Arsip Kategori: Catatan Harian

Kopi dan Surat-Suratmu

kopi dan surat

Langit mengisyaratkan kedamaian. Awan-awan menggantung bak buah-buahan yang siap jatuh ke tanah. Matahari tersembunyi entah di mana letaknya. Suasana begitu tenang untuk secangkir kopi dan sedikit gula di pagi hari menjelang siang.
Aku tahu sekali seharusnya di jam-jam saat ini matahari sudah tampak. Cahaya seharusnya tersebar merata di seantero penglihatanku. Hangat seharusnya sudah mulai menyengat kulitku yang coklat ini. Memang begitu seharusnya suasana di jam-jam seperti ini.

Tapi ini berbeda. Suasana begitu sendu tapi tak menyedihkan. Suasana terasa nyaman di hati. Meskipun udara tak sehangat biasanya tapi ini sungguh hangat bagi yang menghirup napas dalam-dalam di teras rumah ditemani dengan secangkir kopi.

Kopi yang kubuat ini bukan kopi sembarangan. Ada sejarahnya ketika ia sampai di tanganku dan kuseduh hampir setiap hari sambil menikmatinya di pagi ataupun senja hari. Kopi ini mempunyai seribu tafsir bagiku. Ketika mulai mengambilnya dengan sendok, mencampurnya dengan sedikit gula, menuanginya dengan air panas, mengaduknya, mencium aromanya, dan menyeruputnya, semua melahirkan tafsiran-tafsiran kerinduan. Entah kerinduan pada siapa dan untuk apa.

Sambil menikmati kopi ini aku membaca ulang surat-suratmu. Surat yang telah kau kirimkan berbentuk elektronik berhari-hari yang lalu. Aku membacanya dari awal. Satu per satu aku selesaikan suratmu dengan senyum dibbibirku. “Tak menyangka sudah sebanyak ini suratmu berada di kotak masukku”. Pada surat terakhir yang kau kirmkan, kau bercerita banyak hal tentang kegiatanmu akhir-akhir ini. Bahkan kau menyampaikan pula kegelisahan-kegelisahan yang kau alami. Tak lupa kau tutup dengan kalimat yang intinya kau ingin mengetahui kabarku terakhir dan apa saja kegiatanku. Ah itu selalu membuatku risau untuk bercerita banyak tentang diriku.
Surat-suratmu selalu segar untuk dibaca. Bahkan berkali-kali pun masih enak untuk dicerna dan melahirkan senyumsenyum kecil.

Kopi kembali kunikmati di bawah langit yang tak bisa diprediksi ini. Sebenarnya aku menanti langit di atas rumahku ini menurunkan hujan. Membasahi dedaunan dan jalan-jalan menjadi bersih. Dengan begitu kopi ini kenikmatannya akan bertambah seiring dingin yang nantinya menyerang tubuh ini.

Terakhir suratmu masuk di alamat emailku dua minggu kemarin. Bertepatan dengan Hari Sabtu. Pagi hari. Saat itu aku sedang membereskan kewajibanku. Aku masih ingat betul.

Tidak seperti bulan-bulan yang telah lewat, ketika kau mengirmkan surat pastinya seminggu kemudian aku akan membalasnya dengan cerita yang panjang. Cerita yang mungkin tidak penting, bahkan tidak layak untuk diceritakan. Tapi hanya itulah cerita yang aku punya. Rutin aku membalas surat-suratmu. Ya, meski kau pun kadang membalasnya sampai sebulan kemudian, tapi itu sungguh menyenangkan untuk dilakukan.

Tapi untuk saat ini aku belum bisa membalas suratmu itu. Aku masih ingin menikmati kegelisahanku dan menahan dulu cerita-cerita yang ingin aku sampaikan padamu. Itu mungkin membuatmu menunggu begitu lama. Atau mungkin kau tak peduli lagi dengan surat-surat kita. Atau kau lupa akan surat balasanku atas kesibukanmu di sana. Entahlah. Itu urusanmu tapi aku berterimakasih jikalau kau masih sempat-sempatnya menunggu balasanku.

Atau begini saja. Akan aku nikmati dulu suasana di teras rumahku ini, dengan secangkir kopi, dan surat-suratmu, dan pikiran-pikiran risau untuk membalas suratmu, sedang kau di sana sibuklah dengan kegiatan-kegiatanmu, yang kata suratmu, membuat berbagai macam kue, membaca buku, menonton film, dan sekali-kali nantinya kau boleh merindukan balasan atas suratmu.

Oh iya, apa aku tidak usah membalas suratmu.

Bukankah minggu depan kau datang ke kotaku, ingin berbagi cerita, ingin meluapkan rindu, yang terpenting ingin berpamitan untuk waktu yang lama?

Oh oke, pada saat itu saja akan aku balas surat-suratmu dengan ocehan ria yang bersahabat.

Iklan

MENULIS ITU UNTUK HIDUP SELAMA-LAMA-LAMANYA

tulis

Segala sesuatu yang hidup di atas muka Bumi ini bisa dipastikan akan mengalami yang namanya mati. Semuanya tanpa terkecuali. Tapi perihal kapan dan bagaimana proses mati itu sendiri sungguh tidak ada yang tahu. Satu orang pun.

