Pagi yang Gerimis yang Pahit

Kamis pagi yang menenangkan. Dengan bertemankan kopi panas aku menikmatinya. Saat sejenak jalan-jalan ke luar, gerimis tipis menari-nari di depan mata. Bertebaran kabut tipis yang menyejukkan wajah saat angin lembut berhembus.

Ada waktu yang sama seperti sekarang ini. Saat aku hanya bisa memandang wajahmu dari balik kaca jendela. Merabanya dengan imajinasiku. Saat itu pula gerimis menemaniku menikmati pagi. Suasana yang apabila tak aku tuliskan sekarang ini, mungkin akan aku lupakan sebulan atau setahun mendatang.

Sebenarnya tak bisa aku gambarkan dengan jelas perasaan apa yang melingkuppiku. Seperti kebanyakan orang, tak ada benarnya jika aku sepihak membenarkan diri. Menghalalkan tindakanku, tapi apakah salah jika aku hanya sebatas mengagumi?

Seruputan pertama, ada aroma dimana aku teringat senyummu. Saat merasakannya di antara lidah dan liurku seakan aku berada di hadapanmu dan berbincang denganmu. Aduuh, semua ini menyebalkan. Ingin rasanya aku bisa menikmati teh hangat atau teh tawar saja. Yang tak ada satupun hal yang bisa merusak pagiku. Padahal setiap kopi tak luput dari rasa pahit dan hitam. Tak bisa menyembunyikannya. Tapi tetap saja bagi lidahku, ada sesuatu yang tak beres ketika menyeruputnya. Seperti ada manis-manisnya dan seperti ada yang memberontak di dalam sana. Entahlah, itu hanya sebatas imajinasi yang menjengkelkan.

Kopi tetaplah kopi. Pagi tetaplah pagi. Gerimis tetaplah gerimis. Aku tetaplah aku yang menikmatinya. tapi tak setiap hari bisa aku nikmati. Inilah asyiknya menunggu bagiku. Ada hari yang pasti ada paginya. Tapi belum tentu setiap pagi ada gerimisnya. Kadang gerimis, kadang pula hujan menderu. Selebihnya cerah berawan. Tak setiap pagi pula aku bertemankan kopi. Kadang susu. Kadang air tawar. Kadang puasa. Kadang tidur pulas menyelam mimpi yang indah. Maka, pagi ini, yang damai, yang gerimis, aku menyeduh kopi untuk bersua kembali dengan diriku yang menyenangkan. Ah, menyenangkan sekali bisa menikmatinya.

Sungguh, ini bukanlah hal yang sepenuhnya baik. Seharusnya pagi yang setiap hari datang dipersiapkan dengan baik dan matang. Menyongsong hari yang indah. Merancang masa depan. Dan tidak melulu berkhayal di pagi hari dan mengganggu aktivitas.

Tapi yang perlu diketahui dan menjadi dasar adalah menikmati pagi, menikati cuaca, dan kadang bolehlah menikmati kopi. Kalau punya, bolehlah pula menikmati saat menyenangkan dalam menyeruput kopi dalam secangkir masa lalu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s