Arsip Kategori: Catatan Keseharian

Belajar Istiqomah dalam Berbuat Baik | Cerita Maiyah Part 1


Minggu kemarin adalah pengalaman yang sangat menyenangkan bagi pribadi saya. Secara tidak langsung saya menjadi semangat kembali, hidup kembali untuk lebih giat dalam belajar dan belajar. Karena memang belajar tidak bisa sekali duakali langsung menemukan rasa dan manfaatnya.

Belajar harus tekun dan ulet, semangat dan pantang menyerah. Dan tulisan ini sendiri untuk menyemangati saya sekaligus sebagai bahan pengingat bahwa saya juga perlu reminder untuk melangkah ke depan.

Belajar yang saya maksud bukan berkutat pada diktat mata pelajaran atau membaca buku-buku atau menghafal teori-teori, belajar yang ini adalah belajar untuk istiqomah berbuat kebaikan. Siapa mengira bahwa berbuat kebaikan adalah semudah membalikkan telapak tangan, tapi mengistiqomahkannya sesulit menjulurkan lidah untuk menjilat hidung sendiri –konyol sih-.

Terus pengalaman apa yang saya dapatkan pada Minggu kemarin hingga membuat saya banyak merenung. Sebenarnya saya hanya mendengarkan ceramah dan cerita. Saya menghadiri majlis ilmu yang kebetulan hari itu ada tamu dari negeri seberang, Australia.

Banyak yang dibicarakan dalam majlis tersebut, dan juga banyak pula yang ingin saya tuliskan di sini sebagai catatan bahwa saya pernah secara langsung bertatap muka dengan orang hebat yang kaya akan pengalaman spiritual.

Majlisnya adalah Mocopat Syafaat yang langsung dipimpin oleh Cak Nun. Pernah dengar kan tentang majlis tersebut. Ada juga yang menyebutnya Komunitas Maiyahan atau juga Kenduri Cinta.

Malam itu merupakan malam yang setelah sekian lama nggak mengikuti majlis ilmunya Cak Nun, saya diberikesempatan untuk mengikutinya. Diajak sih sebenarnya.


Salah satu tamu yang hadir adalah Ibu Ade dari Perth, Australia. Beliau dulunya berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat, tetapi sekarang sudah menjadi warga Australia.

“Sebelum menjadi seperti sekarang ini, saya dulunya adalah seorang yang suka mabuk-mabukan, saya seseorang yang masuk ke zaman jahiliah lagi.”

Beliau blak-blakan dalam memperkenalkan dirinya. Setelah itu bercerita banyak tentang pengalamannya dalam beragama di Australia.

“Meskipun hobi saya satu tadi melambangkan orang jahiliah, tetapi saya yakin Allah masih sayang pada saya. Allah tidak marah pada saya. Allah selalu mengasihi saya. Saya sangat yakin bahwa Allah akan selalu berpihak pada saya.”

“Mungkin dengan keyakinan itu, perlahan saya dituntun ke jalan yang benar dan lurus. Alhamdulillah, saya sudah menjahui semua hobi buruk saya. Alhamdulillah.”

Kira-kira seperti itu yang disampaikan Bu Ade ke jamaah.

Di Australia, Bu Ade merupakan seorang penjual bakso. Beliau menuturkan bahwa hidup di Australia tidaklah mudah, tapi beliau perlahan-lahan mampu melewati itu semua.

“Saya selalu berusaha untuk menjadi orang baik. Siapa saja yang meminta pertolongan pada saya, Insyaallah saya akan siap menolong. Siapa pun. Entah itu orang Bule atau orang Indonesia sendiri. Bentuk pertolongan berupa materi atau pun tenaga. Saya selalu berusaha untuk membantu sesama.

Malahan kalau dalam sehari tidak ada yang meminta bantuan pada saya, saya merasa gelisah. Saya berpikiran ‘Apakah Tuhan saya sudah tidak membutuhkan saya?’. Saya selalu berdoa kepada Tuhan untuk mengampuni semua dosa yang sudah saya perbuat di zaman dulu.” 

Hampir kesemua jamaah memperhatikan Bu Ade dengan seksama. Setiap kalimat yang diucapkannya adalah sesuatu yang baru. Saya sempat berpikir, kalau dilihat dari penampilannya memang sekilas Bu Ade mirip dengan orang yang beragama Non-muslim. Dengan rambut hanya seleher dan diberi warna merah, orang akan mengira bahwa beliau bukanlah penganut agama Islam yang taat.

Tapi pepatah ‘janganlah menilai sebuah buku dari covernya saja’ ada benarnya juga. Setelah mendengar semua cerita yang dituturkan Bu Ade, saya berani berkata bahwa Bu Ade adalah orang yang luar biasa. Orang yang mempunyai pengalaman spiritual sangat dekat dengan Tuhannya. Beliau selalu yakin –bahkan dulu saat masih di zaman jahiliah- bahwa Allah selalu sayang kepadanya dan tidak akan meninggalkannya sedetik pun.

Saya pribadi sendiri merasa keyakinan saya belum sekuat itu. Belum seyakin itu. Saya masih berusaha dan berusaha. Bu Ade melanjutkan,

“Hari tertentu saya biasanya membagikan bakso secara cuma-cuma pada orang-orang yang berkerumun. Entah di lapangan atau di jalan-jalan. Dengan membawa mobil, saya berharap bakso saya lebih dikenal masyarakat Perth. Secara tidak langsung saya mengenalkan makanan Indonesia sekaligus makanan halal kepada bule-bule.”

