Review Life’s Golden Ticket: Taman Bermain yang Menyimpan Keajaiban dan Dapat Merubah Tujuan Hidup

IMG_20171107_210710

Title: Life’s Golden Ticket
Author: Brendon Burchard
Translator: Lanny Murtihardjana
Publisher: Gramedia Pustaka Utama
Published: 2008 (ind) 2007 (eng)
Page: 319 p
ISBN: 978-979-22-3853-2
More: Goodreads

“Kau bisa jadi siapapun yang kauinginkan, dan kau bisa melakukan apa saja yang kau inginkan.”

Seorang suami yang menangis tersedu-sedan di samping istrinya yang habis kecelakaan. Istrinya dalam keadaan kritis. Satu dua patah kata keluar dari mulutnya untuk menyampaikan sebuah keinginan yang aneh pada suaminya.

“Pergilah ke Bowman’s Park, carilah keajaiban, dan berjanjilah untukku.”

Si Suami dengan sedih dan masih dalam keadaan terpukul melihat kondisi istrinya, dipaksa Si Istri untuk saat itu juga pergi ke taman bermain yang disebutkan. Si Suami sebenarnya masih penasaran, empat puluh hari istrinya menghilang ketika kembali malah dalam keadaan kritis, dan dengan sekonyong-konyong menyuruhnya untuk pergi ke suatu tempat yang akhir-akhir ini diberitakan banyak kejadian mistis di sana.

Kenyataannya taman bermain itu sudah ditutup sejak dua puluh tahun yang lalu saat seorang bocah laki-laki terjatuh dari kincir ria dan meninggal. Bocah laki-laki tersebut adalah saudara Mary, Istrinya. Ada apa gerangan dan kemana perginya Mary selama empat puluh hari kemarin.

Untuk memenuhi janjinya terhadap Mary, Si Suami pergi ke Bowman’s Park. Ia menemukan mobil istrinya di sana, dalam keadaan normal dan masih utuh.

Di depan taman bermain itu, Si Suami menemukan keanehan-keanehan yang tak bisa dinalar oleh akal sehat. Taman bermain yang diberitakan ditutup itu, dengan seketika hidup dan banyak sekali pengunjung yang lalu lalang untuk mengantri masuk dan menikmati wahana-wahana yang ada di dalamnya.

Si Suami bertemu dengan Henry, orang tua yang baik hati dan rela berkorban untuk menjadi penjamin dirinya agar bisa masuk k ataman bermain. Kenapa harus dijamin? Karena Si Suami tidak punya tiket untuk masuk.

Di dalam taman bermain Si Suami memperoleh keanehan yang justru itulah keajaiban yang dimaksudkan Mary. Di Bilik Kebenaran, Kincir Ria, Tenda Pertunjukan, Perahu Bom-Bom, Kapal Bajak Laut, Komedi Putar, dan masih ada beberapa wahana lagi yang di dalamnya mengajarkan berbagai pelajaran menarik bagi Si Suami.

“Dalam taman bermain, kita lebih sering mengingat wahana yang ekstrim dan menakutkan ketimbang wahana yang menyenangkan dan membuat hati gembira.”

Life’s Golden Ticket tidak sekadar buku, melainkan benar-benar sebuah tiket untuk memasuki sebuah taman bermain dan pembaca bisa bergumul dengan wahana-wahana yang disediakan. Selain sebagai nostalgia masa kecil, ternyata banyak sekali pelajaran-pelajaran yang sering kita lupakan ketika berada di taman bermain.

Banyak sekali pelajaran yang saya dapatkan setelah sampai pada halaman terakhir buku ini. Si Suami yang dimaksud sebagai tokoh utama novel ini adalah kita sendiri. Ya kita sendiri yang mengarungi wahana-wahana tersebut. Kita sebagai pembacanya. Dengan situasi yang bisa dikatakan sama. Permasalahan-permasalahan yang sama. Kecemasan-kecemasan yang sering kita alami. Ketakutan-ketakutan di masa depan. Keraguan-keraguan dalam mengambil keputusan. Bedanya semua itu dicerminkan dalam sebuah cerita yang diperankan oleh sepasang kekasih di antah berantah sana.

