpan di museum-museum. Membukanya harus pelan-pelan tanpa perlu grusa-grusu yang bisa membuat bukunya rusak dan robek.


Membaca beberapa cerpen dari Ratmana aku membayangkan beberapa kejadian sehari-hari yang terjadi di zaman Indonesia modern saat ini. Dan dengan manggut-manggut aku punya opini yang berdasar pada perkataan-perkataan orang besar lainnya bahwa ‘sejarah pasti berulang’. Tidak setahun dua tahun, beberapa puluh tahun pun zaman akan menampakkan kesamaannya yang pernah terjadi akan terjadi lagi.

Cerpen berjudul ‘Kubur‘ misalnya. Cerpen ini lahir tahun 1962 yang mengisahkan perselisihan sebuah keluarga yang mempermasalahkan mendirikan bangunan di pemakaman meski untuk niat penghormatan. Adalah seorang ibu yang dimakamkan di pekuburan itu. Anak laki-lakinya yang merasa kurang begitu berbakti kepada ibunya berniat membangun sebuah bangunan yang bagus untuk kuburan ibunya. Tapi malah pertentangan yang didapatkannya dari ayahnya -suami ibunya,  sendiri dan adik kandungnya. Ayahnya beralasan bahwa itu semua perbuatan yang bisa merubah tauhid dan ditentang oleh agama Islam yang dipercayanya. Perpecahan keluarga ini semakin parah ketika bangunan untuk penghormatan makam si ibu sudah berdiri tapi adiknya dengan keras kepala membongkarnya dan membiarkan utuh seperti sedia kala.

Atau cerpen yang berjudul ‘Sang Profesor‘ tahun 1974 dalam urutan ke sekian dalam kumcer milik Ratmana ini. Zaman dahulu gelar profesor sangatlah disegani dan dihargai. Banyak orang yang memujanya dan membesar-besarkannya. Sang profesor layaknya guru dari semua guru yang ada.

Saat suatu hari sang profesor harus menemui ajalnya banyak sekali orang-orang dari berbagai kalangan untuk memberikan penghormatan baginya. Banyak sekali orang-orang asing yang datang di acara pemakaman itu. Tokoh ‘aku’ dalam cerita ini yang juga dulunya sebagai asisten sang profesor sangat kaget dengan yang dilihatnya. Begitu banyaknya manusia yang datang dan dirinya sendiri tak mengenal satupun dari mereka.

Tokoh ‘aku’ bercerita bahwa sang profesor yang dikenal masyarakat bukanlah sang profesor yang seharusnya diidam-idamkan oleh mereka. Nampak luarnya saja yang mereka lihat begitu mengagumkan. Tetapi suatu kejadian yang telah dialami tokoh ‘aku’ sangatlah menjijikkan untuk dialami dengan  seorang profesor. Aku sendiri mengartikan tokoh ‘aku’ sebagai seorang pemuda yang sedang berada di masa pubertas. Masa di mana tokoh ‘aku’ ini masih mengabdi pada sang profesor untuk menjadi seorang asisten.

Pada malam yang sepi di sebuah rumah pemondokan jauh di perkampungan kejadian itu hampir saja menimpa tokoh ‘aku’. Sang profesor didapati hampir menggumulinya di sebuah dipan reot tempatnya tidur. Untung saja tokoh ‘aku’ ini sigap dan mempelintir tangan sang profesor hingga memar. Dan malam itu adalah malam di mana tokoh ‘aku’ sudah berhenti mengagumi sang profesor seperti masyarakat mengaguminya. Perasaan jijik telah merambat subur di hatinya.

Atau lagi, cerpen yang berjudul ‘Tojo‘ tahun 1977. Tojo merupakan nama dari prajurit Jepang yang kemudian berubah menjadi Muhammad Tajuddin setelah menjadi muslim dan menikahi anak dari salah satu penduduk desa. Tapi kejadian naas menimpanya setelah kesatuan tentara Jepang menembaki pemuda-pemuda kampung tempatnya tinggal.

