Review: The naked Traveler 1 by Trinity | Ketika Kecoak Menjadi Makanan Ringan di Thailand

Title: The Naked Traveler 1
Author: Trinity
Publisher: Penerbit B First
Published: 2007
Page: 287 p
ISBN:
Detail: Goodreads

Siapa yang suka baca travel books?

Baru-baru ini saya punya keharusan untuk membaca travel books untuk lebih mengenal gaya yang digunakan dalam menyusun sebuah travel writing. Mempelajari tata bahasanya serta urutan cerita yang bisa membuat para pembaca tertarik dengan tulisan kita.

Ternyata banyak sekali buku-buku yang membahas tentang cerita-cerita perjalanan. Dan dari kesemuanya adalah true story alias penulisnya ngrasain dulu jalan-jalannya baru bercerita lewat sebuah tulisan.

Sekarang, saya akan berbagi review sebuah buku yang bagusnya kelewatan, bagus banget. Buku tersebut adalah ‘The Naked Traveler 1’ yang ditulis oleh seorang travel writer sekaligus blogger, Trinity.

Sebenarnya saya sudah tahu buku ini sejak lama sekali. Lama banget. Tetapi waktu itu saya masih belum ngeh dengan buku yang satu ini. Alhasil, saya dulu hanya sekilas tahu bahwa buku ini adalah buku best seller yang banyak dicari oleh para pembaca. Dan banyak sekali nampang di toko-toko buku.

Saya yakin masih banyak yang seperti saya, sudah tahu kalau katanya bukunya bagus, tapi masih belum ngeh untuk membacanya. Maklum, buku diktat lebih penting dari buku manapun.

Karena sebuah keterpaksaan yang harus saya baca, tidak sengaja saya nemu buku ini di Perpustakaan Daerah Grahatama Pustaka Yogyakarta. Takdir kali.

Karena memang saya sudah menjadi member lama, maka saya pun meminjamnya.

Simak baik-baik ya.

Buku ini berjudul ‘The Naked Traveler 1’.
Cetak pertama kali pada tahun 2007, edisi cetak ke-II pada tahun 2014.
Diterbitkan oleh Penerbit dari B First (Bentang Pustaka).
Penulisnya Mbak Trinity.

Buku ini tersusun atas 287 halaman, diselipi warna biru dan gambar karikatur di beberapa lembar halaman. Covernya yang kuning mencolok dengan gambar kaca mata menggantung di sebuah tali menjadikan buku ini sedikit berbeda dengan buku-buku lain. Memang kelihatan sederhana dan elegant, tapi gara-gara cover ini juga alasan kenapa saya dulu-dulu belum ngeh untuk membacanya.

Setelah membacanya sampai tuntas, kini saya tahu bahwa dalam buku ini ceritanya tidak seperti travel books karya Andrei Budiman yang ‘Travellous | Lost in Europe, Find of Love’. Mbak Trinity lebih memilih menceritakan keping demi keping cerita perjalanannya dan dia memilih cerita-cerita yang menarik dan juga lucu. Pokoknya, buku ini tidak seperti novel perjalanan-perjalanan para penulisnya.

Buku ini di bagi menjadi 7 bab diantaranya Airport, Alat Transportasi, Life Sucks!, Tip, Sok Beranalisis, Adrenalins, dan Ups. Kesemuanya mempunyai sub judul yang menyimpan cerita-cerita yang menarik dan diselipi beberapa cerita lucu. Bahkan ada sub bab yang membahas pengalaman horror Mbak Trinity di salah satu pulau di Indonesia.

Sedikit cuplikan dalam sub bab ‘Kejarlah Daku dan Tangkaplah Bagasimu’ bahwa ketika itu Mbak Trinity lagi di salah satu airport kecil di Samarinda (KalTim). Sistem pengambilan barang-barang yang ditaruh dalam bagasi pesawat di sana sungguh lucu bagi saya. Jadi, barang yang sudah di keluarkan dari bagasi pesawat ditaruh di troli dan ditarik oleh seorang ABG yang masih seumuran anak SMA.

Selanjutnya, barang-barang seperti koper, tas, dan kardus yang berjumlah ratusan hanya diletakkan di satu tumpukan saja. Jadinya, banyak orang yang mengubek-ubek barang tersebut dan kadang ada yang teriak kalau ada salah dalam mengambil barang.

