Arsip Kategori: Catatan Keseharian

Belajar Istiqomah dalam Berbuat Baik | Cerita Maiyah Part 1


Minggu kemarin adalah pengalaman yang sangat menyenangkan bagi pribadi saya. Secara tidak langsung saya menjadi semangat kembali, hidup kembali untuk lebih giat dalam belajar dan belajar. Karena memang belajar tidak bisa sekali duakali langsung menemukan rasa dan manfaatnya.

Belajar harus tekun dan ulet, semangat dan pantang menyerah. Dan tulisan ini sendiri untuk menyemangati saya sekaligus sebagai bahan pengingat bahwa saya juga perlu reminder untuk melangkah ke depan.

Belajar yang saya maksud bukan berkutat pada diktat mata pelajaran atau membaca buku-buku atau menghafal teori-teori, belajar yang ini adalah belajar untuk istiqomah berbuat kebaikan. Siapa mengira bahwa berbuat kebaikan adalah semudah membalikkan telapak tangan, tapi mengistiqomahkannya sesulit menjulurkan lidah untuk menjilat hidung sendiri –konyol sih-.

Terus pengalaman apa yang saya dapatkan pada Minggu kemarin hingga membuat saya banyak merenung. Sebenarnya saya hanya mendengarkan ceramah dan cerita. Saya menghadiri majlis ilmu yang kebetulan hari itu ada tamu dari negeri seberang, Australia.

Banyak yang dibicarakan dalam majlis tersebut, dan juga banyak pula yang ingin saya tuliskan di sini sebagai catatan bahwa saya pernah secara langsung bertatap muka dengan orang hebat yang kaya akan pengalaman spiritual.

Majlisnya adalah Mocopat Syafaat yang langsung dipimpin oleh Cak Nun. Pernah dengar kan tentang majlis tersebut. Ada juga yang menyebutnya Komunitas Maiyahan atau juga Kenduri Cinta.

Malam itu merupakan malam yang setelah sekian lama nggak mengikuti majlis ilmunya Cak Nun, saya diberikesempatan untuk mengikutinya. Diajak sih sebenarnya.


Salah satu tamu yang hadir adalah Ibu Ade dari Perth, Australia. Beliau dulunya berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat, tetapi sekarang sudah menjadi warga Australia.

“Sebelum menjadi seperti sekarang ini, saya dulunya adalah seorang yang suka mabuk-mabukan, saya seseorang yang masuk ke zaman jahiliah lagi.”

Beliau blak-blakan dalam memperkenalkan dirinya. Setelah itu bercerita banyak tentang pengalamannya dalam beragama di Australia.

“Meskipun hobi saya satu tadi melambangkan orang jahiliah, tetapi saya yakin Allah masih sayang pada saya. Allah tidak marah pada saya. Allah selalu mengasihi saya. Saya sangat yakin bahwa Allah akan selalu berpihak pada saya.”

“Mungkin dengan keyakinan itu, perlahan saya dituntun ke jalan yang benar dan lurus. Alhamdulillah, saya sudah menjahui semua hobi buruk saya. Alhamdulillah.”

Kira-kira seperti itu yang disampaikan Bu Ade ke jamaah.

Di Australia, Bu Ade merupakan seorang penjual bakso. Beliau menuturkan bahwa hidup di Australia tidaklah mudah, tapi beliau perlahan-lahan mampu melewati itu semua.

“Saya selalu berusaha untuk menjadi orang baik. Siapa saja yang meminta pertolongan pada saya, Insyaallah saya akan siap menolong. Siapa pun. Entah itu orang Bule atau orang Indonesia sendiri. Bentuk pertolongan berupa materi atau pun tenaga. Saya selalu berusaha untuk membantu sesama.

Malahan kalau dalam sehari tidak ada yang meminta bantuan pada saya, saya merasa gelisah. Saya berpikiran ‘Apakah Tuhan saya sudah tidak membutuhkan saya?’. Saya selalu berdoa kepada Tuhan untuk mengampuni semua dosa yang sudah saya perbuat di zaman dulu.” 