Warga kampung lainnya melampiaskan balas dendamnya kepada si Tojo yang masih berstatus prajurit Jepang kala itu. Ia diseret ramai-ramai dan dipukuli di jalanan. Akhirnya ia meninggal dan jasadnya di buang di sungai. Masyarakat sudah lupa bahwa yang barusan dibunuh beramai-ramai bukanlah si Tojo melainkan si Muhammad Tajuddin yang sudah beriman seperti imannya orang-orang kampung.

Atau pembaca akan disuguhkan cerpen yang berjudul ‘Diagnosa‘. Cerpen ini mengangkat cerita tentang seorang dokter yang berkawan dengan seorang guru. Bagaimana si Guru berpesan kepada kawannya yang berprofesi dokter untuk mengawasi pasien-pasiennya yang ditakutkan murid si Guru tersebut.

Tidak zaman sekarang, zaman dahulu pun pengawasan orang tua ataupun guru sangat-sangat dibutuhkan. Nyatanya salah seorang murid putri dari guru tersebut diketahui memperiksakan kandungannya dengan menggunakan nama samaran. Dengan tenangnya murid tersebut mengaku sebagai kakaknya yang merupakan istri dari seseorang. Seolah tak ada masalah yang serius. Penyamaran ini dimaksudkan agar biaya periksa kandungan mendapatkan biaya ganti dari perusahaan suami kakaknya bekerja. 

Apa yang ditakutkan oleh si Guru akhirnya terungkap saat pacar dari murid yang hamil itu diinterogasi oleh si dokter saat ujian penerimaan tentara baru Republik ini. Berkaca pada cerpen tersebut, di zaman modern saat ini kita seolah merasa wajar mendengar berita seperti itu. Masyarakat sudah mafhum dengan kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh pelajar saat ini. Padahal hal seperti itu sangat sangatlah perlu untuk diawasi dan ditindak.

Tapi begitulah zaman, dahulu dan sekarang seolah terdapat benang merah yang mengikat satu sama lain dan tak pernah bisa terpisahkan. Terhubung untuk menerjemahkan zaman yang lain. Menjadi sebuah cerita yang bisa digunakan sebagai tolak ukur sekaligus pelajaran atau hanya sebatas kisah yang hanya bisa diceritakan.

Membaca kumcer milik Ratmana menjadi hal baru bagi saya. Dengan gaya bahasanya yang mudah dicerna, alur cerita yang ringan serta masalah-masalah yang diangkat juga sering ditemui di kehidupan sehari-hari. Kumcer ini menjadi menarik saat dibaca setelah 40 sampai 50 tahun dibuat. Saya malah belum lahir. Belum ditiupkan ke rahim ibu ding. Kalau dihitung-hitung cerpen-cerpen ini berumur sama dengan orang tua saya. Sudah lumayan tua.

September 2017

Saya Mengumpat Ketika Membaca Novel Paling Menjengkelkan Ini

Ronggeng_or_dancing_girl1817
credit: oheunchadiary.blogspot.co.id

Hari di mana saya merasa ling-lung. Banyak pikiran dan imajinasi yang memenuhi kepala saya. Hari itu adalah hari saat saya menyelesaikan sebuah trilogi novel karangan Ahmad Tohari.

Adalah Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jentera Bianglala yang memberikan nuansa gelap dalam hayalan saya. Ada rasa mengganjal dalam perasaan saya. Emosi saya sepenuhnya telah diacak-acak oleh pengarangnya.

Dulu, sempat saya mengumpat ‘uasu’ pada jalan cerita dan kepribadian-kepribadian yang dimiliki tokoh-tokohnya. Saat itu saya membenci semua tokoh dalam cerita tersebut. Memang saya belum selesai membacanya, tetapi apa boleh buat, mengumpat seperti itu saya merasa benar dan itu hal yang wajar.

Dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, umpatan cabul dan menggemaskan serta sedikit menggelitik banyak sekali dijumpai. Tak heran jika setelah membaca novel ini, saya sedikit-banyak fasih mengucapkan umpatan tersebut yang dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan misuh.

