Pendakian Pertama Saya Gunung Merapi

Sebuah cerita hanyalah menjadi cerita saja jika tidak diceritakan melalui tulisan ataupun lisan. Dari setiap sisinya mungkin kita akan mendapatkan pelajaran penting. Atau dari sisi yang lain kita bisa memperoleh kenangan-kenangan yang telah lalu yang hampir saja tak pernah terbersit ketika melakukan kegiatan sehari-hari. Atau apabila dilihat dari sisi psikologi kita setidaknya akan mendapatkan perasaan bahagia. Karena bahagia itulah cerita-cerita itu dimunculkan kembali dalam bentuk kata-kata dan kalimat.

IMG_43042

 

Cerita pertama yang ingin saya angkat untuk post pertama di Bulan Oktober ini adalah cerita perjalanan saya saat mendaki gunung. Gunung yang menjadi percobaan sendi-sendi kaki ini adalah Gunung Merapi. Salah satu gunung paling aktif di sekitaran Yogyakarta.

Yes. Perjalanan waktu itu dimulai pada siang hari sekitar pukul dua siang. Kami berangkat berlima dari Jogja menuju Magelang untuk tujuan Pos Pendakian Selo. Dari Jogja kami menggunakan tiga motor. Satu motor dikendarai oleh Kang Farhan dan Anton, satunya lagi saya lupa namanya (karena bukan teman akrab), sedangkan saya sendiri menggunakan motor kesayangan yang saya beri nama The Legend (Legenda).

Meskipun motor yang saya kendarai adalah motor tua dan jalan menuju Pos Selo penuh dengan tanjakan dan tikungan, Alhamdulillah kami selamat sampai Selo sekitar pukul lima sore.

Pada tahun 2013 waktu itu harga tiket sekitar sebesar 10.000 untuk satu orang dan parkir satu motor kena harga 5.000 rupiah. Saking lamanya saya lupa-lupa ingat suasana ketika sampai di Selo. Pokoknya kami mulai mendaki itu setelah Sholat Maghrib.

“Kita mendaki malam saja. Soalnya kalau siang panas banget dan energi bisa cepat terkuras.” Jelas Kang Farhan selaku pemimpin pendakian kami.

IMG_43222

Kang Farhan ini merupakan yang paling tua di antara kami. Meskipun dia seangkatan di kampus dengan saya, berbicara umur, dia lebih tua dua tahun dari umur saya. Saya paling muda waktu itu. Tapi perihal kuat, kita sama-sama kuat untuk mendaki Gunung Merapi ini. Hihihi.

Sedang Bang Anton dan dua kawan lainnya, mereka semua satu angkatan ketika masih di Jurusan Fisika Murni dengan Kang Farhan. Bila diartikan dari kami berlima, sayalah yang menjadi orang baru di antara mereka.

Hari baik yang kami pilih untuk menikmati perjalanan waktu itu adalah Hari Sabtu. Maklum mahasiswa baru, Senin sampai Jumat penuh dengan mata kuliah dan praktikum yang tidak bisa tidak harus dihadiri. Malam Minggu yang seharusnya dipakai untuk leyeh-leyeh atau ngopi bersama atau main ke rumah teman dengan alasan tugas atau jalan-jalan berdua, kami lebih memilih untuk menapaki jalan-jalan yang sempit, langkah demi langkah untuk mencapai puncak gunung.

Harapan terbesar kami terlebih saya adalah melihat sunrise dari puncak gunung. Menikmatinya dengan kabut tipis dan segelas kopi hangat di tangan. Mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan –karena  video terlalu memakan memori, sebagai oleh-oleh atau bahan yang mungkin suatu saat bisa diceritakan. Dan well, sekarang saya bisa bercerita dan mengingat-ingat kembali karena ada beberapa foto yang saya ambil dengan kamera digital.

Dalam pendakian pertama saya untuk menaklukkan gunung, tentu kelelahan menyerang begitu cepatnya. Sebentar-sebentar istirahat. Sepuluh menit mendaki, dua menit istirahat. Meskipun saya begitu lelah, masih ada mbaknya yang menutupi kelelahan saya. Karena perempuan kalau mendaki bisa dipastikan sebentar-sebentar lelah. Haha.

