Pada Suatu Kata yang Tertahan oleh Derita Rindu

Pada suatu do’a teruntuk dirimu yang sendu. Segala tetes air mata adalah saksi bahwa hati dan diri tak lagi mampu menahan rindu yang menggebu. Sebait demi sebait selalu menawarkan rasa haru nan pilu jika menyebut namamu. Entah kau tahu atau tidak, do’a ini sungguh adanya dan akan terus mengalir bersama air mataku.

Pada suatu hujan yang menggetarkan setiap dada yang kesepian. Kutata semua hal yang mungkin untuk mengenang memori tentangmu satu per satu. Seperti jatuhnya hujan, memori bersamamu tercecer di setiap ruang dan waktu. Jika setiap tetesnya kenangan, maka tetesan air mataku adalah bagian dari jiwamu.

Pada suatu senja yang masih menyisakan hati yang tak lagi utuh. Ku kuatkan segala daya dan upaya untuk selalu percaya akan cinta. Mengasihi pada diri sendiri bahwa cinta tak lagi menyiksa. Bahwa cinta tak lagi membutakan mata. Bahwa cinta tak seperti nafsu yang menganga. Cinta mengajarkanku apa arti merindu. Menjadi satu dengan kalbu.

Pada suatu malam yang sepi ditemani secangkir kopi yang tak banyak arti. Kuucapkan rapalan doa-doa beraromakan surgawi. Hingga angin malam menepi menampar segala rindu yang semakin sunyi. Purnama mengaji. Memancarkan cahaya cinta untuk penikmat sepi. Teringat namamu, aku mulai limbung di tengah-tengah bayanganku sendiri. Lunglai, lelap dalam hati yang memeluk diri.

Pada suatu pagi yang embun bak mutiara Tuhan. Kuterjemahkan dinginnya kabut dan rimbunnya pengharapan. Kutafsirkan segala hal yang muncul dalam benak dan hati yang menggigil. Diterpa rindu, aku ingin sekali hidup lebih lama untuk mengenalmu. Sekadar tahu kabarmu, dan juga memberitahumu bahwa embun adalah bayangmu yang terselip dalam penciptaanNya yang agung.

Pada suatu waktu yang baru. Aku harus tersenyum. Airmata tak perlu menemani. Hati tak perlu lagi berduka perihal rindu. Jiwa tak kan kubiarkan merana. Getir pilu bernafaskan cinta biar Tangan Tuhan yang mengajari. Jalan satu-satunya aku harus mengalah. Menyerahkanmu pada takdir dan indahnya semesta. Agar keindahanmu tak membuat mataku buta dan jiwaku layu. Dan aku akan melanjutkan ceritaku meski tanpa namamu.

Yogyakarta, 19042016

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s