Baca juga :
Book Review: Kisah Pelacur Pujaan yang Hidup Lagi Setelah Mati Selama 21 Tahun
Book Review: Ketika Cinta Berbuah Penderitaan

Saya ingat betul, hari di mana saya menyelesaikan novel ini adalah di Hari Sabtu yang sedikit mendung. Seminggu sudah saya menekuri kata dan kalimat yang dirangkai oleh Ahmad Tohari itu.

Pagi sebelum melakukan aktivitas saya sempatkan sepuluh halaman. Menjelang maghrib, ini waktu yang paling asyik sambil nongkrong gak jelas di beranda, saya paksa untuk lebih banyak lagi membaca halaman demi halaman. Menjelang tidur –setelah main kartu, adalah waktu paling afdhol untuk meneruskan membaca sambil glimbang-glimbung menunggu kantuk.

Hari yang mendung selalu membawa suasana yang istimewa. Rasa malas kadang lebih mendominasi diri disbanding rasa ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tapi Hari Sabtu kemarin, Ronggeng Dukuh Paruk telah memberi daya magis yang bisa memikat mata dan angan untuk sinkron menjelajah suatu dukuh dalam imajinasi yang bernama Dukuh Paruk.

Saya kenal akrab dengan Srintil, seorang ronggeng yang ayu jelita, molek tubuhnya, montok dadanya, dan putih kulitnya. Meskipun saya tidak secara langsung menonton pertunjukan ronggengnya, liuk tariannya dan juga tatapan cabulnya seakan tervisualisasi secara gamblang oleh barisan kata-kata yang tercetak rapi di kertas kuning Buku Ronggeng Dukuh Paruk itu.

Saya juga mengenal Rasus. Dia seorang bocah cilik yang hatinya remuk redam setelah Dukuh Paruk melenyapkan ibunya dan merenggut Srintil dari hatinya. Hidupnya serba susah. Menginjak dewasa, keberuntungan menghampirinya. Dan pada akhirnya, dialah satu-satunya pahlawan yang mengharumkan kembali nama Dukuh Paruk di hati para saudara-saudaranya.

Semangat saya bergejolak saat sampai di cerita ini, entah mengapa ada sedikit warna hijau di kegelapan yang terbentang. Ada sesuatu yang dibanggakan dalam wilayah kecil dan terpelosoknya Dukuh Paruk. Ingin rasanya berjabat tangan dan memeluk Rasus untuk kehidupan masa kecilnya dan kehidupan masa depannya.

Menjelang malam. Tepatnya malam Minggu. Saya ada kesempatan untuk plesiran bersama kawan-kawan ke KM 0 Yogyakarta. Malam itu ramai sekali karena bertepatan dengan digelarnya konser salah satu artis ibukota.

Di usia yang sebesar ini saya kadang merasa resah jika malam-malam keluyuran gak jelas. Sekedar jalan. Mencari suasana baru. Apalagi malam itu adalah malam yang krusial bagi pasangan muda-mudi. Malam yang dipenuhi fans-fans salah satu artis ibu kota. Malam yang sudah memasuki ajaran baru, yang berarti puluhan ribu mahasiswa baru sudah berada di Yogyakarta. Malam yang kebetulan kami-kami tidak ada kegiatan dan mencoba mencairkan isi kepala.

Seperti kebanyakan pembaca, setelah menghabiskan satu cerita novel, selalu terasa tokoh-tokohnya serta alur ceritanya kebawa dalam dunia nyata. Pun malam itu, seakan Srintil ikut serta dalam meramaikan 0 KM Jogja. Keberadaannya mungkin membuat kesibukan tersendiri untuk dinikmati.

Dalam kisah yang dituliskan Ahmad Tohari sosok Srintil menggambarkan kecantikan alami, keserasian kehidupan cabul di Dukuh Paruk, serta kenggunan ragawi yang menggetarkan alam bawah sadar. Dalam kisah tersebut hanya Srintil yang dilukiskan seperti sepetak ilalang semi dalam hamparan gurun yang tak berkaktus.

