Review: Layla Majnun by Syaikh Nizami | Penggambaran Cinta Sejati yang Tak Pernah Terpisahkan

Title: Adikarya Legendaris Cleo, Layla, Juliet
Authors: Syaikh Nizami
Translator: Ust. Salim Bazmul dan Manda Milawati A.
Publisher: Navilla
Published: 2005
Page:
ISBN: 9799503612

Cinta memang buta. Cinta juga bisa membuat seseorang menjadi gila.

Pemuda manakah yang mampu menahan serangan rindu jika cinta sudah bersarang dalam dada? Tabib manakah yang mempunyai penawar untuk orang-orang yang gila karena cinta?

Seperti halnya pemuda asal Bani Amir ini, Qais namanya. Ia merupakan anak tunggal dari sesepuh Bani Amir yang kaya raya dan terhormat, Syed Omri. Setelah sekian lama berdoa kepada Allah SWT untuk dikaruniai seorang anak yang bisa Ia banggakan dan dapat meneruskan perjuangannya di jalan Alah, akhirnya atas kehendak Allah yang Maha Pemurah lahirlah bayi tampan nan rupawan yang kemudian dikenal dengan nama Qais.

Qais tumbuh dalam suasana istana ayahandanya yang tentram dan terhormat. Penuh akan limpahan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Tetapi setelah remaja Qais harus berpisah dari keluarganya dan dititipkan di salah seorang Badui yang bijaksana dan mempunyai keluasan ilmu yang mumpuni. Qais pun menuntut ilmu disana.

Qais adalah pemuda yang cerdas dan juga tampan. Ia adalah mutiara dari Bani Amir yang sangat dibangga-banggakan. Dalam pelajaran pun ia menonjol, melebihi dari murid-murid yang lain.

Tetapi semuanya berubah ketika ia dipertemukan dengan Layla, seorang gadis ditempatnya belajar. Putri nan cantik jelita yang berasal dari Bani Qathibiah yang apabila diibaratkan seperti bengawan-bengawan diantara ladang yang gersang. Selalu menyejukkan hati.

Berlalu masa, saat orang-orang meminta pertolongan padaku

Dan sekarang, adakah seorang penolong yang akan

mengabarkan rahasia jiwaku pada Layla?

Wahai Layla, cinta telah membuatku lemah tak berdaya

Seperti anak hilang, jauh dari keluarga dan tidak memiliki harta

Cinta laksana air yang menetes menimpa bebatuan

Waktu terus berlalu dan bebatuan itu akan hancur,

berserak bagai pecahan kaca

Begitulah cinta yang engkau bawa padaku

Dan kini hatiku telah hancur binasa

Hingga orang-orang memanggilku si dungu yang suka merintih dan menangis

Mereka mengatakan aku telah tersesat

Duhai, mana mungkin cinta akan menyesatkan

Jiwa mereka sebenarnya kering, laksana dedaunan

diterpa panas mentari

Bagiku cinta adalah keindahan yang membuatku tak bisa memejamkan mata

Remaja manakah yang dapat selamat dari api cinta?

Pemuda bernama Qais pun dimabuk cinta dan dibutakan oleh syair-syair rindu. Setiap hari yang ia lakukan hanyalah memuji keindahan sang pujaan hati, yaitu Layla. Begitu juga yang terjadi pada Layla. Pandangan pertamanya dengan Qais telah menumbuhkan benih-benih cinta. Menebarkan suasana-suasana rindu disetiap relung hatinya.

Dan demi rasa cintaku yang mendalam

Aku rela berada di puncak gunung salju yang dingin seorang diri

Bertemu lapar, menahan dahaga

Wahai kekasihku, hidupku yang tidak berharga ini

suatu saat akan lenyap

Tetapi biarkan pesonamu tetap abadi selamanya di hatiku

Sampai-sampai Qais dan Layla mengesampingkan pelajarannya karena saling sibuk memuja satu sama lain. Percintaan mereka berdua akhirnya tersebar dan sampai di telinga orangtua dari Layla. Dikarenakan adat orang Arab, yang intinya jika seorang anak perempuan jika menjadi bahan omongan maka itu merupakan sebuah aib. Aib yang akan menjadikan keluarga Layla menjadi gunjingan orang-orang Arab.