Saya, Anda, kucing, kambing, sapi, ayam, semuanya pasti akan bertemu yang namanya kematian. Sebuah jalan kepastian yang tidak bisa dihindari, tidak bisa dipercepat, pun tidak bisa diperlambat. Kematian adalah kepastian.

Tapi yang tak bisa dimengerti adalah mengapa ada kesedihan di sana. Mengapa ada air mata. Mengapa ada ratap tangis dan kehilangan di sana. Mengapa ada satu rasa yang ganjil, satu rasa yang hilang. Bukankah kematian suatu kewajaran. Suatu hal yang memang lumrah untuk diterima. Karena pada hakikatnya semua yang hidup akan menjumpai apa yang namanya kematian.

Ternyata oh ternyata, ada satu rasa yang mendasari kenapa beberapa orang merasa sangat kehilangan. Merasa sangat bersedih. Merasa hari-hari kedepannya akan terasa sangat-sangat kurang.

Rasa itu adalah rasa cinta. Rasa yang melahirkan kasih sayang. Rasa yang menumbuhkan rindu. Rasa yang bisa meminimalisir kegelisahan. Rasa itulah yang akan mencuat muncul, bergelora, dan terbakar hebat jika  disandingkan dengan kematian. Karena kematian berarti perpisahan. Berpisah untuk waktu yang lama. Lama sekali.

Begitulah alur keluarnya air mata dan ratap sedih apabila mendengar kabar sebuah kematian. Ada kasih sayang di sana dan ada rasa kehilangan yang dalam.

————————–

Sebagai salah seorang yang pernah bertukar sapa dengan Mas Shiq (Muhammad Liudin), meski di dunia maya, saya cukup kaget dan tidak percaya ketika membaca kabar bahwa Mas Shiq sudah berpulang mendahului kita semua. Beliau adalah kawan saya di dunia kepenulisan WordPress ini. Beliau sering nangkring di kolom komentar tulisan saya. Beberapa tulisan malah saling sapa sok akrab. Padahal belum pernah bersua sama sekali.

Dari seringya Beliau komen duluan, maka tak jarang juga saya blogwalking ke situs Beliau yang sangat-sangat popular itu. Situs yang menyimpan banyak tulisan bermanfaat. Sebuah museum kehidupan dan catatan kesehariannya. Di situlah kadang saya ikut-ikutan nimbrung dan komen sekenannya. Tapi saya kira lebih banyak membaca saja dan tidak ikut mengeluarkan pendapat. Beberapa tulisan memang saya paham dan saya butuhkan, tetapi banyak juga tulisan Beliau yang sulit dipahami dan hanya saya skimming saja.

Begitu menginspirasi bagi saya. Sosok Mas Shiq adalah contoh tauladan untuk terus menulis dan bercerita bagi saya. Beliau punya penyakit Skizofrenia, suatu penyakit yang awalnya ditandai dengan gangguan  proses berfikir dan tanggapan emosi yang lemah. Keadaan inilah yang kadang memunculkan halusinasi dan paranoid pada Beliau.

Tapi Beliau memilih untuk melawannya. Salah satunya dengan cara menulis. Menulis apa saja. Bahkan Beliau juga sudah membuat beberapa e-book yang dibagikan gratis perihal metode dan cara agar ngeblog jadi asyik khususnya untuk pemula.

Lha iya, begitu gigihnya Beliau dalam berjuang untuk kesembuhannya, setiap hari adalah hari baru dan kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, makanya Beliau selalu mencoba untuk berbagi kebaikan dan manfaat untuk sesama. Beliau tidak menyerah pada penyakitnya.

Beliau optimis untuk bisa sembuh dan bisa menjalani hari-harinya seperti orang-orang kebanyakan. Bisa jalan-jalan. Bisa makan apa saja. Bisa minum apa saja. Bisa tidur seenaknya. Tanpa memerdulikan jam-jam yang di sana ada namanya jadwal minum obat. Jam-jam yang membosankan bagi Beliau (katanya). Waktu yang sungguh membuat Beliau tidak keren.

Kegigihannya inilah yang menyadarkan saya bahwa keterbatasan tidak menghalangi untuk selalu berbagi. Selalu berusaha. Selalu punya harapan dan impian. Punya cita-cita. Kegigihan Beliau seolah cambukan bagi saya, bagi pribadi saya sendiri, untuk tidak menyerah pada keadaan dan keterbatasan.

Terakhir, saya mengucapkan selamat jalan Mas Shiq. Selamat bersenang-senang dengan impianmu yang abadi. Sungguh, saya kira di sana sudah tidak ada lagi dokter, sudah tidak ada lagi obat-obatan, Engkau sudah tidak punya kewajiban untuk membeli buah-buahan di pasar ataupun melayani pembeli lagi. Impianmu telah tercapai, Engkau telah lulus dalam semua ujian di dunia ini. Selamat istirahat. Selamat bersua dengan Kekasihmu. Selamat bercumbu ria dengan Tuhanmu.

