Malam Terakhir Bulan Sya’ban

Tahlilan
Ilustrasi: nukotatangerang.or.id

Alhamdulillah malam ini merupakan malam terakhir di Bulan Sya’ban –berdasarkan penanggalan pemerintah. Tidak terasa besok malam sudah melaksaksanakan Shalat Tarawih karena sudah memasuki bulan baru, Bulan Suci Ramadhan.

Alangkah sangat baiknya jika saya di sini mengingatkan saya sendiri dan para pembaca untuk sama-sama bersuka cita untuk menyambut Bulan Suci Ramadhan. Bulan penuh berkah dan pahala yang melimpah –dalilnya sudah banyak nggak usah dicantumkan ya. Yang beragama Islam maupun tidak semoga semuanya mendapatkah berkahnya Bulan Ramadhan. Amin.

Tetapi, di tulisan ini yang ingin saya bahas bukanlah apa-apa mengenai Bulan Suci Ramadhan –Insyaallah post berikutnya, melainkan tradisi-tradisi yang dilakukan saat Bulan Sya’ban oleh Islam Tradisionalis warga Nahdliyin –kampung saya.

Awal pertengahan Bulan Mei kemarin saya menyempatkan pulang sebentar ke Blora untuk beberapa urusan. Saya akui, kemarin adalah waktu pulang tercepat yang saya alami selama berada di Jogja. Sekitar pukul sepuluh pagi saya sampai di rumah dan malamnya sekitar pukul dua puluh satu saya sudah harus pergi pamit dari rumah. Sekitar setengah hari saja, itupun banyak tidurnya karena lelah.

Meskipun sebentar, tapi kesan yang diberikan sungguhlah menyenangkan. Mengapa? Karena kepulangan saya bertepatan dengan Bulan Sya’ban yaitu bulan penuh berkat dan kondangan.

Ya, saya sangat bersyukur sekali kampung saya masih memegang teguh tradisi Ruwahan atau Sya’banan. Ruwahan ini adalah salah satu tradisi mengirim doa-doa dan kalimat thoyyibah untuk saudara-saudara si pengirim yang sudah meninggal.

Kalau di kampung saya Ruwahan biasanya dimulai sejak awal Bulan Sya’ban dan berakhir beberapa hari sebelum lebaran (Syawal). Bahkan setelah lebaran pun ada beberapa keluarga yang masih melakukan Ruwahan, maklum tidak kebagian jadwal.

Kalau di Jogja sendiri ada beberapa kampung yang juga melakukan tradisi Ruwahan. Bedanya dengan tradisi di kampung saya yaitu di Jogja Ruwahannya hanya sekali yaitu menjelang akhir Bulan Sya’ban –kirim doanya bareng-bareng. Biasanya dilakukan di masjid kampung dan dipimpin oleh ulama setempat.

Sedang di kampung saya ruwahannya hampir full dua bulan –Sya’ban dan Ramadhan, dilakukan di rumah-rumah dengan cara berkeliling. Satu hari bisa satu rumah, kadang dua rumah (satu RT bukan satu desa).

Jadi, meski saya hanya sebentar di rumah, tetapi pada saat saya makan, saya merasakan suasana lebaran. Banyak daging –ayam dan kambing. Waktu yang sebentar saya manfaatkan untuk memperbaiki gizi, mengingat kalau di pesantren jarang sekali makan daging. Ajang pelampiasan.

Saya masih ingat ketika dulu masih di bangku SMA. Persis di Bulan Sya’ban kalau saya liburan pasti disuruh mewakili bapak untuk berangkat Tahlilah (Ruwahan). Hanya waktu liburan saja karena hari-hari biasa saya tinggal di Kota Blora dan jauh dari kampung halaman.

Ada perasaan senang ketika ikut Tahlilan karena bisa mencicipi masakan tetangga dengan lauk-pauk yang berbeda-beda setiap rumah. Dzikir bareng dan kumpul dengan bapak-bapak satu RT –hal ini mungkin yang menjadikan warga kampung tetap solid. Apalagi kalau sudah memasuki Bulan Ramadhan, huh, es tehnya itu lho menggoda selera. Apalagi nasi pecelnya. Hemmmm.

Jadi, bapak-bapak di kampung saya kalau Bulan Ramadhan bisa dipastikan jarang sekali buka puasa bersama dengan keluarga. Karena buka puasanya di rumah-rumah satu RT untuk menghadiri acara Tahlilan tersebut.

Tidak jarang pula orang-orang di kampung saya menjadi lebih berisi dan gemuk meskipun siangnya melakukan puasa. Mungkin inilah berkah Ramadhan secara lahiriah yang bisa disaksikan oleh mata.

2 tanggapan untuk “Malam Terakhir Bulan Sya’ban”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s