Arsip Kategori: Catatan Harian

Kopi dan Surat-Suratmu

kopi dan surat

Langit mengisyaratkan kedamaian. Awan-awan menggantung bak buah-buahan yang siap jatuh ke tanah. Matahari tersembunyi entah di mana letaknya. Suasana begitu tenang untuk secangkir kopi dan sedikit gula di pagi hari menjelang siang.
Aku tahu sekali seharusnya di jam-jam saat ini matahari sudah tampak. Cahaya seharusnya tersebar merata di seantero penglihatanku. Hangat seharusnya sudah mulai menyengat kulitku yang coklat ini. Memang begitu seharusnya suasana di jam-jam seperti ini.

Tapi ini berbeda. Suasana begitu sendu tapi tak menyedihkan. Suasana terasa nyaman di hati. Meskipun udara tak sehangat biasanya tapi ini sungguh hangat bagi yang menghirup napas dalam-dalam di teras rumah ditemani dengan secangkir kopi.

Kopi yang kubuat ini bukan kopi sembarangan. Ada sejarahnya ketika ia sampai di tanganku dan kuseduh hampir setiap hari sambil menikmatinya di pagi ataupun senja hari. Kopi ini mempunyai seribu tafsir bagiku. Ketika mulai mengambilnya dengan sendok, mencampurnya dengan sedikit gula, menuanginya dengan air panas, mengaduknya, mencium aromanya, dan menyeruputnya, semua melahirkan tafsiran-tafsiran kerinduan. Entah kerinduan pada siapa dan untuk apa.

Sambil menikmati kopi ini aku membaca ulang surat-suratmu. Surat yang telah kau kirimkan berbentuk elektronik berhari-hari yang lalu. Aku membacanya dari awal. Satu per satu aku selesaikan suratmu dengan senyum dibbibirku. “Tak menyangka sudah sebanyak ini suratmu berada di kotak masukku”. Pada surat terakhir yang kau kirmkan, kau bercerita banyak hal tentang kegiatanmu akhir-akhir ini. Bahkan kau menyampaikan pula kegelisahan-kegelisahan yang kau alami. Tak lupa kau tutup dengan kalimat yang intinya kau ingin mengetahui kabarku terakhir dan apa saja kegiatanku. Ah itu selalu membuatku risau untuk bercerita banyak tentang diriku.
Surat-suratmu selalu segar untuk dibaca. Bahkan berkali-kali pun masih enak untuk dicerna dan melahirkan senyumsenyum kecil.

Kopi kembali kunikmati di bawah langit yang tak bisa diprediksi ini. Sebenarnya aku menanti langit di atas rumahku ini menurunkan hujan. Membasahi dedaunan dan jalan-jalan menjadi bersih. Dengan begitu kopi ini kenikmatannya akan bertambah seiring dingin yang nantinya menyerang tubuh ini.

Terakhir suratmu masuk di alamat emailku dua minggu kemarin. Bertepatan dengan Hari Sabtu. Pagi hari. Saat itu aku sedang membereskan kewajibanku. Aku masih ingat betul.

Tidak seperti bulan-bulan yang telah lewat, ketika kau mengirmkan surat pastinya seminggu kemudian aku akan membalasnya dengan cerita yang panjang. Cerita yang mungkin tidak penting, bahkan tidak layak untuk diceritakan. Tapi hanya itulah cerita yang aku punya. Rutin aku membalas surat-suratmu. Ya, meski kau pun kadang membalasnya sampai sebulan kemudian, tapi itu sungguh menyenangkan untuk dilakukan.

Tapi untuk saat ini aku belum bisa membalas suratmu itu. Aku masih ingin menikmati kegelisahanku dan menahan dulu cerita-cerita yang ingin aku sampaikan padamu. Itu mungkin membuatmu menunggu begitu lama. Atau mungkin kau tak peduli lagi dengan surat-surat kita. Atau kau lupa akan surat balasanku atas kesibukanmu di sana. Entahlah. Itu urusanmu tapi aku berterimakasih jikalau kau masih sempat-sempatnya menunggu balasanku.