Atas ketegasan ayah Layla, Layla pun akhirnya dikurung dalam kamarnya sampai-sampai ia tidak boleh leluar rumah. Ia hanya berada di kamarnya, setiap hari dengan rindu yang sangat membuncah akan hadirnya Qais.

Pemuda bernama Qais tak kalah sengsaranya. Setelah Layla direnggut dari hadapannya, setiap hari yang ia lalui terasa hampa. Sangat hampa. Rindu setiap waktu menelusup dalam dadanya. Hingga cintanya yang tulus itu menjadikannya seorang yang lupa akan dunia. Qais lupa semuanya, keluaganya, sahabat-sahabatnya, harta kekayaan orangtuanya, yang ia ingat dan dengung-dengungkan setiap waktu hanyalah nama Layla seorang. Dan inilah yang menjadikan ia disebut kaumnya dan orang-orang yang kebetulan berjumpa dengannya sebagai seorang Majnun (si gila). Padahal dalam segi akal, ia bukanlah seorang yang gila. Ia hanya menjadikan cinta sebagai pegangan utama dalam hidupnya.

Meskipun bertahun-tahun berlalu, Qais yang sudah dianggap gila oleh penduduk arab, ia tetap teguh untuk menjadikan Layla seorang sebagai belahan hatinya. Seseorang yang telah merenggut separuh hidupnya dan akan tetap setia meski ajal menjemput ruhnya. Qais adalah pecinta sejati.

Sampai pada suatu waktu ketika Syed Omri, ayah Qais berupaya untuk menyembuhkan anak semata wayangnya, ia membawanya ke Mekkah untuk beribadah haji. Harapannya Qais bisa sembuh dari jeratan cinta yang membuatnya gila. Ketika berada didepan Ka’bah dan Syed Omri selesai berdo’a memohon kesembuhan putranya, ia pun kemudian menyuruh Qais untuk berdoa sendiri memohon kepada Allah SWT.

Dan inilah doa yang dipanjatkan Qais:

“Aku teringat akan dikau Layla, saat para jamaah haji sibuk berdzikir. Di kota Mekkah, di dinding Ka’bah mereka khusu’ berdoa, sedang kalbuku tertuju kepadamu. Ya Rahman, aku bertaubat kepada-Mu dari dosa-dosa yang telah kulakukan, dari apa yang telah kukerjakan dan dari dosa-dosa yang selalu datang bermunculan.

“Ya Allah Tuhanku, anugerahkan Layla padaku,  dekatkanlah ia padaku. Ya Tuhan, sesungguhnya engkau mempunyai anugerah dan ampunan. Jadikanlah kaum pecinta dalam keadaan afiat malam ini, yaitu dia yang terus mengingat cintaku saat orang lain terlelap tidur. Dia yang jatuh tertelungkup mencium bumi dan berdoa kepada-Mu untuk kebahagiaanku. Ya Allah, janganlah Engkau rampas cintaku padanya.

“Aku memohon rahmat-Mu, ya Tuhan Yang Mahapenyayang  lagi Pengasih. Di rumah-Mu ini aku memohon untuk Layla, Engkaulah Yang Mahamenentukan. Ya Allah, jika Engkau anugrahkan Layla untukku, maka Engkau akan melihat seorang hamba bertaubat, yang tidak akan mampu dilakukan oleh hamba-Mu yang lain. Ya Allah Yang Mahakasih aku akan terhibur jika ia berada di dekatku, namun mengapa orang-orang mencela dan merendahkannya? Mereka memintaku untuk bertaubat, namun aku tidak mau, karena mencintai Layla bukanlah kesalahan atau dosa. Satu-satunya hajat hidup yang aku miliki adalah bertemu dengan Layla, tidak ada kebahagiaan selain itu.”

Keadaan Qais belum juga membaik. Ia sering berkelana tak tentu arah ke lembah, jurang, padang pasir, hutan belantara meninggalkan kedua orangtuanya dan sahabat-sahabatnya. Ia hanya ingin bebas mengungkapkan isi hatinya yang penuh dengan syair-syair cinta.