Terimakasih telah berbagi pengalaman dan kisah-kisah yang menguatkan. Tulisanmu akan abadi. Hasil karyamu akan mengharumkan namamu. Pengalamanmu akan menjadi semangat bagi beberapa orang di luar sana. Kisah-kisahmu akan menguatkan hari-hari mereka. Sekali lagi terimakasih.

Salam dari saya, kangsole.

 

Belajar Istiqomah dalam Berbuat Baik | Cerita Maiyah Part 1


Minggu kemarin adalah pengalaman yang sangat menyenangkan bagi pribadi saya. Secara tidak langsung saya menjadi semangat kembali, hidup kembali untuk lebih giat dalam belajar dan belajar. Karena memang belajar tidak bisa sekali duakali langsung menemukan rasa dan manfaatnya.

Belajar harus tekun dan ulet, semangat dan pantang menyerah. Dan tulisan ini sendiri untuk menyemangati saya sekaligus sebagai bahan pengingat bahwa saya juga perlu reminder untuk melangkah ke depan.

Belajar yang saya maksud bukan berkutat pada diktat mata pelajaran atau membaca buku-buku atau menghafal teori-teori, belajar yang ini adalah belajar untuk istiqomah berbuat kebaikan. Siapa mengira bahwa berbuat kebaikan adalah semudah membalikkan telapak tangan, tapi mengistiqomahkannya sesulit menjulurkan lidah untuk menjilat hidung sendiri –konyol sih-.

Terus pengalaman apa yang saya dapatkan pada Minggu kemarin hingga membuat saya banyak merenung. Sebenarnya saya hanya mendengarkan ceramah dan cerita. Saya menghadiri majlis ilmu yang kebetulan hari itu ada tamu dari negeri seberang, Australia.

Banyak yang dibicarakan dalam majlis tersebut, dan juga banyak pula yang ingin saya tuliskan di sini sebagai catatan bahwa saya pernah secara langsung bertatap muka dengan orang hebat yang kaya akan pengalaman spiritual.

Majlisnya adalah Mocopat Syafaat yang langsung dipimpin oleh Cak Nun. Pernah dengar kan tentang majlis tersebut. Ada juga yang menyebutnya Komunitas Maiyahan atau juga Kenduri Cinta.

Malam itu merupakan malam yang setelah sekian lama nggak mengikuti majlis ilmunya Cak Nun, saya diberikesempatan untuk mengikutinya. Diajak sih sebenarnya.


Salah satu tamu yang hadir adalah Ibu Ade dari Perth, Australia. Beliau dulunya berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat, tetapi sekarang sudah menjadi warga Australia.

“Sebelum menjadi seperti sekarang ini, saya dulunya adalah seorang yang suka mabuk-mabukan, saya seseorang yang masuk ke zaman jahiliah lagi.”

Beliau blak-blakan dalam memperkenalkan dirinya. Setelah itu bercerita banyak tentang pengalamannya dalam beragama di Australia.

“Meskipun hobi saya satu tadi melambangkan orang jahiliah, tetapi saya yakin Allah masih sayang pada saya. Allah tidak marah pada saya. Allah selalu mengasihi saya. Saya sangat yakin bahwa Allah akan selalu berpihak pada saya.”

“Mungkin dengan keyakinan itu, perlahan saya dituntun ke jalan yang benar dan lurus. Alhamdulillah, saya sudah menjahui semua hobi buruk saya. Alhamdulillah.”

Kira-kira seperti itu yang disampaikan Bu Ade ke jamaah.

Di Australia, Bu Ade merupakan seorang penjual bakso. Beliau menuturkan bahwa hidup di Australia tidaklah mudah, tapi beliau perlahan-lahan mampu melewati itu semua.

“Saya selalu berusaha untuk menjadi orang baik. Siapa saja yang meminta pertolongan pada saya, Insyaallah saya akan siap menolong. Siapa pun. Entah itu orang Bule atau orang Indonesia sendiri. Bentuk pertolongan berupa materi atau pun tenaga. Saya selalu berusaha untuk membantu sesama.

Malahan kalau dalam sehari tidak ada yang meminta bantuan pada saya, saya merasa gelisah. Saya berpikiran ‘Apakah Tuhan saya sudah tidak membutuhkan saya?’. Saya selalu berdoa kepada Tuhan untuk mengampuni semua dosa yang sudah saya perbuat di zaman dulu.” 

Hampir kesemua jamaah memperhatikan Bu Ade dengan seksama. Setiap kalimat yang diucapkannya adalah sesuatu yang baru. Saya sempat berpikir, kalau dilihat dari penampilannya memang sekilas Bu Ade mirip dengan orang yang beragama Non-muslim. Dengan rambut hanya seleher dan diberi warna merah, orang akan mengira bahwa beliau bukanlah penganut agama Islam yang taat.

