Arsip Kategori: Bentang Pustaka

Review Book: Cinta Berpihak bagi Mereka yang Menunggu | Sirkus Pohon by Andrea Hirata

Title: Sirkus Pohon

Author: Andrea Hirata

Publisher: Bentang Pustaka

Published: 2017

Page: 383 p

ISBN: 978 602 291 4099

Kalau sudah cinta, menunggu dan rindu adalah bagian yang harus diterima.”

Begitulah inti dari kisah Sirkus Pohon, buku yang fenomenal dan membuat pembacanya limbung bersama tokoh dan ceritanya. Kita akan berkenalan dengan Hobri, pemeran utama sekaligus pencerita yang akan membawa kita dari awal halaman sampai cover belakang buku. Kita akan membaca kisah senangnya, sedihnya, kisah cintanya dengan Dinda, semangatnya dalam bekerja, dan banyak lagi.

Hobri adalah nama panggilan. Nama sebenarnya adalah Sobri bin Sobirinuddin. Laki-laki setengah baya yang mengarungi kehidupan di kampung kecilnya. Keberuntungan tidak selalu di pihaknya. Keluarganya -terutama adik perempuannya- selalu memarahinya karena kerjanya yang hanya serabutan tidak jelas. Gaji tidak sepadan dan banyak umpatan yang tidak bisa ditulis di sini.

Carilah kerja yang tetap boi. Yang ada absennya setiap pagi. Pakai seragam. Pakai sepatu mengkilap. Ada mandornya. Ada cuti setiap tahunnya. Ada liburnya. Kalau malas ada yang memarahimu.” Kurang lebih seperti itu.

Namun sayang, ijazah Hobri hanya sebatas SMP sedangkan kebanyakan pekerjaan mencantumkan ijazah SMA sebagai syarat utama diterimanya kerja. Hingga suatu hari pertemuannya dengan Dinda membangunkan semangatnya untuk tidak lelah mencari pekerjaan. Semangatnya setinggi langit dalam hal ini. Karena Dinda mensyaratkan harus punya pekerjaan tetap untuk bisa melamarnya.

Sirkus menjadi tempat melabuhnya diri Hobri dalam berselancar mencari pekerjaan. Karena syaratnya tak neko-neko dan mudah untuk dipenuhi. Asalkan jujur, ulet, dan pekerja keras. Hobri menjadi badut yang menghibur penonton di sirkus tersebut.

Meskipun sudah mempunyai pekerjaan yang tetap, usahanya untuk melamar Dinda masih terkendala oleh sesuatu yang tak bisa didefinisikan oleh akal sehat. Dinda linglung. Diam seribu bahasa. Jati dirinya lenyap tak ada yang tahu. Berdiam diri di rumah dan tak diperbolehkan oleh keluarganya keluar rumah.

Hobri terpukul. Dia kalap dalam segala hal. Separoh jiwanya telah linglung dan tak lagi mengenalnya. Hatinya telah tertambat dalam diri Dinda. Ia sudah tak bisa lagi mencintai yang lain. Dinda satu-satunya harapan hidupnya. Ibu dari anak-anaknya. Penghias rumah dan keluarganya.

Tapi tenang, di akhir cerita Hobri akan menemui kebahagiaannya sendiri. Dengan semboyan ‘Sekali Cinta Tetap Cinta’, keajaiban menghampiri hubungan Hobri dan Dinda. Kerja kerasnya menunggu Dinda terbayar lunas. Tentu saja dengan intrik-intrik seru yang Hobri lalui selama menunggu Dinda.

Selain cerita di atas, kita akan berkenalan dengan Tara dan Tegar. Dua bocah yang jatuh cinta karena perceraian masing-masing orang tuanya. Mereka dipertemukan di Pengadilan Agama Kota Kabupaten. Dari perantara sebuah kejadian yang tak bisa dilupakan Tara, Tegar menjadi Pembela yang nantinya menjadi 96 lukisan wajah yang menghantui Tara tahun demi tahun. Si Pembela begitu sebutan yang dipakai Tara untuk menggambarkan nama sketsa wajah Tegar waktu kecil hingga prediksinya saat dewasa.

