Cerita Lebaran: Untuk Pertama Kalinya Saya Lebaran Jauh dari Kampung Halaman dan Bertemu Keluarga Baru

Tulisan pertama saya mengenai lebaran, kali ini lumayan panjang. Tetapi sebelum kalian membacanya, pertama dan yang paling utama, saya terlebih dahulu mengucapkan ‘Minal Aidzin wal Faidzin, mohon maaf lahir dan batin’ kepada semua pembaca di Catatan Kangsole. Kesabaran kalian dalam berselancar di catatan saya semoga mendapatkan manfaat dan hikmah tersirat, yang secara disadari ataupun tidak disadari, semoga kesabaran kalian mendapatkan balasan dari Allah SWT.

 

Foto lebaran di Beduai

Saya tidak pernah terfikirkan mengenai lebaran jauh dari rumah. Hingga saya sebesar sekarang ini, baru tahun kemarin saya merasakan lebaran jauh dari kampung halaman. Padahal umur saya sudah sepertiga lebih sekian dari umur Rasulullah ketika wafat.

Bukan berarti saya masih kecil, tapi budaya desa mengajarkan kalau lebaran diusahakan untuk pulang ke rumah dengan tujuan berkumpul dengan keluarga besar. Makan makanan bareng serta berbagi cerita dengan sanak keluarga yang lain, yang kadang hanya momen lebaranlah kami bisa ketemu dan duduk bersama.

Lebaran tahun 2016 memang sangat mengesankan bagi saya. Meskipun tidak berkumpul dengan keluarga besar di kampung halaman tapi setidaknya saya dipertemukan dengan keluarga baru di kampung halaman orang lain. Ada kebahagiaan tersendiri yang menghias kenangan saat saya merayakan lebaran di kampung halaman orang lain. Suasana baru, tempat baru, budaya baru, orang-orang yang baru pula, menambah khazanah bagi cerita saya kelak jika ditanya orang-orang perihal rantau-merantau di negeri orang.

Saya mulai cerita lebaran di desa saya terlebih dahulu. Lebaran di desa tempat saya tumbuh dan berkembang dari dulu hingga sekarang dalam hal merayakan lebaran untuk saling maaf-memaafkan selalu sama dari tahun ke tahun. Tapi, sekarang ini antusiasme masyarakatnya tidak sebanyak dulu saat silaturrahim ke tetangga-tetangga satu desa.

Hari pertama lebaran ditandai dengan dua rakaat Shalat Idul Fitri pada paginya yang dilakukan secara berjamaah di masjid desa yang sekarang ini sudah dibangun sedemikian megahnya. Dilanjutkan dengan silaturrahim ke rumah kedua orang tua yang masih hidup atau ke makam kedua orang tua yang sudah meninggal.

Hari pertama lebaran di desa saya tidak begitu rame. Hanya rumah-rumah yang dihuni oleh orang tua saja yang ramenya disebabkan para anak dan cucunya pada pulang kampung untuk bersilaturrahim. Termasuk saya dan kedua orang tua saya yang hari pertama lebaran pergi ke rumah simbah yang ada di Kabupaten Pati dan desa terpencil yang terletak di ujung barat Kabupaten Blora.

Kadang menyenangkan. Kadang pula melelahkan apabila turun hujan pada saat lebaran hari pertama. Tapi, insyaallah tetap dinikmati.

Hari kedua lebaran, masyarakat di desa saya baru merayakannya dengan bersilaturrahim ke tetangga-tetangga satu desa. Tapi, sudah saya ceritakan di atas bahwa momen silaturrahim antar tetangga tidak se-antusias ketika saya masih kecil. Sekarang ini, yang menyempatkan untuk bersilaturrahim ke tetangga-tetangga –semua tetangga, hanyalah kaum muda dan kaum yang baru berkeluarga –baru menikah. Selain itu hanya duduk manis di rumah, menjaga rumah dan kalau sudah menjelang malam disempatkan untuk bersilaturrahim ke tetangga-tetangga yang memang sudah berumur tua.