Rambutnya hitam panjang sepinggang. Saat meliuk dalam tarian ronggeng, ia tampakkan leher jenjangnya. Ia obral kuning langsat kulit lehernya. Rambut yang indah itu disanggulnya tinggi-tinggi untuk mengatakan bahwa, hanya dialah yang pantas untuk dinikmati kala ronggeng manggung.

Tepat mendekati tengah malam yang masih dipadati banyak pengunjung saya hanya membayangkan, ‘adakah sosok Srintil di sini?’ pertanyaannya memang konyol. Tapi juga tak salah jika dikaji dari segi psikologis seorang yang habis terbakar emosi oleh Novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Jangkrik’. Ternyata ada.

Entah bagaimana bisa ketemu, dimungkinkan hanyalah kelanturan pribadi saya. Di sini, di Jogja, perihal cantik untuk menggantikan kecantikan Srintil, si peronggeng, cukup buanyak. Buanyak banget.

Tapi malam itu ada satu sosok yang menyanggul rambutnya seperti bayangan saya ketika Srintil menampilkan jenjang lehernya untuk menantang penonton ronggeng. Sosok tersebut menghanyutkan pandangan saya. Meskipun tidak menari, tetapi terasa sekali bahwa saya berdiri di sini adalah sebagai penonton setianya. Hampir saja saya mengejarnya dan sekedar menepuk pundaknya, “Mbak boleh kenalan?”

 

Book Review: Gadis Berbunga Kamelia by Alexandre Dumas JR | Ketika Cinta Berbuah Penderitaan

IMG_20170604_230631

Title: Gadis Berbunga Kamelia: Roman Klasik yang Menyentuh
Author: Alexandre Dumas JR
Translator: Rika Iffati
Publisher: Bentang Pustaka
Published: 2009
Page: 319 p
ISBN: 978-979-1227-47-6
Detail: Goodreads

Sudah dua buku yang saya baca mengenai pelacur –termasuk novel ini. Kesemuanya novel. Satunya yaitu bukunya Eka Kurniawan, Cantik Itu Luka.

Wanita penghibur mendapat jatah tersendiri dalam strata sosial kehidupan bermasyarakat. Mereka juga mempunyai prinsip-prinsip yang apabila ditabrakkan dengan prinsip manusia kebanyakan akan bertolak belakang. Prinsip mereka misterius, mungkin yang paham hanyalah mereka dan Tuhan mereka.

Saya mendapatkan buku ini di salah satu perpustakaan terbesar di Yogyakarta. Sebenarnya saya pinjamnya seminggu sebelum Ramadhan, tetapi baru kelar seminggu setelah Ramadhan.

Penjabaran cerita dalam buku ini tidak seterbuka Cantik Itu Luka. Ceritanya lebih menuju ke romantika sebuah hubungan. Jadi, tidak ada salahnya jika menjadikan list untuk diselesaikan di Bulan Ramadhan.

REVIEW

Gadis berbunga Kamelia atau lebih akrab dipanggil Madam Marguerite adalah seorang wanita penghibur terkenal di Paris yang meninggal sekitar tahun 1847 M. Hampir setiap pria yang tinggal di Paris akan mengenalnya karena kecantikan dan keanggunannya. Marguerite meliliki pesona tersendiri dibandingkan wanita penghibur lainnya. Dia tidak semanja wanita penghibur lainnya.

Pada saat menghadiri pesta atau pada saat menonton teater, kebanyakan teman-temannya hampir selalu menggandeng pria untuk dipamerkan, tapi, tidak dengan Marguerite. Dia biasa berjalan sendiri. Menghadiri pesta sendiri. Menonton teater sendiri. Dia tidak peduli, ada atau tidaknya lelaki yang bersamanya. Dia menganggap sama saja.

Seperti wanita-wanita penghibur lainnya, bagi mereka tidak ada cinta sejati dalam hidup. Cinta hanyalah hasrat sementara yang kudu dipuaskan. Bagi mereka cinta kaum lelaki tidak pernah utuh bahkan mereka menganggap cinta lelaki hanyalah rayuan belaka untuk mendapatkan satu malam bercinta atau lebih bersamanya.