Percintaan yang rumit antara Tegar dan Tara, tapi membuat gelisah tersendiri bagi pembacanya. Mereka sama-sama mencintai sejak pertama kali bertemu di kantor Pengadilan Agama. Menginjak dewasa mereka masih menyimpan rasa itu untuk sama-sama saling menemukan. Berbagai cara dan upaya telah dilakukan oleh masing-masing pihak. Dari hal yang masuk akal sampai hal yang konyol dilakukan. Tapi apa daya, Tuhan selalu punya cerita lain di baliknya.

Cinta akan datang pada mereka yang berjodoh.

Akhirnya Tara dan Tegar dipertemukan dalam Sirkus yang dikelola Tara. Pertemuan pertama Tara belum tahu bahwa Tegar adalah si Pembela yang ia cari mati-matian saat SMP dan SMA. Pun juga sebaliknya dari sisi Tegar.

Menurut saya dua kisah cinta di atas lebih seru apa yang telah dilalui oleh Tara dan Tegar. Karena masing-masing saling berusaha untuk menemukan satu sama lain. Masing-masing punya keinginan kuat untuk menemukan yang lainnya. Dan itu didasari oleh cinta dan rindu.

Sedang kisah Hobri adalah kisah perjuangan oleh seorang laki-laki yang jatuh cinta pada seorang perempuan. Ada perjuangan yang sangat dominan yang dilakukan oleh Hobri. Dia rela mengorbankan apa saja dan melakukan apa saja demi perempuannya, Dinda. Kisah cinta Hobri adalah kisah cinta seorang laki-laki yang sangat-sangat tulus. Ia mencintai dengan seluruh jiwa raga. Ia mencintai tanpa mengerti apa arti sebuah keluarga. Ia mencintai hanya untuk Dinda. Hobri adalah panutan dalam memperjuangkan sebuah cinta.

Seperti buku-buku yang lain Andrea Hirata selalu menyelipkan humor dan kisah konyol di dalamnya. Dalam buku ini saya bisa menyimpulkan bahwa dari hampir kesemua buku Andrea Hirata adalah tentang Kesetiaan seorang laki-laki dalam mencintai pasangannya. Entah itu perempuannya menerima atau menolak cinta yang diberikan. Hal itu bisa dibaca di tetralogi Laskar Pelangi, Ayah, dan Sirkus Pohon ini.

Sudah itu saja dari saya. Di akhir review ini saya mau mengutip satu pantun dari buku ini di halaman 296.

Anak dara pandai berlagu; Sembunyi malu di balik pintu

Duduk bersila ku di depanmu; Ingin ku dengar kisah-kisahmu.

Iklan

Book Review: Gadis Berbunga Kamelia by Alexandre Dumas JR | Ketika Cinta Berbuah Penderitaan

IMG_20170604_230631

Title: Gadis Berbunga Kamelia: Roman Klasik yang Menyentuh
Author: Alexandre Dumas JR
Translator: Rika Iffati
Publisher: Bentang Pustaka
Published: 2009
Page: 319 p
ISBN: 978-979-1227-47-6
Detail: Goodreads

Sudah dua buku yang saya baca mengenai pelacur –termasuk novel ini. Kesemuanya novel. Satunya yaitu bukunya Eka Kurniawan, Cantik Itu Luka.

Wanita penghibur mendapat jatah tersendiri dalam strata sosial kehidupan bermasyarakat. Mereka juga mempunyai prinsip-prinsip yang apabila ditabrakkan dengan prinsip manusia kebanyakan akan bertolak belakang. Prinsip mereka misterius, mungkin yang paham hanyalah mereka dan Tuhan mereka.

Saya mendapatkan buku ini di salah satu perpustakaan terbesar di Yogyakarta. Sebenarnya saya pinjamnya seminggu sebelum Ramadhan, tetapi baru kelar seminggu setelah Ramadhan.

Penjabaran cerita dalam buku ini tidak seterbuka Cantik Itu Luka. Ceritanya lebih menuju ke romantika sebuah hubungan. Jadi, tidak ada salahnya jika menjadikan list untuk diselesaikan di Bulan Ramadhan.

REVIEW

Gadis berbunga Kamelia atau lebih akrab dipanggil Madam Marguerite adalah seorang wanita penghibur terkenal di Paris yang meninggal sekitar tahun 1847 M. Hampir setiap pria yang tinggal di Paris akan mengenalnya karena kecantikan dan keanggunannya. Marguerite meliliki pesona tersendiri dibandingkan wanita penghibur lainnya. Dia tidak semanja wanita penghibur lainnya.