Istimewanya Merapi dari gunung-gunung yang pernah saya daki setelahnya yaitu mendekati puncak sama sekali tidak ada pepohonan. Hanya batu-batuan kecil dan beberapa batuan besar yang kami temui. Itupun kami kadang merangkak untuk menyeimbangkan tubuh agar tidak terjatuh ke samping yang bisa dipastikan sangatlah curam. Lebih mirip panjat tebing dengan kemiringan hampir 60 derajat.

Kami sampai di Pasar Bubrah atau juga dikenal dengan sebutan Pasar Setan sekitar pukul sebelas malam. Istirahat sejenak lalu dilanjutkan dengan mendirikan dua buah tenda. Malam minggu yang asyik.

Kami istirahat menghilangkan lelah. Menjelang pukul empat pagi kejadian mendebarkan menerpa tenda-tenda kami. Waktu itu saya paranoid banget. Lha wong baru pertama kali mendaki langsung mengalami senam jantung yang membuat dag-dig-dug-dyar.

Angin gunung menyapa tenda kami dengan ganasnya. Saya di dalam tenda saja sampai ketakutan. Suara wus-wus-wus yang sangat kencang, serta tenda yang moyag-mayug seperti mau roboh, kami bertiga di dalam tenda sontak duduk dan memanjatkan doa-doa keselamatan.

Sesekali angin berdamai dengan berhenti menerpa tenda kami. Kami lega. Tetapi angin susulan yang kencangnya sebelas-duabelas kembali menerpa untuk menguji doa-doa kami. Angin disertai gerimis tadi baru berhenti total sekitar pukul tujuh pagi. Byar, nggak ada sunrise dan nggak ada foto-foto dengan latar sunrise. Sedih.

Suasana jam tujuh di luar tenda masih dipenuhi dengan kabut. Puncak merapi di atas sana sama sekali tidak kelihatan. Jadinya sambil menunggu kabut hilang, kami memasak mie dan kopi di dalam tenda menggunakan kompor portable. Ini baru namanya camping.

Sedihnya lagi kami tidak melanjutkan mendaki sampai puncak Merapi. Saya hanya berjalan-jalan di sekitaran tenda untuk mencari suasana baru dan menikmati pagi yang masih super dingin.

“Kalian kalau mau mendaki sampai puncak silahkan. Aku di sini saja menunggu kalian di tenda.” Saya tidak tahu mengapa Kang Farhan tidak mau menyelesaikan pendakian dengan menaklukkan puncak Merapi. Meskipun dia menyilahkan kami untuk merasakan puncak Merapi dan dia rela menunggu di tenda, kami tetap saja tidak ada yang melanjutkan perjalanan.

IMG_43302

Saya masih trauma dengan angin sepoi-sepoi yang menggetarkan tenda fajar tadi. Jadinya kami berlima hanya foto-foto dengan mengambil latar puncak merapi. Itupun harus bergegas, karena kabut sesekali masih menyelimuti puncak dan mengganggu keindahan foto.

Yang kami temukan di sekitaran tenda adalah hamparan bebatuan sisa-sisa letusan Merapi entah tahun berapa. Kami hanya menemukan beberapa semak yang tersembunyi di balik bebatuan besar yang memberi warna hijau di hamparan warna abu-abu bebatuan. Dari batu-batu itu saya menemukan beberapa batu yang ditumpuk keatas berisi tiga sampai empat batu.

Melihat itu saya menerka-nerka, apa karena ini Pasar Setan terus ada beberapa batu yang ditumpuk-tumpuk gitu atau itu hanya kerjaan para pendaki lain yang memang mempunyai hobi menumpuk batu alias rock balancing. Sumpah batu-batu itu memberikan hawa magis yang bila diteruskan menerka-nerkanya akan membuat merinding.

IMG_44182

Seingat saya, kami hanya dua jam menikmati pagi di Pasar Bubrah. Mengambil foto-foto dengan mencari latar yang menunjukkan bahwa kami sedang berada di gunung. Haha.

IMG_44382

Dari cerita-cerita di atas masih ada satu cerita yang sangat menarik perihal pendakian di Gunung Merapi. Cerita itu berawal setelah kami selamat sampai di Jogja. Kami sampai di Jogja pada Minggu sore. Senin paginya beberapa televisi menyiarkan berita bahwa Gunung Merapi telah meletus. Bahkan abu dari letusan tersebut sampai ke Solo dan membuat pelataran dan jalanan menjadi putih. Alhamdulillah banget kami sudah sampai di Jogja dan tak lupa kami berdoa semoga tidak ada korban jiwa yang menimpa para pendaki.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s