Kegiatan di atas dibenarkan oleh Cak Nun saat menanggapi cerita Bu Ade. Meski sepertinya hanya teknik marketing, tapi kalau ditelaah lebih jauh ada benarnya juga. Bu Ade secara tidak langsung memperkenalkan makanan halal, makanan orang Islam kepada orang-orang yang tidak terlalu mementingkan makanan halal-haram.

Masih banyak cerita yang disampaikan oleh Bu Ade pada malam itu. Semoga saya bisa menuliskannya di catatan-catatan selanjutnya. Intinya setelah menghadiri majlis yang selesai pukul setengah empat pagi itu telah membuat saya banyak merenung dan gelisah. Ternyata perjalanan saya untuk mengabdi pada Allah masihlah cukup panjang dan perlu dipergiat dan diperbanyak.

Kebaikan-kebaikan yang saya lakukan masih berkutat pada diri saya sendiri. Saya masih perlu belajar banyak pada Bu Ade dan Cak Nun yang kebaikannya sudah menyangkut orang lain dan alam sekitarnya.

“Kalian jangan terlalu senang dan nyaman jika dalam satu hari tidak ada yang meminta bantuan atau pertolongan pada kalian. Kalian itu harus senang membantu dan menolong. Sekuat tenaga dan materi kalian. Kalaupun tidak mau menolong, minimal jangan menghujat atau menghakimi (menjudge) mereka yang meminta bantuan.” Tambah Bu Ade.

Catatan ini saya tutup dengan salah satu ungkapan keras yang disampaikan oleh Bu Ade.

“Mungkin kalian pernah berdoa dan membuat statement bahwa ‘Tuhan, semua ini hanyalah titipan darimu’ tapi saat ada sesama kalian yang meminta uang atau meminjamnya kalian pura-pura tidak punya.”

Iklan

Olahraga yang Menyenangkan itu Ternyata Sepedahan

Setiap orang mempunyai kegiatannya masing-masing. Termasuk kegiatan untuk menyehatkan diri. Kegiatan yang bertujuan untuk mengeluarkan keringat agar badan sehat secara jasmani dan harapannya sampai rohani.

Dulu saya pernah mengikuti salah satu pencak silat yang bertujuan tidak lebih sama untuk membela diri dan menyehatkan diri. Sampai sekarang juga masih ikutan, tapi tidak terlalu aktif. Hari berganti minggu, hingga berubah menjadi bulan, lama-lama perut saya mulai tak terkendali.

Kata orang sih masih kisaran wajar untuk remaja kebanyakan, tapi bagi saya yang pernah mempunyai perut kenceng –sebatas kenceng doang, sudah mulai risih. Melihat perut teman sekamar apalagi, sudah mirip bapak-bapak kantoran.

Dalam pada itu, akhirnya saya mempunyai keinginan untuk olahraga. Minimal lari satu putaran mengitari kampung samping pesantren. Dua kali seminggu saya rasa sudah cukup untuk menguras racun-racun sialan lewat keringat.

Tapi rencana hanyalah rencana. Hanya sampai sebatas rencana yang belum terealisasikan. Banyak kendala dan alasan. Tentunya situasi juga berperan sangat signifikan. Situasi?

Rencana lain, yaitu mulai mengaktifkan pengiritan berpahala. Puasa sunah Senin-Kamis. Niat utamanya tentu mencari keridhoan Allah, dan niat tambahannya semoga perut tidak melebar kemana-mana. Rencana yang cemerlang pikir saya. Selain ragawi yang mendapatkan manfaatnya, rohani pun mendapat sisi positifnya.

Rencana puasa itu ternyata hanya berjalan beberapa minggu saja. itu pun masih bolong-bolong. Kadang hanya hari Senin, kadang pula cuma hari Kamis. Alasannya klasik sih, ada makanan enak-enak di pagi harinya. Inilah ujian terbesar puasa sunah. Puasa sendirian, sedangkan yang lainnya makan-makan seenaknya.
Meninggalkan semua rencana-rencana di atas, minggu-minggu ini saya menemukan kegiatan yang semoga bisa memperbaiki masalah perut saya. Kegiatan yang bisa melemaskan otot-otot kaki dan otot-otot mata. Melelahkan sekaligus menyenangkan. Kegiatannya yaitu Sepedahan.

Saya sudah lama sekali tidak main Sepedahan. Kalau tidak salah terakhir saya mengayuh sepeda untuk pergi ke mana-mana yaitu waktu SD. Habis itu kalau mau pergi ke toko, sekolah, atau tempat-tempat lain kebanyakan sudah menggunakan sepeda motor, tapi sekali-kali juga jalan kaki.

Ternyata mengayuh sepeda untuk olahraga asyik juga. Apalagi kalau Sepedahannya bareng-bareng. Kalau waktu selo, sekali chat via grup, langsung deh gowes muter-muter kota Jogja.

Sebelumnya saya masih pikir-pikir dulu untuk membeli sepeda. Bagaimana tidak, sepeda di sini harganya masih selangit. Mirip-miriplah sama harga gadget 4G. Tapi setelah ada beberapa teman yang mulai beli sepeda, saya lama-kelamaan jadi kepengen juga.