Masih bercerita di Indonesia, saya akan memberikan cuplikan dari sub bab yang berjudul ‘Becak di Landasan Pesawat’. Ceritanya Mbak Trinity lagi berada di Tanjung Redeb Airport (KalTim), disana ketika lagi boarding, ada bunyi sirene sebanyak 3 kali.

Sirene pertama mempunyai arti bahwa pesawat akan segera mendarat dan diharapkan bagi orang-orang yang menggembalakan ternaknya untuk segera mengosongkan landasan. Sirene kedua berarti untuk mengusir anak-anak yang masih nekat bermain bola di area landasan. Sirene ketiga mengisyaratkan bahwa pesawat benar-benar akan mendarat.

Masih banyak cerita lucu dalam buku ini, diatas hanya cuplikan yang saya ambil dari satu bab saja yaitu Airport. Masih belum tertarik untuk membacanya?

Tidak hanya berbagi cerita lucu, ada juga analisis-analisis yang disimpulkan oleh Mbak Trinity mengenai kehidupan orang Indonesia dibandingkan dengan penduduk negara lain. Salah satu cuplikan cerita yang akan saya bagikan yaitu pada sub bab yang berjudul ‘Banyak Matahari, Sedikit Jalan Kaki’. Percaya atau tidak, Mbak Trinity menyimpulkan bahwa negara yang lebih banyak mendapatkan sinar matahari maka penduduknya akan sedikit jalan kakinya. Dan begitupun juga sebaliknya.

Di Indonesia sendiri yang merupakan negara yang terlintasi oleh Garis Khaltulistiwa, bisa dibuktikan bahwa penduduknya jarang sekali pergi kemana-mana dengan berjalan kaki. Mereka akan lebih memilih untuk menggunakan kendaraan pribadi. Kan panas.

Mbak Trinity membandingkan dengan kebiasaan orang-orang di Negara Australia dan juga di Negara Selandia Baru. Dia menceritakan bahwa orang-orang sana jalannya cepat-cepat. Bahkan sering mengeluh ketika berjalan-jalan dengan Mbak Trinity karena jalannya yang sangat lambat.

Tetapi ada sisi positifnya untuk negara-negara yang lebih banyak mendapatkan sinar matahari yaitu penduduknya lebih ramah. Hal ini dimungkinkan karena berjalan yang lambat, mereka lebih punya banyak waktu untuk saling sapa satu sama lain.

Selain cerita lucu dan juga kesimpulan-kesimpulan yang diberikan melalui buku ini, Mbak Trinity juga banyak memberikan tips-tips yang sangat-sangat bermanfaat bagi siapa saja yang mau menganut madzab travellingnya. Seperti cara memilih hostel bukan hotel, menghemat biaya untuk makan, menghemat biaya dalam melakukan perjalanan di suatu kota, dan tips-tips sepele lainnya yang juga bermanfaat bagi traveller pemula.

Satu lagi cuplikan yang akan saya bagikan yaitu mengenai makanan murah yang diceritakan oleh Mbak Trinity ketika berada di Thailand. Seperti di Indonesia, makanan yang murah akan mudah ditemui di pinggir jalan. Di Thailand juga sama, jika menginginkan makanan murah maka di pinggir jalan bisa menjadi salah satu pilihan.

Tetapi, di Thailand diceritakan bahwa disana ada gerobak yang menjual makanan ringan aneka binatang kecil. Kalau di Indonesia binatang ini tidak layak makan. Binatang yang dimaksud adalah cacing, belalang, jangkrik, kecoak, bahkan ada juga kalajengking. Penyajiannya dengan di goreng terlebih dahulu dan dibungkus dengan kertas berbentuk segitiga. Biasanya digunakan sebagai camilan ketika jalan-jalan santai. Menjijikkan bukan?

Itulah review yang bisa saya bagikan dengan sahabat semua. Bagi kalian yang suka travelling dan belum sempat kesampaian karena berbagai alasan. Maka, membaca buku ini adalah sangat disarankan sekali.

Meskipun badan dan kaki belum sempat travelling, setidaknya khayalan dan imajinasi sudah mengembara kemana-mana dengan membaca travel books. Salah satunya buku ini ‘The Naked Traveller 1’.

*Kalau malas membeli, maka carilah buku The Naked Traveller 1 di perpustakaan-perpustakaan terdekat.
*Insya Allah ada dan lebih hemat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s