Book Review: Kumcer – Sungai, Suara dan Luka | Cerpen yang Lebih Tua dari Yang Baca

 

Seminggu ini aku luangkan waktu untuk membaca buku kumcer (kumpulan cerpen) karangan S. N. Ratmana. Saat pertama kali aku menemukannya di salah satu rak perpustakaan Grhatama Pustaka Yogyakarta aku tak langsung suka dengan buku ini. Aku selalu nyawang sampul bukunya pertama kali, kalau intuisiku mengatakan ‘ini bagus‘ maka pada akhirnya akan bagus. Tapi yang kudapatkan dari sampul buku ini adalah begitu absurd dan hanya menarik dari judul bukunya.

Berbicara tentang kumcer ini maka siapapun pembacanya akan dibawa jalan-jalan ke 40 sampai 50 tahun Indonesia zaman dahulu. Kumcer ini kumcer lawas. Lawas sekali. Lembaran-lembarannya saja sudah menguning layaknya kitab-kitab kuno yang tersimpan di museum-museum. Membukanya harus pelan-pelan tanpa perlu grusa-grusu yang bisa membuat bukunya rusak dan robek.


Membaca beberapa cerpen dari Ratmana aku membayangkan beberapa kejadian sehari-hari yang terjadi di zaman Indonesia modern saat ini. Dan dengan manggut-manggut aku punya opini yang berdasar pada perkataan-perkataan orang besar lainnya bahwa ‘sejarah pasti berulang’. Tidak setahun dua tahun, beberapa puluh tahun pun zaman akan menampakkan kesamaannya yang pernah terjadi akan terjadi lagi.

Cerpen berjudul ‘Kubur‘ misalnya. Cerpen ini lahir tahun 1962 yang mengisahkan perselisihan sebuah keluarga yang mempermasalahkan mendirikan bangunan di pemakaman meski untuk niat penghormatan. Adalah seorang ibu yang dimakamkan di pekuburan itu. Anak laki-lakinya yang merasa kurang begitu berbakti kepada ibunya berniat membangun sebuah bangunan yang bagus untuk kuburan ibunya. Tapi malah pertentangan yang didapatkannya dari ayahnya -suami ibunya,  sendiri dan adik kandungnya. Ayahnya beralasan bahwa itu semua perbuatan yang bisa merubah tauhid dan ditentang oleh agama Islam yang dipercayanya. Perpecahan keluarga ini semakin parah ketika bangunan untuk penghormatan makam si ibu sudah berdiri tapi adiknya dengan keras kepala membongkarnya dan membiarkan utuh seperti sedia kala.

Atau cerpen yang berjudul ‘Sang Profesor‘ tahun 1974 dalam urutan ke sekian dalam kumcer milik Ratmana ini. Zaman dahulu gelar profesor sangatlah disegani dan dihargai. Banyak orang yang memujanya dan membesar-besarkannya. Sang profesor layaknya guru dari semua guru yang ada.

Saat suatu hari sang profesor harus menemui ajalnya banyak sekali orang-orang dari berbagai kalangan untuk memberikan penghormatan baginya. Banyak sekali orang-orang asing yang datang di acara pemakaman itu. Tokoh ‘aku’ dalam cerita ini yang juga dulunya sebagai asisten sang profesor sangat kaget dengan yang dilihatnya. Begitu banyaknya manusia yang datang dan dirinya sendiri tak mengenal satupun dari mereka.

Tokoh ‘aku’ bercerita bahwa sang profesor yang dikenal masyarakat bukanlah sang profesor yang seharusnya diidam-idamkan oleh mereka. Nampak luarnya saja yang mereka lihat begitu mengagumkan. Tetapi suatu kejadian yang telah dialami tokoh ‘aku’ sangatlah menjijikkan untuk dialami dengan  seorang profesor. Aku sendiri mengartikan tokoh ‘aku’ sebagai seorang pemuda yang sedang berada di masa pubertas. Masa di mana tokoh ‘aku’ ini masih mengabdi pada sang profesor untuk menjadi seorang asisten.