Jangan terlalu sayang dengan uang, pikir saya. Percuma ada uang, tapi badan kurang sehat dan sakit-sakitan. Mau pitnes kejauhan. Kalau lari-lari kadang kesiangan jadinya males. Aktif di pencak silat, males keseleo dan memar-memar.

Jadi, untuk sementara tabungannya dibelanjakan demi sehatnya badan dan kegiatan yang bermanfaat. Kalau seumpama butuh dana lagi kan tinggal jual sepedanya. Gitu aja kok repot.

Hadirnya tulisan ini, saya cuma mau bilang sekaligus ngajak. “Ternyata asyik sepedahan ngalor-ngidul. Ayo sehat lewat sepedahan.” Kuwi thok. Itu saja sih. Selamat beraktifitas. 😄

Aku dalam Keadaan Sadar dan Aku Menikmatinya

hong-kong-1990268_960_720

Di awal malam yang dingin aku memutuskan untuk jalan-jalan di suatu tempat. Tempatnya tidak terlalu artistik ataupun elegant, tapi tempatnya cukup bersih dan nyaman sekadar untuk bercakap-cakap dengan malam dan diri sendiri.

Waktu itu meski musim hujan, aku sangat bersyukur sekali karena langit terlihat cerah dan bintang-bintang bertebaran begitu indah untuk menambah suasana malam menjadi semakin damai dan segar.

Tujuan utamaku hanyalah sederhana, mencari udara segar dan sesekali melihat hiruk pikuk kendaraan di perempatan, pertigaan, dan sepanjang jalan kota.

Memang waktu itu ada sedikit perasaan yang mengganjal tapi entah apa aku tak begitu paham, jenis perasaan apa itu, tapi yang pasti aku tak perlu ambil pusing. Soal perasaan tak mengapa jika dikesampingkan untuk beberapa saat.

Sesampai di tempat aku duduk dan merebahkan punggung di kursi. Aku memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela yang menghadap ke jalan raya. Khusus malam ini aku ingin menyendiri dan menikmati suasana malam sendirian.

“Mau pesan apa kak?”

“Es Lemon tea yang manis.”

Sesekali teh. Sesekali Lemon tea. Sesekali susu. Sesekali kopi.

Sambil menunggu pesanan diantar kunyalakan sebatang rokok untuk menenangkan suasana dan keadaan. Sebenarnya bukan menenangkan, tapi mengisi waktu luang.

Satu hisapan, dua hisapan, dan beberapa kali hisapan. Kuhembuskan dengan pelan dan kulakukan perasaan sadar.

Pesanan datang.

Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk menikmati yang manis-manis dan segar.

Sambil membuka-buka smartphone, kulayangkan pandangan ke jalanan yang ramai. Begitu ramainya.

Malam yang menyajikan begitu banyak tontonan. Entah itu untuk dinikmati, dikritisi, diceritakan, atau sekadar dijalani untuk menyambut pagi yang diharapkan cerah.

Dari rumah menuju tempat ini kira-kira kuhabiskan waktu sekitar lima belas menit. Melewati dua traffic light. Kalau tidak salah melewati tiga pertigaan dan empat perempatan. Dan satu bundaran.

Ke tempat ini aku menaiki sepeda motor. Terlalu lama menurutku kalau harus dilewati dengan berjalan kaki. Malas juga iya.

Perjalananku kemari tidak sedikit motor dan mobil yang aku dahului ataupun bersimpangan denganku. Ratusan jika ada waktu dan mau untuk menghitungnya.

Sampai saat ini pun ketika aku duduk dan memandang jalanan, masih banyak motor dan mobil yang berlalu lalang. Apa maksud dari semua ini?

Kenapa ada pertanyaan di atas. Apakah perlu aku menjawabnya sambil menghabiskan sebatang rokok yang masih berada di sela jari tengah dan jari telunjukku.

Aku punya kehidupan. Mereka juga punya kehidupan. Semua orang yang tadi bersimpangan denganku dan semua orang yang tadi aku dahului kendaraannya juga punya kehidupan. Beberapa orang yang menyebrang jalan juga punya kehidupan.

Penjual es cincau, nasi goreng, bakso, mie ayam, bakmi godok, semua pedagang yang berjejeran di pinggir jalan juga punya kehidupan.

Mereka sama denganku. Sama-sama manusia yang diamanahkan untuk menjaga bumi dan menikmati malam.

Sama-sama makan dan sama-sama minum. Sama-sama punya kebutuhan dan keinginan. Sama-sama punya cita-cita. Sama-sama ingin menjadi yang lebih baik dan baik.

Sekarang aku duduk menikmati es lemon tea. Berpikir yang aneh-aneh dan sesekali menghisap sebatang rokok.

Sebentar lagi mereka yang ada di jalanan juga akan sampai rumah. Bertemu dengan keluarga. Orang-orang yang mereka sayangi dan cintai. Ngobrol sebentar, membersihkan diri, makan malam, lalu beranjak ke kamar tidur untuk merangkai mimpi-mimpi.

Karena mereka punya kehidupan.

