Saya Mengumpat Ketika Membaca Novel Paling Menjengkelkan Ini

Ronggeng_or_dancing_girl1817
credit: oheunchadiary.blogspot.co.id

Hari di mana saya merasa ling-lung. Banyak pikiran dan imajinasi yang memenuhi kepala saya. Hari itu adalah hari saat saya menyelesaikan sebuah trilogi novel karangan Ahmad Tohari.

Adalah Ronggeng Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dinihari, dan Jentera Bianglala yang memberikan nuansa gelap dalam hayalan saya. Ada rasa mengganjal dalam perasaan saya. Emosi saya sepenuhnya telah diacak-acak oleh pengarangnya.

Dulu, sempat saya mengumpat ‘uasu’ pada jalan cerita dan kepribadian-kepribadian yang dimiliki tokoh-tokohnya. Saat itu saya membenci semua tokoh dalam cerita tersebut. Memang saya belum selesai membacanya, tetapi apa boleh buat, mengumpat seperti itu saya merasa benar dan itu hal yang wajar.

Dalam trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, umpatan cabul dan menggemaskan serta sedikit menggelitik banyak sekali dijumpai. Tak heran jika setelah membaca novel ini, saya sedikit-banyak fasih mengucapkan umpatan tersebut yang dalam bahasa sehari-hari dikenal dengan misuh.

Baca juga :
Book Review: Kisah Pelacur Pujaan yang Hidup Lagi Setelah Mati Selama 21 Tahun
Book Review: Ketika Cinta Berbuah Penderitaan

Saya ingat betul, hari di mana saya menyelesaikan novel ini adalah di Hari Sabtu yang sedikit mendung. Seminggu sudah saya menekuri kata dan kalimat yang dirangkai oleh Ahmad Tohari itu.

Pagi sebelum melakukan aktivitas saya sempatkan sepuluh halaman. Menjelang maghrib, ini waktu yang paling asyik sambil nongkrong gak jelas di beranda, saya paksa untuk lebih banyak lagi membaca halaman demi halaman. Menjelang tidur –setelah main kartu, adalah waktu paling afdhol untuk meneruskan membaca sambil glimbang-glimbung menunggu kantuk.

Hari yang mendung selalu membawa suasana yang istimewa. Rasa malas kadang lebih mendominasi diri disbanding rasa ingin melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tapi Hari Sabtu kemarin, Ronggeng Dukuh Paruk telah memberi daya magis yang bisa memikat mata dan angan untuk sinkron menjelajah suatu dukuh dalam imajinasi yang bernama Dukuh Paruk.

Saya kenal akrab dengan Srintil, seorang ronggeng yang ayu jelita, molek tubuhnya, montok dadanya, dan putih kulitnya. Meskipun saya tidak secara langsung menonton pertunjukan ronggengnya, liuk tariannya dan juga tatapan cabulnya seakan tervisualisasi secara gamblang oleh barisan kata-kata yang tercetak rapi di kertas kuning Buku Ronggeng Dukuh Paruk itu.

Saya juga mengenal Rasus. Dia seorang bocah cilik yang hatinya remuk redam setelah Dukuh Paruk melenyapkan ibunya dan merenggut Srintil dari hatinya. Hidupnya serba susah. Menginjak dewasa, keberuntungan menghampirinya. Dan pada akhirnya, dialah satu-satunya pahlawan yang mengharumkan kembali nama Dukuh Paruk di hati para saudara-saudaranya.

Semangat saya bergejolak saat sampai di cerita ini, entah mengapa ada sedikit warna hijau di kegelapan yang terbentang. Ada sesuatu yang dibanggakan dalam wilayah kecil dan terpelosoknya Dukuh Paruk. Ingin rasanya berjabat tangan dan memeluk Rasus untuk kehidupan masa kecilnya dan kehidupan masa depannya.

Menjelang malam. Tepatnya malam Minggu. Saya ada kesempatan untuk plesiran bersama kawan-kawan ke KM 0 Yogyakarta. Malam itu ramai sekali karena bertepatan dengan digelarnya konser salah satu artis ibukota.

Di usia yang sebesar ini saya kadang merasa resah jika malam-malam keluyuran gak jelas. Sekedar jalan. Mencari suasana baru. Apalagi malam itu adalah malam yang krusial bagi pasangan muda-mudi. Malam yang dipenuhi fans-fans salah satu artis ibu kota. Malam yang sudah memasuki ajaran baru, yang berarti puluhan ribu mahasiswa baru sudah berada di Yogyakarta. Malam yang kebetulan kami-kami tidak ada kegiatan dan mencoba mencairkan isi kepala.

Seperti kebanyakan pembaca, setelah menghabiskan satu cerita novel, selalu terasa tokoh-tokohnya serta alur ceritanya kebawa dalam dunia nyata. Pun malam itu, seakan Srintil ikut serta dalam meramaikan 0 KM Jogja. Keberadaannya mungkin membuat kesibukan tersendiri untuk dinikmati.

Dalam kisah yang dituliskan Ahmad Tohari sosok Srintil menggambarkan kecantikan alami, keserasian kehidupan cabul di Dukuh Paruk, serta kenggunan ragawi yang menggetarkan alam bawah sadar. Dalam kisah tersebut hanya Srintil yang dilukiskan seperti sepetak ilalang semi dalam hamparan gurun yang tak berkaktus.

Rambutnya hitam panjang sepinggang. Saat meliuk dalam tarian ronggeng, ia tampakkan leher jenjangnya. Ia obral kuning langsat kulit lehernya. Rambut yang indah itu disanggulnya tinggi-tinggi untuk mengatakan bahwa, hanya dialah yang pantas untuk dinikmati kala ronggeng manggung.

Tepat mendekati tengah malam yang masih dipadati banyak pengunjung saya hanya membayangkan, ‘adakah sosok Srintil di sini?’ pertanyaannya memang konyol. Tapi juga tak salah jika dikaji dari segi psikologis seorang yang habis terbakar emosi oleh Novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Jangkrik’. Ternyata ada.

Entah bagaimana bisa ketemu, dimungkinkan hanyalah kelanturan pribadi saya. Di sini, di Jogja, perihal cantik untuk menggantikan kecantikan Srintil, si peronggeng, cukup buanyak. Buanyak banget.

Tapi malam itu ada satu sosok yang menyanggul rambutnya seperti bayangan saya ketika Srintil menampilkan jenjang lehernya untuk menantang penonton ronggeng. Sosok tersebut menghanyutkan pandangan saya. Meskipun tidak menari, tetapi terasa sekali bahwa saya berdiri di sini adalah sebagai penonton setianya. Hampir saja saya mengejarnya dan sekedar menepuk pundaknya, “Mbak boleh kenalan?”

 

5 tanggapan untuk “Saya Mengumpat Ketika Membaca Novel Paling Menjengkelkan Ini”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s