Atau begini saja. Akan aku nikmati dulu suasana di teras rumahku ini, dengan secangkir kopi, dan surat-suratmu, dan pikiran-pikiran risau untuk membalas suratmu, sedang kau di sana sibuklah dengan kegiatan-kegiatanmu, yang kata suratmu, membuat berbagai macam kue, membaca buku, menonton film, dan sekali-kali nantinya kau boleh merindukan balasan atas suratmu.

Oh iya, apa aku tidak usah membalas suratmu.

Bukankah minggu depan kau datang ke kotaku, ingin berbagi cerita, ingin meluapkan rindu, yang terpenting ingin berpamitan untuk waktu yang lama?

Oh oke, pada saat itu saja akan aku balas surat-suratmu dengan ocehan ria yang bersahabat.

Iklan

MENULIS ITU UNTUK HIDUP SELAMA-LAMA-LAMANYA

tulis

Segala sesuatu yang hidup di atas muka Bumi ini bisa dipastikan akan mengalami yang namanya mati. Semuanya tanpa terkecuali. Tapi perihal kapan dan bagaimana proses mati itu sendiri sungguh tidak ada yang tahu. Satu orang pun.

Saya, Anda, kucing, kambing, sapi, ayam, semuanya pasti akan bertemu yang namanya kematian. Sebuah jalan kepastian yang tidak bisa dihindari, tidak bisa dipercepat, pun tidak bisa diperlambat. Kematian adalah kepastian.

Tapi yang tak bisa dimengerti adalah mengapa ada kesedihan di sana. Mengapa ada air mata. Mengapa ada ratap tangis dan kehilangan di sana. Mengapa ada satu rasa yang ganjil, satu rasa yang hilang. Bukankah kematian suatu kewajaran. Suatu hal yang memang lumrah untuk diterima. Karena pada hakikatnya semua yang hidup akan menjumpai apa yang namanya kematian.

Ternyata oh ternyata, ada satu rasa yang mendasari kenapa beberapa orang merasa sangat kehilangan. Merasa sangat bersedih. Merasa hari-hari kedepannya akan terasa sangat-sangat kurang.

Rasa itu adalah rasa cinta. Rasa yang melahirkan kasih sayang. Rasa yang menumbuhkan rindu. Rasa yang bisa meminimalisir kegelisahan. Rasa itulah yang akan mencuat muncul, bergelora, dan terbakar hebat jika  disandingkan dengan kematian. Karena kematian berarti perpisahan. Berpisah untuk waktu yang lama. Lama sekali.

Begitulah alur keluarnya air mata dan ratap sedih apabila mendengar kabar sebuah kematian. Ada kasih sayang di sana dan ada rasa kehilangan yang dalam.

————————–

Sebagai salah seorang yang pernah bertukar sapa dengan Mas Shiq (Muhammad Liudin), meski di dunia maya, saya cukup kaget dan tidak percaya ketika membaca kabar bahwa Mas Shiq sudah berpulang mendahului kita semua. Beliau adalah kawan saya di dunia kepenulisan WordPress ini. Beliau sering nangkring di kolom komentar tulisan saya. Beberapa tulisan malah saling sapa sok akrab. Padahal belum pernah bersua sama sekali.

Dari seringya Beliau komen duluan, maka tak jarang juga saya blogwalking ke situs Beliau yang sangat-sangat popular itu. Situs yang menyimpan banyak tulisan bermanfaat. Sebuah museum kehidupan dan catatan kesehariannya. Di situlah kadang saya ikut-ikutan nimbrung dan komen sekenannya. Tapi saya kira lebih banyak membaca saja dan tidak ikut mengeluarkan pendapat. Beberapa tulisan memang saya paham dan saya butuhkan, tetapi banyak juga tulisan Beliau yang sulit dipahami dan hanya saya skimming saja.