Aku secara sadar duduk. Menikmati setiap hembusan nafas yang kuhirup. Merasakan detik-detik waktu berlalu. Merasakan bahwa aku sedang berada di suatu tempat untuk meminus es lemon tea dan menghabiskan sebatang rokok. Aku sadar karena aku punya kehidupan.

Aku juga akan sama nanti ketika aku pulang dari tempat ini. Aku akan bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi dan cintai, ngobrol dengan mereka, bercanda, bermain-main, membuat secangkir kopi, membaca beberapa lembar buku bacaan, lalu beranjak untuk tidur. Ujung-ujungnya sama.

Aku dan mereka tidur. Istirahat untuk melepaskan lelah dan berharap lekas lelap.

Tapi apakah besok pagi aku akan sadar seperti malam ini. Apakah besok pagi aku bisa merasakan nafas-nafasku. Apakah besok pagi aku bisa merasakan suasana cerah dan nyamannya kehidupan.

Atau aku akan kembali lupa. Lupa jika aku punya kehidupan dan pantas untuk menikmatinya.

Atau aku akan merasakan yang sebaliknya. Berkutat dengan permasalahan dan hanyut dalam rutinitas.

Kalau dalam keadaan sadar itu tak mengapa.

 

#lagigakwaras

Catatan Idul Qurban 1438 H dari Pinggiran Yogyakarta

news_34_1486416540
credit: satuharapan.com

Saya berasal dari sebuah desa kecil di pinggiran Kabupaten Blora. Perjalanan ke desa saya memakan waktu empat puluh lima menit sampai satu jam dari pusat kabupaten. Jalan sebagai penghubung ke desa saya dari Blora bisa dikatakan mulus-mulus-menjengkelkan. Saya tidak bisa mengatakan seluruhnya jelek. Ada zaman di mana jalannya halus. Ada zaman jalannya ‘seperti kali asat’.

Tapi bukan itu yang ingin saya catat. Berbicara soal desa saya adalah berbicara soal kenangan. Karena bagaimanapun saya sudah lama sekali tidak tinggal di desa alias pergi merantau berburu pendidikan. Kira-kira sudah lebih dari delapan tahun saya merantau, hijrah mencari sesuatu yang baru.

Di hari yang masih haram berpuasa sunah ini, saya membuat catatan perihal Idul Qurban dari masa ke masa. Selain sebagai kenangan, catatan ini tidak lain-tidak bukan adalah sebagai pengingat, bahwa sampai saat ini, saya perlu dan harus bersyukur masih diberi kesempatan untuk bersua dengan Idul Qurban yang begitu menyenangkan.

Saya mulai dari Idul Qurban saat saya masih SD dan SMP. Karena masa-masa itu saya masih berlarian dan bercanda ria di halaman desa dan pekarangan rumah. Saya kira semua desa-desa sama ketika Idul Qurban datang. Tentu saja yang saya maksud adalah desa di sekitaran Kabupaten Blora. Berbicara Idul Qurban di masa itu adalah berbicara tentang Sapi dan Kambing. Karena yang saya ingat hewan Domba masih sulit untuk ditemui di desa, khususnya desa saya.

Hewan yang paling sering mampir untuk disembelih adalah hewan Kambing. Ada juga satu sampai tiga ekor sapi yang menemani untuk merayakan Idul Qurban. Karena bagaimanapun desa saya adalah desa yang kecil, jadi kalau ada orang dermawan yang ber-qurban sapi, itu merupakan suatu kabar yang menyenangkan dan harus disyukuri.

Pun saat tahun paceklik datang, rasa syukur harus tetap dilantunkan. Meskipun tak ada Sapi atau Kambing yang disembelih. Tahun seperti ini memang kedengarannya lucu, memperingati Idul Qurban, tetapi tidak ada hewan Qurban sama sekali. Jadi sehabis Sholat Ied tidak ada kegiatan atau ritual-ritual selayaknya. Jikalau ada rezeki, biasanya untuk menyiasati tahun seperti ini yaitu dengan menyembelih Ayam di masing-masing keluarga. Keluarga saya salah satunya.

Idul Qurban masa kecil bercerita tentang nyate bareng keluarga, makan rendang buatan mamak, dan sop balungan yang pedasnya ngangenin. Meski dagingnya yang didapat tidak seberapa, tapi jangka penyimpanannya bisa bertahan empat sampai lima hari mendatang. Kan yang makan sedikit.

Menginjak SMA, saya putuskan ikut teman untuk masuk pondok pesantren di dekat Kota Kabupaten Blora. Jadi, dulu niatnya masuk pesantren masih ikut-ikutan, “daripada nge-kost, lebih baik di pondok, biar sikit-sikit tahu soal Agama Islam”. Berbicara Idul Qurban di pondok pesantren adalah berbicara tentang pilihan. Pilihannya tetap di pondok –ikut cincang-cincang daging qurban, atau pulang ke rumah untuk merasakan masakan mamak.

Tiga kali Lebaran Qurban yang saya lewati waktu di pondok, saya hanya pulang sekali. Itupun karena di pondok tidak ada hewan qurban yang disembelih. Pilihannya jika ingin tetap menikmati daging qurban, ‘pulang’ adalah pilihan yang terbaik. Setelah saya call rumah, dan di rumah ada hewan qurban, saya langsung cuss pulang.