Pada saat menghadiri pesta atau pada saat menonton teater, kebanyakan teman-temannya hampir selalu menggandeng pria untuk dipamerkan, tapi, tidak dengan Marguerite. Dia biasa berjalan sendiri. Menghadiri pesta sendiri. Menonton teater sendiri. Dia tidak peduli, ada atau tidaknya lelaki yang bersamanya. Dia menganggap sama saja.

Seperti wanita-wanita penghibur lainnya, bagi mereka tidak ada cinta sejati dalam hidup. Cinta hanyalah hasrat sementara yang kudu dipuaskan. Bagi mereka cinta kaum lelaki tidak pernah utuh bahkan mereka menganggap cinta lelaki hanyalah rayuan belaka untuk mendapatkan satu malam bercinta atau lebih bersamanya.

Kehidupan wanita penghibur di Paris sangatlah mahal termasuk kehidupan Marguerite yang sebulan bisa menghabiskan uang tujuh ribu france. Tetapi, itu tidak masalah baginya karena sumber uangnya sangat setia dan selalu memenuhi kebutuhannya.

Adalah Armand Duval, seorang lelaki yang membuat Marguerite kembali ke kesucian yang ia yakini. Lelaki yang membawanya dalam kebahagiaan dan menyeretnya pada kesengsaraan cinta. Armand menjadi madu sekaligus duri dalam akhir kehidupan Marguerite.

Dalam awal-awal pertemuan, Armand adalah pemuda yang membawa cinta suci untuk Marguerite. Pemuda kampung yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang wanita penghibur.

Ketika Marguerite jatuh sakit, Armandlah yang menanyakan keadaan Marguerite setiap harinya selama satu bulan penuh tanpa meninggalkan identitas. Ini adalah tindakan yang dilakukan oleh seorang yang belum kenalan satu sama lain tetapi dalam hati salah satunya sudah tumbuh benih-benih cinta.

Dan setelah takdir menemukan mereka pada pertemuan pertama, Armand langsung mengungkapakan cintanya.

“Dengar, Marguerite, entah pengaruh apa yang telah engkau tanamkan kepada kehidupanku, tetapi saat ini, tak satu wanita pun, bahkan saudara perempuanku, yang membuatku merasakan ketertarikan yang saat ini kurasakan untukmu. Sudah seperti ini keadaannya sejak pertama kali aku melihatmu. Nah, demi Tuhan, jaga kesehatanmu. Jangan menjalani kehidupan seperti yang kau lakukan saat ini.” (Hal 105).

Meskipun Marguerite berkali-kali mendapatkan pernyataan cinta dari para pria, tetapi, Marguerite tahu betul cinta mana yang tulus dan gombal. Pemuda itu berkata dengan sungguh-sungguh karena disertai tetesan airmata kepedulian akan kesehatan Marguerite.

Menjadi kekasih seorang wanita penghibur tidaklah mudah sekaligus tidak murah. Marguerite tidak mau menjadikan Armand bangkrut dalam sekejap karena berusaha mencintainya. Dan apa yang dikatakan Armand, setelah Marguerite menyarankan untuk menjadikan hubungannya sebatas pertemanan saja?

“Sejak aku melihatmu, entah mengapa, kau telah menduduki suatu tempat dalam hidupku. Jika aku mencoba mengenyahkan pikiran tentangmu dari benakku, pikiran itu selalu kembali lagi. Ketika aku berjumpa denganmu hari ini, setelah tak melihatmu selama dua tahun, kau meninggalkan kesan yang lebih dalam di hati dan pikiranku ketimbang sebelumnya karena sekarang kau telah mengizinkanku datang mengunjungimu, karena aku telah mengenalmu, karena aku telah mengetahui segala keanehan dalam dirimu. Kau telah menjadi kebutuhan hidupku dan kau akan membuatku gila, bukan saja kalau kau tak mencintaiku, tetapi juga kalau kau tak memperbolehkanku mencintaimu.” (Hal 109).

Tetapi, bagaimana pun, pada akhirnya Marguerite menerima cintanya Armand. Cinta yang tulus itu juga disambut dengan cinta yang murni oleh Marguerite. Bagi Marguerite, cinta dari Armand adalah cinta yang ia nanti-nantikan. Cinta yang dapat menghapus segala masa lalunya dan menyambut kebahagiaan-kebahagiaan selanjutnya.