Begitu menginspirasi bagi saya. Sosok Mas Shiq adalah contoh tauladan untuk terus menulis dan bercerita bagi saya. Beliau punya penyakit Skizofrenia, suatu penyakit yang awalnya ditandai dengan gangguan  proses berfikir dan tanggapan emosi yang lemah. Keadaan inilah yang kadang memunculkan halusinasi dan paranoid pada Beliau.

Tapi Beliau memilih untuk melawannya. Salah satunya dengan cara menulis. Menulis apa saja. Bahkan Beliau juga sudah membuat beberapa e-book yang dibagikan gratis perihal metode dan cara agar ngeblog jadi asyik khususnya untuk pemula.

Lha iya, begitu gigihnya Beliau dalam berjuang untuk kesembuhannya, setiap hari adalah hari baru dan kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, makanya Beliau selalu mencoba untuk berbagi kebaikan dan manfaat untuk sesama. Beliau tidak menyerah pada penyakitnya.

Beliau optimis untuk bisa sembuh dan bisa menjalani hari-harinya seperti orang-orang kebanyakan. Bisa jalan-jalan. Bisa makan apa saja. Bisa minum apa saja. Bisa tidur seenaknya. Tanpa memerdulikan jam-jam yang di sana ada namanya jadwal minum obat. Jam-jam yang membosankan bagi Beliau (katanya). Waktu yang sungguh membuat Beliau tidak keren.

Kegigihannya inilah yang menyadarkan saya bahwa keterbatasan tidak menghalangi untuk selalu berbagi. Selalu berusaha. Selalu punya harapan dan impian. Punya cita-cita. Kegigihan Beliau seolah cambukan bagi saya, bagi pribadi saya sendiri, untuk tidak menyerah pada keadaan dan keterbatasan.

Terakhir, saya mengucapkan selamat jalan Mas Shiq. Selamat bersenang-senang dengan impianmu yang abadi. Sungguh, saya kira di sana sudah tidak ada lagi dokter, sudah tidak ada lagi obat-obatan, Engkau sudah tidak punya kewajiban untuk membeli buah-buahan di pasar ataupun melayani pembeli lagi. Impianmu telah tercapai, Engkau telah lulus dalam semua ujian di dunia ini. Selamat istirahat. Selamat bersua dengan Kekasihmu. Selamat bercumbu ria dengan Tuhanmu.

Terimakasih telah berbagi pengalaman dan kisah-kisah yang menguatkan. Tulisanmu akan abadi. Hasil karyamu akan mengharumkan namamu. Pengalamanmu akan menjadi semangat bagi beberapa orang di luar sana. Kisah-kisahmu akan menguatkan hari-hari mereka. Sekali lagi terimakasih.

Salam dari saya, kangsole.

 

Belajar Istiqomah dalam Berbuat Baik | Cerita Maiyah Part 1


Minggu kemarin adalah pengalaman yang sangat menyenangkan bagi pribadi saya. Secara tidak langsung saya menjadi semangat kembali, hidup kembali untuk lebih giat dalam belajar dan belajar. Karena memang belajar tidak bisa sekali duakali langsung menemukan rasa dan manfaatnya.

Belajar harus tekun dan ulet, semangat dan pantang menyerah. Dan tulisan ini sendiri untuk menyemangati saya sekaligus sebagai bahan pengingat bahwa saya juga perlu reminder untuk melangkah ke depan.

Belajar yang saya maksud bukan berkutat pada diktat mata pelajaran atau membaca buku-buku atau menghafal teori-teori, belajar yang ini adalah belajar untuk istiqomah berbuat kebaikan. Siapa mengira bahwa berbuat kebaikan adalah semudah membalikkan telapak tangan, tapi mengistiqomahkannya sesulit menjulurkan lidah untuk menjilat hidung sendiri –konyol sih-.