Dua tahun sisanya adalah bebicara tentang kemenangan, berlimpahnya kenikmatan. Pondok saya ada rezeki untuk menyembelih Kambing, bahkan juga Sapi. Mulai dari diajari Mbah Yai nyembelih agar daging kambingnya tidak bau prengus, diajari nguliti, nyacah balungan, ngirisi daging, hingga ngebersihin jeroan –yang kalau kebanyakan, sebagian langsung dibuang begitu saja.

Di pondok dulu, perihal masak-memasak, kami masih dimasakin. Termasuk daging qurban. Tapi untuk tusuk-menusuk daging kotak-kotak kecil untuk dibakar adalah kelihaian pribadi masing-masing. Karena dimasakin itu, masakan jadi awet dan tahan lama. Dengan pengawasan dari Bu Nyai pula, jarang ada anak santri yang berani comot sembarangan.

Dan terakhir setelah lulus SMA, saya melanjutkan perantauan ke Kota Pelajar. Saya masuk pondok pesantren untuk yang kedua kalinya. Soalnya masih bodoh. Di sini, suasana Idul Qurban jauh berbeda dengan suasana di desa saya. Maksud saya adalah suasana sembelih-menyembelih qurban.

Yang perlu dicatat, bahwa hewan qurban di kota lebih banyak yang disembelih daripada hewan qurban di desa. Di kota yang perputaran uangnya cepat sekali juga berdampak pada tingginya kesadaran masyarakatnya untuk ber-qurban.

Idul Qurban lima tahun terakhir bercerita tentang ah sudahlah. Tidak jauh berbeda dengan ketika saya di pesantren yang dulu. Perbedaannya di sini lebih kepada terjun langsung bantu-bantu ke masyarakat. Maklum sekarang udah gede.

Cerita dari Si Angsa

​Kesendirian memanglah sebuah takdir. Sebuah hal yang tak bisa ditentukan, diminta, ataupun dipilih oleh sesuatupun. Hal itu tentulah sudah digariskan oleh Yang Mahasendiri. Jadi, jika kau mencoba menolak kesendirian, boleh jadi kau menolak takdir. Bisa juga kau menciptakan takdirmu sendiri, yang memang tidak mau sendiri, dan memang itulah takdirmu untuk menolak kesendirian.

 

 

Paragraf di atas bukanlah cerminan keadaan saya saat ini. Karena sekarang ini, mulai dari kemarin-kemarin, sampai nanti waktunya, di pesantren, tak ada ceritanya santri merasa sendiri. Sungguh aneh bagi saya jika cerita itu ada.

Tulisan ini saya tujukan untuk si angsa yang merana menikmati kesendiriannya. Ia hidup dan bermain tepat di utara tempat saya tinggal. Hari-hari dilewatinya bernyanyi sendirian. Di pagi hari, yang ayam-pun berkokok saling bersaut-sautan, si angsa hanya menontonnya sambil jalan dua tiga langkah ke depan. Saya sejenak menyempatkan waktu melihatnya dari lantai dua tempat saya tinggal sebelum turun untuk mandi pagi.

Menjelang siang, udara semakin panas, angin berhembus sepoi-sepoi membawa butiran debu halus yang bisa memerahkan mata. Saya tahu ini masih musim kemarau yang menunggu untuk digantikan musim penghujan.

Padahal semua tahu, si angsa merupakan binatang yang bersinggungan langsung dengan air. Siang yang panas, sendirian, angin kadang kencang-menerjang, si angsa mondar-mandir mencari tempat yang teduh. Saya pun tahu, dia tak pernah merasakan kesendirian dan tak pernah pula punya pemikiran memberontak atas perlakuan majikannya tentang hilangnya kedua kawannya. Iya. Kedua kawannya hilang entah kemana. Saya pun penasaran kemana perginya dua angsa yang sering ribut di siang dan malam hari itu.

Di senja hari, saat udara dingin mulai bertiup, saya sengaja menengok sebentar si angsa. Saya selalu penasaran terhadap tingkah laku binatang, termasuk si angsa itu. Saya kadang, kalau pikiran sedang mampet, sering meneriakinya dari atas untuk sekadar mencari perhatian si angsa.

“sssstttt, sssstttt”.

Si angsa hanya melihat dengan satu matanya sambil menjawab, “Ngoang, ngoang”. Cukup dua kali jawaban lalu melenggang lagi mengejar ayam-ayam yang kebetulan berada di dekatnya.

“Sssst, sssst, hei, bolomu ngendi? Kok dewean?”

“Ngoang. Ngoang”

“Hei, ssst. Ssst”

Malahan kawan saya berkomentar, “Kasihan, sendirian”. Saya menambahi, “saya tak habis pikir, kemana dua angsa lainnya? Dijual, dimasak dan dibakar buat lebaran kemarin? Entahlah.”

Harusnya si angsa-lah yang merakasan kesendirian itu. Di halaman yang luas, setiap ia bernyanyi ‘ngoang-ngoang’ tidak ada yang menyahutinya atau sekadar mengapresiasi lagunya. Kawannya telah hilang tanpa kabar apapun.

Saat menjelang malam, sehabis adzan Maghrib berkumandang, suaranya terdengar lebih parau dan menyayat hati. Lagu yang menyedihkan bagi telinga saya dan kawan-kawan saya dikumandangkannya. Sapaan mesra untuk malam yang dingin dan sunyi. Mungkin itu lirik sebuah doa untuk Tuhan agar hujan segera datang untuk membasuh bulunya yang sudah menguning karena tanah yang basah.