Pada malam yang sepi di sebuah rumah pemondokan jauh di perkampungan kejadian itu hampir saja menimpa tokoh ‘aku’. Sang profesor didapati hampir menggumulinya di sebuah dipan reot tempatnya tidur. Untung saja tokoh ‘aku’ ini sigap dan mempelintir tangan sang profesor hingga memar. Dan malam itu adalah malam di mana tokoh ‘aku’ sudah berhenti mengagumi sang profesor seperti masyarakat mengaguminya. Perasaan jijik telah merambat subur di hatinya.

Atau lagi, cerpen yang berjudul ‘Tojo‘ tahun 1977. Tojo merupakan nama dari prajurit Jepang yang kemudian berubah menjadi Muhammad Tajuddin setelah menjadi muslim dan menikahi anak dari salah satu penduduk desa. Tapi kejadian naas menimpanya setelah kesatuan tentara Jepang menembaki pemuda-pemuda kampung tempatnya tinggal.

Warga kampung lainnya melampiaskan balas dendamnya kepada si Tojo yang masih berstatus prajurit Jepang kala itu. Ia diseret ramai-ramai dan dipukuli di jalanan. Akhirnya ia meninggal dan jasadnya di buang di sungai. Masyarakat sudah lupa bahwa yang barusan dibunuh beramai-ramai bukanlah si Tojo melainkan si Muhammad Tajuddin yang sudah beriman seperti imannya orang-orang kampung.

Atau pembaca akan disuguhkan cerpen yang berjudul ‘Diagnosa‘. Cerpen ini mengangkat cerita tentang seorang dokter yang berkawan dengan seorang guru. Bagaimana si Guru berpesan kepada kawannya yang berprofesi dokter untuk mengawasi pasien-pasiennya yang ditakutkan murid si Guru tersebut.

Tidak zaman sekarang, zaman dahulu pun pengawasan orang tua ataupun guru sangat-sangat dibutuhkan. Nyatanya salah seorang murid putri dari guru tersebut diketahui memperiksakan kandungannya dengan menggunakan nama samaran. Dengan tenangnya murid tersebut mengaku sebagai kakaknya yang merupakan istri dari seseorang. Seolah tak ada masalah yang serius. Penyamaran ini dimaksudkan agar biaya periksa kandungan mendapatkan biaya ganti dari perusahaan suami kakaknya bekerja. 

Apa yang ditakutkan oleh si Guru akhirnya terungkap saat pacar dari murid yang hamil itu diinterogasi oleh si dokter saat ujian penerimaan tentara baru Republik ini. Berkaca pada cerpen tersebut, di zaman modern saat ini kita seolah merasa wajar mendengar berita seperti itu. Masyarakat sudah mafhum dengan kenakalan-kenakalan yang dilakukan oleh pelajar saat ini. Padahal hal seperti itu sangat sangatlah perlu untuk diawasi dan ditindak.

Tapi begitulah zaman, dahulu dan sekarang seolah terdapat benang merah yang mengikat satu sama lain dan tak pernah bisa terpisahkan. Terhubung untuk menerjemahkan zaman yang lain. Menjadi sebuah cerita yang bisa digunakan sebagai tolak ukur sekaligus pelajaran atau hanya sebatas kisah yang hanya bisa diceritakan.

Membaca kumcer milik Ratmana menjadi hal baru bagi saya. Dengan gaya bahasanya yang mudah dicerna, alur cerita yang ringan serta masalah-masalah yang diangkat juga sering ditemui di kehidupan sehari-hari. Kumcer ini menjadi menarik saat dibaca setelah 40 sampai 50 tahun dibuat. Saya malah belum lahir. Belum ditiupkan ke rahim ibu ding. Kalau dihitung-hitung cerpen-cerpen ini berumur sama dengan orang tua saya. Sudah lumayan tua.

September 2017

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s