Kehidupan wanita penghibur di Paris sangatlah mahal termasuk kehidupan Marguerite yang sebulan bisa menghabiskan uang tujuh ribu france. Tetapi, itu tidak masalah baginya karena sumber uangnya sangat setia dan selalu memenuhi kebutuhannya.

Adalah Armand Duval, seorang lelaki yang membuat Marguerite kembali ke kesucian yang ia yakini. Lelaki yang membawanya dalam kebahagiaan dan menyeretnya pada kesengsaraan cinta. Armand menjadi madu sekaligus duri dalam akhir kehidupan Marguerite.

Dalam awal-awal pertemuan, Armand adalah pemuda yang membawa cinta suci untuk Marguerite. Pemuda kampung yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang wanita penghibur.

Ketika Marguerite jatuh sakit, Armandlah yang menanyakan keadaan Marguerite setiap harinya selama satu bulan penuh tanpa meninggalkan identitas. Ini adalah tindakan yang dilakukan oleh seorang yang belum kenalan satu sama lain tetapi dalam hati salah satunya sudah tumbuh benih-benih cinta.

Dan setelah takdir menemukan mereka pada pertemuan pertama, Armand langsung mengungkapakan cintanya.

“Dengar, Marguerite, entah pengaruh apa yang telah engkau tanamkan kepada kehidupanku, tetapi saat ini, tak satu wanita pun, bahkan saudara perempuanku, yang membuatku merasakan ketertarikan yang saat ini kurasakan untukmu. Sudah seperti ini keadaannya sejak pertama kali aku melihatmu. Nah, demi Tuhan, jaga kesehatanmu. Jangan menjalani kehidupan seperti yang kau lakukan saat ini.” (Hal 105).

Meskipun Marguerite berkali-kali mendapatkan pernyataan cinta dari para pria, tetapi, Marguerite tahu betul cinta mana yang tulus dan gombal. Pemuda itu berkata dengan sungguh-sungguh karena disertai tetesan airmata kepedulian akan kesehatan Marguerite.

Menjadi kekasih seorang wanita penghibur tidaklah mudah sekaligus tidak murah. Marguerite tidak mau menjadikan Armand bangkrut dalam sekejap karena berusaha mencintainya. Dan apa yang dikatakan Armand, setelah Marguerite menyarankan untuk menjadikan hubungannya sebatas pertemanan saja?

“Sejak aku melihatmu, entah mengapa, kau telah menduduki suatu tempat dalam hidupku. Jika aku mencoba mengenyahkan pikiran tentangmu dari benakku, pikiran itu selalu kembali lagi. Ketika aku berjumpa denganmu hari ini, setelah tak melihatmu selama dua tahun, kau meninggalkan kesan yang lebih dalam di hati dan pikiranku ketimbang sebelumnya karena sekarang kau telah mengizinkanku datang mengunjungimu, karena aku telah mengenalmu, karena aku telah mengetahui segala keanehan dalam dirimu. Kau telah menjadi kebutuhan hidupku dan kau akan membuatku gila, bukan saja kalau kau tak mencintaiku, tetapi juga kalau kau tak memperbolehkanku mencintaimu.” (Hal 109).

Tetapi, bagaimana pun, pada akhirnya Marguerite menerima cintanya Armand. Cinta yang tulus itu juga disambut dengan cinta yang murni oleh Marguerite. Bagi Marguerite, cinta dari Armand adalah cinta yang ia nanti-nantikan. Cinta yang dapat menghapus segala masa lalunya dan menyambut kebahagiaan-kebahagiaan selanjutnya.

Mereka saling mencintai. Sangat saling mencintai. Hingga pada suatu waktu Marguerite meminta kepada Duke –orang tua yang menganggapnya anak, untuk membelikan rumah kecil di Bougival –pedesaaan di Paris. Dalihnya untuk beristirahat dan menikmati pedesaan supaya penyakit TBC yang ia derita segera sembuh.

Tetapi, itu hanyalah sebuah dalih semata. Ujungnya, rumah itu digunakan Marguerite dan Armand untuk menikmati kebersamaan dan kebahagiaan.