Dia hanya diberikan tanah yang basah untuk bermain, setidaknya itu sudah bisa mendinginkan hawa tubuhnya di siang tadi yang terpanggang sinar matahari.

Saya dulu, sebelum lebaran, sempat peduli terhadap angsa-angsa ini. Dulu ketika masih lengkap tiga ekor. Mereka seringnya main di depan rumah tempat saya tinggal –pondok 2. Jika pagar pekarangan sebelah –tempat mainnya si angsa terbuka, bisa dipastikan larinnya akan ke depan pondok 2 ini.

Waktu itu sedang hujan lebat-lebatnya. Ketika saya sedang berada di teras, saya melihat ke-tiga angsa ini hanya diam saja di tengah-tengah halaman pondok dan tak sekalipun berinisiatif untuk berteduh. Padahal di samping mereka ada tempat parkir motor yang apabila dipakai berteduh lima puluh ekor angsa masihlah sangat muat.

Saya yang waktu itu belum mengenal si angsa –kalau mereka suka air, rela hujan-hujanan untuk menggiring mereka berteduh di tempat parkiran motor. Saya reflek merasa kasihan karena mereka kehujanan. Tetapi yang saya dapat, mereka hanya muter-muter di halaman pondok dan tidak ada niat untuk lari ke tempat parkiran. Saya sempat berpikir, “ini pada gak tahu tempat teduh apa gimana ya? apa emang mereka kagak bisa lihat saat hujan turun?” Saya geli ketika mengingat momen itu. Betapa kupernya saya yang tidak tahu kalau angsa-angsa itu sedang menyanyi kegirangan karena menyambut hujan. Jadilah waktu itu saya basah kuyup tanpa hasil dan mengutuki mereka.

Tetapi sekarang, si angsa tidak lagi mempunyai teman untuk bercengkrama. Kebersamaan telah lenyap dari siang dan malam yang dilaluinya. Tak ada lagi kawan yang meneruskan lagunya. Nyanyiannya pincang membelah sunyinya malam. Kalaupun ada ayam, saya yakin bahasa mereka berbeda. Ayam pun jarang-jarang bersuara di malam hari, kalaupun bersuara pastinya ada maksud dan tujuan tertentu, bukan semata-mata menyahut dan meneruskan lagu yang dinyanyikan si angsa.

Saat seperti inilah, yang membuat hati saya risau. Mengapa saya yang merasakan kesendirian jika angsa itu bersuara di awal malam? Kesendirian bagi si angsa yang berakhir pada rasa kasihan. Saya merasa kasihan padanya. Mengapa dia harus sendiri? Disamping pondok saya pula. Mengapa pemiliknya tidak sekalian menjualnya atau membakarnya sekaligus bersama dua angsa lainnya? Mengapa disisakan dia seekor?,

Saya terlalu naïf jika berseloroh ‘bedebah‘ pada pemiliknya. Tapi, ya memang begitu saya. Ra tego ngrungokne “ngoang-ngoang” ijen. Kalau boleh dan mau bisa saja angsa itu menjadi lauk makan untuk mengurangi kesedihannya. Karena saya tahu, lebih dari jam dua belas malam suasananya akan sepi dan dipastikan aman.

Saya penasaran, apa jangan-jangan si angsa ini emang dibiarkan hidup untuk menyambut lebaran qurban yang sebentar lagi? Wallahu a’lam.
Yogya, 7817

Kopi Lelet, Teman Pas Saat Sendirian

Kopi identik dengan rasa pahit dan warna hitam. Di zaman yang yang serba internet, sekarang ini kopi identik dengan kafe dan wifi. Karena cenderung tujuan utamanya adalah ngobrol di kafe dan menikmati wifi. Minum kopi tidak terlalu mementingkan warna dan rasa. Dengan berbagai alat dan kreatifitas, bahkan berbagai macam kopi yang tak lagi berwarna hitam pun banyak, apalagi kopi yang tak lagi pahit, juga banyak.

Saya bukanlah orang yang paham di bidang perkopian. Di kehidupan saya, saya hanyalah pengamat orang-orang dan penikmat kopi sederhana. Kalau orang-orangnya tidak sepaham atau melenceng dengan prinsip saya, wajar dong kalau saya mengkritik dan meng-ghibah mereka. Tapi tenang, saya tidak sekejam arti tekstual kritik dan ghibah. Keseharian saya, pasti tidak luput dengan mengamati dan diamati. Saya mengamati orang lain, dan kalau orang lain mau, bisa mengamati saya. Selesai.
Dalam tulisan ini, kebetulan saya lagi buat secangkir kopi untuk menemani liburan di akhir pekan. Perlu kalian tahu, saya menulis tulisan ini di pagi hari, berada sendirian di kamar dan tidak ada musik apapun yang mengiringi. Jadi, hanya satu dua suara kendaraan di jalan raya besar yang menemani. Tulisan ini lahir juga bertemankan suasana yang mendung menenangkan. Cocok sekali untuk beranjak ke atas kasur empuk dan berselimut rapat. Hanya sebatas mendung tapi tak jatuh berwujud gerimis ataupun hujan. Tapi saya lebih memilih untuk duduk saja, menikmatinya.