Tapi pepatah ‘janganlah menilai sebuah buku dari covernya saja’ ada benarnya juga. Setelah mendengar semua cerita yang dituturkan Bu Ade, saya berani berkata bahwa Bu Ade adalah orang yang luar biasa. Orang yang mempunyai pengalaman spiritual sangat dekat dengan Tuhannya. Beliau selalu yakin –bahkan dulu saat masih di zaman jahiliah- bahwa Allah selalu sayang kepadanya dan tidak akan meninggalkannya sedetik pun.

Saya pribadi sendiri merasa keyakinan saya belum sekuat itu. Belum seyakin itu. Saya masih berusaha dan berusaha. Bu Ade melanjutkan,

“Hari tertentu saya biasanya membagikan bakso secara cuma-cuma pada orang-orang yang berkerumun. Entah di lapangan atau di jalan-jalan. Dengan membawa mobil, saya berharap bakso saya lebih dikenal masyarakat Perth. Secara tidak langsung saya mengenalkan makanan Indonesia sekaligus makanan halal kepada bule-bule.”

Kegiatan di atas dibenarkan oleh Cak Nun saat menanggapi cerita Bu Ade. Meski sepertinya hanya teknik marketing, tapi kalau ditelaah lebih jauh ada benarnya juga. Bu Ade secara tidak langsung memperkenalkan makanan halal, makanan orang Islam kepada orang-orang yang tidak terlalu mementingkan makanan halal-haram.

Masih banyak cerita yang disampaikan oleh Bu Ade pada malam itu. Semoga saya bisa menuliskannya di catatan-catatan selanjutnya. Intinya setelah menghadiri majlis yang selesai pukul setengah empat pagi itu telah membuat saya banyak merenung dan gelisah. Ternyata perjalanan saya untuk mengabdi pada Allah masihlah cukup panjang dan perlu dipergiat dan diperbanyak.

Kebaikan-kebaikan yang saya lakukan masih berkutat pada diri saya sendiri. Saya masih perlu belajar banyak pada Bu Ade dan Cak Nun yang kebaikannya sudah menyangkut orang lain dan alam sekitarnya.

“Kalian jangan terlalu senang dan nyaman jika dalam satu hari tidak ada yang meminta bantuan atau pertolongan pada kalian. Kalian itu harus senang membantu dan menolong. Sekuat tenaga dan materi kalian. Kalaupun tidak mau menolong, minimal jangan menghujat atau menghakimi (menjudge) mereka yang meminta bantuan.” Tambah Bu Ade.

Catatan ini saya tutup dengan salah satu ungkapan keras yang disampaikan oleh Bu Ade.

“Mungkin kalian pernah berdoa dan membuat statement bahwa ‘Tuhan, semua ini hanyalah titipan darimu’ tapi saat ada sesama kalian yang meminta uang atau meminjamnya kalian pura-pura tidak punya.”

Olahraga yang Menyenangkan itu Ternyata Sepedahan

Setiap orang mempunyai kegiatannya masing-masing. Termasuk kegiatan untuk menyehatkan diri. Kegiatan yang bertujuan untuk mengeluarkan keringat agar badan sehat secara jasmani dan harapannya sampai rohani.

Dulu saya pernah mengikuti salah satu pencak silat yang bertujuan tidak lebih sama untuk membela diri dan menyehatkan diri. Sampai sekarang juga masih ikutan, tapi tidak terlalu aktif. Hari berganti minggu, hingga berubah menjadi bulan, lama-lama perut saya mulai tak terkendali.

Kata orang sih masih kisaran wajar untuk remaja kebanyakan, tapi bagi saya yang pernah mempunyai perut kenceng –sebatas kenceng doang, sudah mulai risih. Melihat perut teman sekamar apalagi, sudah mirip bapak-bapak kantoran.

Dalam pada itu, akhirnya saya mempunyai keinginan untuk olahraga. Minimal lari satu putaran mengitari kampung samping pesantren. Dua kali seminggu saya rasa sudah cukup untuk menguras racun-racun sialan lewat keringat.

Tapi rencana hanyalah rencana. Hanya sampai sebatas rencana yang belum terealisasikan. Banyak kendala dan alasan. Tentunya situasi juga berperan sangat signifikan. Situasi?

Rencana lain, yaitu mulai mengaktifkan pengiritan berpahala. Puasa sunah Senin-Kamis. Niat utamanya tentu mencari keridhoan Allah, dan niat tambahannya semoga perut tidak melebar kemana-mana. Rencana yang cemerlang pikir saya. Selain ragawi yang mendapatkan manfaatnya, rohani pun mendapat sisi positifnya.

Rencana puasa itu ternyata hanya berjalan beberapa minggu saja. itu pun masih bolong-bolong. Kadang hanya hari Senin, kadang pula cuma hari Kamis. Alasannya klasik sih, ada makanan enak-enak di pagi harinya. Inilah ujian terbesar puasa sunah. Puasa sendirian, sedangkan yang lainnya makan-makan seenaknya.
Meninggalkan semua rencana-rencana di atas, minggu-minggu ini saya menemukan kegiatan yang semoga bisa memperbaiki masalah perut saya. Kegiatan yang bisa melemaskan otot-otot kaki dan otot-otot mata. Melelahkan sekaligus menyenangkan. Kegiatannya yaitu Sepedahan.