Mereka saling mencintai. Sangat saling mencintai. Hingga pada suatu waktu Marguerite meminta kepada Duke –orang tua yang menganggapnya anak, untuk membelikan rumah kecil di Bougival –pedesaaan di Paris. Dalihnya untuk beristirahat dan menikmati pedesaan supaya penyakit TBC yang ia derita segera sembuh.

Tetapi, itu hanyalah sebuah dalih semata. Ujungnya, rumah itu digunakan Marguerite dan Armand untuk menikmati kebersamaan dan kebahagiaan.

Saking cintanya, Marguerite tidak pernah meminta apapun dari Armand. Apapun. Malahan semua yang dimiliki Marguerite –perhiasan, kereta, gaun semuanya dijual dan digadaikan untuk memenuhi kebutuhan dan melunasi hutang-hutangnya.

Jalan cinta tidak selalu mulus. Ada selalu rintangan dan halangan untuk menguji sebuah hubungan. Pun hubungan asmara antara Marguerite dan Armand Duval.

Masalah datang ketika Ayah Armand tidak menyetujui hubungan mereka. Ayah Armand menganggap bahwa hubungan mereka hanyalah cinta sesaat dan akan merusak masa depan Armand yang masih panjang. Madam Marguerite dianggap masih seperti dulu yang bisa membuat bangkrut siapa saja yang menjadi kekasihnya, termasuk Armand.

Maka dari itu dengan permohonan dan intervensi yang menyentuh dari Ayah Armand, akhirnya Marguerite pun memilih keputusan yang sangat ia benci. Ia harus memutus hubungan dengan Armand bagaimana pun caranya. Tentu saja demi kebahagiaan keluarga besar Armand Duval dan demi berlangsungnya pernikahan adik perempuan Armand Duval.

Dengan tangisan dan rintihan sakitnya perpisahan, akhirnya meluncurlah surat yang ditulis Marguerite untuk Armand.

“Saat kau membaca surat ini, Armand, Aku sudah menjadi wanita simpanan lelaki lain. Hubungan kita sudah usai.
Kembalilah kepada ayahmu, Kawanku, serta kepada saudarimu. Dan, di sana, di sisi gadis muda yang masih suci itu, yang tak mengetahui segala penderitaan kita, kau akan segera melupakan apa yang akan membuatmu menderita gara-gara makhluk penuh dosa bernama Marguerite Gautier, yang pernah kau cintai sesaat dan berutang kepadamu atas satu-satunya saat membahagiakan dalam hidupnya yang, dia berharap, tak akan lama lagi sekarang.” (Hal. 257).

Mereka putus selama-lamanya.

CLOSING

Dalam novel ini, bagian yang sangat-sangat saya benci adalah surat Marguerite kepada Armad. Surat itu mengubah segala-galanya.

Armand yang dulunya sangat mencintai Marguerite, karena darah mudanya, darah balas dendam kepada kekasih yang memutuskannya, tanpa tahu sebab-sebabnya, membuat hari-hari Marguerite semakin sakit dan sakit.

Menjelang ajalnya, karena TBC yang semakin parah, Marguerite tidak berdaya. Raganya rusak oleh penyakit, sedang jiwanya telah hancur karena cinta yang tak bisa ia perjuangkan. Saat-saat seperti ini, semua telah melupakannya, kekasih-kekasihnya dulu, teman-temannya, kecuali adik perempuannya dan pembantunya yang setia di sisinya, merawatnya hingga ajal menjemput.

Sebelum maut memeluknya, ia tuliskan beberapa surat yang berisikan penjelasan-penjelasan, mengapa ia dengan sepihak memutuskan Armand. Surat-surat itu berisi kepedihan dan rasa rindu yang sangat mendalam pada Armand, kekasihnya yang pernah membuatnya bahagia dulu. Surat-surat Marguerite kepada Armand memenuhi dua bab terakhir dalam novel ini yang mungkin membuat pembaca baper.

Impian yang Marguerite inginkan yaitu menemui ajal dalam genggaman tangan kekasihnya, dalam pelukan cinta sejati, pada akhirnya hanya sebuah impian. Marguerite menemui ajalnya di kamar tidurnya, dalam kesepian, meninggalkan surat-surat dan kisah cinta yang memilukan.