Si Suami ketika memasuki sebuah Tenda Pertunjukan dan di dalamnya sedang berlangsung pertunjukan oleh Tukang Sihir, ada beberapa pelajaran yang bisa diambil,

“Tapi sekarang ini aku hanya ingin berbagi rahasia tua ahli sihir: untuk bisa mematahkan mantra, kalian harus mengalahkannya dengan sihir yang lebih kuat. Kalau kalian ingin mematahkan Mantra Masyarakat, kalian harus meramu kemampuan sihir dalam diri kalian yang bisa mengalahkannya. Sihir atau keajaiban itu, yang aku yakin telah kalian lupakan, adalah pengharapan. Kalian harus membanjiri seluruh keberadaan kalian dengan pengharapan bahwa kalian mampu mulai lagi dari awal, bahwa ada lebih banyak peluang bagi kalian di luar sana, bahwa kalian akan menjadi pribadi kuat seperti yang telah ditakdirkan.” Hal 67.

Bagaiamana menurut kalian tentang paragraph di atas. Saya pikir-pikir ada benarnya apa yang telah dikatakan tukang sihir, bahwa kebanyakan dari kita telah terkena Mantra Masyarakat. Pada intinya kita menuruti perkataan dan permintaan masyarakat. Kita harus seperti ini, jika tidak maka akan ini. Kita harus bekerja di ini, biar nanti bisa mendapatkan gaji segini. Dan bla bla.

Kita kadang takut melakukan sesuatu yang sebenarnya kita inginkan, sangat-sangat kita inginkan, tetapi pada akhirnya tidak mendapat pandangan positif di masyarakat atau keluarga. Kita cenderung lebih mementingkan kebahagiaan orang lain ketimbang kebahagiaan sendiri.

Dan masih banyak lagi.

Satu lagi cuplikan sederhana yang sangat saya suka. Pesan ini disampaikan oleh penjaga Perahu Bom-Bom kepada Si Suami.

“Ada dua jenis anak. Ada yang suka berputar-putar, dan ada yang berjiwa pelaut. Yang kusebut pelaut tadi adalah anak-anak yang melompat ke dalam perahu lalu langsung menuju perairan bebas –mereka adalah para penjelajah. Mereka punya impian dan langsung mengejarnya. Mereka ini pemimpi sekaligus pelaku. Mereka tahu persis ke mana mereka hendak pergi. Tak peduli apa pun yang menabrak mereka, mereka akan mencapai tujuan, sebab mereka terus mengarah ke sana. Merekalah yang kau dengan berteriak ‘minggir, minggir!’ Para pelaut ini tidak segan-segan menyuarakan keinginan mereka. Saat aku meniup peluit untuk memberitahukan bahwa waktu sudah habis, para pelaut tadi selalu berhasil mencapai sisi di seberang titik awal. Dengan senang hati mereka keluar dari perahu, sebab mereka telah mencapai apa yang telah mereka inginkan. Mereka telah mencapai tujuan dan bersenang-senang saat menabrak perahu-perahu lain.

Kemudian ada jenis yang berputar-putar, well, sebenarnya dia juga mengawali seperti para pelaut. Dia juga ingin menuju perairan bebas. Tapi segera sesuadah semua anak mulai bergerak, ia langsung menyadari bahwa masih ada banyak anak lain di kolam. Ia menyadari betapa sulitnya mengarahkan perahu. Jadi ia lalu melakukan sesuatu yang unik. Ia beranggapan: sungguh sulit untuk mengarahkan perahuku tanpa bertabrakan dengan yang lain, jadi aku takkan mampu mencapai sisi seberang. Dia cepat menyerah, dan berkata, ‘Well, sepertinya aku takkan bisa mencapai seberang, jadi lebih naik aku bersenang-senang sendiri dan berputar-putar di sini’. Ia melakukan sesuatu yang sama sekali tidak membantunya mencapai tujuan semual, dan juga tujuan anak-anak lain. Ia berputar-putar di tempat, hingga bertabrakan dan menghalangi anak-anak lain yang ingin tiba di seberang, bahkan tanpa menyadarinya. Saat aku membunyikan peluit supaya semua berhenti bermain, mereka inilah yang terakhir merapat di dermaga, dan mereka hampir selalu kecewa dengan permainan ini.” Hal 197-198.

Sekali lagi, buku ini bukan sekadar buku bacaan, melainkan sebuah tiket di mana Anda akan di bawa berjalan-jalan dan bernostalgia dengan masa kecil Anda.

Setelah selesai membaca buku ini, Anda sedikit maupun banyak akan mengerti masa lalu, masa sekarang, dan masa depan dalam hidup Anda. Anda akan mengetahu hal-hal apa yang penting dalam hidup Anda dan hal-hal yang perlu ditinggalkan dalam hidup Anda.

Percayalah, apa yang ada dalam buku ini tidak sekadar cerita-cerita fiktif belaka, ada pelajaran berharga di dalamnya.

Akan tiba saatnya ketika Anda percaya
semuanya sudah berakhir.
Justru itulah permulaannya.
~Louis L’Amour

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s