Hampir kesemua jamaah memperhatikan Bu Ade dengan seksama. Setiap kalimat yang diucapkannya adalah sesuatu yang baru. Saya sempat berpikir, kalau dilihat dari penampilannya memang sekilas Bu Ade mirip dengan orang yang beragama Non-muslim. Dengan rambut hanya seleher dan diberi warna merah, orang akan mengira bahwa beliau bukanlah penganut agama Islam yang taat.

Tapi pepatah ‘janganlah menilai sebuah buku dari covernya saja’ ada benarnya juga. Setelah mendengar semua cerita yang dituturkan Bu Ade, saya berani berkata bahwa Bu Ade adalah orang yang luar biasa. Orang yang mempunyai pengalaman spiritual sangat dekat dengan Tuhannya. Beliau selalu yakin –bahkan dulu saat masih di zaman jahiliah- bahwa Allah selalu sayang kepadanya dan tidak akan meninggalkannya sedetik pun.

Saya pribadi sendiri merasa keyakinan saya belum sekuat itu. Belum seyakin itu. Saya masih berusaha dan berusaha. Bu Ade melanjutkan,

“Hari tertentu saya biasanya membagikan bakso secara cuma-cuma pada orang-orang yang berkerumun. Entah di lapangan atau di jalan-jalan. Dengan membawa mobil, saya berharap bakso saya lebih dikenal masyarakat Perth. Secara tidak langsung saya mengenalkan makanan Indonesia sekaligus makanan halal kepada bule-bule.”

Kegiatan di atas dibenarkan oleh Cak Nun saat menanggapi cerita Bu Ade. Meski sepertinya hanya teknik marketing, tapi kalau ditelaah lebih jauh ada benarnya juga. Bu Ade secara tidak langsung memperkenalkan makanan halal, makanan orang Islam kepada orang-orang yang tidak terlalu mementingkan makanan halal-haram.

Masih banyak cerita yang disampaikan oleh Bu Ade pada malam itu. Semoga saya bisa menuliskannya di catatan-catatan selanjutnya. Intinya setelah menghadiri majlis yang selesai pukul setengah empat pagi itu telah membuat saya banyak merenung dan gelisah. Ternyata perjalanan saya untuk mengabdi pada Allah masihlah cukup panjang dan perlu dipergiat dan diperbanyak.

Kebaikan-kebaikan yang saya lakukan masih berkutat pada diri saya sendiri. Saya masih perlu belajar banyak pada Bu Ade dan Cak Nun yang kebaikannya sudah menyangkut orang lain dan alam sekitarnya.

“Kalian jangan terlalu senang dan nyaman jika dalam satu hari tidak ada yang meminta bantuan atau pertolongan pada kalian. Kalian itu harus senang membantu dan menolong. Sekuat tenaga dan materi kalian. Kalaupun tidak mau menolong, minimal jangan menghujat atau menghakimi (menjudge) mereka yang meminta bantuan.” Tambah Bu Ade.

Catatan ini saya tutup dengan salah satu ungkapan keras yang disampaikan oleh Bu Ade.

“Mungkin kalian pernah berdoa dan membuat statement bahwa ‘Tuhan, semua ini hanyalah titipan darimu’ tapi saat ada sesama kalian yang meminta uang atau meminjamnya kalian pura-pura tidak punya.”

Iklan

Malam Terakhir Bulan Sya’ban

Tahlilan
Ilustrasi: nukotatangerang.or.id

Alhamdulillah malam ini merupakan malam terakhir di Bulan Sya’ban –berdasarkan penanggalan pemerintah. Tidak terasa besok malam sudah melaksaksanakan Shalat Tarawih karena sudah memasuki bulan baru, Bulan Suci Ramadhan.

Alangkah sangat baiknya jika saya di sini mengingatkan saya sendiri dan para pembaca untuk sama-sama bersuka cita untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan. Bulan penuh berkah dan pahala yang melimpah –dalilnya sudah banyak nggak usah dicantumkan ya. Yang beragama Islam maupun tidak semoga semuanya mendapatkah berkahnya Bulan Ramadhan. Amin.