Saya juga termasuk kaum muda yang mengikuti aturan baru, yang pada saat lebaran hanya menyempatkan bersilaturrahim dengan tetangga-tetangga satu rukun tetangga (RT) saja. Kalau dulu, saat saya masih SD –masih kecil, momen lebaran selalu saya manfaatkan dengan semaksimal mungkin. Budaya silaturrahim antar tetangga satu desa –empat RT, masih saya ikuti bersama dengan teman-teman sebaya.

Karena kalau diri sedang beruntung bersilaturrahim di rumah orang yang dermawan, minimal lima ribu akan masuk kantong untuk membeli petasan nantinya. Bayangkan kalau orang dermawan di desa saya lebih dari dua puluh rumah, berapa penghasilan bersilaturrahim yang saya dapatkan hanya berkeliling satu hari saja.

Itulah rutinitas lebaran di desa saya di hari pertama dan kedua. Sudah bertahun-tahun saya melakukannya dan menjalaninya dengan senang hati dan tidak ada sedikitpun rasa kecewa ataupun sedih. Tapi, semakin tahun bertambah, semakin tua pula saya, lebaran menjadi momen yang kadang saya tidak pengen untuk pulang ke rumah. Perlu dicatat bahwa pikiran ini muncul hanya kadang-kadang. Yaitu kadang pas lebaran saja.

Bagaimana kuliahmu? Lancar?”

“Sekarang sudah lulus? Mau kerja di mana?”

“Sudah punya calon belum?

Maka tidak ada salahnya jika saya juga memanfaatkan waktu lebaran ketika saya jauh dari rumah. Disamping saya bebas dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya juga bisa merasakan bagaimana sensasinya jika lebaran jauh dari kampung halaman dan jauh dari keluarga. Kalau dibilang sedih, mungkin iya, tapi tidak dipungkiri saya juga merasakan banyak kesenangan-kesenangan yang tidak saya temui saat lebaran di kampung halaman.

Waktu itu saya merayakan lebaran di Beduai, Sanggau, Kalimantan Barat. Salah satu kecamatan sebelum Entikong yang bisa dibilang dekat dengan perbatasan Indonesia-Malaysia. Saya merayakan lebaran bersama kawan-kawan saya satu perjuangan KKN di desa terpencil Suruh Tembawang Kecamatan Entikong yang betul-betul sinyal HP saja tidak bisa masuk ke area desa. Beruntung sekali, waktu   lebaran di Beduai yang setelah Sholat Idul Fitri bisa menghubungi keluarga masing-masing menggunakan kartu perdana manapun –baca ada sinyal.

Adalah keluarga Bapak Ibrahim yang sangat baik hati menerima kami untuk bisa tinggal ditempatnya dari dua hari sebelum lebaran hingga dua hari setelah lebaran. Ada Bang Dwi dan Bang Syamsi yang istimewa baiknya yang menemani kami  dan berbagi cerita dengan kami saat menginap di rumahnya. Semoga Allah selalu merahmati dan memberikan berkah kepada mereka semua.

Pada malam lebaran, ada budaya unik namun mengesankan yang belum pernah saya temui di Jawa –karena saya kurang pergaulan. Budaya itu adalah “Takbir Keliling”. Berbeda dengan kebanyakan kampung yang ada di Jawa, yang merayakan takbir keliling dengan berkeliling desa sambil melantunkan bacaan Takbir, Tahlil dan Tahmid.

Kalau di Beduai, takbir kelilingnya bukan seperti itu. Saya sempat berpikir bahwa takbir keliling yang dimaksudkan adalah takbir keliling yang sudah menjamur di desa-desa di Jawa. Tetapi, sungguh bukan takbir keliling seperti itu. Yang dimaksud “takbir keliling” di sini adalah membaca lantunan Takbir, Tahlil, dan Tahmid di rumah-rumah tetangga yang sudah di bagi oleh takmir masjid setempat.

Ada beberapa kelompok yang sudah dibagi oleh takmir berisikan anak kecil, pemuda, dan orang tua. Berjumlah sekitar sepuluh orang. Kami anak-anak KKN, merupakan golongan pemuda yang juga dipecah untuk disebar di kelompok-kelompok yang sudah ada. 