Saking cintanya, Marguerite tidak pernah meminta apapun dari Armand. Apapun. Malahan semua yang dimiliki Marguerite –perhiasan, kereta, gaun semuanya dijual dan digadaikan untuk memenuhi kebutuhan dan melunasi hutang-hutangnya.

Jalan cinta tidak selalu mulus. Ada selalu rintangan dan halangan untuk menguji sebuah hubungan. Pun hubungan asmara antara Marguerite dan Armand Duval.

Masalah datang ketika Ayah Armand tidak menyetujui hubungan mereka. Ayah Armand menganggap bahwa hubungan mereka hanyalah cinta sesaat dan akan merusak masa depan Armand yang masih panjang. Madam Marguerite dianggap masih seperti dulu yang bisa membuat bangkrut siapa saja yang menjadi kekasihnya, termasuk Armand.

Maka dari itu dengan permohonan dan intervensi yang menyentuh dari Ayah Armand, akhirnya Marguerite pun memilih keputusan yang sangat ia benci. Ia harus memutus hubungan dengan Armand bagaimana pun caranya. Tentu saja demi kebahagiaan keluarga besar Armand Duval dan demi berlangsungnya pernikahan adik perempuan Armand Duval.

Dengan tangisan dan rintihan sakitnya perpisahan, akhirnya meluncurlah surat yang ditulis Marguerite untuk Armand.

“Saat kau membaca surat ini, Armand, Aku sudah menjadi wanita simpanan lelaki lain. Hubungan kita sudah usai.
Kembalilah kepada ayahmu, Kawanku, serta kepada saudarimu. Dan, di sana, di sisi gadis muda yang masih suci itu, yang tak mengetahui segala penderitaan kita, kau akan segera melupakan apa yang akan membuatmu menderita gara-gara makhluk penuh dosa bernama Marguerite Gautier, yang pernah kau cintai sesaat dan berutang kepadamu atas satu-satunya saat membahagiakan dalam hidupnya yang, dia berharap, tak akan lama lagi sekarang.” (Hal. 257).

Mereka putus selama-lamanya.

CLOSING

Dalam novel ini, bagian yang sangat-sangat saya benci adalah surat Marguerite kepada Armad. Surat itu mengubah segala-galanya.

Armand yang dulunya sangat mencintai Marguerite, karena darah mudanya, darah balas dendam kepada kekasih yang memutuskannya, tanpa tahu sebab-sebabnya, membuat hari-hari Marguerite semakin sakit dan sakit.

Menjelang ajalnya, karena TBC yang semakin parah, Marguerite tidak berdaya. Raganya rusak oleh penyakit, sedang jiwanya telah hancur karena cinta yang tak bisa ia perjuangkan. Saat-saat seperti ini, semua telah melupakannya, kekasih-kekasihnya dulu, teman-temannya, kecuali adik perempuannya dan pembantunya yang setia di sisinya, merawatnya hingga ajal menjemput.

Sebelum maut memeluknya, ia tuliskan beberapa surat yang berisikan penjelasan-penjelasan, mengapa ia dengan sepihak memutuskan Armand. Surat-surat itu berisi kepedihan dan rasa rindu yang sangat mendalam pada Armand, kekasihnya yang pernah membuatnya bahagia dulu. Surat-surat Marguerite kepada Armand memenuhi dua bab terakhir dalam novel ini yang mungkin membuat pembaca baper.

Impian yang Marguerite inginkan yaitu menemui ajal dalam genggaman tangan kekasihnya, dalam pelukan cinta sejati, pada akhirnya hanya sebuah impian. Marguerite menemui ajalnya di kamar tidurnya, dalam kesepian, meninggalkan surat-surat dan kisah cinta yang memilukan.

Ia merelakan kebahagiaannya demi kehidupan kekasihnya –Armand, yang lebih baik. Ia rela menderita demi gadis suci yang akan melangsungkan pernikahannya. Ia rela mengorbankan jiwanya untuk sesuatu yang tak bisa ia nikmati. Ia hanya bisa mengucap nama Armand di penghujung ajalnya untuk mengantarkannya ke kehidupan abadi.