Tetapi, di tulisan ini yang ingin saya bahas bukanlah apa-apa mengenai Bulan Suci Ramadhan –Insyaallah post berikutnya, melainkan tradisi-tradisi yang dilakukan saat Bulan Sya’ban oleh Islam Tradisionalis warga Nahdliyin –kampung saya.

Awal pertengahan Bulan Mei kemarin saya menyempatkan pulang sebentar ke Blora untuk beberapa urusan. Saya akui, kemarin adalah waktu pulang tercepat yang saya alami selama berada di Jogja. Sekitar pukul sepuluh pagi saya sampai di rumah dan malamnya sekitar pukul dua puluh satu saya sudah harus pergi pamit dari rumah. Sekitar setengah hari saja, itupun banyak tidurnya karena lelah.

Meskipun sebentar, tapi kesan yang diberikan sungguhlah menyenangkan. Mengapa? Karena kepulangan saya bertepatan dengan Bulan Sya’ban yaitu bulan penuh berkat dan kondangan.

Ya, saya sangat bersyukur sekali kampung saya masih memegang teguh tradisi Ruwahan atau Sya’banan. Ruwahan ini adalah salah satu tradisi mengirim doa-doa dan kalimat thoyyibah untuk saudara-saudara si pengirim yang sudah meninggal.

Kalau di kampung saya Ruwahan biasanya dimulai sejak awal Bulan Sya’ban dan berakhir beberapa hari sebelum lebaran (Syawal). Bahkan setelah lebaran pun ada beberapa keluarga yang masih melakukan Ruwahan, maklum tidak kebagian jadwal.

Kalau di Jogja sendiri ada beberapa kampung yang juga melakukan tradisi Ruwahan. Bedanya dengan tradisi di kampung saya yaitu di Jogja Ruwahannya hanya sekali yaitu menjelang akhir Bulan Sya’ban –kirim doanya bareng-bareng. Biasanya dilakukan di masjid kampung dan dipimpin oleh ulama setempat.

Sedang di kampung saya ruwahannya hampir full dua bulan –Sya’ban dan Ramadhan, dilakukan di rumah-rumah dengan cara berkeliling. Satu hari bisa satu rumah, kadang dua rumah (satu RT bukan satu desa).

Jadi, meski saya hanya sebentar di rumah, tetapi pada saat saya makan, saya merasakan suasana lebaran. Banyak daging –ayam dan kambing. Waktu yang sebentar saya manfaatkan untuk memperbaiki gizi, mengingat kalau di pesantren jarang sekali makan daging. Ajang pelampiasan.

Saya masih ingat ketika dulu masih di bangku SMA. Persis di Bulan Sya’ban kalau saya liburan pasti disuruh mewakili bapak untuk berangkat Tahlilah (Ruwahan). Hanya waktu liburan saja karena hari-hari biasa saya tinggal di Kota Blora dan jauh dari kampung halaman.

Ada perasaan senang ketika ikut Tahlilan karena bisa mencicipi masakan tetangga dengan lauk-pauk yang berbeda-beda setiap rumah. Dzikir bareng dan kumpul dengan bapak-bapak satu RT –hal ini mungkin yang menjadikan warga kampung tetap solid. Apalagi kalau sudah memasuki Bulan Ramadhan, huh, es tehnya itu lho menggoda selera. Apalagi nasi pecelnya. Hemmmm.

Jadi, bapak-bapak di kampung saya kalau Bulan Ramadhan bisa dipastikan jarang sekali buka puasa bersama dengan keluarga. Karena buka puasanya di rumah-rumah satu RT untuk menghadiri acara Tahlilan tersebut.

Tidak jarang pula orang-orang di kampung saya menjadi lebih berisi dan gemuk meskipun siangnya melakukan puasa. Mungkin inilah berkah Ramadhan secara lahiriah yang bisa disaksikan oleh mata.