Terus pengalaman apa yang saya dapatkan pada Minggu kemarin hingga membuat saya banyak merenung. Sebenarnya saya hanya mendengarkan ceramah dan cerita. Saya menghadiri majlis ilmu yang kebetulan hari itu ada tamu dari negeri seberang, Australia.

Banyak yang dibicarakan dalam majlis tersebut, dan juga banyak pula yang ingin saya tuliskan di sini sebagai catatan bahwa saya pernah secara langsung bertatap muka dengan orang hebat yang kaya akan pengalaman spiritual.

Majlisnya adalah Mocopat Syafaat yang langsung dipimpin oleh Cak Nun. Pernah dengar kan tentang majlis tersebut. Ada juga yang menyebutnya Komunitas Maiyahan atau juga Kenduri Cinta.

Malam itu merupakan malam yang setelah sekian lama nggak mengikuti majlis ilmunya Cak Nun, saya diberikesempatan untuk mengikutinya. Diajak sih sebenarnya.


Salah satu tamu yang hadir adalah Ibu Ade dari Perth, Australia. Beliau dulunya berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat, tetapi sekarang sudah menjadi warga Australia.

“Sebelum menjadi seperti sekarang ini, saya dulunya adalah seorang yang suka mabuk-mabukan, saya seseorang yang masuk ke zaman jahiliah lagi.”

Beliau blak-blakan dalam memperkenalkan dirinya. Setelah itu bercerita banyak tentang pengalamannya dalam beragama di Australia.

“Meskipun hobi saya satu tadi melambangkan orang jahiliah, tetapi saya yakin Allah masih sayang pada saya. Allah tidak marah pada saya. Allah selalu mengasihi saya. Saya sangat yakin bahwa Allah akan selalu berpihak pada saya.”

“Mungkin dengan keyakinan itu, perlahan saya dituntun ke jalan yang benar dan lurus. Alhamdulillah, saya sudah menjahui semua hobi buruk saya. Alhamdulillah.”

Kira-kira seperti itu yang disampaikan Bu Ade ke jamaah.

Di Australia, Bu Ade merupakan seorang penjual bakso. Beliau menuturkan bahwa hidup di Australia tidaklah mudah, tapi beliau perlahan-lahan mampu melewati itu semua.

“Saya selalu berusaha untuk menjadi orang baik. Siapa saja yang meminta pertolongan pada saya, Insyaallah saya akan siap menolong. Siapa pun. Entah itu orang Bule atau orang Indonesia sendiri. Bentuk pertolongan berupa materi atau pun tenaga. Saya selalu berusaha untuk membantu sesama.

Malahan kalau dalam sehari tidak ada yang meminta bantuan pada saya, saya merasa gelisah. Saya berpikiran ‘Apakah Tuhan saya sudah tidak membutuhkan saya?’. Saya selalu berdoa kepada Tuhan untuk mengampuni semua dosa yang sudah saya perbuat di zaman dulu.” 

Hampir kesemua jamaah memperhatikan Bu Ade dengan seksama. Setiap kalimat yang diucapkannya adalah sesuatu yang baru. Saya sempat berpikir, kalau dilihat dari penampilannya memang sekilas Bu Ade mirip dengan orang yang beragama Non-muslim. Dengan rambut hanya seleher dan diberi warna merah, orang akan mengira bahwa beliau bukanlah penganut agama Islam yang taat.

Tapi pepatah ‘janganlah menilai sebuah buku dari covernya saja’ ada benarnya juga. Setelah mendengar semua cerita yang dituturkan Bu Ade, saya berani berkata bahwa Bu Ade adalah orang yang luar biasa. Orang yang mempunyai pengalaman spiritual sangat dekat dengan Tuhannya. Beliau selalu yakin –bahkan dulu saat masih di zaman jahiliah- bahwa Allah selalu sayang kepadanya dan tidak akan meninggalkannya sedetik pun.