Tujuan dari pembuatan kelompok ini adalah agar semua rumah yang pemiliknya beragama Islam bisa didatangi dan didalamnya dilantunkan Takbir, Tahlil dan Tahmid bersama-sama. Dan inilah yang dimaksudkan dari “Takbir Keliling” di Beduai yaitu melantunkan Takbir, Tahlil, dan Tahmid berkeliling dari rumah satu ke rumah yang lain.
Prosedurnya yaitu ketika kelompok memasuki suatu rumah dan sudah dipersilahkan duduk oleh tuan rumah, maka yang dipasrahi untuk memimpin pembacaan Takbir, Tahlil, dan Tahmid akan memulainya dan diikuti oleh para jamaah yang lain. Bacaannya tidak banyak-banyak, cukup tiga kali putaran dan diakhiri dengan doa.

Sebelum doa dipanjatkan, sesepuh yang memimpin doa terlebih dahulu menanyai si tuan rumah perihal doa apa yang kiranya diingini oleh si tuan rumah. Biasanya doa tentang keselamatan dan kesejahteraan. Baru setelah itu sesepuh memimpin doa dan saya beserta jamaah lainnya mengamini doa-doa tersebut.

Selesai berdoa, mungkin inilah yang selalu ditinggu-tunggu, makan-makan. Kami dipersilahkan makan jajanan ringan yang sudah disediakan oleh tuan rumah. Kadang juga kami diberikan makan besar yang berarti makan piringan dengan nasi atau lontong beserta sayuran lengkap dengan lauk dan pauknya.

Dari rumah ke rumah, kegiatannya sama seperti itu, melantunkan takbir, tahlil dan tahmid dilanjutkan berdoa dan diakhiri dengan makan-makan. Waktu itu saya mengikuti kegiatan sampai rumah yang dijadwalkan habis –sampai selesai. Setelah itu saya berpamitan dan langsung balik ke rumah Bapak Ibrahim untuk kemudian beristirahat.

Sesampainya di rumah, saya tidak mengira kawan-kawan saya yang tadinya berangkat bareng untuk mengikuti takbir keliling sudah pada di rumah dan sudah istirahat lumayan lama. Setelah berbagi cerita, akhirnya saya tahu bahwa kawan-kawan saya tadi pamit untuk pulang duluan dikarenakan perut sudah merasa kekenyangan. Maklum dari tiga rumah pertama yang didatangi kesemuanya memberikan makan besar yang katanya lauk pauknya menggiurkan. Pantesan sudah tepar terlebih dahulu sebelum perang berakhir.

Ngomong-ngomong kenapa saya kuat sampai rumah terakhir, yaitu karena dari semua rumah yang kelompok kami datangi hanya satu rumah yang memberikan makan besar dan yang lainnya hanya memberikan makanan ringan saja. Entah beruntung atau tidak beruntung saya tetap menikmatinya dan malahan saya ingin mengulangi momen itu kembali.

Paginya, setelah dua rokaat Sholat Idul Fitri, Bapak Ibrahim dan keluarga mengajak kami semua untuk bersilaturrahim ke rumah-rumah yang memang masih mempunyai ikatan kekeluargaan dengan keluarga Bapak Ibrahim. Kalau tidak salah pagi itu kami hanya bersilaturrahim ke rumah enam keluarga yang rumahnya tidak jauh dari masjid tempat kami Sholat Id.

Menariknya dalam acara silaturrahim antar keluarga di Beduai adalah jamuannya. Makanan ringan dan minumannya. Mungkin kalian yang berada di sekitaran Kalimantan Barat akan menganggap makanan seperti itu sudah biasa dan sudah sering dijumpai. Tapi, bagi saya atau bahkan kami yang baru pertama kali ke Beduai –perbatasan Indonesia-Malaysia, akan sedikit kagum dan senang dengan jamuan yang disediakan.

Perlu kalian tahu, saya sudah menghabiskan setidaknya dua puluh dua tahun lebaran di kampung halaman dan memakan makanan ringan di rumah sendiri atau tetangga-tetangga sekitar. Dari semua makanan ringan mungkin makanan paling istimewa dan jarang ditemui adalah buah kurma. Buah ini kalau dikampung saya hanya bisa ditemui pada saat lebaran dan musim haji tiba –itupun kalau ada salah satu warga kampung saya yang pergi haji.