Ia merelakan kebahagiaannya demi kehidupan kekasihnya –Armand, yang lebih baik. Ia rela menderita demi gadis suci yang akan melangsungkan pernikahannya. Ia rela mengorbankan jiwanya untuk sesuatu yang tak bisa ia nikmati. Ia hanya bisa mengucap nama Armand di penghujung ajalnya untuk mengantarkannya ke kehidupan abadi.

Novel ini membawa kesedihan yang cukup mengena bagi pembacanya. Bagi saya, roman Laila Majnun ataupun Romeo Juliet masih kalah sedih ceritanya dengan Gadis Berbunga Kamelia ini.

Terakhir, entah kisah ini kisah nyata atau tidak, Bunga Kamelia yang menjadi ikon Marguerite akan tetap bersemi di atas makamnya, sebab penyesalan yang mendalam dari Armand Duval, kekasihnya.

Review: Heidi by Johanna Spyri | Kehidupan Si Kecil Heidi yang Mengajarkan Kegembiraan Hidup dan Ketulusan Berbagi

heidi

Title: Heidi
Author: Johanna Spyri
Publisher: Bentang Pustaka
Published:
Page: 352 p
ISBN: 9780753454947
Detail: Goodreads

“Karena Tuhan sudah tahu apa yang terbaik bagi kita, sedang kita tidak.”

Berlatar di sebuah desa di Negara Swiss. Hiduplah gadis kecil yang diasuh oleh seorang kakek tua yang terkenal garang dan menjahui desa, bahkan menjahui Tuhan. Gadis tersebut bernama Heidi. Kakek yang mengasuhnya lebih dikenal oleh penduduk desa dengan sebutan Paman Alm.

Kisah yang diangkat oleh penulisnya berceerita tentang kehidupan dan kepolosan anak-anak. Tak jarang membuat saya geli sebagai seorang remaja ketika membaca cerita ini. Heidi dan Peter begitu bersemangat dan berkarakter.

Heidi, begitulah orang-orang memanggilnya. Ia gadis kecil yang dititipkan bibinya ke Paman Alm. Padahal orang-orang telah memperingati bibinya untuk tidak menitipkan Heidi ke Paman Alm, tapi bibinya tetap saja bersikukuh menitipkannya.

“Kasian gadis kecil itu”. Komentar para tetangga atas kepeduliannya terhadap Heidi.

Bagaimana tidak. Paman Alm sendiri dikenal tidak punya perasaan. Lebih memilih menyendiri di atas gunung. Hidup dengan kambing-kambingnya. Turun sesekali ke desa hanya untuk menjual mentega kemudian pulang membawa roti kering. Bahkan Paman Alm pernah berkata bahwa ia sudah memusuhi Tuhan, sehingga ia tak pernah lagi kelihatan datang ke gereja.

Maka, kekhawatiran tentang kehidupan Heidi begitu menjadi perhatian masyarakat Dorfli. Mereka takut Heidi tak ter-urus. Mereka juga takut Heidi ketika besar nanti tidak seperti gadis-gadis sebayanya karena didikan oleh kakeknya.

Tapi, apakah seperti itu dugaan mereka para masyarakat Dorfli mengenai Paman Alm?

Heidi begitu senangnya ketika melihat sang kakek. Begitupun sebaliknya. Paman Alm menyambut Heidi, keluarga barunya dengan antusias. Meski awalnya begitu kaget, karena bibinya sudah tak mau lagi mengurus Heidi, Paman Alm mau tidak mau harus mengurus gadis kecil itu.

Kursi baru pun dibuat. Begitu juga dengan meja makan. Tempat tidur baru untuk Heidi seadanya dengan memanfaatkan tempat penyimpanan jerami. Heidi sendiri yang meminta tempat jerami untuk dijadikan tempat tidurnya, karena berada di atas andang-andang dan ada sebuah jendela yang menampakkan padang rumput yang hijau terhampar.  Jerami sebagai pengganti kasur dan kain tebal sebagai alasnya. Satu kain tebal lagi sebagai selimut untuk penghangat ketika malam dan musim dingin tiba.