Saya pribadi sendiri merasa keyakinan saya belum sekuat itu. Belum seyakin itu. Saya masih berusaha dan berusaha. Bu Ade melanjutkan,

“Hari tertentu saya biasanya membagikan bakso secara cuma-cuma pada orang-orang yang berkerumun. Entah di lapangan atau di jalan-jalan. Dengan membawa mobil, saya berharap bakso saya lebih dikenal masyarakat Perth. Secara tidak langsung saya mengenalkan makanan Indonesia sekaligus makanan halal kepada bule-bule.”

Kegiatan di atas dibenarkan oleh Cak Nun saat menanggapi cerita Bu Ade. Meski sepertinya hanya teknik marketing, tapi kalau ditelaah lebih jauh ada benarnya juga. Bu Ade secara tidak langsung memperkenalkan makanan halal, makanan orang Islam kepada orang-orang yang tidak terlalu mementingkan makanan halal-haram.

Masih banyak cerita yang disampaikan oleh Bu Ade pada malam itu. Semoga saya bisa menuliskannya di catatan-catatan selanjutnya. Intinya setelah menghadiri majlis yang selesai pukul setengah empat pagi itu telah membuat saya banyak merenung dan gelisah. Ternyata perjalanan saya untuk mengabdi pada Allah masihlah cukup panjang dan perlu dipergiat dan diperbanyak.

Kebaikan-kebaikan yang saya lakukan masih berkutat pada diri saya sendiri. Saya masih perlu belajar banyak pada Bu Ade dan Cak Nun yang kebaikannya sudah menyangkut orang lain dan alam sekitarnya.

“Kalian jangan terlalu senang dan nyaman jika dalam satu hari tidak ada yang meminta bantuan atau pertolongan pada kalian. Kalian itu harus senang membantu dan menolong. Sekuat tenaga dan materi kalian. Kalaupun tidak mau menolong, minimal jangan menghujat atau menghakimi (menjudge) mereka yang meminta bantuan.” Tambah Bu Ade.

Catatan ini saya tutup dengan salah satu ungkapan keras yang disampaikan oleh Bu Ade.

“Mungkin kalian pernah berdoa dan membuat statement bahwa ‘Tuhan, semua ini hanyalah titipan darimu’ tapi saat ada sesama kalian yang meminta uang atau meminjamnya kalian pura-pura tidak punya.”

Pagi yang Gerimis yang Pahit

Kamis pagi yang menenangkan. Dengan bertemankan kopi panas aku menikmatinya. Saat sejenak jalan-jalan ke luar, gerimis tipis menari-nari di depan mata. Bertebaran kabut tipis yang menyejukkan wajah saat angin lembut berhembus.

Ada waktu yang sama seperti sekarang ini. Saat aku hanya bisa memandang wajahmu dari balik kaca jendela. Merabanya dengan imajinasiku. Saat itu pula gerimis menemaniku menikmati pagi. Suasana yang apabila tak aku tuliskan sekarang ini, mungkin akan aku lupakan sebulan atau setahun mendatang.

Sebenarnya tak bisa aku gambarkan dengan jelas perasaan apa yang melingkuppiku. Seperti kebanyakan orang, tak ada benarnya jika aku sepihak membenarkan diri. Menghalalkan tindakanku, tapi apakah salah jika aku hanya sebatas mengagumi?

Seruputan pertama, ada aroma dimana aku teringat senyummu. Saat merasakannya di antara lidah dan liurku seakan aku berada di hadapanmu dan berbincang denganmu. Aduuh, semua ini menyebalkan. Ingin rasanya aku bisa menikmati teh hangat atau teh tawar saja. Yang tak ada satupun hal yang bisa merusak pagiku. Padahal setiap kopi tak luput dari rasa pahit dan hitam. Tak bisa menyembunyikannya. Tapi tetap saja bagi lidahku, ada sesuatu yang tak beres ketika menyeruputnya. Seperti ada manis-manisnya dan seperti ada yang memberontak di dalam sana. Entahlah, itu hanya sebatas imajinasi yang menjengkelkan.