Saya sudah lama sekali tidak main Sepedahan. Kalau tidak salah terakhir saya mengayuh sepeda untuk pergi ke mana-mana yaitu waktu SD. Habis itu kalau mau pergi ke toko, sekolah, atau tempat-tempat lain kebanyakan sudah menggunakan sepeda motor, tapi sekali-kali juga jalan kaki.

Ternyata mengayuh sepeda untuk olahraga asyik juga. Apalagi kalau Sepedahannya bareng-bareng. Kalau waktu selo, sekali chat via grup, langsung deh gowes muter-muter kota Jogja.

Sebelumnya saya masih pikir-pikir dulu untuk membeli sepeda. Bagaimana tidak, sepeda di sini harganya masih selangit. Mirip-miriplah sama harga gadget 4G. Tapi setelah ada beberapa teman yang mulai beli sepeda, saya lama-kelamaan jadi kepengen juga.

Jangan terlalu sayang dengan uang, pikir saya. Percuma ada uang, tapi badan kurang sehat dan sakit-sakitan. Mau pitnes kejauhan. Kalau lari-lari kadang kesiangan jadinya males. Aktif di pencak silat, males keseleo dan memar-memar.

Jadi, untuk sementara tabungannya dibelanjakan demi sehatnya badan dan kegiatan yang bermanfaat. Kalau seumpama butuh dana lagi kan tinggal jual sepedanya. Gitu aja kok repot.

Hadirnya tulisan ini, saya cuma mau bilang sekaligus ngajak. “Ternyata asyik sepedahan ngalor-ngidul. Ayo sehat lewat sepedahan.” Kuwi thok. Itu saja sih. Selamat beraktifitas. 😄

Aku dalam Keadaan Sadar dan Aku Menikmatinya

hong-kong-1990268_960_720

Di awal malam yang dingin aku memutuskan untuk jalan-jalan di suatu tempat. Tempatnya tidak terlalu artistik ataupun elegant, tapi tempatnya cukup bersih dan nyaman sekadar untuk bercakap-cakap dengan malam dan diri sendiri.

Waktu itu meski musim hujan, aku sangat bersyukur sekali karena langit terlihat cerah dan bintang-bintang bertebaran begitu indah untuk menambah suasana malam menjadi semakin damai dan segar.

Tujuan utamaku hanyalah sederhana, mencari udara segar dan sesekali melihat hiruk pikuk kendaraan di perempatan, pertigaan, dan sepanjang jalan kota.

Memang waktu itu ada sedikit perasaan yang mengganjal tapi entah apa aku tak begitu paham, jenis perasaan apa itu, tapi yang pasti aku tak perlu ambil pusing. Soal perasaan tak mengapa jika dikesampingkan untuk beberapa saat.

Sesampai di tempat aku duduk dan merebahkan punggung di kursi. Aku memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela yang menghadap ke jalan raya. Khusus malam ini aku ingin menyendiri dan menikmati suasana malam sendirian.

“Mau pesan apa kak?”

“Es Lemon tea yang manis.”

Sesekali teh. Sesekali Lemon tea. Sesekali susu. Sesekali kopi.

Sambil menunggu pesanan diantar kunyalakan sebatang rokok untuk menenangkan suasana dan keadaan. Sebenarnya bukan menenangkan, tapi mengisi waktu luang.

Satu hisapan, dua hisapan, dan beberapa kali hisapan. Kuhembuskan dengan pelan dan kulakukan perasaan sadar.

Pesanan datang.

Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk menikmati yang manis-manis dan segar.

Sambil membuka-buka smartphone, kulayangkan pandangan ke jalanan yang ramai. Begitu ramainya.

Malam yang menyajikan begitu banyak tontonan. Entah itu untuk dinikmati, dikritisi, diceritakan, atau sekadar dijalani untuk menyambut pagi yang diharapkan cerah.

Dari rumah menuju tempat ini kira-kira kuhabiskan waktu sekitar lima belas menit. Melewati dua traffic light. Kalau tidak salah melewati tiga pertigaan dan empat perempatan. Dan satu bundaran.

Ke tempat ini aku menaiki sepeda motor. Terlalu lama menurutku kalau harus dilewati dengan berjalan kaki. Malas juga iya.

Perjalananku kemari tidak sedikit motor dan mobil yang aku dahului ataupun bersimpangan denganku. Ratusan jika ada waktu dan mau untuk menghitungnya.

Sampai saat ini pun ketika aku duduk dan memandang jalanan, masih banyak motor dan mobil yang berlalu lalang. Apa maksud dari semua ini?

Kenapa ada pertanyaan di atas. Apakah perlu aku menjawabnya sambil menghabiskan sebatang rokok yang masih berada di sela jari tengah dan jari telunjukku.

Aku punya kehidupan. Mereka juga punya kehidupan. Semua orang yang tadi bersimpangan denganku dan semua orang yang tadi aku dahului kendaraannya juga punya kehidupan. Beberapa orang yang menyebrang jalan juga punya kehidupan.