Kopi yang saya buat adalah kopi Lelet asal Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Kopi ini berwarna hitam pekat, lembut dan berbau sedikit gosong. Berbeda dengan kopi-kopi kebanyakan, misalnya kopi Lampung atau Kopi Flores, kedua kopi itu, bubuk kopinya cenderung berwarna cokelat. Soal rasa, mungkin karena saya seringnya minum kopi Lelet, saya lebih ngeh pada kopi lelet. Maaf jika ngawur, ini subyektif sih, tapi namanya juga lidah, selalu saja berbeda-beda. Tergantung keadaan dan juga tempat.

Penikmat kopi Lelet di pesantren tidak hanya saya saja, malahan saya termasuk orang belakangan yang ikut-ikutan menjadi penikmat kopi. Kang-kang yang lain, yang asalnya dari Rembang-lah yang membawa kopi lelet masuk ke pesantren. Setiap pulang kampung, bisa dipastikan satu sampai dua kilo kopi Lelet akan nyangkut di ransel mereka. Saya yang sukanya hanya ikutan nimbrung saat kang-kang buat kopi, hari demi hari semakin demen untuk buat kopi sendiri. Tapi, bubuk kopi ples gulanya tetep minta juga sih.

Dua tahun kemarin malahan, kang-kang sempet berinisiatif untuk membuka kedai kopi di depan komplek dua pesantren kami. Tidak rame sih, tapi lumayanlah untuk latihan berwirausaha. Lewat kedai itu juga, kopi Lelet mulai dikenalkan di sekitar pesantren dan juga kalau ada waktu sambil menjualnya di kedai-kedai kopi di Kota Jogja. Tapi yang menjadi masalah adalah waktu itu kami masih fokus kuliah, jadinya kedai yang dibuat dengan keringat bersama tidak bisa bertahan lama. Kalau tidak salah hanya bertahan setengah tahun. Dan bekas kedai kopi, sekarang ini menjadi tempat parkir motor santri komplek dua. Sedih.

Saya bertemu dengan kopi dan mulai minat menjadi penikmat kopi adalah ketika menetap di Jogja sebagai santri nyambi kuliah. Di sini kang-kang, hampir setiap hari membuat secangkir kopi. Maklum, beberapa dari kami adalah perokok, dan perokok hampir semuanya suka kopi. Jadi, kalau saya nimbrung berbagi cerita-cerita saya hanya ikutan nyruput kopinya, tidak ikutan nyedot rokoknya. Soalnya saya kagak doyan rokok.

Berdasarkan cerita-cerita mereka, sedikit banyak saya tahu tentang kopi dan penjualnya. Saya mengetahui berbagai rasa kopi ketika menjalankan kedai kopi dan mengetahui cara menjalankannya. Bahkan kalau kalian pengen tahu, di Rembang banyak sekali kedai kopi yang mendapat julukan ‘kopi pangku’. Saya mengetahuinya karena sering nimbrung dan berbagi cerita dengan beberapa pelanggannya. Skip.
Sekarang kopi melambung namanya setelah lahir Film Filosopi Kopi yang diadopsi dari sekuel cerita Buku Filosofi Kopi punyanya Dee (Dewi Lestari). Bahkan di tahun ini, Film Filosofi Kopi muncul lagi dengan Series-nya. Meskipun filmnya berbeda jalan ceritanya dengan bukunya, tetap saja pendapat saya keduanya bagus dan recommended untuk ditonton dan dibaca.

Akhirnya, menikmati kopi bagi saya tidak harus jalan ke kafe-kafe dan duduk berlama-lama menikmati wifi. Sekali duakali memang pernah, tapi tidak menjadi hobi dan kebiasaan. Kalau memang pengen menikmati beraneka macam kopi, tinggal search di internet dan pesan secara online. Kalau harga menjadi masalah karena kemahalan, saya tinggal mengumpulkan kang-kang yang sama-sama penikmat kopi untuk patungan.

30 07 17

Sahur di Pondok Dawam

 

indexu
credit: dpbbmlucu.info

 

Tak terasa puasa kali ini sudah memasuki sepuluh hari terakhir. Dan tak ada post ataupun cerita yang sempat saya bagikan. Mungkin akhir-akhir ini saya menjadi lebih males dari biasanya perihal menulis. Padahal cita-citanya mau jadi penulis. Wekk.

Alhamdulillah saya menghabiskan waktu untuk menikmati puasa hanya berkutat di pondok saja. Sahur – Buka puasa – Sahur – Buka Puasa, semuanya di sekitar pondok saya di Yogyakarta. Selain karena saya pengen fokus juga karena tidak ada yang ngajak sahur bersama ataupun buka bersama. Haha.

Kali ini saya pengen berbagi cerita masalah sahur. Bukan berarti sahur yang makan jam empat, terus tidur lagi, atau pergi ke masjid untuk Sholat Shubuh, atau jalan-jalan sambil membawa mercon –ini jaman saya masih kecil, atau ikut tadarussan, pokoknya bukan itu.

Sahur di pondok bisa dikatakan enak-enak tidak enak. Masalah menu sih saya acungkan dua jempol untuk mbak-mbak pondok yang masakannya nyus-nyus enak, di sahur dan di buka. Dan tidak enaknya, bukan tidak enak sih, sebenarnya kurang nyaman saja kalau ada pemuda-pemuda  yang thethek –membangunkan sahur lewat depan komplek pondok saya. Begini ceritanya.