Penderitaan Qais bertambah berat ketika ada kabar Layla menikah dengan Ibnu Salam, pemuda tampan yang telah memenangkan hati ayah Layla. Qais merasa telah dihianati oleh Layla. Janji setia yang pernah disepakati hanya menyisakan kisah sedih bagi hati Qais. Tetapi, siapa yang tahu akan hati seseorang. Ternyata setelah menikah, Layla tidak berkenan sama sekali untuk disentuh oleh suaminya. Ia terlanjur bersumpah pada dunia, bahwa hatinya hanya untuk seseorang yang pernah menguasai jiwanya. Seseorang yang telah mengenggam seluruh hatinya.

Pada akhirnya, suami Layla pun bunuh diri karena tidak mampu menyenangkan dan merebut hati Layla. Sampai disini, saat Layla telah menjadi janda ia pun berkeinginan untuk berjumpa dengan pujaan hatinya. Dan apa yang terjadi?

Saat jiwa yang telah bertahun-tahun menderita, meminum pahitnya cinta dan derita rindu, apabila dengan mendadak dan tiba-tiba disuguhkan suatu kebahagiaan yang besar maka jiwa itu menjadi tak terkendali. Kebahagiaan yang diterima Qais terlalu besar hingga menyebabkan ia tak terkendali dan seperti orang gila sungguhan. Saat didekat Layla, satu bangku berdua, jiwa kebahagiaan Qais membuncah dan tak terkendali. Ia pun tak bisa menikmati kebahagiaan tersebut dan melarikan diri dari Layla.

Kesedihan Layla menyebabkan ia jatuh sakit. Pada saat berada dipangkuan sang ibunda Layla mencurahkan semua isi hatinya:

“Wahai Ibu! Aku mohon, agar saat aku terbaring di makamku, aka nada seorang pemuda yang merasakan kesedihan mendalam. Kesetiaan dan kebenaran telah menyatukan jiwa kami. Mungkin akan datang seorang pemuda dan menangis di pusaraku. Janganlah engkau melarangnya, biarkan dia di sana untuk menumpahkan semua penderitaannya. Karena bagiku dia adalah kehidupanku. Keberadaanku baginya, sama seperti cahaya bagi siang. Cintanya begitu luhur, namun selalu dihina oleh kekuatan waktu. Dan saat engkau melihat dia mendekat tandu jenazahku, akan engkau dengar ratapan liar dari mulutnya. Jangan kalian hina ia, tetapi hiburlah hatinya, karena pemuda itulah yang paling memahami nasibku.”

Layla pun meninggal dunia. Bunga taman yang diidam-idamkan Qais telah tiada. Kesedihan Qais berada dalam puncaknya. Setiap hari setelah meninggalnya sang pujaan hati, ia hanya menangis tersedu-sedu di atas pusara Layla. Kekuatan cinta Qais tak pernah luntur, hingga akhirnya ia meninggal dalam kesedihan tepat di atas makam Layla. Jenazah Qais sang Majnun dimakamkan oleh para pengelana di samping makam Layla.

Begitulah akhir dari cerita cinta seorang pemuda bernama Qais yang lebih akrab dipanggil dengan sebutan si gila. Ia merasakan kesedihan dan kesengsaraan sepanjang hidupnya karena berpisah dengan Layla, sang pujaan hati.

Syaikh Nizami menyajikan cerita ini penuh dengan kata-kata indah dan syair-syait cinta. Setiap kalimat pasti ada kata-kata yang menyayat hati yang disampaikan oleh Majnun. Dan pembaca seakan-akan dibawa oleh kata-kata tersebut untuk merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Majnun.

Hematku, membaca cerita ini adalah suatu keharusan. Karena cerita ini merupakan induk dari cerita-cerita yang lahir dewasa ini. Setiap syair yang ditulis oleh penulisnya mengatasnamakan Qais adalah mutiara bagi setiap jiwa-jiwa yang pernah merasakan indahnya cinta. Cerita ini merupakan suatu pelajaran bahwa setiap cinta tak boleh disia-siakan. Suatu pelajaran bahwa cinta sejati harus melalui proses yang panjang dan pengorbanan yang mendalam. Seperti itulah Syaikh Nizami menyihirku dengan untaian indah kata-katanya. Bagiku beliau telah memberi satu pelajaran berharga perihal mencintai.

“Satu janji atas hati mereka yang saling percaya – satu ranjang yang dingin, sedingin bumi yang menyatukan mereka dalam kematian. Hidup tak pernah ramah, hingga mereka tak pernah bersatu kecuali dalam kuburan yang bisu.”

November, 2016

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s