Penjual es cincau, nasi goreng, bakso, mie ayam, bakmi godok, semua pedagang yang berjejeran di pinggir jalan juga punya kehidupan.

Mereka sama denganku. Sama-sama manusia yang diamanahkan untuk menjaga bumi dan menikmati malam.

Sama-sama makan dan sama-sama minum. Sama-sama punya kebutuhan dan keinginan. Sama-sama punya cita-cita. Sama-sama ingin menjadi yang lebih baik dan baik.

Sekarang aku duduk menikmati es lemon tea. Berpikir yang aneh-aneh dan sesekali menghisap sebatang rokok.

Sebentar lagi mereka yang ada di jalanan juga akan sampai rumah. Bertemu dengan keluarga. Orang-orang yang mereka sayangi dan cintai. Ngobrol sebentar, membersihkan diri, makan malam, lalu beranjak ke kamar tidur untuk merangkai mimpi-mimpi.

Karena mereka punya kehidupan.

Aku secara sadar duduk. Menikmati setiap hembusan nafas yang kuhirup. Merasakan detik-detik waktu berlalu. Merasakan bahwa aku sedang berada di suatu tempat untuk meminus es lemon tea dan menghabiskan sebatang rokok. Aku sadar karena aku punya kehidupan.

Aku juga akan sama nanti ketika aku pulang dari tempat ini. Aku akan bertemu dengan orang-orang yang aku sayangi dan cintai, ngobrol dengan mereka, bercanda, bermain-main, membuat secangkir kopi, membaca beberapa lembar buku bacaan, lalu beranjak untuk tidur. Ujung-ujungnya sama.

Aku dan mereka tidur. Istirahat untuk melepaskan lelah dan berharap lekas lelap.

Tapi apakah besok pagi aku akan sadar seperti malam ini. Apakah besok pagi aku bisa merasakan nafas-nafasku. Apakah besok pagi aku bisa merasakan suasana cerah dan nyamannya kehidupan.

Atau aku akan kembali lupa. Lupa jika aku punya kehidupan dan pantas untuk menikmatinya.

Atau aku akan merasakan yang sebaliknya. Berkutat dengan permasalahan dan hanyut dalam rutinitas.

Kalau dalam keadaan sadar itu tak mengapa.

 

#lagigakwaras

Catatan Idul Qurban 1438 H dari Pinggiran Yogyakarta

news_34_1486416540
credit: satuharapan.com

Saya berasal dari sebuah desa kecil di pinggiran Kabupaten Blora. Perjalanan ke desa saya memakan waktu empat puluh lima menit sampai satu jam dari pusat kabupaten. Jalan sebagai penghubung ke desa saya dari Blora bisa dikatakan mulus-mulus-menjengkelkan. Saya tidak bisa mengatakan seluruhnya jelek. Ada zaman di mana jalannya halus. Ada zaman jalannya ‘seperti kali asat’.

Tapi bukan itu yang ingin saya catat. Berbicara soal desa saya adalah berbicara soal kenangan. Karena bagaimanapun saya sudah lama sekali tidak tinggal di desa alias pergi merantau berburu pendidikan. Kira-kira sudah lebih dari delapan tahun saya merantau, hijrah mencari sesuatu yang baru.

Di hari yang masih haram berpuasa sunah ini, saya membuat catatan perihal Idul Qurban dari masa ke masa. Selain sebagai kenangan, catatan ini tidak lain-tidak bukan adalah sebagai pengingat, bahwa sampai saat ini, saya perlu dan harus bersyukur masih diberi kesempatan untuk bersua dengan Idul Qurban yang begitu menyenangkan.

Saya mulai dari Idul Qurban saat saya masih SD dan SMP. Karena masa-masa itu saya masih berlarian dan bercanda ria di halaman desa dan pekarangan rumah. Saya kira semua desa-desa sama ketika Idul Qurban datang. Tentu saja yang saya maksud adalah desa di sekitaran Kabupaten Blora. Berbicara Idul Qurban di masa itu adalah berbicara tentang Sapi dan Kambing. Karena yang saya ingat hewan Domba masih sulit untuk ditemui di desa, khususnya desa saya.

Hewan yang paling sering mampir untuk disembelih adalah hewan Kambing. Ada juga satu sampai tiga ekor sapi yang menemani untuk merayakan Idul Qurban. Karena bagaimanapun desa saya adalah desa yang kecil, jadi kalau ada orang dermawan yang ber-qurban sapi, itu merupakan suatu kabar yang menyenangkan dan harus disyukuri.

Pun saat tahun paceklik datang, rasa syukur harus tetap dilantunkan. Meskipun tak ada Sapi atau Kambing yang disembelih. Tahun seperti ini memang kedengarannya lucu, memperingati Idul Qurban, tetapi tidak ada hewan Qurban sama sekali. Jadi sehabis Sholat Ied tidak ada kegiatan atau ritual-ritual selayaknya. Jikalau ada rezeki, biasanya untuk menyiasati tahun seperti ini yaitu dengan menyembelih Ayam di masing-masing keluarga. Keluarga saya salah satunya.

