Review: Heidi by Johanna Spyri | Kehidupan Si Kecil Heidi yang Mengajarkan Kegembiraan Hidup dan Ketulusan Berbagi

heidi

Title: Heidi
Author: Johanna Spyri
Publisher: Bentang Pustaka
Published:
Page: 352 p
ISBN: 9780753454947
Detail: Goodreads

“Karena Tuhan sudah tahu apa yang terbaik bagi kita, sedang kita tidak.”

Berlatar di sebuah desa di Negara Swiss. Hiduplah gadis kecil yang diasuh oleh seorang kakek tua yang terkenal garang dan menjahui desa, bahkan menjahui Tuhan. Gadis tersebut bernama Heidi. Kakek yang mengasuhnya lebih dikenal oleh penduduk desa dengan sebutan Paman Alm.

Kisah yang diangkat oleh penulisnya berceerita tentang kehidupan dan kepolosan anak-anak. Tak jarang membuat saya geli sebagai seorang remaja ketika membaca cerita ini. Heidi dan Peter begitu bersemangat dan berkarakter.

Heidi, begitulah orang-orang memanggilnya. Ia gadis kecil yang dititipkan bibinya ke Paman Alm. Padahal orang-orang telah memperingati bibinya untuk tidak menitipkan Heidi ke Paman Alm, tapi bibinya tetap saja bersikukuh menitipkannya.

“Kasian gadis kecil itu”. Komentar para tetangga atas kepeduliannya terhadap Heidi.

Bagaimana tidak. Paman Alm sendiri dikenal tidak punya perasaan. Lebih memilih menyendiri di atas gunung. Hidup dengan kambing-kambingnya. Turun sesekali ke desa hanya untuk menjual mentega kemudian pulang membawa roti kering. Bahkan Paman Alm pernah berkata bahwa ia sudah memusuhi Tuhan, sehingga ia tak pernah lagi kelihatan datang ke gereja.

Maka, kekhawatiran tentang kehidupan Heidi begitu menjadi perhatian masyarakat Dorfli. Mereka takut Heidi tak ter-urus. Mereka juga takut Heidi ketika besar nanti tidak seperti gadis-gadis sebayanya karena didikan oleh kakeknya.

Tapi, apakah seperti itu dugaan mereka para masyarakat Dorfli mengenai Paman Alm?

Heidi begitu senangnya ketika melihat sang kakek. Begitupun sebaliknya. Paman Alm menyambut Heidi, keluarga barunya dengan antusias. Meski awalnya begitu kaget, karena bibinya sudah tak mau lagi mengurus Heidi, Paman Alm mau tidak mau harus mengurus gadis kecil itu.

Kursi baru pun dibuat. Begitu juga dengan meja makan. Tempat tidur baru untuk Heidi seadanya dengan memanfaatkan tempat penyimpanan jerami. Heidi sendiri yang meminta tempat jerami untuk dijadikan tempat tidurnya, karena berada di atas andang-andang dan ada sebuah jendela yang menampakkan padang rumput yang hijau terhampar.  Jerami sebagai pengganti kasur dan kain tebal sebagai alasnya. Satu kain tebal lagi sebagai selimut untuk penghangat ketika malam dan musim dingin tiba.

Di gunung, Peter merupakan teman baru Heidi yang berprofesi sebagai penggembala kambing-kambing milik para warga desa. Termasuk dua kambing milik Paman Alm. Setiap pagi, berbekal dengan peluit dan sebilah tongkat bambu, Peter akan berangkat menggiring kambing-kambingnya ke atas gunung untuk mencari tempat strategis. Ketika ada teman baru bernama Heidi yang ikut dengannya, hari-hari menggembala Peter lebih ceria. Selain ada teman bermain, sering juga Heidi memberikan jatah makannya untuk Peter karena porsi makan Heidi yang sedikit. Itulah yang ditunggu Peter setiap hari.

Semuanya berubah setelah Heidi dipaksa untuk menjadi teman seorang gadis kecil di Frankfurt, Jerman oleh bibinya. Hal itu membuat Paman Alm, Peter, dan orang-orang yang sangat dekat dengan Heidi merasa kehilangan. Kehidupan Heidi pun berubah total, dari yang asalnya terbiasa dengan padang rumput kini harus dibiasakan di dalam rumah gedong dengan gedung-gedung tingggi tanpa warna hijau menghampar.

Dia bertemu dengan Clara yang berusia lima tahun lebih tua darinya. Clara adalah gadis kecil yang cerdas namun selama dua belas tahun ia ditakdirkan  lumpuh dan harus tetap berada di kursi roda untuk melakukan semua aktivitas.

Kelak, pertemuan Keluarga Clara dan Heidi membuat sejarah baru di kehidupan Clara. Tidak hanya itu. Orang-orang yang dekat dengan Heidi di Desa Dorfli pun mendapatkan manfaatnya dari Keluarga Clara. Salah satunya Peter.  Ia memperoleh 1 Penny setiap minggunya seumur hidupnya. Dan Heidi, Ia memperoleh apapun yang tak pernah ia minta namun orang-orang berbaik hati memberikannya.

Ada sebuah percakapan ringan antara Heidi dan Clara yaitu ketika Clara bertanya pada Heidi perihal “Mengapa kita harus berdoa pada Tuhan, sedang segala sesuatu sudah diberikan dan ditetapkan oleh Tuhan pada Kita?” dan inilah jawaban yang diberikan Heidi kepada Clara.

“Kita sebaiknya berdoa kepada Tuhan setiap hari untuk menunjukkan bahwa kita percaya dan tahu bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya. Jika kita melupakn-Nya, Tuhan akan membiarkan kita menempuh jalan kita sendiri, dan kita akan menemui kesulitan.”

Heidi gadis kecil yang baik. Saya belajar untuk tidak menyerah untuk menjadi orang yang baik. Diusianya yang masih belia, kepolosan dan kebaikannya untuk sekarang ini sudah lama hilang di kehidupan modern dan kehidupan orang dewasa.

Dan,

Membaca kisah ini telah mempertajam batin saya tentang kepedulian dan kerja keras. Kepedulian dengan orang lain dan kerja keras untuk tidak mudah menyerah dalam belajar. Heidi mengingatkan saya pada kehidupan keras yang pernah saya alami. Tentang menggembala kambing-kambing, petualangan, dan senangnya bermain serta lelahnya belajar.

Ketika membaca kisah ini juga, saya juga merasakan ada angin-angin imajin yang sepoi-sepoi membelai saya. Penggambaran padang rumput yang hijau terhampar di halaman rumah, berisiknya pohon cemara yang tertiup angin, cahaya matahari yang bersinar menghangatkan, dan bunga-bunga cantik yang mekar setelah musim dingin berlalu memberikan suasana membaca menjadi lebih sejuk dan damai.

Swiss. Terima kasih telah melahirkan satu kisah yang menambah semangat hidup. Kisah yang menghidupkan kepingan masa kecil saya. Kepingan yang merupakan kenangan indah dan petualangan seru yang tak jauh berbeda dengan kisah ini.

Inilah yang saya sukai dari Penulis International, apalagi kalau di sampulnya tertera tulisan Bestseller New York Times atau Bestseller International, pastinya tak akan rugi jika membacanya. So, kalian yang kebetulan menemukan Buku Novel yang berjudul HEIDI maka segeralah pinjam atau beli. Karena setelah selesai membaca, sungguh tak ada penyesalan.

*Sumber gambar: bacaanbzee.wordpress.com

Januari 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s