Kopi tetaplah kopi. Pagi tetaplah pagi. Gerimis tetaplah gerimis. Aku tetaplah aku yang menikmatinya. tapi tak setiap hari bisa aku nikmati. Inilah asyiknya menunggu bagiku. Ada hari yang pasti ada paginya. Tapi belum tentu setiap pagi ada gerimisnya. Kadang gerimis, kadang pula hujan menderu. Selebihnya cerah berawan. Tak setiap pagi pula aku bertemankan kopi. Kadang susu. Kadang air tawar. Kadang puasa. Kadang tidur pulas menyelam mimpi yang indah. Maka, pagi ini, yang damai, yang gerimis, aku menyeduh kopi untuk bersua kembali dengan diriku yang menyenangkan. Ah, menyenangkan sekali bisa menikmatinya.

Sungguh, ini bukanlah hal yang sepenuhnya baik. Seharusnya pagi yang setiap hari datang dipersiapkan dengan baik dan matang. Menyongsong hari yang indah. Merancang masa depan. Dan tidak melulu berkhayal di pagi hari dan mengganggu aktivitas.

Tapi yang perlu diketahui dan menjadi dasar adalah menikmati pagi, menikati cuaca, dan kadang bolehlah menikmati kopi. Kalau punya, bolehlah pula menikmati saat menyenangkan dalam menyeruput kopi dalam secangkir masa lalu.

Malam Terakhir Bulan Sya’ban

Tahlilan
Ilustrasi: nukotatangerang.or.id

Alhamdulillah malam ini merupakan malam terakhir di Bulan Sya’ban –berdasarkan penanggalan pemerintah. Tidak terasa besok malam sudah melaksaksanakan Shalat Tarawih karena sudah memasuki bulan baru, Bulan Suci Ramadhan.

Alangkah sangat baiknya jika saya di sini mengingatkan saya sendiri dan para pembaca untuk sama-sama bersuka cita untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan. Bulan penuh berkah dan pahala yang melimpah –dalilnya sudah banyak nggak usah dicantumkan ya. Yang beragama Islam maupun tidak semoga semuanya mendapatkah berkahnya Bulan Ramadhan. Amin.

Tetapi, di tulisan ini yang ingin saya bahas bukanlah apa-apa mengenai Bulan Suci Ramadhan –Insyaallah post berikutnya, melainkan tradisi-tradisi yang dilakukan saat Bulan Sya’ban oleh Islam Tradisionalis warga Nahdliyin –kampung saya.

Awal pertengahan Bulan Mei kemarin saya menyempatkan pulang sebentar ke Blora untuk beberapa urusan. Saya akui, kemarin adalah waktu pulang tercepat yang saya alami selama berada di Jogja. Sekitar pukul sepuluh pagi saya sampai di rumah dan malamnya sekitar pukul dua puluh satu saya sudah harus pergi pamit dari rumah. Sekitar setengah hari saja, itupun banyak tidurnya karena lelah.

Meskipun sebentar, tapi kesan yang diberikan sungguhlah menyenangkan. Mengapa? Karena kepulangan saya bertepatan dengan Bulan Sya’ban yaitu bulan penuh berkat dan kondangan.

Ya, saya sangat bersyukur sekali kampung saya masih memegang teguh tradisi Ruwahan atau Sya’banan. Ruwahan ini adalah salah satu tradisi mengirim doa-doa dan kalimat thoyyibah untuk saudara-saudara si pengirim yang sudah meninggal.

Kalau di kampung saya Ruwahan biasanya dimulai sejak awal Bulan Sya’ban dan berakhir beberapa hari sebelum lebaran (Syawal). Bahkan setelah lebaran pun ada beberapa keluarga yang masih melakukan Ruwahan, maklum tidak kebagian jadwal.