Idul Qurban masa kecil bercerita tentang nyate bareng keluarga, makan rendang buatan mamak, dan sop balungan yang pedasnya ngangenin. Meski dagingnya yang didapat tidak seberapa, tapi jangka penyimpanannya bisa bertahan empat sampai lima hari mendatang. Kan yang makan sedikit.

Menginjak SMA, saya putuskan ikut teman untuk masuk pondok pesantren di dekat Kota Kabupaten Blora. Jadi, dulu niatnya masuk pesantren masih ikut-ikutan, “daripada nge-kost, lebih baik di pondok, biar sikit-sikit tahu soal Agama Islam”. Berbicara Idul Qurban di pondok pesantren adalah berbicara tentang pilihan. Pilihannya tetap di pondok –ikut cincang-cincang daging qurban, atau pulang ke rumah untuk merasakan masakan mamak.

Tiga kali Lebaran Qurban yang saya lewati waktu di pondok, saya hanya pulang sekali. Itupun karena di pondok tidak ada hewan qurban yang disembelih. Pilihannya jika ingin tetap menikmati daging qurban, ‘pulang’ adalah pilihan yang terbaik. Setelah saya call rumah, dan di rumah ada hewan qurban, saya langsung cuss pulang.

Dua tahun sisanya adalah bebicara tentang kemenangan, berlimpahnya kenikmatan. Pondok saya ada rezeki untuk menyembelih Kambing, bahkan juga Sapi. Mulai dari diajari Mbah Yai nyembelih agar daging kambingnya tidak bau prengus, diajari nguliti, nyacah balungan, ngirisi daging, hingga ngebersihin jeroan –yang kalau kebanyakan, sebagian langsung dibuang begitu saja.

Di pondok dulu, perihal masak-memasak, kami masih dimasakin. Termasuk daging qurban. Tapi untuk tusuk-menusuk daging kotak-kotak kecil untuk dibakar adalah kelihaian pribadi masing-masing. Karena dimasakin itu, masakan jadi awet dan tahan lama. Dengan pengawasan dari Bu Nyai pula, jarang ada anak santri yang berani comot sembarangan.

Dan terakhir setelah lulus SMA, saya melanjutkan perantauan ke Kota Pelajar. Saya masuk pondok pesantren untuk yang kedua kalinya. Soalnya masih bodoh. Di sini, suasana Idul Qurban jauh berbeda dengan suasana di desa saya. Maksud saya adalah suasana sembelih-menyembelih qurban.

Yang perlu dicatat, bahwa hewan qurban di kota lebih banyak yang disembelih daripada hewan qurban di desa. Di kota yang perputaran uangnya cepat sekali juga berdampak pada tingginya kesadaran masyarakatnya untuk ber-qurban.

Idul Qurban lima tahun terakhir bercerita tentang ah sudahlah. Tidak jauh berbeda dengan ketika saya di pesantren yang dulu. Perbedaannya di sini lebih kepada terjun langsung bantu-bantu ke masyarakat. Maklum sekarang udah gede.

Cerita dari Si Angsa

​Kesendirian memanglah sebuah takdir. Sebuah hal yang tak bisa ditentukan, diminta, ataupun dipilih oleh sesuatupun. Hal itu tentulah sudah digariskan oleh Yang Mahasendiri. Jadi, jika kau mencoba menolak kesendirian, boleh jadi kau menolak takdir. Bisa juga kau menciptakan takdirmu sendiri, yang memang tidak mau sendiri, dan memang itulah takdirmu untuk menolak kesendirian.

 

 

Paragraf di atas bukanlah cerminan keadaan saya saat ini. Karena sekarang ini, mulai dari kemarin-kemarin, sampai nanti waktunya, di pesantren, tak ada ceritanya santri merasa sendiri. Sungguh aneh bagi saya jika cerita itu ada.

Tulisan ini saya tujukan untuk si angsa yang merana menikmati kesendiriannya. Ia hidup dan bermain tepat di utara tempat saya tinggal. Hari-hari dilewatinya bernyanyi sendirian. Di pagi hari, yang ayam-pun berkokok saling bersaut-sautan, si angsa hanya menontonnya sambil jalan dua tiga langkah ke depan. Saya sejenak menyempatkan waktu melihatnya dari lantai dua tempat saya tinggal sebelum turun untuk mandi pagi.

Menjelang siang, udara semakin panas, angin berhembus sepoi-sepoi membawa butiran debu halus yang bisa memerahkan mata. Saya tahu ini masih musim kemarau yang menunggu untuk digantikan musim penghujan.

Padahal semua tahu, si angsa merupakan binatang yang bersinggungan langsung dengan air. Siang yang panas, sendirian, angin kadang kencang-menerjang, si angsa mondar-mandir mencari tempat yang teduh. Saya pun tahu, dia tak pernah merasakan kesendirian dan tak pernah pula punya pemikiran memberontak atas perlakuan majikannya tentang hilangnya kedua kawannya. Iya. Kedua kawannya hilang entah kemana. Saya pun penasaran kemana perginya dua angsa yang sering ribut di siang dan malam hari itu.