Novel ini membawa kesedihan yang cukup mengena bagi pembacanya. Bagi saya, roman Laila Majnun ataupun Romeo Juliet masih kalah sedih ceritanya dengan Gadis Berbunga Kamelia ini.

Terakhir, entah kisah ini kisah nyata atau tidak, Bunga Kamelia yang menjadi ikon Marguerite akan tetap bersemi di atas makamnya, sebab penyesalan yang mendalam dari Armand Duval, kekasihnya.

Review: Heidi by Johanna Spyri | Kehidupan Si Kecil Heidi yang Mengajarkan Kegembiraan Hidup dan Ketulusan Berbagi

heidi

Title: Heidi
Author: Johanna Spyri
Publisher: Bentang Pustaka
Published:
Page: 352 p
ISBN: 9780753454947
Detail: Goodreads

“Karena Tuhan sudah tahu apa yang terbaik bagi kita, sedang kita tidak.”

Berlatar di sebuah desa di Negara Swiss. Hiduplah gadis kecil yang diasuh oleh seorang kakek tua yang terkenal garang dan menjahui desa, bahkan menjahui Tuhan. Gadis tersebut bernama Heidi. Kakek yang mengasuhnya lebih dikenal oleh penduduk desa dengan sebutan Paman Alm.

Kisah yang diangkat oleh penulisnya berceerita tentang kehidupan dan kepolosan anak-anak. Tak jarang membuat saya geli sebagai seorang remaja ketika membaca cerita ini. Heidi dan Peter begitu bersemangat dan berkarakter.

Heidi, begitulah orang-orang memanggilnya. Ia gadis kecil yang dititipkan bibinya ke Paman Alm. Padahal orang-orang telah memperingati bibinya untuk tidak menitipkan Heidi ke Paman Alm, tapi bibinya tetap saja bersikukuh menitipkannya.

“Kasian gadis kecil itu”. Komentar para tetangga atas kepeduliannya terhadap Heidi.

Bagaimana tidak. Paman Alm sendiri dikenal tidak punya perasaan. Lebih memilih menyendiri di atas gunung. Hidup dengan kambing-kambingnya. Turun sesekali ke desa hanya untuk menjual mentega kemudian pulang membawa roti kering. Bahkan Paman Alm pernah berkata bahwa ia sudah memusuhi Tuhan, sehingga ia tak pernah lagi kelihatan datang ke gereja.

Maka, kekhawatiran tentang kehidupan Heidi begitu menjadi perhatian masyarakat Dorfli. Mereka takut Heidi tak ter-urus. Mereka juga takut Heidi ketika besar nanti tidak seperti gadis-gadis sebayanya karena didikan oleh kakeknya.

Tapi, apakah seperti itu dugaan mereka para masyarakat Dorfli mengenai Paman Alm?

Heidi begitu senangnya ketika melihat sang kakek. Begitupun sebaliknya. Paman Alm menyambut Heidi, keluarga barunya dengan antusias. Meski awalnya begitu kaget, karena bibinya sudah tak mau lagi mengurus Heidi, Paman Alm mau tidak mau harus mengurus gadis kecil itu.

Kursi baru pun dibuat. Begitu juga dengan meja makan. Tempat tidur baru untuk Heidi seadanya dengan memanfaatkan tempat penyimpanan jerami. Heidi sendiri yang meminta tempat jerami untuk dijadikan tempat tidurnya, karena berada di atas andang-andang dan ada sebuah jendela yang menampakkan padang rumput yang hijau terhampar.  Jerami sebagai pengganti kasur dan kain tebal sebagai alasnya. Satu kain tebal lagi sebagai selimut untuk penghangat ketika malam dan musim dingin tiba.