Selain Buah Kurma, saya rasa makanan ringan lainnya mudah ditemui di toko-toko terdekat dan banyak dijual di pasar-pasar tradisional. Misalnya kacang goreng, kacang tanah asin, kacang plastik –kacang atom, warneng –jagung goreng, keripik tela, keripik pisang, wafer, biskuit, kuping gajah, tai kucing –entahlah, rempeyek, dan lain-lain. Dari tahun ke tahun saya rasa tidak ada yang istimewa –mungkin perasaan saya saja.

Tapi di Beduai –ini cerita untuk kawan-kawan saya yang lebarannya di desa dan di Jawa, makanan ringan yang disediakan banyak sekali jenisnya dan tentu saja baru bagi mata dan lidah saya. Saya akui, saya memang ndeso dan suka sekali ngemil. Maka, tidak salah jika kadang ketika orang bertanya kenapa saya suka sekali ngemil, saya akan jawab karena saya tidak merokok. Tidak relevan memang, tapi itulah jawaban saya.

Saya tidak bisa menyebutkan jajanan apa saja yang waktu itu disediakan masing-masing rumah untuk menjamu kami. Yang saya ingat, waktu itu saya kenyang sekali, perut saya berisi makanan dan minuman hasil produksi Negara Malaysia. Karena hampir semua warga di Beduai berbelanja makanan ringan untuk lebaran di Negara Malaysia. Saya dapat informasi ini dari keluarga Bapak Ibrahim.

Minuman yang paling saya ingat adalah ‘Valentino’. Minuman ini dibuat dari anggur yang difermentasi. Tapi bedanya, minuman ini tidak memabukkan atau menyebabkan kerusakan akal atau yang lainnya. Karena belinya dari Malaysia, logo halal yang tercantum di badan botol bukanlah logo halal milik MUI Indonesia. Setelah dibaca dengan seksama, logo halal yang tercantum merupakan logo halal yang dikeluarkan oleh perserikatan ulama Eropa. Istilahnya Halal Eropa.

Valentino ini bagi yang belum tahu, botolnya saja kalau dilihat secara sekilas maka orang akan menganggap botol minuman ini berisi alkohol yang memabukkan. Bentuk botolnya berbeda jauh dengan bentuk botol yang biasa digunakan untuk mewadahi temu lawak atau sirup-sirup yang beredar di pasaran.

Botolnya mirip sekali dengan botol minuman keras yang sering muncul di film-film barat lengkap dengan tutup botolnya. Harganya waktu itu murah, satu botol sekitaran 30.000 saja. Saya kurang tahu apakah minuman ini juga beredar di Jawa atau tidak.  Yang pasti saat meminumnya, seteguk-dua teguk-sampai segelas, terasa sekali anggur merahnya dan anggur hijaunya. Alhamdulillah, sudah pernah.

Itulah sekeping cerita saya ketika lebaran di Beduai. Saya merasakan kebahagiaan baru, sebuah kebahagiaan yang tercipta dari keluarga baru yang awalnya tidak saling kenal dan bahkan tidak terbayangkan, secara tiba-tiba bisa berkumpul, bercanda ria menikmati lebaran yang sama-sama jauh dari keluarga.

Saya mengakui bahwa ada kesedihan di dalamnya, tapi saya juga mengakui bahwa kebahagiaan yang tercipta tidak akan bisa terulang lagi karena saya percaya, kadang Allah memberikan kenangan-kenangan yang hanya sekali mampir di hidup kita. Tetapi, di dalam lubuk hati saya, saya juga percaya, bahwa Allah menyiapkan kebahagiaan-kebahagiaan lain yang lebih mengesankan dan juga lebih menyenangkan dari itu semua.

Terakhir, saya ingin menyampaikan selamat lebaran bagi semua kawan-kawan saya yang waktu KKN pernah tidur satu rumah dan pernah berbagi satu kamar mandi saja. Sungguh, jikalau masih ada kesempatan untuk bersua, saya akan mengucapkan ‘minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin’ secara langsung dengan menjabat tangan kalian dan saling berbagi senyum. Bagaimana lebaran kalian? Semoga menyenangkan.