Di senja hari, saat udara dingin mulai bertiup, saya sengaja menengok sebentar si angsa. Saya selalu penasaran terhadap tingkah laku binatang, termasuk si angsa itu. Saya kadang, kalau pikiran sedang mampet, sering meneriakinya dari atas untuk sekadar mencari perhatian si angsa.

“sssstttt, sssstttt”.

Si angsa hanya melihat dengan satu matanya sambil menjawab, “Ngoang, ngoang”. Cukup dua kali jawaban lalu melenggang lagi mengejar ayam-ayam yang kebetulan berada di dekatnya.

“Sssst, sssst, hei, bolomu ngendi? Kok dewean?”

“Ngoang. Ngoang”

“Hei, ssst. Ssst”

Malahan kawan saya berkomentar, “Kasihan, sendirian”. Saya menambahi, “saya tak habis pikir, kemana dua angsa lainnya? Dijual, dimasak dan dibakar buat lebaran kemarin? Entahlah.”

Harusnya si angsa-lah yang merakasan kesendirian itu. Di halaman yang luas, setiap ia bernyanyi ‘ngoang-ngoang’ tidak ada yang menyahutinya atau sekadar mengapresiasi lagunya. Kawannya telah hilang tanpa kabar apapun.

Saat menjelang malam, sehabis adzan Maghrib berkumandang, suaranya terdengar lebih parau dan menyayat hati. Lagu yang menyedihkan bagi telinga saya dan kawan-kawan saya dikumandangkannya. Sapaan mesra untuk malam yang dingin dan sunyi. Mungkin itu lirik sebuah doa untuk Tuhan agar hujan segera datang untuk membasuh bulunya yang sudah menguning karena tanah yang basah.

Dia hanya diberikan tanah yang basah untuk bermain, setidaknya itu sudah bisa mendinginkan hawa tubuhnya di siang tadi yang terpanggang sinar matahari.

Saya dulu, sebelum lebaran, sempat peduli terhadap angsa-angsa ini. Dulu ketika masih lengkap tiga ekor. Mereka seringnya main di depan rumah tempat saya tinggal –pondok 2. Jika pagar pekarangan sebelah –tempat mainnya si angsa terbuka, bisa dipastikan larinnya akan ke depan pondok 2 ini.

Waktu itu sedang hujan lebat-lebatnya. Ketika saya sedang berada di teras, saya melihat ke-tiga angsa ini hanya diam saja di tengah-tengah halaman pondok dan tak sekalipun berinisiatif untuk berteduh. Padahal di samping mereka ada tempat parkir motor yang apabila dipakai berteduh lima puluh ekor angsa masihlah sangat muat.

Saya yang waktu itu belum mengenal si angsa –kalau mereka suka air, rela hujan-hujanan untuk menggiring mereka berteduh di tempat parkiran motor. Saya reflek merasa kasihan karena mereka kehujanan. Tetapi yang saya dapat, mereka hanya muter-muter di halaman pondok dan tidak ada niat untuk lari ke tempat parkiran. Saya sempat berpikir, “ini pada gak tahu tempat teduh apa gimana ya? apa emang mereka kagak bisa lihat saat hujan turun?” Saya geli ketika mengingat momen itu. Betapa kupernya saya yang tidak tahu kalau angsa-angsa itu sedang menyanyi kegirangan karena menyambut hujan. Jadilah waktu itu saya basah kuyup tanpa hasil dan mengutuki mereka.

Tetapi sekarang, si angsa tidak lagi mempunyai teman untuk bercengkrama. Kebersamaan telah lenyap dari siang dan malam yang dilaluinya. Tak ada lagi kawan yang meneruskan lagunya. Nyanyiannya pincang membelah sunyinya malam. Kalaupun ada ayam, saya yakin bahasa mereka berbeda. Ayam pun jarang-jarang bersuara di malam hari, kalaupun bersuara pastinya ada maksud dan tujuan tertentu, bukan semata-mata menyahut dan meneruskan lagu yang dinyanyikan si angsa.

Saat seperti inilah, yang membuat hati saya risau. Mengapa saya yang merasakan kesendirian jika angsa itu bersuara di awal malam? Kesendirian bagi si angsa yang berakhir pada rasa kasihan. Saya merasa kasihan padanya. Mengapa dia harus sendiri? Disamping pondok saya pula. Mengapa pemiliknya tidak sekalian menjualnya atau membakarnya sekaligus bersama dua angsa lainnya? Mengapa disisakan dia seekor?,

Saya terlalu naïf jika berseloroh ‘bedebah‘ pada pemiliknya. Tapi, ya memang begitu saya. Ra tego ngrungokne “ngoang-ngoang” ijen. Kalau boleh dan mau bisa saja angsa itu menjadi lauk makan untuk mengurangi kesedihannya. Karena saya tahu, lebih dari jam dua belas malam suasananya akan sepi dan dipastikan aman.

Saya penasaran, apa jangan-jangan si angsa ini emang dibiarkan hidup untuk menyambut lebaran qurban yang sebentar lagi? Wallahu a’lam.
Yogya, 7817