Di gunung, Peter merupakan teman baru Heidi yang berprofesi sebagai penggembala kambing-kambing milik para warga desa. Termasuk dua kambing milik Paman Alm. Setiap pagi, berbekal dengan peluit dan sebilah tongkat bambu, Peter akan berangkat menggiring kambing-kambingnya ke atas gunung untuk mencari tempat strategis. Ketika ada teman baru bernama Heidi yang ikut dengannya, hari-hari menggembala Peter lebih ceria. Selain ada teman bermain, sering juga Heidi memberikan jatah makannya untuk Peter karena porsi makan Heidi yang sedikit. Itulah yang ditunggu Peter setiap hari.

Semuanya berubah setelah Heidi dipaksa untuk menjadi teman seorang gadis kecil di Frankfurt, Jerman oleh bibinya. Hal itu membuat Paman Alm, Peter, dan orang-orang yang sangat dekat dengan Heidi merasa kehilangan. Kehidupan Heidi pun berubah total, dari yang asalnya terbiasa dengan padang rumput kini harus dibiasakan di dalam rumah gedong dengan gedung-gedung tingggi tanpa warna hijau menghampar.

Dia bertemu dengan Clara yang berusia lima tahun lebih tua darinya. Clara adalah gadis kecil yang cerdas namun selama dua belas tahun ia ditakdirkan  lumpuh dan harus tetap berada di kursi roda untuk melakukan semua aktivitas.

Kelak, pertemuan Keluarga Clara dan Heidi membuat sejarah baru di kehidupan Clara. Tidak hanya itu. Orang-orang yang dekat dengan Heidi di Desa Dorfli pun mendapatkan manfaatnya dari Keluarga Clara. Salah satunya Peter.  Ia memperoleh 1 Penny setiap minggunya seumur hidupnya. Dan Heidi, Ia memperoleh apapun yang tak pernah ia minta namun orang-orang berbaik hati memberikannya.

Ada sebuah percakapan ringan antara Heidi dan Clara yaitu ketika Clara bertanya pada Heidi perihal “Mengapa kita harus berdoa pada Tuhan, sedang segala sesuatu sudah diberikan dan ditetapkan oleh Tuhan pada Kita?” dan inilah jawaban yang diberikan Heidi kepada Clara.

“Kita sebaiknya berdoa kepada Tuhan setiap hari untuk menunjukkan bahwa kita percaya dan tahu bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya. Jika kita melupakn-Nya, Tuhan akan membiarkan kita menempuh jalan kita sendiri, dan kita akan menemui kesulitan.”

Heidi gadis kecil yang baik. Saya belajar untuk tidak menyerah untuk menjadi orang yang baik. Diusianya yang masih belia, kepolosan dan kebaikannya untuk sekarang ini sudah lama hilang di kehidupan modern dan kehidupan orang dewasa.

Dan,

Membaca kisah ini telah mempertajam batin saya tentang kepedulian dan kerja keras. Kepedulian dengan orang lain dan kerja keras untuk tidak mudah menyerah dalam belajar. Heidi mengingatkan saya pada kehidupan keras yang pernah saya alami. Tentang menggembala kambing-kambing, petualangan, dan senangnya bermain serta lelahnya belajar.

Ketika membaca kisah ini juga, saya juga merasakan ada angin-angin imajin yang sepoi-sepoi membelai saya. Penggambaran padang rumput yang hijau terhampar di halaman rumah, berisiknya pohon cemara yang tertiup angin, cahaya matahari yang bersinar menghangatkan, dan bunga-bunga cantik yang mekar setelah musim dingin berlalu memberikan suasana membaca menjadi lebih sejuk dan damai.

Swiss. Terima kasih telah melahirkan satu kisah yang menambah semangat hidup. Kisah yang menghidupkan kepingan masa kecil saya. Kepingan yang merupakan kenangan indah dan petualangan seru yang tak jauh berbeda dengan kisah ini.

Inilah yang saya sukai dari Penulis International, apalagi kalau di sampulnya tertera tulisan Bestseller New York Times atau Bestseller International, pastinya tak akan rugi jika membacanya. So, kalian yang kebetulan menemukan Buku Novel yang berjudul HEIDI maka segeralah pinjam atau beli. Karena setelah selesai membaca, sungguh tak ada penyesalan.

*Sumber gambar: bacaanbzee.wordpress.com

Januari 2017