Di gunung, Peter merupakan teman baru Heidi yang berprofesi sebagai penggembala kambing-kambing milik para warga desa. Termasuk dua kambing milik Paman Alm. Setiap pagi, berbekal dengan peluit dan sebilah tongkat bambu, Peter akan berangkat menggiring kambing-kambingnya ke atas gunung untuk mencari tempat strategis. Ketika ada teman baru bernama Heidi yang ikut dengannya, hari-hari menggembala Peter lebih ceria. Selain ada teman bermain, sering juga Heidi memberikan jatah makannya untuk Peter karena porsi makan Heidi yang sedikit. Itulah yang ditunggu Peter setiap hari.

Semuanya berubah setelah Heidi dipaksa untuk menjadi teman seorang gadis kecil di Frankfurt, Jerman oleh bibinya. Hal itu membuat Paman Alm, Peter, dan orang-orang yang sangat dekat dengan Heidi merasa kehilangan. Kehidupan Heidi pun berubah total, dari yang asalnya terbiasa dengan padang rumput kini harus dibiasakan di dalam rumah gedong dengan gedung-gedung tingggi tanpa warna hijau menghampar.

Dia bertemu dengan Clara yang berusia lima tahun lebih tua darinya. Clara adalah gadis kecil yang cerdas namun selama dua belas tahun ia ditakdirkan  lumpuh dan harus tetap berada di kursi roda untuk melakukan semua aktivitas.

Kelak, pertemuan Keluarga Clara dan Heidi membuat sejarah baru di kehidupan Clara. Tidak hanya itu. Orang-orang yang dekat dengan Heidi di Desa Dorfli pun mendapatkan manfaatnya dari Keluarga Clara. Salah satunya Peter.  Ia memperoleh 1 Penny setiap minggunya seumur hidupnya. Dan Heidi, Ia memperoleh apapun yang tak pernah ia minta namun orang-orang berbaik hati memberikannya.

Ada sebuah percakapan ringan antara Heidi dan Clara yaitu ketika Clara bertanya pada Heidi perihal “Mengapa kita harus berdoa pada Tuhan, sedang segala sesuatu sudah diberikan dan ditetapkan oleh Tuhan pada Kita?” dan inilah jawaban yang diberikan Heidi kepada Clara.

“Kita sebaiknya berdoa kepada Tuhan setiap hari untuk menunjukkan bahwa kita percaya dan tahu bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya. Jika kita melupakn-Nya, Tuhan akan membiarkan kita menempuh jalan kita sendiri, dan kita akan menemui kesulitan.”

Heidi gadis kecil yang baik. Saya belajar untuk tidak menyerah untuk menjadi orang yang baik. Diusianya yang masih belia, kepolosan dan kebaikannya untuk sekarang ini sudah lama hilang di kehidupan modern dan kehidupan orang dewasa.

Dan,

Membaca kisah ini telah mempertajam batin saya tentang kepedulian dan kerja keras. Kepedulian dengan orang lain dan kerja keras untuk tidak mudah menyerah dalam belajar. Heidi mengingatkan saya pada kehidupan keras yang pernah saya alami. Tentang menggembala kambing-kambing, petualangan, dan senangnya bermain serta lelahnya belajar.

Ketika membaca kisah ini juga, saya juga merasakan ada angin-angin imajin yang sepoi-sepoi membelai saya. Penggambaran padang rumput yang hijau terhampar di halaman rumah, berisiknya pohon cemara yang tertiup angin, cahaya matahari yang bersinar menghangatkan, dan bunga-bunga cantik yang mekar setelah musim dingin berlalu memberikan suasana membaca menjadi lebih sejuk dan damai.

Swiss. Terima kasih telah melahirkan satu kisah yang menambah semangat hidup. Kisah yang menghidupkan kepingan masa kecil saya. Kepingan yang merupakan kenangan indah dan petualangan seru yang tak jauh berbeda dengan kisah ini.

Inilah yang saya sukai dari Penulis International, apalagi kalau di sampulnya tertera tulisan Bestseller New York Times atau Bestseller International, pastinya tak akan rugi jika membacanya. So, kalian yang kebetulan menemukan Buku Novel yang berjudul HEIDI maka segeralah pinjam atau beli. Karena setelah selesai membaca, sungguh tak ada penyesalan.

*Sumber gambar: bacaanbzee.wordpress.com

Januari 2017