Kalau di Jogja sendiri ada beberapa kampung yang juga melakukan tradisi Ruwahan. Bedanya dengan tradisi di kampung saya yaitu di Jogja Ruwahannya hanya sekali yaitu menjelang akhir Bulan Sya’ban –kirim doanya bareng-bareng. Biasanya dilakukan di masjid kampung dan dipimpin oleh ulama setempat.

Sedang di kampung saya ruwahannya hampir full dua bulan –Sya’ban dan Ramadhan, dilakukan di rumah-rumah dengan cara berkeliling. Satu hari bisa satu rumah, kadang dua rumah (satu RT bukan satu desa).

Jadi, meski saya hanya sebentar di rumah, tetapi pada saat saya makan, saya merasakan suasana lebaran. Banyak daging –ayam dan kambing. Waktu yang sebentar saya manfaatkan untuk memperbaiki gizi, mengingat kalau di pesantren jarang sekali makan daging. Ajang pelampiasan.

Saya masih ingat ketika dulu masih di bangku SMA. Persis di Bulan Sya’ban kalau saya liburan pasti disuruh mewakili bapak untuk berangkat Tahlilah (Ruwahan). Hanya waktu liburan saja karena hari-hari biasa saya tinggal di Kota Blora dan jauh dari kampung halaman.

Ada perasaan senang ketika ikut Tahlilan karena bisa mencicipi masakan tetangga dengan lauk-pauk yang berbeda-beda setiap rumah. Dzikir bareng dan kumpul dengan bapak-bapak satu RT –hal ini mungkin yang menjadikan warga kampung tetap solid. Apalagi kalau sudah memasuki Bulan Ramadhan, huh, es tehnya itu lho menggoda selera. Apalagi nasi pecelnya. Hemmmm.

Jadi, bapak-bapak di kampung saya kalau Bulan Ramadhan bisa dipastikan jarang sekali buka puasa bersama dengan keluarga. Karena buka puasanya di rumah-rumah satu RT untuk menghadiri acara Tahlilan tersebut.

Tidak jarang pula orang-orang di kampung saya menjadi lebih berisi dan gemuk meskipun siangnya melakukan puasa. Mungkin inilah berkah Ramadhan secara lahiriah yang bisa disaksikan oleh mata.

Mari Membaca untuk Menekan Kemalasan dan Mendisiplinkan Waktu

Mari membaca.

Tak terasa sudah memasuki tahun 2017. Tahun yang baru tentunya membawa semangat-semangat yang baru pula. Untuk mengisi liburan dan di sela-sela sibuknya nyusun skripsi saya punya sedikit target yang harus saya capai di Maret sampai April 2017 ini. Targetnya nggak ribet dan pastinya nggak nyusahin diri saya sendiri. Saya hanya mengurangi kemalasan saya yang di akhir tahun 2016 kemarin menyebabkan saya kurang sekali membaca. Tentunya membaca buku apapun. Itu mungkin gara-gara media sosial yang hampir merenggut waktu berharga saya berjam-jam.

Selain akan mendapatkan pengetahuan dan juga imaji-imaji yang baru, saya berharap nantinya saat saya mulai menulis cerpen ataupun novel bisa langsung cak-cek dan banyak referensi kata-kata baru yang terlintas. Lha untuk menunjang itu semua, salah satu resolusi saya di Bulan Januari ini (bulan kemarin) adalah berhenti menggunakan semua media sosial terkecuali Line dan WhatsApp supaya bisa fokus menulis dan membaca. Dua medsos tersebut bagi saya masih terlalu urgent untuk dinonaktifkan meski hanya satu bulan.

Oh ya.

1.    Cantik Itu Luka ~ Eka Kurniawan

3.    Sang Pemenang Berdiri Sendiri ~ Paulo Coelho

4.    Sang Penyihir dari Portobello ~ Paulo Coelho

5.    Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu ~ Agus Sunyoto

6.    Burung – Burung Manyar ~ Y. B. Mangunwijaya

7.    9 Matahari ~ Adenita

 

8.    23 Episentrum ~ Adenita