Saya juga mengucapkan ‘Selamat Lebaran untuk Keluarga Bapak Ibrahim, Mohon maaf lahir dan batin’, sungguh saya ingin sekali lagi bersilaturrahim ke rumah bapak. Semoga Allah mengijabahi. Terimakasih atas segala apa yang telah kalian berikan kepada kami di lebaran tahun kemarin. Tidak ada kebaikan yang mampu kami balas kecuali Allah sendirilah yang membalasnya. Semoga Allah selalu memberkahi dan merahmati kalian semua.

Amiin.

Iklan

12 tanggapan untuk “Cerita Lebaran: Untuk Pertama Kalinya Saya Lebaran Jauh dari Kampung Halaman dan Bertemu Keluarga Baru”

  1. Kayaknya anggur impor dari malaysia belum masuk jawa mas. Saya belum pernah menemui atau lihat iklannya sejauh ini.

    Tapi pengalamannya di perbatasan cukup mengesankan. Soalnya dengar-dengar berita katanya daerah peebatasan nasionalismenya kurang dan memang lebih suka membeli produk tetangga. Yg paling parah pasti menjual gas dan minyak yg sudah di subsidi pemerintah 😀

    Suka

    1. Anggurnya enak mas Shiq4. Wah sayang kalau di Jawa belum ada. Hehe
      .
      Iya mas, sangat menyenangkan. Kalau menurut saya nasionalismenya lebih istimewa mas Shiq4. Karena meski isi perut dari Malaysia, jiwa mereka tetap NKRI. Soalnya barang2 dari Malaysia lebih murah mas. Kalau masalah jual gas saya kurang tahu banyak. Haha

      Disukai oleh 1 orang

  2. Wah ….sy baru tahu ada tradisi takbir keliling dari rumah ke rumah, yg sy tahu ya hanya berjalan keliling kampung bawa obor sambil melantunkan takbir, dan itu sy jalani saat msh di jawa. Setelah di sulawesi takbir kelilingnya naik mobil yg dihias masjid sambil takbir pakai pengeras suara.
    memang Indonesia kaya tradisi ya ….
    Soal penduudk Indonesia di perbatasan kalimantan lebih sering belanja di malaysia sy juga pernah lihat siarannya di TV, bersyukur Kang Sole menyaksikan sendiri ya …

    Disukai oleh 1 orang

    1. Iya Bu, tradisinya benar-benar baru bagi saya. Kalau di Sulawesi malah lebih maju lagi ya. Hahaha.
      .
      Beruntung sekali saya malah belanja langsung di sana. Kalau dipikir-pikir ada enaknya dan ada gak enaknya. Yang penting masih cinta NKRI Bu Nur.

      Disukai oleh 1 orang

      1. Sy tdk tahu apa sulawesi lebih maju atau tdk, karena sy belum pernah tinggal di kalimantan, jd tdk bisa membandingkan
        Yup, betul yg penting masih cinta NKRI
        Btw, kalau belanja di Malaysia apa harganya lebih murah kang? Trus gmn kualitas barangnya apa lbih bagus atau gmn?

        Disukai oleh 1 orang

      2. Iya Bu. Lebih maju Jawa. Hahaha
        Kalau untuk bahan makanan kayaknya lebih murah sebelah Bu. Karena kan hampir semua produksinya dilakukan di Jawa. Jadi biaya transportasinya lumayan tinggi. Untuk kualitas kayaknya Sama saja deh. Tapi yang paling ngeh itu plastik hitamnya negara sebelah itu lebih ramah daripada punya kita. Plastik punya kita kan bagus2 dan mengkilap, kalau di sana tidak, kelihatan rapuh dan kayaknya sekali pake gitu.

        Disukai oleh 1 orang

  3. Seru iya, jadi bisa tahu budaya di daerah lain. Baru tahu aku di Kalimantan seperti itu.
    Di daerah saya, Kudus. budaya silaturahmi juga menurun. Nggak serame dulu waktu saya masih kecil. Saya rasa malah ramenya itu pas malam lebaran. Karena banyak yg bikin parade” gitu.

    Suka

    1. Iya Mbak Arika. Kalimantan memang banyak tradisi.

      Wah jadi pengen ngerasain malam takbiran di Kudus. Kampung saya dari tahun ke tahun memang seperti itu. Ada parade pun tidak seramai waktu dulu. Jadi kangen masa kecil. Hehe

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s