Waktunya pagi hari. Pagi banget. Sekitar jam setengah tiga. Ini sungguh bukan ngomongin orang ya, cuma berbagi cerita aja. Kalau di kampung dulu, membangunkan sahur itu tidak sampai jam tiga. Mentok keliling kampung selesai jam setengah tiga karena memang yang difokusin untuk dibangunin adalah ibu-ibu kampung. Mengapa mulai jam setengah dua atau jam dua, karena ibu-ibu jam segitu harus sudah mulai masak untuk keluarganya masing-masing.

Sedang di komplek saya, entak lucu atau menjengkelkan, membangunkan sahur dimulai jam setengah tiga dan kadang sampai jam setengah empat masih mukul-mukul alat drumband. Serius sampai jam setengah empat. Padahal imsaknya jam empat kelewat seperempat.

Selain pakai alat drumband dan apapun, mereka ketika berteriak sahur itu tidak seperti orang yang ngebangunin sahur. Melainkan suaranya mirip orang mau ngajak berantem. Keras dan ngotot. “Woi, sahur. Woi, sahur sahur.” Dan itu diteriakkan saat keliling kampung.

Saya tahu itu bercanda. Tapi, ya bercandanya tidak gitu-gitu amat kali. Masa dengan niat yang baik untuk ngebangunin sahur, tapi yang mendengar malah pada jengkel.

Kalian perlu tahu bahwa komplek saya itu persis di depan masjid. Cuma dipisahkan jalan aspal kecil. Di sekitar masjid juga sedikit rumah-rumah penduduk karena masjid berada di pinggir kampung. Pokoknya sedikit.

Dan ketika keliling kampung sudah selesai, mereka-mereka yang teriak-teriak akan berhenti di depan masjid. Karena masjid adalah pemberhentian terakhir. Di depan masjidlah mereka akan konser sepuasnya. Mereka akan menghabiskan waktu konser dan bercanda ria sambil berteriak sahur-sahur –tentunya dengan aksen mau ngajak tawuran, sekitar seperempat jam atau lebih.

Kalian bayangkan sendirilah bagaimana ributnya, padahal sudah melebihi jam tiga. Haduh. Malahan ada kawan saya yang juga iseng ikut teriak-teriak dari lantai dua –dengan aksen yang sama, menandingi ramainya jalanan depan komplek.

Kadang saya berpikir, apa mungkin ini balasan ketika kita-kita –warga komplek saat masih muda –baca kecil, ribut-ribut ketika membangunkan orang sahur pas di kampung dulu.

Karena salah satu kawan saya bercerita bahwa dulu ketika dia ikutan keliling kampung untuk ngebangunin orang-orang, malah ada tragedi bentrok dengan pemuda –anak kecil kampung sebelah. Jadi selain keliling dengan niat baik, di saku juga berbekal batu-batuan kecil untuk senjata tawuran. Seru gak tuh.

Tapi, tetap saja saya harus berkhusnudzon pada mereka. Mungkin karena mereka senang dan sangat bersemangat. Mungkin teriak-teriak ini hanya bisa dilakukan di Bulan Ramadhan. Mungkin orang-orang sekarang bangunnya sulit dan harus ada strategi jitu untuk ngebanguninnya. Mungkin inilah jalan terbaik. Hehe.

Semenjak memasuki sepuluh hari pertengahan Bulan Ramadhan, intensitas kerasnya malah semakin menurun. Dan jarang-jarang. Padahal kami sudah terbiasa mendengarnya. Istilahnya sudah menerima. Apa jangan-jangan semangatnya juga menurun? Atau ada warga lain yang menegur kelakuan mereka? Saya tidak tahu pasti.

Dan efek sampingnya, saya malah sering jarang bangun sahur. Bukan berarti tidak ada yang ngebangunin. Tapi, mungkin suasana yang terlalu nyaman karena tidak ada yang ribut-ribut, setiap dibangunin, tidur lagi. Dibangunin lagi, tidur lagi. Jadinya, kadang saya ditinggal nggak diajak sahur. Nasib.

Meski nggak sahur –ini kadang-kadang, saya masih kuat kok puasanya. Ya kan, sebelum tidur makan malam lagi. Makannya dipuas-puasin. Habis tarawih hal yang paling sering saya lakukan adalah pergi ke warung untuk mencari mie goreng. Tentu untuk dimasak. Dan dimakan. Yummy.

Tidak sahur pun, Insyaallah masih ada persediaan karbohidrat di lambung saya. Tapi, yang menjengkelkan ketika nggak sempat bangun untuk sahur adalah ketika bangun tenggorokan jadi kering. Kering banget. Sampai-sampai harus ngumpulin ludah untuk membasahinya. Please, ini sama sekali tidak jorok dan tidak membatalkan puasa.

Itu cerita saya, saat sahur. Mungkin akan saya share beberapa cerita ngawur dan tidak menarik lainnya setelah mood nulis saya balik lagi.

Semangat puasa kawan. Ingat sepuluh hari terakhir di Bulan Ramadhan ada satu malam yang paling asyik. Malam penuh ketenangan. Semoga kita dapat memperoleh malam itu. Fighting!!